Langsung ke konten utama

Postingan

Membumikan Zakat

Berbeda dengan rukun Islam lain yang lebih berdimensi individual dan vertikal (hablun minallah), zakat adalah ibadah yang secara keseluruhan berdimensi sosial. Masalah sosial berarti memasuki ranah pemerintah. Dalam bahasa Ibnu Taimiyah, zakat adalah politik. Konsekuensi logisnya, hal yang terkait dengan himpunan dan distribusi akan selalu punya kaitan dengan kebijakan pemerintah. Tidak hanya dalam aspek legal, tapi juga operasional. Zakat mungkin tidak lagi dilihat sebagai ranah agama, tetapi bagian inheren dalam pembangunan ekonomi masyarakat secara umum. Seperti keberadaan bank syariah. Awal diinisiasi banyak didukung Departemen Agama. Tetapi berikutnya, regulasi berada di bawah bank sentral (BI) dan Departeman Keuangan. Dimensi sosial zakat tersebut secara alamiah tampak akan mewarnai dinamika politik sampai tingkat lokal. Raperda zakat di Metro adalah salah satu contoh aktual. Meski urung disahkan, penulis yakin ini akan menjadi dinamika politik yang terus berlanjut. Argument...

Kartini, Masa Kini…

“Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( TQS An Nahl: 97 ). Karena malu, awalnya Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, ragu menanyakan. Tapi keingintahuan yang begitu besar mengalahkan rasa malunya. Didatanginya Rasulullah. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila mimpi (bersetubuh)?” Jawab Nabi saw., “Ya, apabila wanita itu melihat air (mani).” Lalu Ummu Sulaim menutup wajahnya. Rasa malu itu seperti kembali menguasai dirinya. Melihat kejadian tersebut Ummu Salamah tertawa. “Wahai Rasulullah, apakah wanita itu mimpi (bersetubuh)?” tanya Ummu Salamah. Rasulullah, dengan nada agak bercanda, menjawab “Ya, berdebulah tanganmu (=sial nian kamu), dengan apakah anaknya dapat menyerup...

Esok yang Lebih Baik

”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (TQS Alam Nasyrah: 5-6) Rasulullah yang mulia memalingkan muka ke arah sahabatnya, wajahnya nampak begitu berseri. ”Bergembiralah kalian, karena akan datang kemudahan bagi kalian, kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” Hadist yang diriwayatkan Ibnu Jarir tersebut terjadi saat Rasulullah saw. usai menerima wahyu, Surah Alam Nasyrah. Allah telah menjanjikan kepada kita bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Menurut Ibnu Katsir, pengulangan kalimat itu menandakan, bahwa kesulitan tidak akan berdaya melawan dua kemudahan. Itu juga berarti bahwa setiap satu kesulitan pasti bersamanya ada dua kemudahan yang lain (Tafsir Ibnu Katsir). Menjaga rasa gembira punya tempat istimewa dalam Islam. Ia bahkan menjadi salah satu pilar risalah kenabian. Sebab Rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira, selain untuk memberikan peringatan akan azab dari Allah swt. ”Dan Kami tidak...

Belajar dari ‘Ayat-ayat Cinta’

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (TQS Al Ankaabut: 69). Ketika masih menjadi cerita bersambung di koran Republika, daya pikatnya memang begitu terasa. Kami seasrama kerap berebut membacanya. Si Kembar rela berjalan kaki dari Ma’had Darul Fattah ke Darul Hikmah sekadar membaca lanjutan cerita. Sahabat saya Sonhaji punya kisah lengkapnya dari kliping koran. Di Metro, pramuniaga Toko Buku Fina AA, berkali-kali khatam novel tersebut tanpa merasa bosan. Saya sendiri merasa perlu membeli sebagai hadiah kepada adik dan rekan. Awal pekan ini Hadiya Feridian, sahabat saya di Manado, Sulawesi, mengabarkan via SMS tentang antusiasme warga Muslim dan Nasrani menonton filmnya di Bioskop 21. Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburahman al-Shirazy memang sarat pelajaran. Dari isi novelnya sampai efek pasar yang mengikutinya. T...

Pendidikan Cinta

“Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah .” ( QS Al Baqarah: 138 ). Saat Perang Badar, Rasulullah turun langsung meluruskan barisan. Tapi Sawad bin Ghazyah malah maju ke muka. Rasulullah menegur Sawad seraya memukul perutnya dengan anak panah. “Luruskan barisanmu, wahai Sawad!” Sawad memprotes. “Ya Rasulullah, Anda menyakitiku, padahal Allah telah mengutusmu dengan membawa kebenaran dan keadilan. Aku ingin menuntut qishash.” Para sahabat yang lain berteriak, “Hai Sawad, engkau mau menuntut balas dari Rasulullah saw?” Serta merta Rasulullah saw menyingkap perutnya, “Balaslah!” Namun Sawad malah memeluk tubuh Nabi saw dan menciumnya. Rasulullah yang mulia bertanya, “Wahai Sawad, apa yang mendorongmu untuk melakukan ini?” “Ya Rasulullah, sudah terjadi apa yang engkau persaksikan. Ingin sekali pada akhir pertemuanku denganmu, kulitku menyentuh kulitmu.Berilah aku syafaat pada hari kiamat,” kata Sawad. Rasul...

Miskin Ilmu Itu Bencana

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan .” ( QS Mujaadilah: 11 ) Dikisahkan dalam sebuah hadits, ada seseorang terluka di kepalanya tertimpa batu. Selanjutnya, ia mendapatkan hadats besar lantaran mimpi, padahal ia terluka. “Adakah yang dapat meringankan diriku ini dari kewajiban mandi?,“ tanyanya kemudian. Tidak ada jawaban lain dari kaumnya, selain jawaban bahwa ia harus mandi untuk menyucikan dirinya. Lalu, mandilah ia. Setelah itu luka di kepalanya bertambah parah karena tersiram air. Ia menggigil demam, sampai kemudian maut menjemputnya. Peristiwa tersebut kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. Mendengar kabar tersebut, Nabi yang mulia merah padam mukanya, “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka. Bukankah obat kebodohan itu adalah bertanya? Nabi saw. kemudian menjelaskan, sebenarnya cukup baginya tayamum, lalu dia bebat ...

Memberi Tanpa Henti

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS Ath Thalaq: 7). “Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini, insya Allah akan mendapat rahmat-Nya,” sabda Rasulullah. Hal itu disampaikan karena beliau hanya mempunyai air minum untuk tamunya. Tamu Rasulullah itu lalu diajak Abu Thalhah. “Adakah makanan buat tamu kita ini?” kata Abu Thalhah kepada isteri sesampai di rumah. “Sedikitpun tidak ada, kecuali untuk sekali makan anak kita,” jawab Ummu Sulaim, isteri Abu Thalhah. “Baiklah, tidurkan saja anak kita. Hidangkan makanan itu buat tamu kita.” Abu Thalhah lantas mematikan lampu. Sang isteri lantas menghidangkan sepiring makanan untuk tamunya. Kemudian, si tamu dengan lahap menyantap hidangan yang tersaji, ditem...