Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

Mengembangkan Zakat Produktif

Berbagai komentar terkait tragedi pembagian zakat di Pasuruan masih menyisakan problem mendasar yang nyaris tidak tersentuh. Pertama , masalah organisasi pembagi zakat. Berbagai kritik diarahkan kepada keteledoran panitia. Mulai dari waktu pelaksanaan, mekanisme pembagian (cara antre, pemakaian kupon), sampai koordinasi dengan aparat keamanan. Namun ada hal yang seolah terabaikan bahwa ini menyangkut zakat; salah satu bentuk berderma dalam Islam yang mempunyai aturan rigid . Secara khusus Islam menyebut amil sebagai orang yang berhak membagikan zakat—dengan berbagai ketentuan operasional yang mengikat amil. Maka, “kesalahan” yang mestinya diluruskan bukan pada sisi teknis distribusi zakat, tetapi lebih mendasar pada: mengapa zakat tidak dibagikan oleh amil? Memang ada kebolehan menyampaikan zakat secara langsung oleh muzaki. Tapi tak ada teladan dari Nabi, kalangan sahabat dan ulama terdahulu yang bisa menjadi pembenaran, bila itu menyangkut pembagian zakat yang melibatkan ba

Mengembangkan Zakat Produktif

Berbagai komentar terkait tragedi pembagian zakat di Pasuruan masih menyisakan problem mendasar yang nyaris tidak tersentuh. Pertama , masalah organisasi pembagi zakat. Berbagai kritik diarahkan kepada keteledoran panitia. Mulai dari waktu pelaksanaan, mekanisme pembagian (cara antre, pemakaian kupon), sampai koordinasi dengan aparat keamanan. Namun ada hal yang seolah terabaikan bahwa ini menyangkut zakat; salah satu bentuk berderma dalam Islam yang mempunyai aturan rigid . Secara khusus Islam menyebut amil sebagai orang yang berhak membagikan zakat—dengan berbagai ketentuan operasional yang mengikat amil. Maka, “kesalahan” yang mestinya diluruskan bukan pada sisi teknis distribusi zakat, tetapi lebih mendasar pada: mengapa zakat tidak dibagikan oleh amil? Memang ada kebolehan menyampaikan zakat secara langsung oleh muzaki. Tapi tak ada teladan dari Nabi, kalangan sahabat dan ulama terdahulu yang bisa menjadi pembenaran, bila itu menyangkut pembagian zakat yang melibatkan banyak ora

Berbagi Sembari Belanja

Ingatan tentang tragedi Pasuruan terasa masih menimbulkan keprihatinan mendalam. Niat baik tanpa diiringi cara yang benar bisa mengundang petaka. Selayaknya, ini menjadi pelajaran bersama. Uluran tangan membantu, bisa malah mengundang pilu. Memberi santunan dengan harapan mengurangi kesenjangan, sejatinya bisa malah melestarikan kemiskinan. Tidak cukup niat baik. Kita perlu panduan–dari Alquran dan Sunnah Nabi—seraya mengasah kejelian berdasar pengalaman. Semoga Allah memberkahi keluarga Samsuri. Sahabat saya ini memberi pelajaran penting tentang cara berbagi—sebagaimana ia perlihatkan beberapa waktu yang lalu. Di jalan, di bilangan Rawa Laut, Bandar Lampung ia bertemu penjual opak (penganan kerupuk dari singkong). Ia dan isteri menyempatkan diri beramah-tamah dengan penjaja renta itu. Ia jadi tahu, penjaja opak itu telah mendorong sepeda tuanya puluhan kilometer dari Jati Agung, Lampung Selatan. Isterinya timbul iba seraya mengutarakan niat memberi uang beg

Tetaplah Lapar (Menjaga Nuansa Ramadan)

Rasa nikmat lazimnya disebabkan oleh hal ini: karena kita merasakan hal tidak enak sebelumnya. Kita punya pembanding dengan kondisi yang lain. Ini menjadi kaidah umum. Nikmatnya puasa, rasanya juga tidak bisa dipisahkan dari ’postulat’ tersebut. Kita merasakan bahagia dan nikmatnya berbuka, karena kita telah menahan lapar seharian suntuk. ’Makan kenyang’ itu tidak terasa nikmat, bila tidak pernah merasa lapar. Seseorang yang sehari-harinya makan daging, tidak akan merasa bahwa itu menu istimewa. Berbeda dengan mereka yang makan sehari-hari dengan lauk tempe, akan terasa nikmatnya daging. Rasa nikmat itulah yang kemudian membuat seseorang mudah bersyukur. Karena itulah, Rasulullah menampik kala ditawari Allah menjadikan lembah Mekah seluruhnya emas. ”Jangan ya Allah, aku hanya ingin satu hari kenyang dan satu hari lapar. Apabila aku lapar aku akan memohon dan ingat kepada-Mu dan bila kenyang aku akan bertahmid dan bersyukur kepada-Mu.” Jawaban Rasulullah menjadi teladan