Langsung ke konten utama

Postingan

Orang-orang Bangkrut

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (TQS An Nahl: 90). Pada masa Renaisans, di Itali para pedagang uang memasang bangku panjang. Di situ uang dionggokkan. Orang dapat menitipkan uangnya di sana dan mengambilnya kapan saja. Uang itu merupakan pinjaman dari pedagang dan dapat dipinjamkan kepada siapa saja yang memerlukan. Bangku panjang itu disebut banca—kata bank berasal dari sini. Kadang-kadang uang titipan itu habis, karena sebab yang macam-macam. Tentu saja, orang-orang yang menitipkan uang marah bila mereka tak dapat mengambilnya kembali. Mereka melepaskan kemarahannya dengan menghancurkan banca. Jika kita kebetulan ke Florence kala itu, kita akan melihat beberapa bangku yang rusak. Dalam bahasa Itali, bangku yang rusak itu disebut banca rotta. Dari banca rotta (Itali), melalui banq...

Melawan Sekolah dari Rumah

Beban kurikulum yang terlalu besar adalah perkara yang merisaukan dalam pendidikan di Indonesia. Ketetapan passing grade untuk kelulusan, membuat semua sekolah dihantui rasa takut kalau tidak dapat melampauinya. Demi target lulus, sekolah lebih mirip bimbingan belajar. Ada tambahan waktu untuk mengerjakan soal-soal. Selalu ada PR yang dibawa siswa ke rumah. Tak cukup itu, sebagian besar anak masih harus ikut les/bimbel di luar sekolah. Lacur, siswa laksana mesin robot penghafal dan penghitung par excellence! Dulu, orang ikut les privat hanya untuk menyalurkan bakat khusus di bidang seni atau ketrampilan. Kalaupun ada bimbel, itu karena pribadi murid yang lemah menangkap pelajaran dibanding teman sekelasnya. Sekarang, UN seperti membuat orang tak ada yang berani ambil resiko. Bimbel digeneralisasi. Sekolah laksana lembaga teror secara sistemik. Pendidikan jauh dari rasa nyaman bagi anak didik. Sistem pendidikan yang timpang tersebut tampaknya telah berimplikasi luas. Anak d...

Membumikan Zakat

Berbeda dengan rukun Islam lain yang lebih berdimensi individual dan vertikal (hablun minallah), zakat adalah ibadah yang secara keseluruhan berdimensi sosial. Masalah sosial berarti memasuki ranah pemerintah. Dalam bahasa Ibnu Taimiyah, zakat adalah politik. Konsekuensi logisnya, hal yang terkait dengan himpunan dan distribusi akan selalu punya kaitan dengan kebijakan pemerintah. Tidak hanya dalam aspek legal, tapi juga operasional. Zakat mungkin tidak lagi dilihat sebagai ranah agama, tetapi bagian inheren dalam pembangunan ekonomi masyarakat secara umum. Seperti keberadaan bank syariah. Awal diinisiasi banyak didukung Departemen Agama. Tetapi berikutnya, regulasi berada di bawah bank sentral (BI) dan Departeman Keuangan. Dimensi sosial zakat tersebut secara alamiah tampak akan mewarnai dinamika politik sampai tingkat lokal. Raperda zakat di Metro adalah salah satu contoh aktual. Meski urung disahkan, penulis yakin ini akan menjadi dinamika politik yang terus berlanjut. Argument...

Kartini, Masa Kini…

“Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( TQS An Nahl: 97 ). Karena malu, awalnya Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, ragu menanyakan. Tapi keingintahuan yang begitu besar mengalahkan rasa malunya. Didatanginya Rasulullah. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila mimpi (bersetubuh)?” Jawab Nabi saw., “Ya, apabila wanita itu melihat air (mani).” Lalu Ummu Sulaim menutup wajahnya. Rasa malu itu seperti kembali menguasai dirinya. Melihat kejadian tersebut Ummu Salamah tertawa. “Wahai Rasulullah, apakah wanita itu mimpi (bersetubuh)?” tanya Ummu Salamah. Rasulullah, dengan nada agak bercanda, menjawab “Ya, berdebulah tanganmu (=sial nian kamu), dengan apakah anaknya dapat menyerup...

Esok yang Lebih Baik

”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (TQS Alam Nasyrah: 5-6) Rasulullah yang mulia memalingkan muka ke arah sahabatnya, wajahnya nampak begitu berseri. ”Bergembiralah kalian, karena akan datang kemudahan bagi kalian, kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” Hadist yang diriwayatkan Ibnu Jarir tersebut terjadi saat Rasulullah saw. usai menerima wahyu, Surah Alam Nasyrah. Allah telah menjanjikan kepada kita bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Menurut Ibnu Katsir, pengulangan kalimat itu menandakan, bahwa kesulitan tidak akan berdaya melawan dua kemudahan. Itu juga berarti bahwa setiap satu kesulitan pasti bersamanya ada dua kemudahan yang lain (Tafsir Ibnu Katsir). Menjaga rasa gembira punya tempat istimewa dalam Islam. Ia bahkan menjadi salah satu pilar risalah kenabian. Sebab Rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira, selain untuk memberikan peringatan akan azab dari Allah swt. ”Dan Kami tidak...

Belajar dari ‘Ayat-ayat Cinta’

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (TQS Al Ankaabut: 69). Ketika masih menjadi cerita bersambung di koran Republika, daya pikatnya memang begitu terasa. Kami seasrama kerap berebut membacanya. Si Kembar rela berjalan kaki dari Ma’had Darul Fattah ke Darul Hikmah sekadar membaca lanjutan cerita. Sahabat saya Sonhaji punya kisah lengkapnya dari kliping koran. Di Metro, pramuniaga Toko Buku Fina AA, berkali-kali khatam novel tersebut tanpa merasa bosan. Saya sendiri merasa perlu membeli sebagai hadiah kepada adik dan rekan. Awal pekan ini Hadiya Feridian, sahabat saya di Manado, Sulawesi, mengabarkan via SMS tentang antusiasme warga Muslim dan Nasrani menonton filmnya di Bioskop 21. Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburahman al-Shirazy memang sarat pelajaran. Dari isi novelnya sampai efek pasar yang mengikutinya. T...

Pendidikan Cinta

“Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah .” ( QS Al Baqarah: 138 ). Saat Perang Badar, Rasulullah turun langsung meluruskan barisan. Tapi Sawad bin Ghazyah malah maju ke muka. Rasulullah menegur Sawad seraya memukul perutnya dengan anak panah. “Luruskan barisanmu, wahai Sawad!” Sawad memprotes. “Ya Rasulullah, Anda menyakitiku, padahal Allah telah mengutusmu dengan membawa kebenaran dan keadilan. Aku ingin menuntut qishash.” Para sahabat yang lain berteriak, “Hai Sawad, engkau mau menuntut balas dari Rasulullah saw?” Serta merta Rasulullah saw menyingkap perutnya, “Balaslah!” Namun Sawad malah memeluk tubuh Nabi saw dan menciumnya. Rasulullah yang mulia bertanya, “Wahai Sawad, apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?” “Ya Rasulullah, sudah terjadi apa yang engkau persaksikan. Ingin sekali pada akhir pertemuanku denganmu, kulitku menyentuh kulitmu.Berilah aku syafaat pada hari kiamat,” kata Sawad. Rasul...