Langsung ke konten utama

Postingan

Berhenti, Meneguhkan Kekuatan

“ Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” ( TQS Al Hadiid: 16 ). Saya mengenalnya di masjid dalam beberapa kesempatan salat berjamaah. Di Sukabumi, Bandar Lampung. Karena belum lama bermukim di tempat tersebut, saya kurang tahu persis latar belakangnya. Sampai kemudian, sore itu, warga geger. Didapati jasadnya telah menjadi mayat. Jatuh dari ketinggian pohon dengan indikasi bunuh diri. Kisah tetangga tersebut mengingatkan saya dengan mendiang dosen PTN di Lampung, almamater saya dahulu. Semula, siapapun terkesan dengan tampilan agamisnya. Hampir tak pernah terlihat ia menanggalkan kopiahnya kala mengajar. Saya mengingatinya dengan baik, kal...

Indonesia, Bisa! [Resep Kebangkitan]

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imraan: 110) Suatu hari Muhammad saw. berdiri tegak di atas bukit Shafa sembari berteriak: "Ya shabaahah !” (seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul di waktu pagi). Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy. “Bagaimana menurut pendapat kalian kalau aku beritahukan kepada kalian bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Ya, kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran.” “Maukah kamu aku tunjukkan sebuah kalimat, yang dengannya kamu akan menguasai dunia dan menyelamatkanmu terhadap azab yang pedih” “Kalimat apakah itu,” tanya mereka balik. ”Aku tidak dapat memberi keuntungan apapun pada kalian baik di dunia maupun akhirat kecuali kamu mengikrarkan syahadah, 'La ilaha illallah' (tiada tuhan selain Allah).” Seorang berpos...

Orang-orang Bangkrut

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (TQS An Nahl: 90). Pada masa Renaisans, di Itali para pedagang uang memasang bangku panjang. Di situ uang dionggokkan. Orang dapat menitipkan uangnya di sana dan mengambilnya kapan saja. Uang itu merupakan pinjaman dari pedagang dan dapat dipinjamkan kepada siapa saja yang memerlukan. Bangku panjang itu disebut banca—kata bank berasal dari sini. Kadang-kadang uang titipan itu habis, karena sebab yang macam-macam. Tentu saja, orang-orang yang menitipkan uang marah bila mereka tak dapat mengambilnya kembali. Mereka melepaskan kemarahannya dengan menghancurkan banca. Jika kita kebetulan ke Florence kala itu, kita akan melihat beberapa bangku yang rusak. Dalam bahasa Itali, bangku yang rusak itu disebut banca rotta. Dari banca rotta (Itali), melalui banq...

Melawan Sekolah dari Rumah

Beban kurikulum yang terlalu besar adalah perkara yang merisaukan dalam pendidikan di Indonesia. Ketetapan passing grade untuk kelulusan, membuat semua sekolah dihantui rasa takut kalau tidak dapat melampauinya. Demi target lulus, sekolah lebih mirip bimbingan belajar. Ada tambahan waktu untuk mengerjakan soal-soal. Selalu ada PR yang dibawa siswa ke rumah. Tak cukup itu, sebagian besar anak masih harus ikut les/bimbel di luar sekolah. Lacur, siswa laksana mesin robot penghafal dan penghitung par excellence! Dulu, orang ikut les privat hanya untuk menyalurkan bakat khusus di bidang seni atau ketrampilan. Kalaupun ada bimbel, itu karena pribadi murid yang lemah menangkap pelajaran dibanding teman sekelasnya. Sekarang, UN seperti membuat orang tak ada yang berani ambil resiko. Bimbel digeneralisasi. Sekolah laksana lembaga teror secara sistemik. Pendidikan jauh dari rasa nyaman bagi anak didik. Sistem pendidikan yang timpang tersebut tampaknya telah berimplikasi luas. Anak d...

Membumikan Zakat

Berbeda dengan rukun Islam lain yang lebih berdimensi individual dan vertikal (hablun minallah), zakat adalah ibadah yang secara keseluruhan berdimensi sosial. Masalah sosial berarti memasuki ranah pemerintah. Dalam bahasa Ibnu Taimiyah, zakat adalah politik. Konsekuensi logisnya, hal yang terkait dengan himpunan dan distribusi akan selalu punya kaitan dengan kebijakan pemerintah. Tidak hanya dalam aspek legal, tapi juga operasional. Zakat mungkin tidak lagi dilihat sebagai ranah agama, tetapi bagian inheren dalam pembangunan ekonomi masyarakat secara umum. Seperti keberadaan bank syariah. Awal diinisiasi banyak didukung Departemen Agama. Tetapi berikutnya, regulasi berada di bawah bank sentral (BI) dan Departeman Keuangan. Dimensi sosial zakat tersebut secara alamiah tampak akan mewarnai dinamika politik sampai tingkat lokal. Raperda zakat di Metro adalah salah satu contoh aktual. Meski urung disahkan, penulis yakin ini akan menjadi dinamika politik yang terus berlanjut. Argument...

Kartini, Masa Kini…

“Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( TQS An Nahl: 97 ). Karena malu, awalnya Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, ragu menanyakan. Tapi keingintahuan yang begitu besar mengalahkan rasa malunya. Didatanginya Rasulullah. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila mimpi (bersetubuh)?” Jawab Nabi saw., “Ya, apabila wanita itu melihat air (mani).” Lalu Ummu Sulaim menutup wajahnya. Rasa malu itu seperti kembali menguasai dirinya. Melihat kejadian tersebut Ummu Salamah tertawa. “Wahai Rasulullah, apakah wanita itu mimpi (bersetubuh)?” tanya Ummu Salamah. Rasulullah, dengan nada agak bercanda, menjawab “Ya, berdebulah tanganmu (=sial nian kamu), dengan apakah anaknya dapat menyerup...

Esok yang Lebih Baik

”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (TQS Alam Nasyrah: 5-6) Rasulullah yang mulia memalingkan muka ke arah sahabatnya, wajahnya nampak begitu berseri. ”Bergembiralah kalian, karena akan datang kemudahan bagi kalian, kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” Hadist yang diriwayatkan Ibnu Jarir tersebut terjadi saat Rasulullah saw. usai menerima wahyu, Surah Alam Nasyrah. Allah telah menjanjikan kepada kita bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Menurut Ibnu Katsir, pengulangan kalimat itu menandakan, bahwa kesulitan tidak akan berdaya melawan dua kemudahan. Itu juga berarti bahwa setiap satu kesulitan pasti bersamanya ada dua kemudahan yang lain (Tafsir Ibnu Katsir). Menjaga rasa gembira punya tempat istimewa dalam Islam. Ia bahkan menjadi salah satu pilar risalah kenabian. Sebab Rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira, selain untuk memberikan peringatan akan azab dari Allah swt. ”Dan Kami tidak...