<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204</id><updated>2012-02-17T18:46:00.400-08:00</updated><category term='Dipublikasikan di Buletin Sajada'/><category term='Ditulis dalam Buletin Sajada'/><category term='Dipublikasikan di SKH Lampung Post'/><category term='Maret 2008'/><category term='18 Apri l2008'/><category term='2005'/><title type='text'>Kholid D. Suseno</title><subtitle type='html'>Selalu ada cukup cahaya bagi siapa saja yang ingin melihat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>99</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5676209039050590069</id><published>2010-09-28T21:32:00.000-07:00</published><updated>2010-09-28T21:34:51.109-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5676209039050590069?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5676209039050590069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5676209039050590069&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5676209039050590069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5676209039050590069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2010/09/akad-pembiayaan-al-murabahah-no.html' title=''/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-2895168588332874521</id><published>2009-03-31T02:29:00.000-07:00</published><updated>2009-03-31T02:47:06.917-07:00</updated><title type='text'>Pemilu: Jihad Politik</title><content type='html'>&lt;em&gt;Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;TQS Al Maaidah: 49&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah dari ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) di kelurahan tempat saya tinggal. Tentang cara kerja seorang anggota DPRD yang kembali menjadi caleg. Untuk memperoleh dukungan suara, si caleg menjalin kerja sama dengan para ketua KPPS dan pamong setempat. Ia tugaskan mereka mendata nama-nama yang bisa dipastikan untuk memilihnya. Ia "hargai" per suara Rp 50 ribu. Setiap TPS ia beri Rp 2,5 juta dengan target 50 suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika target tidak terpenuhi, saya ambil kembali uangnya. Saya bayar sesuai dengan jumlah suara yang didapat. Jika melampaui target, misalnya dapat 70 suara, 20 suara tambahan akan saya bayar kemudian," kata si caleg. Si caleg menargetkan suara yang ia peroleh melampaui 10 ribu sebagai angka standar bilangan pembagi pemilih (BPP). Jika dihitung 10 ribu suara dikalikan dengan Rp 50 ribu, maka ada Rp 500 juta yang telah ia keluarkan. Ini belum termasuk biaya sosialisasi yang lain.&lt;br /&gt;Menyimak kisahnya, saya terkesima. Politik uang yang tergolong pidana pemilu tersebut ternyata berjalan sistemik. Sepengetahuan saya, gaji resmi anggota dewan itu tak terlalu besar jika dibandingkan dengan "investasi" yang ia keluarkan. Dapat dipastikan ia berlaku tidak terpuji dengan jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila cara jual-beli tersebut benar-benar menjadi modus banyak caleg, ini menjadi alamat buruk masa depan. Ada sebab-akibat yang dapat dirunut mengapa pemimpin ideal susah didapat. Karena suara rakyat sudah tergadai, dengan mentalitas buruk para wakil/pemimpinnya.&lt;br /&gt;Ini menuntut kepedulian kita semua. Satu suara kita akan berhimpun menjadi suara besar. Bilik suara menjadi taruhan masa depan. Karena dari sanalah banyak hal bermula: wakil kita, pemimpin kita. Pemimpin yang darinya banyak urusan besar dan nasib rakyat itu digantungkan.&lt;br /&gt;Jika satu suara itu bisa berpengaruh dalam menghadirkan pemimpin yang baik atau buruk, maka keikutsertaan kita sangat penting. Mengertilah kita, mengapa MUI sampai menetapkan fatwa haram bagi orang yang sengaja tidak mau memilih (golput).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Politik Islami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, banyak orang yang ingin berkuasa dengan motivasi kerdil. Sekadar menuruti ambisi pribadi atau mendapat ‘jalur cepat’ memperoleh kekayaan. Membela rakyat sering hanya sebagai lips service. Niatan berkuasa jauh dari niatan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut selidik agar tak terjerumus memilih sosok yang salah. Memilih wakil/pemimpin kita tidak bisa dipisahkan dari niatan ibadah, melaksanakan perintah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?"&lt;/em&gt; (TQS An Nisaa’: 144).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika ditilik lebih jauh, ini lebih dari sekadar siapa yang terpilih dari pemilu. Ini adalah bagian penting dari syiar Islam. Pemilu adalah peluang untuk menghadirkan pemimpin yang lebih berpihak kepada rakyat/umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kegemilangan Islam adalah sejarah kemenangan politik. Para sejarawan mencatat kecemerlangan Muhammad, karena ia adalah penyebar agama sekaligus negarawan. Jumhur ulama memandang Islam sebagai dien (agama) dan daulah (negara). Kata Imam Al Ghazali, "Ketahuilah bahwa syariat itu fondasi, dan raja (penguasa) itu penjaganya. Sesuatu yang tidak ada fondasinya pasti akan hancur, dan sesuatu yang tidak ada penjaganya niscaya akan hilang." Barangsiapa beranggapan bahwa Islam tidak mengungkap masalah politik atau bahwa politik tidak termasuk dalam agenda pembahasannya, maka ia tergolong lalai memahami Islam dan fakta sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara dengan pemeluk Islam mayoritas yang terbesar di dunia. Dengan posisi tersebut, ada tanggung jawab besar yang kita emban. Kita menjadi wajah yang mewakili dunia Islam. Apa yang diperbuat, akan menjadi perhatian warga dunia. Peran kita amat ditunggu oleh saudara-saudara Muslim di belahan bumi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah negeri dimana Islam berkembang dengan cara yang damai. Kita tidak punya beban konflik sektarian yang akut. Tidak ada penguasa yang menjalankan sistem otoriter. Kita relatif leluasa menjalankan Islam. Sumberdaya alamnya masih melimpah. Kita punya modal besar untuk maju. Indonesia bisa menjadi wajah baru Islam di era modern.&lt;br /&gt;Sayangnya, Indonesia punya budaya korupsi yang akut. Ini menjadi cacat moral yang membuat suara kita kurang disegani di kancah dunia. Karenanya, partisipasi dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang bersih korupsi menjadi penahapan penting untuk mewujudkan harapan-harapan yang lain. Mewujudkan kesejahteraan; menjadi kiblat dunia Islam; lalu menjadi sokoguru peradaban (&lt;em&gt;ustadziyatul-alam&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu adalah momentum sejarah. Kalaupun ada yang memahami demokrasi bukan sistem Islam, seyogyanya sistem tersebut tidak lantas dijauhi, namun dimanfaatkan sebagai peluang. Sebagaimana Rasulullah memanfaatkan sistem kekabilahan sebagai bagian penting melindungi dirinya saat terusir dari Thaif, atau saat Rasulullah dan sahabat menggali parit perlindungan dalam perang Ahzab/Khandaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turki bisa menjadi pelajaran di dunia modern. Umat Islam mengingat Turki dengan ratapan kesedihan, karena disanalah terakhir kekhilafahan Islam berdiri (tahun 1923). Namun saat ini, melalui jalur demokrasi, kelompok Islam (kembali) memegang tampuk kepemimpinan. Presiden Abdullah Gul dan Perdana Menteri Racep Tayeb Erdogan terpilih setelah partai Islam AKP memenangi pemilu di atas 47%. Secara perlahan, substansi hukum Islam diterapkan di Turki. Demokrasi, yang awalnya dibuat untuk memecah belah umat Islam, dijadikan sarana untuk menampilkan Islam secara santun dan elegan. Demokrasi malah menjadi bumerang bagi kaum sekuleris. Sebagaimana dicatat John L Esposito (2000), bagi kelompok Islamophobia, suara Pemilu (&lt;em&gt;ballot)&lt;/em&gt; menjadi ancaman yang melebihi peluru (&lt;em&gt;bullet&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, selayaknya pemilu dipahami dengan narasi dan visi besar keumatan. Ya. Agar dana penyelenggaraan Pemilu yang lebih dari Rp 40 triliun itu tidak hanya menjadi cerita duka. Pemimpin ideal tak didapat, atau malah (seperti ditengarai psikolog) banyak caleg yang menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena tidak terpilih. Motivasi kerdil hanya akan mengantarkan pada hasil yang mengecewakan.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-2895168588332874521?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/2895168588332874521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=2895168588332874521&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2895168588332874521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2895168588332874521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/03/pemilu-jihad-politik.html' title='Pemilu: Jihad Politik'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-2873482650327849780</id><published>2009-03-05T07:52:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T07:58:08.731-08:00</updated><title type='text'>Pemimpin sebagai Pelayan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;TQS An Nisa: 58&lt;/strong&gt;).&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di zaman khalifah Umar bin Khattab, pada tahun ke-17 Hijriyah pernah terjadi bencana kelaparan yang mengerikan. Penyebabnya, di seluruh semenanjung Arab (Hijaz) tidak turun hujan selama 9 bulan dan hujan abu dari gunung berapi. Tanah menjadi hitam gersang penuh abu dan mematikan segala tanaman di atasnya. Tahun tersebut dinamai “Tahun Abu” (Amar-Ramaadah). Hewan-hewan yang ada kurus kering, tetapi karena lapar mereka sembelih dengan rasa jijik saking begitu buruknya. Penduduk di pedalaman ramai-ramai mengungsi ke Madinah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Umar sendiri ikut mengurus makanan penduduk Madinah dan para pengungsi. Ia turut mengolah roti dengan zaitun untuk dijadikan roti kuah. Suatu waktu, Umar disuguhi roti yang diremukkan dengan samin (lemak).  Ia lantas memanggil seorang Badui  dan roti itu dimakan bersama-sama. Setiap kali menyuap, orang badui tersebut mulutnya belepotan. “Tampaknya kamu tak pernah mengenyam lemak? ” tanya Umar. “Ya.” Orang badui itu mengaku tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun, dan ia juga tak melihat orang memakannya sejak sekian lama sampai saat itu. Mendengar pengakuan tersebut, sejak itu Umar bersumpah untuk tidak lagi makan daging atau samin sampai orang hidup seperti biasa. Ia tetap bertahan dengan sumpahnya, sampai dengan izin Allah musim paceklik berakhir. Ia melayani dan menyertai mereka semua untuk memberi ketenangan. Banyak orang mengatakan, andaikata paceklik tersebut berjalan lebih lama lagi, Umar-lah yang paling menderita dan mati dalam kesedihan memikirkan kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Empati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab adalah raksasa sejarah. Di masanya, dua kerajaan besar yang mewakili peradaban Barat dan Timur, dengan cepat berhasil ditaklukkan. Kisra Persia di Timur dan  Imperium Rumawi di Barat. Michael H Hart mencantumkan Umar dalam Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Kekuasaannya meliputi 18 negara bila dikonversi dengan masa sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kisah Umar sarat dengan pelajaran. Ditangannya, kekuasaan politik menjadi jaminan keselamatan bagi seluruh warganya. Sebagaimana kata Nabi, pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya. Ia melayani, memberi solusi atas masalah yang dihadapi warganya. Pemimpin itu bukan bukan berada di singasana tertentu yang sulit ditemui kecuali dengam protokoler yang ribet. Ia hadir nyata, merasakan sendiri kesulitan yang dialami rakyatnya.&lt;br /&gt;Selayaknya, Umar menjadi inspirasi bagi siapa saja yang (ingin) berkuasa. Saat ini, banyak resep tentang pembangunan yang terasa hambar. Semua terlihat bagus secara teoritis. Namun semuanya menjadi tidak otentik, karena tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, atau cacat dalam pelaksanaan. Resep bagus itu hanya jargon kala berkuasa atau pemanis saat kampanye. Atau, kalaupun terlihat dekat dengan rakyat itu hanya terjadi pada periode akhir jabatan—dengan motif mendapat dukungan lagi. Motif ketulusan itu belum menjadi ruh aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemauan untuk turun langsung dan keikut-sertaan Umar dalam kesulitan yang dialami warganya patut menjadi teladan bagi siapapun. Banyak orang yang merasa, dengan jabatan atau status sosial tertentu, merasa gengsi untuk turut serta secara langsung ke lapangan. Perilakunya elitis. Semua dianggap selesai dengan memberi perintah dan mendelegasikan kepada para bawahan, sedang ia mencukupkan diri berada di ‘singasana’nya. Hal ini tidak dikenal dalam Islam. Saat perang Khandaq, Rasulullah turut serta dalam penggalian parit. Tubuh dan janggutnya kotor penuh dengan debu dan  tanah. Rasulullah juga merasakan lapar, bahkan melebihi sahabatnya. Beliau menahan lapar dengan mengganjalkan dua batu ke perutnya—sahabatnya masih satu batu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu ketika Gubernur Kufah mengunjungi Umar sewaktu ia sedang makan. Sang gubernur menyaksikan makanannya hanya terdiri dari roti gersh dan minyak zaitun. Ia berkata, “Amirul mukminin, terdapat cukup kekayaan di kerajaan Anda; mengapa Anda tidak makan roti dari gandum?” Dengan agak tersinggung dan nada murung, Khalifah bertanya, “Apakah Anda pikir setiap orang di kerajaanku yang begitu luas bisa mendapatkan gandum?” “Tidak,” Jawab gubernur. “Lalu, bagaimana aku dapat makan roti dari gandum? Kecuali bila itu bisa dengan mudah didapat oleh seluruh rakyatku,” tutur Umar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kesuksesan diraih Umar, karena ia menjalankan pada dirinya terlebih dulu, apa yang semestinya dilakukan oleh pemimpin. Hal tersebut menjadi kekuatan, jauh melampaui harta yang ia punyai—sejak masuk Islam menjadi khalifah ia malah berlaku zuhud (miskin). “Kampanye” dalam perspektif Umar, tak ada kaitannya dengan kemampuan finasial untuk dihambur-hamburkan, sebagaimana banyak dilakukan para presiden/caleg dalam pemilu. Ini juga tak ada hubungannya dengan paras &lt;em&gt;fotogenic&lt;/em&gt;  dalam &lt;em&gt;banner&lt;/em&gt; yang banyak menghiasi sudut-sudut jalan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitulah. Semoga teladan Umar menginspirasi para (calon) pemimpin itu. Mereka harus tahu detail masalah rakyatnya. Semoga tak ada pemimpin yang menjadi alien (terasing). Pembangunan itu tidak hanya menjadi awang-awang, yang hanya manis di buku-buku perencanaan. ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-2873482650327849780?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/2873482650327849780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=2873482650327849780&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2873482650327849780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2873482650327849780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/03/pemimpin-sebagai-pelayan.html' title='Pemimpin sebagai Pelayan'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-158815375595097736</id><published>2009-02-27T09:36:00.001-08:00</published><updated>2009-02-27T09:59:11.357-08:00</updated><title type='text'>Tragedi Ponari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;font-size:12;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;esungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tidak ada orang-orang zalim itu seorang penolong pun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:100%;" lang="SV" &gt;(QS Al-Maidah: 72).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/h1&gt; &lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;Belum lepas dari ingatan dengan hebohnya Ryan Sang Penjagal, Jombang kembali menjadi perhatian.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Puluhan ribu orang &lt;em&gt;tumplek-blek&lt;/em&gt;, minta diobati oleh Ponari, anak yang dianggap memiliki batu sakti. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Maka drama kolosal yang konyol itu berlangsung. Sembari digendong tangan kanan dicelupkan ke wadah air pasien yang antri, tangan kiri Ponari sibuk bermain &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; dari ponsel. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;“Ponari itu diberi kelebihan oleh Tuhan,” kata seorang wanita yang datang jauh dari Sidoarjo. Tokoh agama yang tak jelas aqidahnya, membolehkan datang ke tempat Ponari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Begitulah, tak sekadar konyol, ini menjadi drama memilukan. Empat nyawa melayang karena berdesak-desakan. Karena capek, Ponari dirawat di rumah sakit—bahkan ia tak mampu mengobati dirinya sendiri.&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cspan\u003e  \u003c/span\u003e\u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eMenyimak beritanya, saya diliputi kerisauan. Ternyata benar adanya, masyarakat kita terjangkit penyakit akut yang telah meluas. Masyarakat kita sakit. Sakit secara psikologis juga aqidahnya. Sebelumnya, seorang rekan menyampaikan kerisauan tentang tontonan mistis dan maraknya iklan SMS ramalan berbau klenik di teve. Jika iklan—yang mahal—begitu marak, pasti pangsa pasarnya besar. Saat itu, saya masih berpikir orang yang mengirim SMS lebih banyak karena faktor iseng. Tapi di Jombang, kita menyaksikan fakta sebenarnya. Begitu banyak orang dengan kesungguhan bergantung terhadap hal yang tak masuk di akal. \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eKisah Ponari adalah tragedi. Kita ternyata masih sakit secara kolektif. Ini adalah cermin buruk menyongsong masa depan. Ya, karena masa depan cerah itu hanya akan kita peroleh dengan bekal ilmu pengetahuan. Cara pikir \u003ci\u003eala\u003c/i\u003e klenik, irasional, penuh mitos, sudah pasti identik dengan kebodohan dan keterbelakangan, yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan (sains). Pola fikir klenik adalah penyakit yang akan menjadi penghambat kemajuan. \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-align:justify\"\u003e\u003cb\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt\"\u003e\u003cb\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eSyirik\u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eLebih dari sekadar penghambat kemajuan, pola fikir klenik ini menjadi masalah mendasar dalam Islam. Ini adalah perkara aqidah, sendi-sendi dasar agama tauhid. Mempercayai klenik dikategorikan sebagai syirik. \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eUntuk menjaga keselamatan diri dan mengobati penyakit, ada cara-caranya sendiri yang sudah dikenal menurut ketetapan syariah Islam. Rasulullah bersabda, ",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Menyimak beritanya, saya diliputi kerisauan. Ternyata benar adanya, masyarakat kita terjangkit penyakit akut yang telah meluas. Masyarakat kita sakit. Sakit secara psikologis juga aqidahnya. Sebelumnya, seorang rekan menyampaikan kerisauan tentang tontonan mistis dan maraknya iklan SMS ramalan berbau klenik di teve. Jika iklan—yang mahal—begitu marak, pasti pangsa pasarnya besar. Saat itu, saya masih berpikir orang yang mengirim SMS lebih banyak karena faktor iseng. Tapi di Jombang, kita menyaksikan fakta sebenarnya. Begitu banyak orang dengan kesungguhan bergantung terhadap hal yang tak masuk di akal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kisah Ponari adalah tragedi. Kita ternyata masih sakit secara kolektif. Ini adalah cermin buruk menyongsong masa depan. Ya, karena masa depan cerah itu hanya akan kita peroleh dengan bekal ilmu pengetahuan. Cara pikir &lt;i&gt;ala&lt;/i&gt; klenik, irasional, penuh mitos, sudah pasti identik dengan kebodohan dan keterbelakangan, yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan (sains). Pola fikir klenik adalah penyakit yang akan menjadi penghambat kemajuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Syirik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Lebih dari sekadar penghambat kemajuan, pola fikir klenik ini menjadi masalah mendasar dalam Islam. Ini adalah perkara aqidah, sendi-sendi dasar agama tauhid. Mempercayai klenik dikategorikan sebagai syirik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Untuk menjaga keselamatan diri dan mengobati penyakit, ada cara-caranya sendiri yang sudah dikenal menurut ketetapan syariah Islam. Rasulullah bersabda, &lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cspan\u003e \u003c/span\u003e\u0026quot;Berobatlah kamu, karena sesungguhnya Dzat yang membuat penyakit, Dia pula yang membuat obatnya.\u0026quot; (HR Ahmad). \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eDan sabda beliau pula, \u0026quot;Kalau ada sesuatu yang lebih baik daripada obat-obatanmu, maka ketiga hal inilah yang lebih baik, yaitu: minum madu, atau berbekam, atau kei dengan api.\u0026quot; (HR Bukhari dan Muslim). \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eKetiga cara berobat tersebut, menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, \u003cspan\u003e \u003c/span\u003esubstansi dan analoginya dapat meliputi macam-macam cara pengobatan yang berlaku di zaman kita sekarang, misalnya pengobatan dengan melalui mulut, operasi, kei, dan elektronik. Kalaupun tidak melalui tindakan medis, Rasulullah memberi contoh dengan ruqyah, pengobatan dengan menggunakan aayat Al Quran dan doa-doa khusus. \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eAdapun menggantungkan azimat—atau batu dalam kasus Ponari—dan \u003cspan\u003e \u003c/span\u003emembaca mentera untuk berobat dan menjaga diri, adalah suatu kebodohan dan kesesatan yang bertentangan dengan sunnatullah dan dapat menghilangkan tauhid.\u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"FI\"\u003eUqbah bin Amir meriwayatkan, bahwa ada sepuluh orang berkendaraan datang ke tempat Rasulullah saw. Yang sembilan dibai\u0026#39;at, tetapi yang satu ditahan. \u003c/span\u003eKemudian mereka yang sembilan itu bertanya: mengapa dia ditahan? Rasulullah menjawab: karena di lengannya ada tangkal/azimat. Kemudian si laki-laki tersebut memotong tangkalnya, maka dibaiatlah dia oleh Rasulullah saw dan ia bersabda: \u0026quot;Barangsiapa menggantungkan (tangkal), maka sungguh dia telah menyekutukan Allah (syirik).\u0026quot; (HR Ahmad dan Hakim)\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?!” kata Rasulullah sampai di ulang tiga kali. Mereka berkata, “Ya, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda,” Menyekutukan Allah”(HR Bukhari)",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;"Berobatlah kamu, karena sesungguhnya Dzat yang membuat penyakit, Dia pula yang membuat obatnya." (HR Ahmad). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dan sabda beliau pula, "Kalau ada sesuatu yang lebih baik daripada obat-obatanmu, maka ketiga hal inilah yang lebih baik, yaitu: minum madu, atau berbekam, atau kei dengan api." (HR Bukhari dan Muslim). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Ketiga cara berobat tersebut, menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, &lt;span&gt; &lt;/span&gt;substansi dan analoginya dapat meliputi macam-macam cara pengobatan yang berlaku di zaman kita sekarang, misalnya pengobatan dengan melalui mulut, operasi, kei, dan elektronik. Kalaupun tidak melalui tindakan medis, Rasulullah memberi contoh dengan ruqyah, pengobatan dengan menggunakan aayat Al Quran dan doa-doa khusus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Adapun menggantungkan azimat—atau batu dalam kasus Ponari—dan &lt;span&gt; &lt;/span&gt;membaca mentera untuk berobat dan menjaga diri, adalah suatu kebodohan dan kesesatan yang bertentangan dengan sunnatullah dan dapat menghilangkan tauhid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p face="trebuchet ms" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Uqbah bin Amir meriwayatkan, bahwa ada sepuluh orang berkendaraan datang ke tempat Rasulullah saw. Yang sembilan dibai'at, tetapi yang satu ditahan. &lt;/span&gt;Kemudian mereka yang sembilan itu bertanya: mengapa dia ditahan? Rasulullah menjawab: karena di lengannya ada tangkal/azimat. Kemudian si laki-laki tersebut memotong tangkalnya, maka dibaiatlah dia oleh Rasulullah saw dan ia bersabda: "Barangsiapa menggantungkan (tangkal), maka sungguh dia telah menyekutukan Allah (syirik)." (HR Ahmad dan Hakim)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p face="trebuchet ms" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?!” kata Rasulullah sampai di ulang tiga kali. Mereka berkata, “Ya, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda,” Menyekutukan Allah”(HR Bukhari)&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eSabda Rasulullah, “Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”(HR Ahmad)\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e\u003cspan\u003e \u003c/span\u003eBegitulah. Setiap dosa berkemungkinan diampuni oleh Allah, kecuali dosa syirik. Ia memerlukan taubat khusus. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (\u003cb\u003eTQS An-Nisa: 48\u003c/b\u003e).***\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e \u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-align:justify\"\u003e\u003cb\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e \u003c/font\u003e\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-align:justify\"\u003e\u003cb\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eKhasanah Fikih: \u003c/font\u003e\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-align:justify\"\u003e\u003cb\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e \u003c/font\u003e\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-align:center\" align\u003d\"center\"\u003e\u003cb\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eRuqyah berlandasan Syariah\u003c/font\u003e\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-align:justify\"\u003e\u003cspan\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e                              \u003cWBR\u003e                              \u003cWBR\u003e                              \u003cWBR\u003e   \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eRuqyah adalah sebuah terapi dengan membacakan jampi-jampi. Pengobatan ruqyah sebenarnya sudah ada semenjak masa jahiliyah. Setelah Islam datang, Rasulullah saw menetapkan ruqyah yang dibolehkan. Ini lazim disebut \u003ci\u003eruqyah syar’iyah\u003c/i\u003e; yaitu membacakan ayat-ayat suci Al Quran dan doa-doa perlindungan yang \u003ci\u003ema’tsur\u003c/i\u003e (bersumber dari sunnah Rasulullah saw.).\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;Sabda Rasulullah, “Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”(HR Ahmad)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Begitulah. Setiap dosa berkemungkinan diampuni oleh Allah, kecuali dosa syirik. Ia memerlukan taubat khusus. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (&lt;b&gt;TQS An-Nisa: 48&lt;/b&gt;).***&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Ruqyah berlandasan Syariah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;                              &lt;wbr&gt;                              &lt;wbr&gt;                              &lt;wbr&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;Ruqyah adalah sebuah terapi dengan membacakan jampi-jampi. Pengobatan ruqyah sebenarnya sudah ada semenjak masa jahiliyah. Setelah Islam datang, Rasulullah saw menetapkan ruqyah yang dibolehkan. Ini lazim disebut &lt;i&gt;ruqyah syar’iyah&lt;/i&gt;; yaitu membacakan ayat-ayat suci Al Quran dan doa-doa perlindungan yang &lt;i&gt;ma’tsur&lt;/i&gt; (bersumber dari sunnah Rasulullah saw.).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","Allah menurunkan surah al-Falaq dan An-Naas salah satu fungsinya sebagai pencegahan dan terapi bagi orang beriman yang terkena sihir. Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa Rasulullah senantiasa membaca kedua surah tersebut dan meniupkannya pada kedua telapak tangannya, mengusapkan pada kepala dan wajah dan anggota badannya. Dari Abu Said bahwa, “Rasulullah saw dahulu senantiasa berlindung dari pengaruh mata jin dan manusia, ketika turun dua surah tersebut, maka mengganti dengan keduanya dan meninggalkan yang lainnya” (HR Tirmidzi).\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e\u003ci\u003eRuqyah syar’iyah\u003c/i\u003e dilakukan oleh seorang muslim, baik untuk tujuan penjagaan dan perlindungan diri sendiri atau orang lain, dari pengaruh buruk pandangan mata manusia dan jin (\u003ci\u003eal-ain\u003c/i\u003e) kesurupan, pengaruh sihir, gangguan kejiwaan, dan berbagai penyakit fisik dan hati. Ruqyah juga bertujuan untuk melakukan terapi pengobatan dan penyembuhan bagi orang yang terkena salah satu diantara jenis-jenis gangguan dan penyakit tersebut.\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eDiriwayatkan, dari Abu Said al-Khudri ra berkata, “ Ketika kami sedang dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat. Datanglah seorang wanita dan berkata, “ Sesungguhya pemimpin kami terkena sengatan, sedangkan sebagian kami sedang tidak ada. Apakah ada diantara kalian yang biasa meruqyah?” Maka bangunlah seorang dari kami yang tidak diragukan kemampuannya tentang ruqyah. Dia meruqyah dan sembuh. Kemudian dia diberi 30 ekor kambing dan kami mengambil susunya. Ketika peruqyah itu kembali, kami bertanya, ”Apakah Anda meruqyah?“ Berkata, ”Tidak, saya tidak meruqyah kecuali dengan Al-Fatihah.” Kami berkata,“Jangan bicarakan apapun kecuali setelah kita mendatangi atau bertanya pada Rasulullah saw. Ketika sampai di Madinah, kami ceritakan pada Nabi. Dan beliau berkata, “ Tidakkah ada yang tahu bahwa itu adalah ruqyah? Bagilah (kambing itu) dan dan jadikan saya satu bagian.” (HR Bukhari dan Muslim). Pembenaran Rasulullah terhadap tindakan sahabat tersebut juga menjadi dasar bolehnya memungut upah dari terapi ruqyah.",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;Allah menurunkan surah al-Falaq dan An-Naas salah satu fungsinya sebagai pencegahan dan terapi bagi orang beriman yang terkena sihir. Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa Rasulullah senantiasa membaca kedua surah tersebut dan meniupkannya pada kedua telapak tangannya, mengusapkan pada kepala dan wajah dan anggota badannya. Dari Abu Said bahwa, “Rasulullah saw dahulu senantiasa berlindung dari pengaruh mata jin dan manusia, ketika turun dua surah tersebut, maka mengganti dengan keduanya dan meninggalkan yang lainnya” (HR Tirmidzi).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ruqyah syar’iyah&lt;/i&gt; dilakukan oleh seorang muslim, baik untuk tujuan penjagaan dan perlindungan diri sendiri atau orang lain, dari pengaruh buruk pandangan mata manusia dan jin (&lt;i&gt;al-ain&lt;/i&gt;) kesurupan, pengaruh sihir, gangguan kejiwaan, dan berbagai penyakit fisik dan hati. Ruqyah juga bertujuan untuk melakukan terapi pengobatan dan penyembuhan bagi orang yang terkena salah satu diantara jenis-jenis gangguan dan penyakit tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan, dari Abu Said al-Khudri ra berkata, “ Ketika kami sedang dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat. Datanglah seorang wanita dan berkata, “ Sesungguhya pemimpin kami terkena sengatan, sedangkan sebagian kami sedang tidak ada. Apakah ada diantara kalian yang biasa meruqyah?” Maka bangunlah seorang dari kami yang tidak diragukan kemampuannya tentang ruqyah. Dia meruqyah dan sembuh. Kemudian dia diberi 30 ekor kambing dan kami mengambil susunya. Ketika peruqyah itu kembali, kami bertanya, ”Apakah Anda meruqyah?“ Berkata, ”Tidak, saya tidak meruqyah kecuali dengan Al-Fatihah.” Kami berkata,“Jangan bicarakan apapun kecuali setelah kita mendatangi atau bertanya pada Rasulullah saw. Ketika sampai di Madinah, kami ceritakan pada Nabi. Dan beliau berkata, “ Tidakkah ada yang tahu bahwa itu adalah ruqyah? Bagilah (kambing itu) dan dan jadikan saya satu bagian.” (HR Bukhari dan Muslim). Pembenaran Rasulullah terhadap tindakan sahabat tersebut juga menjadi dasar bolehnya memungut upah dari terapi ruqyah.&lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eDari Auf bin Malik al-Asyja’i berkata, ”Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyah, dan kami bertanya, “ Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu?” Rasulullah bersabda, ”Perlihatkan padaku ruqyah kalian. Tidak apa-apa dengan ruqyah jika tidak ada syiriknya.” (HR Muslim)\u003cspan\u003e  \u003c/span\u003e\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003ePara ulama berpendapat bahwa pada dasarnya ruqyah secara umum dilarang, kecuali ruqyah syariah. Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya ruqyah (mantera), \u003ci\u003etamimah\u003c/i\u003e (jimat) dan \u003ci\u003etiwalah\u003c/i\u003e (pelet) adalah kemusyrikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim). \u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eBerkata Muhammad bin Al-Hasan, ”Dengan ini kami berpendapat. Tidak apa-apa dengan ruqyah selagi memakai Al Quran dan dzikrullah. \u003cspan lang\u003d\"SV\"\u003eSedangkan jika ruqyah dengan perkataan yang tidak dikenal, maka tidak boleh.” \u003c/span\u003e\u003c/font\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"SV\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003eRasulullah dalam berbagai riwayat, menyampaikan kepada para sahabatnya untuk melakukan \u003ci\u003eruqyah dzatiyah\u003c/i\u003e, yaitu seorang mukmin melakukan penjagaan terhadap diri sendiri dari berbagai macam gangguan jin, sihir, serta sakit yang lain. Hal ini lebih utama daripada meminta diruqyah orang lain. Dilakukan dengan dzikir dan doa \u003ci\u003ema’tsur\u003c/i\u003e (yang dicontohkan Rasulullah).***\u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"SV\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"SV\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n\u003cp style\u003d\"margin:0cm 0cm 0pt;text-indent:36pt;text-align:justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"SV\"\u003e\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\u003e \u003c/font\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\n",0] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;Dari Auf bin Malik al-Asyja’i berkata, ”Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyah, dan kami bertanya, “ Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu?” Rasulullah bersabda, ”Perlihatkan padaku ruqyah kalian. Tidak apa-apa dengan ruqyah jika tidak ada syiriknya.” (HR Muslim)&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;Para ulama berpendapat bahwa pada dasarnya ruqyah secara umum dilarang, kecuali ruqyah syariah. Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya ruqyah (mantera), &lt;i&gt;tamimah&lt;/i&gt; (jimat) dan &lt;i&gt;tiwalah&lt;/i&gt; (pelet) adalah kemusyrikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;Berkata Muhammad bin Al-Hasan, ”Dengan ini kami berpendapat. Tidak apa-apa dengan ruqyah selagi memakai Al Quran dan dzikrullah. &lt;span lang="SV"&gt;Sedangkan jika ruqyah dengan perkataan yang tidak dikenal, maka tidak boleh.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; font-family: verdana; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Rasulullah dalam berbagai riwayat, menyampaikan kepada para sahabatnya untuk melakukan &lt;i&gt;ruqyah dzatiyah&lt;/i&gt;, yaitu seorang mukmin melakukan penjagaan terhadap diri sendiri dari berbagai macam gangguan jin, sihir, serta sakit yang lain. Hal ini lebih utama daripada meminta diruqyah orang lain. Dilakukan dengan dzikir dan doa &lt;i&gt;ma’tsur&lt;/i&gt; (yang dicontohkan Rasulullah).***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-158815375595097736?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/158815375595097736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=158815375595097736&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/158815375595097736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/158815375595097736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/02/tragedi-ponari.html' title='Tragedi Ponari'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1261430457616987059</id><published>2009-02-19T06:28:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T06:31:35.207-08:00</updated><title type='text'>Peradaban Kerja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TQS At Taubah:  105&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Awal bulan ini (4/2/09), dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Festival Ekonomi Syariah (FES) dilaksanakan di Balai Sidang Jakarta. Mungkin tak banyak yang tahu dan menyadari bahwa kegiatan tersebut adalah fase baru dan capaian penting dalam sejarah penerapan syariah Islam di Indonesia. Sebelumnya pertengahan tahun 2008, UU Perbankan Syariah telah disahkan oleh DPR. Perbankan syariah telah mempunyai landasan kokoh dalam hukum positif di Indonesia.&lt;br /&gt;    Sistem ekonomi Islam telah diakui dan menjadi bagian yang berbeda dengan bank konvensional. Bahkan, saat peresmian Bank Syariah Bukopin(11/12/08), wakil presiden Jusuf Kalla menyatakan bahwa sistem perbankan syariah merupakan pilihan sistem ekonomi masa depan. Perbankan syariah mampu bertahan di tengah krisis ekonomi global karena berbasis ekonomi riil. Ia bisa menjadi solusi di tengah sistem konvensional yang kewalahan mengatasi greedy (ketamakan) dan fraud (manipulasi) para pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Etos Amal &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Perbankan syariah adalah contoh nyata tentang idealisme dan doktrin Islam yang diterjemahkan dengan manis dalam tataran praktis (amal). Menilik sejarah, capaian tersebut bukan diperoleh dengan mudah. Sebelumnya, mereka adalah kelompok yang suka dicemooh dan dianggap tak realistis saat menerapkan sistem ekonomi Islam. Banyak  kelompok Islam yang sudah pasrah bahwa riba dalam sistem bank konvensional adalah realitas dunia modern yang tak terelakkan. Sampai-sampai, ada tokoh Islam yang membuat analogi bahwa bunga bank (interest) sebagai konsekuensi logis dari proses transaksi. Haramnya riba menjadi bagian hukum Islam yang nyaris menjadi kenangan sejarah. Tahun 1950-an, ungkap Umer Chapra (1999), keberadaan sistem ekonomi syariah baru ada dalam wacana-wacana (baca: mimpi) akademis.&lt;br /&gt;Idealisme yang kemudian diikuti dengan kerja konkret, ternyata mengubah sejarah. Satu dasawarsa terakhir, bank-bank syariah menunjukkan perkembangan pesat. Saat ini di Bank Indonesia tercatat ada lima Bank Umum Syariah (BUS), 24 UUS (Unit Usaha Syariah) dan 114 BPRS. Sementara kekuatan jaringan kantor bank syariah mencapai 711 kantor dan 1.195 layanan syariah. Dengan kekuatan ini perbankan syariah berhasil membukukan 2,8 juta rekening nasabah. Dari sekadar arus pinggiran dalam aktivitas perbankan, bank syariah ternyata berubah menjadi alternatif bagi paradigma ekonomi yang berkeadilan. Jika dahulu  bunga bank dinyatakan halal (ataupun makruf) karena alasan-alasan dharury, belakangan MUI dengan tegas menyatakan bahwa bunga bank itu haram.&lt;br /&gt;    Dari para pelaku ekonomi syariah itu, kita belajar banyak tentang kaidah amal. Banyak hal dalam kehidupan kita, yang sebenarnya kita sudah tahu solusinya. Kita fasih menyebut kekurangan yang terjadi di masyarakat dan bagaimana jalan keluarnya. Namun, banyak di antara kita yang hanya menjadi pengamat, komentator, atau penonton dari berbagai peristiwa. Tidak ada andil dan tindakan langsung dari kita untuk memulai langkah.&lt;br /&gt;    Para ”pengamat” sampai kapanpun tak akan pernah mengubah sejarah. Dalam kaitan ini, secara khusus Allah juga memberi teguran. ”Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TQS As Shaff: 2&lt;/span&gt;).  Ibnu Katsir dalam tafsirnya menuturkan bahwa ayat ini berkaitan dengan kecaman Allah terhadap orang-orang yang mengharap diizinkan berperang, tetapi ketika sampai waktunya mereka tidak melaksanakannya. Dalam pikiran sahabat kala itu, strategi terbaik untuk mempertahankan diri adalah berperang. Sebagian mereka dicela, karena apa yang mereka idealkan dan katakan, tidak mereka laksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepeloporan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran tentang pentingnya beramal ini kita juga peroleh dari para sahabat. Abu Umayyah as-Sya'bani bertanya kepada Abu Tsa'labah al-Khasyani tentang ayat, ”Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya...” (TQS Al Maidah: 105).&lt;br /&gt;    Abu Tsa'labah menjawab, ”Demi Allah engkau telah menanyakan hal ini kepada orang yang pernah diberitahu mengenai perkara ini.”  Ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw, dan beliau menjawab, ”Lakukan amar makruf, dan cegahlah kemungkaran, sehingga apabila engkau melihat kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti. dan dunia yang diutamakan, dan setiap orang membanggakan pemikirannya, maka hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri, dan tinggalkan orang awam, karena sesungguhnya di belakangmu masih ada hari-hari yang panjang. Kesabaran untuk menghadapi hal itu seperti orang-orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan amal kebaikan pada masa seperti ini akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan perbuatan seperti itu.” Sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang daripada kami atau mereka?' Rasulullah menjawab, 'Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR Abu  Dawud,  Tirmidzi,  dan Ibn Majah)&lt;br /&gt;    Begitulah, orang yang beramal (amar makruf) yang dimaksudkan oleh hadits tersebut bukanlah orang-orang yang terdahulu  masuk  Islam (Muhajirin atau Anshar), tetapi orang di zaman ini. Orang yang beramal di zaman fitnah, akan diberi Allah pahala  yang berlipat ganda, atau lima puluh kali lipat pahala pada zaman kemenangan dan kejayaan.&lt;br /&gt;    Saat ini, umat Islam masih dalam kondisi ”bagai buih di lautan”  atau ”bagaikan hidangan yang diperebutkan,” sebagaimana tersebut dalam hadits. ”Apakah karena jumlah mereka yang ketika itu sedikit ya Rasulullah? “Tidak” jawab Rasulullah. Anda pasti punya komentar dan jawaban yang tepat tentang hadist tersebut. Bagaimana kondisi buruk itu menimpa umat Islam dan seperti apa solusinya.&lt;br /&gt;    Masalahnya bukan ada pada benar-salah jawaban kita. Tapi ketika jawaban itu hanya menjadi suara gaduh di meja diskusi. Tidak ada amalan nyata. ”Umat harus bersatu, berjamaah, ”jawab kita. Namun, ternyata sekadar salat berjamaah di masjid—sebagai ’latihan’ berjamaah--, amat jarang kita lakukan.&lt;br /&gt;    Kita perlu banyak belajar pada pegiat ekonomi syariah tersebut di atas ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HARAMNYA RIBA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Islam membenarkan pengembangan uang dengan jalan perdagangan. Seperti firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu makan harta kamu di antara kamu dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan dengan adanya saling kerelaan dari antara kamu." (TQS An Nisa': 29)&lt;br /&gt;Islam sangat memuji orang yang berjalan di permukaan bumi untuk berdagang, sebagaimana firman Allah: "Sedang yang lain berjalan di permukaan bumi untuk mencari anugerah Allah." (TQS Al Muzammil: 20)&lt;br /&gt;Akan tetapi Islam menutup pintu bagi siapa yang berusaha akan mengembangkan uangnya itu dengan jalan riba. Maka diharamkannyalah riba itu sedikit maupun banyak, dan mencela orang-orang Yahudi yang menjalankan riba padahal mereka telah dilarangnya.&lt;br /&gt;Di antara ayat-ayat yang paling akhir diturunkan ialah firman Allah dalam surah Al Baqarah:278 -279:&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman! Takutlah kepada Allah, dan tinggalkanlah apa yang tertinggal daripada riba jika kamu benar-benar beriman. Apabila kamu tidak mau berbuat demikian, maka terimalah peperangan dari Allah dan Rasul-Nya, dan jika kamu sudah bertobat, maka bagi kamu adalah pokok-pokok hartamu, kamu tidak boleh berbuat zalim juga tidak mau dizalimi."&lt;br /&gt;Allah telah memproklamirkan perang untuk memberantas riba dan orang-orang yang meribakan harta serta menerangkan betapa bahayanya dalam masyarakat, sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi:&lt;br /&gt;"Apabila riba dan zina sudah merata di suatu daerah, maka mereka telah menghalalkan dirinya untuk mendapat siksaan Allah." (HR Hakim; dan yang seperti itu diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la dengan sanad yang baik)&lt;br /&gt;Dalam hal ini Islam bukan membuat cara baru dalam agama-agama samawi lainnya. Dalam agama Yahudi, di Perjanjian Lama terdapat ayat yang berbunyi: "Jikalau kamu memberi pinjam uang kepada ummatku, yaitu baginya sebagai penagih hutang yang keras dan jangan ambil bunga daripadanya." (Keluaran 22:25).&lt;br /&gt;Dalam agama Kristen pun terdapat demikian. Misalnya dalam Injil Lukas dikatakan: "Tetapi hendaklah kamu mengasihi seterumu dan berbuat baik dan memberi pinjam dengan tiada berharap akan menerima balik, maka berpahala besarlah kamu..." (Lukas 6: 35).&lt;br /&gt;Sayang sekali tangan-tangan usil telah sampai pada Perjanjian Lama, sehingga mereka menjadikan kata saudaramu dikhususkan buat orang-orang Yahudi, sebagaimana diperjelas dalam fasal Ulangan 23:20 "Maka daripada orang lain bangsa boleh kamu mengambil bunga, tetapi daripada saudaramu tak boleh kamu mengambil dia ..." ***&lt;br /&gt;(dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halal Haram dalam Islam&lt;/span&gt;, Syaikh Yusuf Qardhawi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1261430457616987059?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1261430457616987059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1261430457616987059&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1261430457616987059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1261430457616987059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/02/peradaban-kerja.html' title='Peradaban Kerja'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-7722814353776378212</id><published>2009-02-05T22:12:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T22:16:51.139-08:00</updated><title type='text'>Pemimpin Ruhani  (Asa dari Gaza)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS Al Ankabut: 69&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Segala cara sudah ditempuh untuk membendung dakwah Muhammad. Semuanya tidak membuahkan hasil. Kepanikan kaum musyrikin Makkah mencapai puncaknya ketika keluarga besar Muhammad, Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib, berkeras melindungi Muhammad. Mereka lalu berkumpul di kediaman Bani Kinanah dan bersumpah untuk tidak menikahi Bani Hasyim dan Bani Muththalib, tidak berjual beli dengan mereka, tidak berkumpul, berbaur, memasuki rumah ataupun berbicara dengan mereka hingga mereka menyerahkan Muhammad untuk dibunuh. Kesepakatan zalim itu mereka tulis dalam lembar perjanjian (shahifah) dan digantungkan di rongga Ka’bah.&lt;br /&gt;    Pemboikotan itu berjalan 3 tahun. Stok makanan mereka habis. Sementara itu kaum musyrikin tidak membiarkan makanan apapun yang masuk ke Mekkah atau dijual kecuali mereka segera memborongnya. Tindakan ini membuat kondisi Bani Hâsyim dan Bani Muththalib semakin memprihatinkan. Mereka terpaksa memakan dedaunan, kulit-kulit, juga pelepah kurma. Jeritan kaum wanita dan tangis bayi-bayi yang mengerang kelaparan pun terdengar dari rumah mereka.&lt;br /&gt;    Pemboikotan itu baru berhenti setelah timbul perselisihan antar musyrikin Makkah dan ketika lembar perjanjian telah dimakan rayap. Rayap hanya menyisakan tulisan “bismikallâh” (dengan namaMu ya Allah) di lembaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;    Sejarah itu berulang. Di Gaza Palestina. Ada banyak sisi yang sama dengan sirah Rasulullah di atas. Telah lama lama warga Palestina berada dalam suasana penjajahan. Bertahun-tahun mereka hidup dengan berbagai keterbatasan. Sampai ketika HAMAS mereka dukung dan memenangi pemilu, tekanan itu semakin besar. Gaza diisolasi. Seluruh akses keluar ditutup. Hanya tersisa satu solusi: menggali lorong bawah tanah untuk melewati perbatasan Ghaza–Mesir. Jangan bayangkan mereka mereka melakukannya dengan alat berat. Semua mereka lakukan dengan keterbatasan alat. Mereka lakukan diam-diam, tempat dan waktunya juga harus mereka rahasiakan. Mereka menggali sumur berdiameter 1 meter sedalam 12 sampai 13 meter. Setelah itu terowongan digali dengan panjang minimal 800 meter.&lt;br /&gt;    Selama 2 tahun, warga Gaza hidup dalam blokade, dengan mengandalkan lorong bawah tanah untuk mendapat pasokan makanan. Media massa Arab menyebut lorong itu sebagai ”selang oksigen bagi penduduk Gaza,” nyaris dalam makna yang sebenarnya.&lt;br /&gt;    Dalam ukuran umum, kondisi sulit itu pasti akan membuat lemah. Seperti itulah perkiraan Yahudi-Israel. Gaza lantas dibombardir, setelah sebelumnya diisolasi secara sistemik. Namun ternyata warga Gaza tak menyerah. Dunia menyaksikan bagaimana warga Gaza begitu perkasa.&lt;br /&gt;Seorang yang berhati peka akan tercenung. Apa sebenarnya sebab dan faktor-faktor yang telah membawa warga Gaza mencapai puncak dan batas tak tertandingi dalam ketegarannya? Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan menghadapi penindasan demi penindasan yang membuat bulu roma merinding dan hati gemetar saat mendengarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepemimpinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Saya menemukan jawabannya dari salinan (notulensi) ceramah Shami Abu Zuhri, Jubir resmi HAMAS dalam  kunjungannya ke Jakarta akhir bulan lalu. ”Siapapun yang berkunjung ke Gaza akan melihat kondisi masyarakat yang tak ada di tempat lain,” kata Shami, dalam sesi dialog dengan  para aktivis dakwah. Walaupun menderita, mereka giat mempelajari Qur’an. Ada 5.000 penghafal Qur’an dari negeri yang luasnya hanya 315 km persegi. Salat lima waktu, mereka jalankan berjamaah di masjid. ”Gaza adalah negeri perlawanan, juga negeri dimana penduduknya beriman,” terang Shami.&lt;br /&gt;    Gaza dipimpin oleh pemimpin yang dekat dengan warga. Ismail Haniya, PM Palestina, adalah pemimpin yang dibesarkan di kamp pengungsian. Ia hidup membaur. Ia merasakan kesulitan yang sama dihadapi warga. Di waktu malam, ia pergi ke masjid untuk mengimami warga. Ia berada ke berbagai perkumpulan warga, saat senang ataupun susah. Ia bersemayam di hati rakyat, beresonansi sampai jauh—bahkan sampai ke Samsuri,sahabat saya yang memberi nama putrinya ”Daarin Haniya.”&lt;br /&gt;    Maka, yang terjadi bukan antara pemerintah dan rakyat. Tetapi rakyat saja. ”Pemerintah ada di jalan-jalan, tak ada beda antara menteri dan warga biasa,” tutur Shami. Israel bukan hanya memerangi pemerintah HAMAS, tetapi rakyat secara keseluruhan. Dalam setiap perang, orang-orang sipil lari dari medan perang. Tidak demikian di Gaza. Anak-anak Palestina, para pemuda, para perempuan Palestina, semuanya cinta mati syahid.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;    Urwah Ats-Tsaqafi mewakili kaum kafir Quraisy, datang untuk berunding dengan Rasulullah saw. Dia amat terpesona dengan cara sahabat memperlakukan Nabi saw. Ketika beliau berwudhu, orang memperebutkan air ludahnya, dan ketika rambutnya jatuh orang berdesakan mengambil rambutnya. Ketika Urwah kembali ke kaumnya, dia berkata “Hai kaum Quraisy, aku pernah mendatangi Kisra di kerajaannya. Aku pernah menemui Kaisar di keratonnya. Najasyi di istananya. Belum pernah aku melihat orang memperlakukan rajanya seperti sahabat-sahabat Muhammad memperlakukan Muhammad.” Urwah menyampaikan pada tokoh Quraisy, bahwa mustahil menang melawan Muhammad.&lt;br /&gt;    Urwah benar. Pengaruh kekuasaan Muhammad jauh melampaui Kisra Persia. “Jika kita mengukurnya kebesarannya dengan pengaruh, Muhammad adalah seorang raksasa sejarah. Ia berjuang meningkatkan tahapan ruhaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan kegersangan gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu manapun, belum pernah ada orang  yang begitu berhasil mewujudkan mimpinya seperti dia,” tulis Will Durrant dalam The Story of Civilizaton. “Dia datang  seperti sepercik sinar dari langit, jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir mesiu yang membakar angkasa Delhi ke Granada,” ujar Thomas Carlyle dalam On Heros and Hero Worship.&lt;br /&gt;Sejarah itu berulang. Di Gaza Palestina. Kekuatan iman dan kecintaan kepada para pemimpin mereka menjadi kombinasi yang tangguh. Gaza adalah kelahiran baru bagi umat ini. Gaza telah menjadi buah bibir warga dunia.&lt;br /&gt;    Gaza adalah tempat kebangkitan. Gaza adalah inspirasi membangun rasa percaya diri. Ini adalah ruh baru untuk kembali meraih kejayaan Islam.  ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-7722814353776378212?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/7722814353776378212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=7722814353776378212&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/7722814353776378212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/7722814353776378212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/02/pemimpin-ruhani-asa-dari-gaza.html' title='Pemimpin Ruhani  (Asa dari Gaza)'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1899559390664343690</id><published>2009-02-01T19:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T19:16:17.176-08:00</updated><title type='text'>Kapan Kita Berhenti Merokok? (Haramnya Rokok)</title><content type='html'>Dan janganlah kamu membinasakan diri kamu sendiri; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TQS An Nisa’: 29&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadir dalam acara syukuran haji tetangga, saya mendengar kisah menarik tentang ”razia” di Masjid Nabawi, Madinah. Di pintu masuk ke masjid, ada para penjaga yang mengawasi datangnya jamaah. Bila mendapati jamaah yang merokok, mereka menegur keras,&lt;br /&gt;”Haram, haram!” seraya merampas rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari sebelum fatwa MUI, ulama di Arab Saudi telah menetapkan haramnya rokok. Ketetapan tersebut ditindaklanjuti, salah satunya, dengan pelarangan di masjid.  Jumhur ulama di berbagai negara di Timur Tengah, juga Malaysia dan Brunei Darussalam;  telah memfatwakan keharaman rokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat atau lambat—kebetulan, Indonesia termasuk yang terlambat—rokok akan menjadi masalah yang menjadi perhatian penting para ulama. Menurut Ahmad Sarwat (pengelola rubrik konsultasi syariah situs eramuslim.com), awalnya memang belum ada ulama yang mengharamkan rokok, kecuali hanya memakruhkan. Namun dasar pemakruhannya sangat berbeda dengan dasar pengharamannya di masa sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu para ulama hanya memandang bahwa orang yang merokok itu mulutnya berbau kurang sedap, sehingga mengganggu orang lain dalam pergaulan.  Hal yang kurang disukai ini kemudian dikatakan hukumnya makruh sesuai qiyas (analogi) dengan makan bawang. Mereka masih menggunakan literatur klasik, yang ditulis beberapa ratus tahun yang lalu, di mana pengetahuan manusia tentang bahaya nikotin dan zat-zat beracun di dalam sebatang rokok masih belum nyata terlihat. Belum  ada fakta dan penelitian di kala itu tentang bahaya sebatang rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila mereka membaca penelitian terbaru tentang 200-an racun yang berbahaya yang terdapat dalam sebatang rokok, pastilah mereka akan bergidik. Dan pastilah mereka akan setuju bahwa rokok itu memberikan mudharat yang sangat besar, bahkan teramat besar. Demikian menurut Ahmad Sarwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Efek Sistemik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan bahwa di Amerika, sekitar 346 ribu orang meninggal tiap tahun dikarenakan rokok. Dan tidak kurang dari 90% dari 660 orang yang terkena penyakit kanker di salah satu rumah sakit Shanghai Cina disebabkan rokok.&lt;br /&gt;Lebih dari 70 ribu artikel ilmiah membuktikan dampak buruk rokok. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4000 racun kimia berbahaya, dan 43 diantaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Berbagai zat berbahaya itu adalah tar, karbon monoksida (CO), dan nikotin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, berbagai penyakit kanker pun mengintai, seperti: kanker paru-paru—90% kanker paru pada laki-laki disebabkan rokok, dan 70% untuk perempuan, kanker mulut, kanker bibir, asma, kanker leher rahim, jantung koroner, darah tinggi, stroke, kanker darah, kanker hati, bronchitis, kematian mendadak pada bayi, bahaya rusaknya kesuburan bagi wanita, dan impotensi bagi kaum pria. Prosentase kematian disebabkan rokok adalah lebih tinggi dibandingkan karena perang dan kecelakaan lalulintas.&lt;br /&gt;Rokok mengakibatkan efek yang sangat kompleks. WHO memperkirakan hampir sekitar 700 juta anak atau sekitar setengah dari seluruh anak di dunia ini, termasuk bayi yang masih menyusu pada ibunya, terpaksa menghisap udara yang sudah terpolusi oleh asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak asap rokok bukan hanya untuk si perokok aktif (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;active smoker&lt;/span&gt;) saja. Ia pun punya dampak sangat serius bagi perokok pasif (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;passive smoker&lt;/span&gt;). Perlu diketahui, jika seseorang merokok, itu berarti dia hanya menghisap asap rokoknya sekitar 15% saja, sedangkan 85% lainnya akan dilepaskan dan akhirnya dihisap oleh para perokok pasif.  Orang yang tidak merokok (passive smoker), tetapi terpapar asap rokok akan menghirup dua kali lipat racun yang dihembuskan pada asap rokok oleh si perokok. Ini zalim, sangat tidak adil; tidak merokok, tetapi malah menghirup racun dua kali lipat. Pengaruh asap rokok pada perokok pasif adalah tiga kali lebih buruk daripada debu dan batu bara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bahayanya, tidak heran jika menurut estimasi WHO, pada 2020 dampak tembakau di negara maju akan menurun drastis. Mereka paham betapa bahayanya rokok. Trend tersebut terlihat jelas. Pada 1996 mencapai 32%, namun pada 2001 menurun hanya 28%. Ironisnya, di negara-negara berkembang trend konsumsi tembakau malah mengalami kenaikan, yaitu 68% pada 1996, menjadi 72% pada 2001. Maka wajar, jika hampir 50% (sekitar 4,2 juta jiwa) kematian akibat tembakau pada 2020 terjadi di wilayah Asia, khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan ternyata bukan perkara politik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an sich&lt;/span&gt; seperti yang riuh dibicarakan orang. Penyebabnya adalah perilaku boros sebagian besar masyarakat. Ada triliunan uang yang dibakar setiap hari secara sia-sia lewat kebiasaan merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada argumentasi “gagah” menolak pelarangan rokok dengan mengaitkan  industri rokok sebagai sumber devisa dan penyedia lapangan kerja. Namun, itu semua sebenarnya hanya ilusi belaka. Sebagai contoh, tahun 2004 cukai rokok sebesar Rp 27 trilyun. Jika pemerintah mendapatkan Rp 27 trilyun, berapa sebenarnya biaya kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat? Menurut data riset di berbagai negara, biaya kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat sebesar 3 kali lipat dari cukai yang didapatkan. Jadi, kalau cukainya Rp. 27 trilyun maka biaya kesehatannya sebesar Rp 81 trilyun. Hitungan tersebut tetap membuat negara defisit alias merugi secara kolektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tataran pemerintah, problemnya lebih banyak pada kemauan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;political will&lt;/span&gt;). Banyak komoditas unggulan pertanian yang bisa dikembangkan untuk mengganti ladang tembakau petani. Banyak sektor manufaktur yang bisa dikembangkan menggantikan industri rokok. Even olahraga tak akan mati, kalaupun tak ada iklan rokok. Sebagaimana liga sepakbola di Eropa tetap maju dan menarik ditonton, kendati mengharamkan iklan rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Problem Moralitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah menjadi fakta yang tidak diingkari oleh siapapun bahwa MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN, sebagaimana tertulis di setiap bungkus rokok. Karenanya, kontroversi seputar keharaman rokok lebih banyak kaitannya dengan masalah perilaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para psikolog lazim menyebut hal ini sebagai disonansi kognitif. Nalar dan logika seseorang mengantarkannya mengetahui bahaya sesuatu, tetapi tarikan kenikmatan (godaan nafsu) mengalahkan akal sehatnya. Almarhum Bang Imad (Prof. Imaduddin Abdul Rahim), dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kuliah Tauhid&lt;/span&gt;-nya bahkan menyebut rokok sebagai ilah (tuhan) yang kejam. Sesuai logika, menurut Bang Imad, para perokok itu tidak bisa lain melainkan musyrik yang paling konyol. Agaknya rokok telah menjadi berhala, seperti kata Taufiq Ismail dalam puisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan Sembilan Senti&lt;/span&gt;. Bila ada ulama perokok secara otomatis tertolak ijtihadnya, karena perilakunya cacat, timbangan maslahat-mudharatnya telah kacau. Tak kurang Quraish Shihab juga menyebut perokok tak layak menjadi imam salat—kecuali faktor darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, mungkin masih banyak di antara kita meremehkan perkara rokok. Merasa rokok tidak menimbulkan efek buruk bagi tubuh, atau dianggap sepele karena banyak orang yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda merokok, bayangkan orang-orang terdekat yang Anda cintai. Isteri dan anak Anda otomatis juga menjadi perokok (pasif) yang menanggung dampak lebih besar dibanding Anda. Kalau mereka sakit, Andalah yang akan menanggung. Secara sistemik ternyata kita sengaja mengurangi potensi hidup (baca: mempercepat kematian) orang-orang yang kita cintai. Saya berharap kita dapat menghentikannya. Semata-mata, karena cinta. ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1899559390664343690?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1899559390664343690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1899559390664343690&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1899559390664343690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1899559390664343690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/02/kapan-kita-berhenti-merokok-haramnya.html' title='Kapan Kita Berhenti Merokok? (Haramnya Rokok)'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-4810181225364490402</id><published>2009-01-26T20:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T20:30:06.173-08:00</updated><title type='text'>Yang Bersegera Bangkit dari Keterpurukan (Gaza Pascaperang)</title><content type='html'>Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka teguh pendirian (istiqamah),  maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.&lt;br /&gt;(TQS Al Ahqaaf:  13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis cilik itu tampak sangat serius membaca buku pelajaran. Ia seperti tak terlalu peduli dengan kondisi sekitar. Memakai baju sederhana, dengan latar belakang gedung-gedung yang porak-poranda. Menandai redanya perang di Gaza, foto gadis cilik itu terpampang di halaman depan (headline) berbagai koran (Kamis, 22/1/2009). Aktivitas masyarakat telah kembali normal berjalan, hanya setengah pekan setelah Israel berhenti memborbardir Gaza. &lt;br /&gt;Foto seringkali bisa mewakili banyak pesan, lebih dari yang tersampaikan dengan kata-kata. Dari Jalur Gaza Palestina, foto murid sekolah itu menyampaikan kepada kita pesan ketegaran, sekaligus kemenangan. Ya. Dua puluh dua hari perang tentu bukan waktu yang sebentar. Senjata canggih penjajah Israel telah meluluhlantakkan sebagian besar gedung di Gaza, dengan ribuan korban tewas. Tapi semua itu ternyata tak bisa mengalahkan semangat  warga Gaza. Mereka tampak sangat tegar, sebagaimana sebelumnya mereka bisa mengatasi hari-hari pemboikotan dengan menggali terowongan di perbatasan Rafah.&lt;br /&gt;Selasa (20/1), puluhan ribu warga Gaza turun ke jalan, memberi dukungan kepada pemerintah. Mereka telah menang secara moril dan materiil, saat Israel mengumumkan gencatan senjata secara sepihak. ”Mereka telah keluar perang dengan kepala tegak,” lansir The Observer, koran dengan tiras terbesar di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Energi Iman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Serangan Israel ke Gaza telah menjadi berita duka bagi warga dunia. Tapi di sisi lain, dari Gaza, kita juga bisa belajar tentang cara menyikapi musibah. Perang, yang merenggut harta benda, orang-orang tercinta, luka cacat, serta berbagai kesulitan lain, ternyata tak membuat mereka terjerumus keputus-asaan. Mereka terpuruk secara ekonomi, tetapi mereka tetap tegar bahkan  melawan secara ksatria orang-orang yang merampas tanah airnya. Tak terlihat nuansa  chaos dalam sistem sosial warga Gaza. Tak kita dengar ada peristiwa bunuh diri atau perilaku kriminal warga, di tengah kesulitan yang mereka hadapi. &lt;br /&gt;Dari Palestina, bumi para syuhada itu, kita melihat bukti bahwa keimanan telah menjadi energi luar biasa yang tak terkalahkan. ”Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (TQS Al Baqarah: 256). &lt;br /&gt;Dari Gaza, kita bisa belajar banyak tentang cara menyikapi keterpurukan, dari keseharian yang kita alami. Kesulitan, dalam berbagai bentuknya, adalah warna hidup yang tak dapat kita hindari. Bahkan ia menjadi konsekuensi dari keimanan kita. ”Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikitpun.” (HR Bukhari). “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. .” (TQS Al Baqarah: 155).&lt;br /&gt; Setiap orang pasti akan merasakan susah. Menjadi mustahil jika seseorang membayangkan bahwa dirinya akan terlepas dari kesusahan dan cobaan. Kapan saja, kepada siapa saja, terduga ataupun tak terduga, kesulitan itu pasti akan terjadi. &lt;br /&gt; Maka, perkaranya bukan pada kesusahan yang kita alami, tapi pada cara menyikapi musibah tersebut. Ujian dan cobaan itulah yang akan memperlihatkan kesejatian seseorang. Sebagaimana kata Ibnul Jauzi, “Orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan abadi tanpa ujian dan cobaan, berarti ia belum mengenal ajaran Islam dan tidak mengenal arti pasrah diri kepada Allah.” &lt;br /&gt; Ujian kesulitan itu akan hadir menyapa kita dalam berbagai varian. Ada banyak di antara kita yang menyikapi dengan keputus-asaan. Yang paling fatal, rasa putus-asa itu  sampai berujung pada kematian karena bunuh diri, sebagaimana kita temui nyaris tiap hari di koran lokal. Yang paling banyak kita dapati—atau bisa jadi kita sendiri lakukan--, rasa putus asa itu berwujud dengan tindakan yang tidak produktif. Malas bekerja, menunda aktivitas, atau berbagai tindakan ”pelarian” yang lain.&lt;br /&gt;Begitulah, di tengah aktivitas menggalang bantuan kepedulian kita terhadap saudara kita di Palestina, kita mendapat pelajaran yang amat berharga dari mereka: tentang makna bersegera bangkit dari keterpurukan. Inilah energi kolektif yang tak akan terbendung, bahkan ketika saat ini Israel terus memblokade Gaza dengan berupaya menghancurkan terowongan rahasia di Rafah.  &lt;br /&gt;Maka, jika saat ini Anda terpuruk, cobalah Anda bandingkan dengan kesulitan yang dialami saudara Muslim kita di Palestina. Apa yang menjadi alasan Anda untuk tidak bersegera bangkit?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-4810181225364490402?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/4810181225364490402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=4810181225364490402&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/4810181225364490402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/4810181225364490402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/01/yang-bersegera-bangkit-dari.html' title='Yang Bersegera Bangkit dari Keterpurukan (Gaza Pascaperang)'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-6670134668330595143</id><published>2009-01-19T18:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T18:27:52.928-08:00</updated><title type='text'>Cinta untuk Palestina</title><content type='html'>”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muhammad itu adalah utusan Allah,  dan orang-orang yang bersama dengan dia bersifat tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud...&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt; (TQS Al Fath: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamp pengungsian Jabaliya, Jalur Gaza. Shahd, gadis cilik berusia 4 tahun itu tengah bermain saat peluru kendali Israel menembus tubuhnya. &lt;br /&gt;”Ya Allah, saya tidak pernah melihat pemandangan mengerikan seperti ini,” jerit Kayed Abu Haukal, yang menjadi saksi mata. Dokter emergency itu tak tahu kata apalagi yang bisa diungkapkan untuk mengambarkan kekejian Israel. Setelah serangan itu, tentara Israel melepaskan anjing-anjingnya. Tubuh balita Shahd menjadi santapan anjing.&lt;br /&gt;Ketika orangtua Shahd mencoba menyelamatkan jenazah puterinya, pasukan teroris Israel menghujani dengan tembakan. Melihat jenazah adiknya menjadi santapan anjing Israel, Matar (saudara laki-laki Shahd) dan sepupunya Muhammad nekat mendekati jenazah Shahd. Keduanya juga dihujani peluru Israel sebelum mencapai tubuh Shahd. Matar dan Muhammad pun menjadi syuhada, menambah daftar warga Palestina yang syahid.&lt;br /&gt;Tindakan biadab itu tak hanya menimpa Shahd. Di Jabaliya, ketika keluarga Abd Rabbu memakamkan 3 anggota keluarganya, pasukan Israel menembaki mereka. Orangpun berlarian mencari perlindungan. Tentara Israel kemudian melepaskan  anjing-anjingnya ke arah jenazah keluarga Abdu Rabbu yang belum sempat dimakamkan. Tiga jenazah tersebut menjadi santapan anjing Israel. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kisah menyayat hati di atas hanya salah satu dari kekejaman Israel. Serangan ke Jalur Gaza selama 22 hari kemarin, telah  memperlihatkan kepada kita tentang berbagai kebiadaban Israel. Bom ribuan ton telah tercurah di Jalur Gaza. Rumah sakit, kamp pengungsian, gedung sekolah, masjid, dan berbagai fasilitas sipil yang lain hancur porak poranda menjadi sasaran rudal Israel—tempat yang sebenarnya tak dibolehkan menjadi sasaran dalam Konvensi Internasional. Lebih dari 1.200 orang tewas, puluhan ribu orang terluka dan cacat, ribuan bangunan hancur, warga Gaza hidup tanpa listrik dan air, terisolasi dengan kondisi krisis makanan dan obat-obatan. Gaza memerlukan dana besar untuk melakukan recovery dan rehabilitasi. &lt;br /&gt; Palestina adalah ironi sejarah. Penjajahan ternyata masih berlangsung secara telanjang di abad milenium. Kekejaman Israel telah berlangsung lama, dalam bentuk yang tak terbayangkan oleh kita sebelumnya. Ini adalah perilaku keji yang telah dijalankan Israel selama lebih dari tiga generasi. Dunia internasional seperti tak punya daya. Upaya untuk menekan Israel selalu kandas dengan veto Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedekatan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bumi Palestina awalnya di bawah pemerintahan Turki Utsmani semenjak abad ke-16 Masehi. Ia menjadi satu kota yang terbuka dan menjadi pusat ziarah kaum Muslimin dan juga para penganut Nasrani yang menunaikan ziarah mereka ke kota suci Baitul Maqdis. Hubungan harmonis ini telah terwujud semenjak 16 H ketika Umar bin Khattab berkuasa. Pada abad ke-11 M, ketentraman itu sempat terganggu dengan kedatangan tentara Salib dari Eropah. Bukan hanya menjadi bencana umat Islam, penduduk Palestina yang beragama Kristen pun telah turut menjadi mangsa kekejaman tentara Salib. Situasi pulih kembali setelah Salahuddin al-Ayyubi berkuasa. Penduduk Baitul Maqdis terus hidup di dalam keadaan damai sampai abad ke-20 M.&lt;br /&gt;Kedekatan Muslimin di Palestina dengan Indonesia telah terjalin sejak keberadaan kerajaan Islam di Jawa. Para sejarawan meyakini nama daerah (dan Masjid) Kudus di Jawa, ada hubungan khusus dengan keberadaan Al Quds (Yerussalem) tempat berdiri masjid Al Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Indonesia sebenarnya juga punya utang budi besar terhadap Palestina, saat memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945. Mufti Palestina kala itu menjadi pemrakarsa penting yang mendorong agar negara-negara Arab mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat. &lt;br /&gt;Kondisi berubah drastis pada 1948. Atas dukungan Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II, orang Yahudi yang sebelumnya tersebar di Eropa dan Amerika mendirikan negara Israel di bumi Palestina. Sejak itulah bencana kemanusiaan bertubi-tubi terjadi. Penduduk Palestina diusir. Ratusan ribu orang terlunta-lunta di kamp-kamp pengungsian selama lebih dari 60 tahun. Bukan sekadar bilangan bulan atau tahun mereka mengungsi, tapi telah sampai tiga generasi (kakek sampai cucu). Penjajahan secara nyata menjadi ironi dunia modern. Orang Yahudi yang dibenci warga Eropa karena congkak, pengamal riba dan lintah darah itu, menjadi penyebab suramnya masa depan generasi Palestina. Celaan Allah yang begitu banyak di Al Qur’an terhadap perilaku kaum Yahudi, kita lihat bukti nyatanya di Palestina, saat ini. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kita khawatir masih ada yang tidak peduli. Menganggap Palestina negeri yang jauh. Padahal, teknologi telah memungkinkan kita mengetahui apa yang terjadi saat ini di belahan bumi yang lain. Hobi kita menonton sepakbola, misalnya, telah mengenalkan dengan dekat pemain bola yang berada jauh di Eropa. Lantas, apa yang menjadi penghalang kita untuk ambil peduli dengan penderitaan saudara-saudara di Palestina?&lt;br /&gt;Aksi solidaritas untuk membantu Palestina itu telah mengalir dari Kanada sampai Jakarta. Dari Frankfurt (Jerman) sampai Durban (Afrika Selatan), ribuan orang turun ke jalan menentang kekejaman Israel. Bagi kita, lebih dari sekadar bencana kemanusiaan, ini adalah perang untuk menodai kehormatan Islam. &lt;br /&gt;Kita khawatir masih ada yang tidak peduli. Kita khawatir ada yang tergolong dalam hadits masyhur dari Nabi. ”Barang siapa tidak peduli umatku, maka ia bukan termasuk golonganku.”***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-6670134668330595143?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/6670134668330595143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=6670134668330595143&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/6670134668330595143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/6670134668330595143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/01/cinta-untuk-palestina.html' title='Cinta untuk Palestina'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1216296815824121122</id><published>2009-01-05T20:08:00.001-08:00</published><updated>2009-01-05T20:08:44.481-08:00</updated><title type='text'>Palestina di Hati Kita</title><content type='html'>”Sesungguhnya akan kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...”&lt;br /&gt;(TQS Al Maidah: 82).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nablus, wilayah Tepi Barat Palestina. Seorang wanita hamil berjalan gontai kehabisan tenaga, bersandar pada bahu suaminya. Sang suami meminta izin melintasi pos perlintasan militer Israel. Keduanya terburu-buru ingin mencari tumpangan mobil agar dapat segera sampai di rumah sakit. Namun serdadu penjajah Israel menghadang, memaksa mereka kembali ke tempat asal, dari arah keduanya datang.&lt;br /&gt;Suami istri itu, yang bernama Dawud (43) dan Rola Ashtiya (29), terus menunggu dalam perasaan cemas dan terkoyak. Panjang dan lama sekali menunggu. Sampai akhirnya, sang istri, benar-benar dalam kondisi mau melahirkan. Ia lantas bersandar di belakang gundukan batu di samping pos perlintasan. ”Saat itu saya sedang mencoba meyakinkan para serdadu Israel agar mengizinkan kami lewat. Saya tidak terlalu memperhatikan ke arah istriku. Tiba-tiba saya dengar teriakannya. Bergegas ke arahnya, tiba-tiba saya saksikan dia telah melahirkan janinnya,” kisah Dawud.&lt;br /&gt;"Saat itu istri saya dalam kondisi sangat kritis, wajahnya sangat pucat, di tangannya seorang bayi merah berlumuran darah. Saat itu saya benar-benar gugup, tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Kemudian dia memberi isyarat agar saya memotong tali pusarnya. Tak kutemukan alat apapun untuk memotongnya kecuali batu. Akhirnya saya gunakan dua batu untuk memotong tali pusar bayiku.”&lt;br /&gt;Bayi mungil itu lahir, perempuan. Tapi, kematian ternyata lebih cepat merengutnya dari derita luar biasa yang dialami sang ibu. Janin itu segera meninggal karena tidak mendapatkan pertolongan medis yang semestinya.&lt;br /&gt;Kisah seperti ini bukan hanya terjadi sekali dua kali. Menurut laporan pihak Departemen Kesehatan Palestina, lebih dari 50 peristiwa sejenis telah menimpa para ibu Palestina dan janin-janin mereka dalam 3 tahun terakhir. Tidak sedikit ibu-ibu itu turut mati syahid, karena kehabisan darah.&lt;br /&gt;Kisah menyayat hati seperti di atas adalah menu keseharian di Palestina, dalam bentuknya yang beragam. Blokade di perbatasan membuat kebutuhan warga Palestina amat sulit dipenuhi. Kekejaman tentara Israel itu berlangsung, dalam bentuk yang mungkin tak terbayangkan oleh kita sebelumnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kita di Indonesia, pernah secara dekat merasakan kengerian bencana saat tsunami melanda Aceh, 2005. Banyak bangunan rata dengan tanah. Ribuan orang meninggal, menyebabkan banyak ibu-bapak kehilangan anak-anaknya, atau anak yang menjadi yatim piatu. Kita menyadari hal itu episode dari bencana alam yang tak kuasa kita elakkan, yang kemudian menimbulkan gelombang solidaritas.&lt;br /&gt;Di Palestina kita menyaksikan kisah serupa. Banyak rumah rata dengan tanah. Ribuan anak terpaksa kehilangan ibu-bapaknya, atau cacat seumur hidup. Sekerat roti, makanan mereka sehari-hari, menjadi barang yang amat sulit didapat. Namun, ini bukan karena bencana alam. Ini adalah bencana kemanusiaan. Ini potret kekejaman yang nyata sampai saat ini. Ini perilaku keji yang telah dijalankan Israel selama lebih dari tiga generasi.&lt;br /&gt;Palestina adalah ironi sejarah. Penjajahan ternyata masih berlangsung secara telanjang di abad milenium. Dunia internasional seperti tak punya daya. Upaya untuk menekan Israel selalu kandas dengan veto Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan&lt;br /&gt;Bumi Palestina awalnya di bawah pemerintahan Turki Utsmani semenjak abad ke-16 Masehi. Ia menjadi satu kota yang terbuka dan menjadi pusat ziarah kaum Muslimin dan juga para penganut agama Kristian yang menunaikan ziarah mereka ke kota suci Baitul Maqdis. Hubungan harmonis ini telah terwujud semenjak 16 H ketika Umar bin Khattab berkuasa, khalifah ketiga umat Islam. Pada abad ke-11 M, ketentraman itu sempat terganggu dengan kedatangan tentara Salib dari Eropah. Bukan hanya menjadi bencana umat Islam, penduduk Palestina yang beragama Kristen pun telah turut menjadi mangsa kekejaman tentara Salib. Situasi pulih kembali setelah Salahuddin al-Ayyubi berkuasa. Penduduk Baitul Maqdis terus hidup di dalam keadaan damai sampai abad ke-20 M.&lt;br /&gt;Hubungan emosional kaum Muslimin di Palestina dengan Indonesia telah terjalin sejak keberadaan kerajaan Islam di Jawa. Para sejarawan meyakini nama daerah (dan Masjid) Kudus di Jawa, ada hubungan khusus dengan keberadaan Al Quds (Yerussalem) tempat berdiri masjid Al Aqsa.  &lt;br /&gt;Indonesia sebenarnya juga punya utang budi besar terhadap Palestina, saat memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945. Mufti Palestina kala itu menjadi pemrakarsa penting yang mendorong agar negara-negara Arab mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat.&lt;br /&gt;Kondisi itu berubah drastis pada 1948. Atas dukungan Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II, orang Yahudi yang tersebar di Eropa dan Amerika mendirikan negara Israel di bumi Palestina. Sejak itulah bencana kemanusiaan bertubi-tubi terjadi. Penduduk Palestina diusir. Ratusan ribu orang terlunta-lunta di kamp-kamp pengungsian. Bukan sekadar bilangan bulan atau tahun mereka mengungsi, tapi telah sampai tiga generasi (kakek sampai cucu). Orang Yahudi yang dibenci warga Eropa karena congkak, pengamal riba dan lintah darah itu, menjadi penyebab suramnya masa depan generasi Palestina. Celaan Allah yang begitu banyak terhadap perilaku kaum Yahudi di dalam Al Qur’an, kita lihat bukti nyatanya di Palestina, saat ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari ini, ribuan ton bom Israel tercurah di Jalur Gaza. Masjid, gedung sekolah, dan fasilitas umum—tempat yang sebanarnya tak dibolehkan menjadi sasaran dalam Hukum Perang—hancur karena serangan misil Israel. Ratusan orang tewas, ribuan orang terluka, terisolasi dengan kondisi krisis makanan dan obat-obatan.&lt;br /&gt;Para ksatria di Jalur Gaza saat ini telah melawan. Mereka tak mau tunduk pada penjajah. Walaupun pertempuran itu berjalan tak seimbang. Senapan otomatis dilawan dengan lemparan batu bocah-bocah Palestina. Pesawat tempur dan tank-tank baja dilawan dengan senjata adanya. Hanya Allah-lah sebaik-baik pemberi kemenangan.  ”Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS Al Anfaal: 17).&lt;br /&gt;Kita khawatir masih ada yang tidak peduli. Menganggap Palestina negeri yang jauh. Padahal, teknologi telah memungkinkannya mengetahui apa yang terjadi saat ini di belahan bumi yang lain. Padahal, hobinya menonton bola telah mengantarkannya untuk gandrung pada pemain bola yang berada jauh di Eropa. Lantas, apa yang menjadi penghalang untuk ambil peduli dengan penderitaan saudara-saudara di Palestina?&lt;br /&gt;Aksi solidaritas untuk membantu Palestina itu telah mengalir dari Kanada sampai Jakarta. Dari Frankfurt (Jerman) sampai Durban (Afrika Selatan), ribuan orang turun ke jalan menentang kekejaman Israel. Bagi kita, lebih dari sekadar bencana kemanusiaan, ini adalah perang untuk menodai kehormatan Islam.&lt;br /&gt;Kita khawatir masih ada yang tidak peduli. Kita khawatir tergolong dalam hadits masyhur dari Nabi. ”Barang siapa tidak peduli umatku, maka ia bukan termasuk golonganku.”***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1216296815824121122?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1216296815824121122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1216296815824121122&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1216296815824121122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1216296815824121122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2009/01/palestina-di-hati-kita.html' title='Palestina di Hati Kita'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-731758290053771225</id><published>2008-12-17T17:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T17:49:22.083-08:00</updated><title type='text'>Spirit ‘Kepala Kambing’ (Pelajaran Itsar)</title><content type='html'>"&lt;em&gt;Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada orang  lain (Muhajirin); dan mereka mengutamakan mereka (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;TQS Al Hasyr: 9&lt;/strong&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlibat dalam kepanitiaan kurban pekan yang lalu, ingatan tentang kisah ini terasa segar kembali.&lt;br /&gt;Salah seorang dari sahabat Nabi saw. diberi hadiah kepala kambing—pemberian  yang cukup berharga kala itu. Namun, ia lalu berkata kepada keluarganya, "Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita." Maka ia kirimkan hadiah tersebut kepada si fulan tetangganya.&lt;br /&gt;Tetangganya ternyata punya pandangan yang sama dengan sahabat pertama. Ia berikan lagi kepada tetangga yang lain. Secara terus menerus hadiah itu di kirimkan dari satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah. akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan. Al Baihaqi dalam kitab Asy Syu'ab, menuliskan kisah tersebut dari Ibnu Umar r.a..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ada kerinduan kisah itu berulang terjadi. Semoga saja ini tidak berlebihan. Paling tidak berdasar fakta, banyak orang di sekitar kita yang mau merogoh kocek dalam-dalam, untuk membeli hewan kurban yang tak lagi murah. Seolah luntur semua ego dan individualisme. Semua seperti berlomba membahagiakan orang lain. Banyak warga bisa memakan daging, sumber protein hewani yang masih menjadi barang mahal bagi banyak orang.&lt;br /&gt;Kita berharap kisah di muka berulang terjadi di zaman ini, dalam bentuk yang semakna. Hari-hari ke depan kita menghadapi tantangan berat penyakit individualisme. Sikap mementingkan diri sendiri, tak ambil peduli dengan kebutuhan orang di sekitar kita. Kita dihadapkan pada fakta kesenjangan. Ada sebagian orang yang berlimpah makanan, sampai berlebih lemak sehingga perlu menjalani diet ketat. Pada saat yang sama, ada orang yang kesulitan sekadar untuk memperoleh sepiring nasi dalam sehari.&lt;br /&gt;Dahulu kita pernah dibayangi ketakutan dengan prediksi Malthus. Laju pertambahan manusia akan mengikuti deret ukur, sedang produksi pangan hanya mengikuti deret angka. Pendapat Malthus kemudian dijawab dengan berbagai teknologi budidaya. Hitungan para ahli saat ini, produksi pangan masih bisa mencukupi kebutuhan warga dunia. Masalah besarnya itu ada pada kesenjangan distribusi. Bagaimana kebijakan dibuat oleh pemerintah negeri kaya pangan ke negeri kurang pangan; atau bagaimana menghapus monopoli kepemilikan segelintir kelompok, menjadi hak warga secara luas. Ada sekelompok masyarakat yang rakus untuk memiliki sendiri, lantas mengabaikan yang lain. Problem sesungguhnya bukan pada ’miskin pangan,’ tetapi ancaman adanya ’miskin solidaritas.’ Bila kita simak lebih jauh, selain konflik ekstrim seperti peperangan, predikat negara miskin itu ternyata lebih banyak disebabkan oleh adanya kesenjangan sosial. Ada orang-orang kaya, tetapi mempunyai jurang perbedaan yang amat dalam dengan warga kebanyakan.&lt;br /&gt;Solusi Krisis&lt;br /&gt;Dunia saat ini menghadapi ancaman krisis keuangan yang parah. Bahkan banyak yang menyebut ini krisis terparah setelah Perang Dunia II. Bermula dari di Amerika, hal  ini terus merembet ke seluruh dunia, dalam waktu yang tak jelas kapan usainya. Di Lampung, imbasnya sudah terasa dengan ambruknya Bank Tripanca. Bahkan dapur para petani di kampung tak luput dari dampak krisis. Para petani kakao, kopi, karet, dan sawit, banyak terpukul dengan jebloknya harga hasil kebun mereka.&lt;br /&gt;Negeri ini belumlah pulih dari krisis sebelumnya. Perlu kesadaran semua kalangan untuk memberi andil penyelesaian. Agar tak muncul lagi krisis di atas krisis. Seperti munculnya kejahatan akibat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.&lt;br /&gt;            Negeri ini perlu energi lebih untuk setara dengan bangsa-bangsa maju yang lain. Karenanya, ini bukan sekadar kemampuan memberi bantuan. Tetapi kemampuan untuk mampu mendahulukan kepentingan dan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri. Inilah perilaku itsar.  Seperti kisah dimuka. Inilah tingkatan lanjutan dari sifat derma.&lt;br /&gt;Itsar inilah yang menjadi etos perjuangan para sahabat. Seperti ketika hijrah, Rasulullah mempersaudarakan Abdur Rahman bin Auf dengan Sa'ad bin Rabi.' Sa'ad menawarkan kepada Abdur Rahman: ”Sesungguhnya aku adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu separuh hartaku, dan silakan kau pilih mana di antara dua istriku yang kau inginkan, maka akan aku lepaskan dia untuk engkau nikahi.”(HR Bukhari). Karena menjamu tamu, Abu Thalhah bersandiwara makan dengan mematikan lampu, karena hanya ada sepiring hidangan. Sang tamu makan, Abu Thalhah menemani dengan piring kosong.&lt;br /&gt;Saat perang Yarmuk, dalam keadaan kritis, Ikrimah meminta air minum. Kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya. Maka ketika air akan diberikan kepadanya Ikrimah berkata, "Berikan dahulu air itu kepadanya." Dan ketika itu Suhail juga melihat Harits sedang melihatnya. Iapun berkata, "Berikan air itu kepadanya (Harits). Namun belum sampai air itu kepada Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut sedikitpun. Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amr syahid dalam peristiwa tersebut. Ibnu Sa'ad menuliskan kisah ini dalam kitab ath Thabaqat.&lt;br /&gt;Sejarah kemanusiaan kemudian mencatat perilaku sahabat tersebut. Merekalah  generasi  (yang awalnya) miskin yang lahir dari gurun tandus nan gersang tetapi kemudian berhasil memimpin peradaban selama belasan abad.  &lt;br /&gt;’Etos itsar’ relevan dengan fakta di dunia modern. Finlandia, negara dengan indeks kesejahteraan tertinggi dan pendapatan per-kapita terbesar di dunia, punya ciri yang khas. Sesama warga Finlandia tidak mempunyai perbedaan mencolok. Mereka relatif sama kekayaannya. ”Kekayaan mereka” adalah banyaknya fasilitas publik yang mereka bisa nikmati dengan nyaman secara bersama-sama. Naik kendaraan umum, menelpon, menyekolahkan anak, dan berbagai fasilitas dasar yang lain dapat mereka nikmati nyaris tanpa biaya. Kemampuan mendahulukan orang lain—yang salah satunya tercermin dari kesadaran untuk memelihara fasilitas publik—itu telah melahirkan kesejahteraan bagi semua warga. Menumpuk kekayaan pribadi menjadi tak penting.&lt;br /&gt;Momen kurban pekan yang lalu selayaknya mengingatkan kita tentang hal ini. Kita, Umat Islam, punya modal yang luar biasa untuk maju dan sejahtera secara bersama-sama. Sejarah Islam telah membuktikannya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-731758290053771225?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/731758290053771225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=731758290053771225&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/731758290053771225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/731758290053771225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/12/spirit-kepala-kambing-pelajaran-itsar.html' title='Spirit ‘Kepala Kambing’ (Pelajaran Itsar)'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1954443967194383670</id><published>2008-12-01T19:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T19:04:38.504-08:00</updated><title type='text'>Idul Qurban: Pesan Persaudaraan dan Kesetaraan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;i style=""&gt;“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="gen"&gt;(&lt;b style=""&gt;TQS Al Hujuraat: 13&lt;/b&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Ini jabat tangan bersejarah. Di Gedung Putih, George W. Bush menerima kunjungan calon presiden penggantinya, Barack Hussein Obama, presiden kulit hitam pertama sejak Amerika berdiri 3 abad yang lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Entah bagaimana perasaan Bush saat itu. &lt;/span&gt;Obama sendiri punya kesan menyakitkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada kunjungan pertamanya, empat tahun lalu. Setelah berjabat tangan, Bush langsung mem&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;inta pengawalnya memberikan tisu pembersih kuman. &lt;/span&gt;Obama menuliskan secara khusus peristiwa tersebut dalam memoarnya, &lt;i style=""&gt;The Audacity of Hope&lt;/i&gt;. “Kekuasaan bisa mendatangkan isolasi berbahaya bagi pemegangnya,” tulis Obama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;Barack Obama adalah fenomena. Rasanya ini tidak berlebihan untuk menyebutnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebagai kemenangan nurani dan akal sehat, melampaui sentimen rasial yang kerap menjadi masalah warga Amerika—sejarah mencatat Amerika pernah mengalami perang saudara karena perbedaan kulit. Bagi kita di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; juga ada jalinan emosional tersendiri. Obama pernah sekolah di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Bahkan ada saudara tirinya yang tinggal di Bandar Lampung. &lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada harapan besar akan ada hubungan kerjasama yang lebih baik antar negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Kesetaraan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Mengharapkan Obama bisa menjalankan kebijakan yang lebih baik terhadap umat Islam, mungkin terlalu dini. Bisa jadi ia harus realistis menghadapi kuatnya lobi Yahudi yang menguasai sentra-sentra keuangan Amerika. &lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Paling tidak, saat ini, ada pelajaran dari peristiwa jabat tangan Bush-Obama. Ya. Ada orang-orang yang dulu kita anggap remeh. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bahkan kita rendahkan. Tapi saat ini ia telah berubah, mempunyai status sosial yang sejajar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan kita. Bahkan ia lebih mulia dari kita. Malahan, bisa jadi, ia sekarang menjadi atasan kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seringkali kita terjebak untuk menghargai seseorang karena hartanya, parasnya, atau ukuran lain yang bersifat materi. Tampilan pakaian seseorang yang sederhana, kita anggap ia miskin, lantas kita remehkan. Kulit hitam dan wajah yang jelek, kita jadikan ukuran bahwa ia warga jelata yang tak pantas diperlakukan istimewa. Tak ada tegur-sapa yang ramah. Tak dinyana, berikutnya kita tahu bahwa yang kita remehkan itu ternyata orang berada. Kita menjadi malu hati, penilaian kita salah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Membeda-bedakan perlakuan berdasar perbedaan kekayaan atau warna kulit seringkali menjadi bencana dalam sejarah. Istilah kelas borjuasi (orang kaya) dan proletar (rakyat jelata, miskin) pernah menjadi jurang dalam, yang membuat sejarah Eropah diwarnai kerusuhan sosial yang nyaris tak berkesudahan. Anggapan kulit putih lebih mulia daripada kulit hitam telah melanggengkan perbudakan selama berabad-abad. Manusia diperjual-belikan laiknya barang dagang. Bahkan sosok Karl Marx yang menjadi inspirator negara komunis itu, menganggap orang Asia (=orang kulit berwarna) sebagai &lt;i style=""&gt;sub-man &lt;/i&gt;(sosok setengah manusia), yang menjadi pembenaran orang Eropa untuk menjajah. Afrika Selatan pernah menjalankan politik &lt;i style=""&gt;apartheid&lt;/i&gt;, hanya orang kulit putih yang bisa duduk di tampuk pemerintahan, tidak boleh orang kulit hitam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Begitu pentingnya masalah ini, Allah secara khusus berfirman tentang masalah perbedaan ras, dalam &lt;b style=""&gt;QS Al Hujuraat: 13&lt;/b&gt;, yang dinukilkan di muka. Adanya bangsa-bangsa dan suku-suku adalah sunatullah, menjadi penciri agar kita saling kenal mengenal, tak lebih dari itu. Kemuliaan itu bukan ditentukan oleh warna kulit. Derajat kemuliaan itu karena ketakwaan kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bila disebut nama Abu Bakar, Umar bin Khattab akan berkata: ”Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita.” Pemimpin yang dimerdekakan yang dimaksud Umar adalah Bilal bin Rabbah. Sebutan ”pemimpin kita” oleh Umar, menunjukkan betapa Bilal punya kehormatan khusus. Keimananlah yang membuat Bilal begitu mulia. Ia menjadi salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga. Laki-laki yang berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat dan bercambang tipis—sebagaimana dilukiskan dari beberapa ahli hadits—kerap menerima pujian dari para sahabat. Jika mendapat pujian tersebut, ia akan menundukkan kepala dan dengan air mata mengalir di pipinya ia berujar: ”Saya ini hanyalah orang Habsyi,...dan kemarin saya hanya seorang budak belian!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Islam tak membolehkan kita mendasari penilaian atas perbedaan fisik. Bahkan menjuluki seseorang berdasar kekurangan fisik adalah perbuatan tercela. Juga kebiasaan bergunjing (gosip) membicarakan kekurangan orang lain. ”Janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (&lt;b style=""&gt;TQS Al Hujuraat: 11&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keislaman kita selayaknya mengantarkan kita untuk mendasari penilaian bukan dari aspek fisik semata. Begitupula bagi yang mempunyai kekurangan fisik. Tidak ada alasan minder, sejauh Islam menjadi pedoman hidup. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Islam-lah yang membuat laki-laki seperti Abdullah bin Mas’ud r.a. tidak pernah merasa kecil meskipun fisiknya begitu kecil dan kurus. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bahkan, pada peristiwa perang Badar, dia berani melompati Abu Jahal yang terjatuh, menginjak dadanya, memenggal kepalanya dan membawanya kepada Rasulullah sehingga beliau tersenyum bangga kepadanya. Islam-lah yang menjadikan budak hitam seperti Bilal bin Rabah tidak pernah canggung dan merasa terhina ketika berjalan bersama tokoh-tokoh Quraisy seperti Abu Bakar, Umar, Hamzah, dan para sahabat keturunan bangsawan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ritual Idul Adha&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Seiring waktu, mungkin ada godaan menghinggap. Kita tak lagi memuliakan seseorang berdasar ketakwaan. Harta atau kekuasaan—sebagaimana kata Obama—telah mengisolasi kita pada cara pandang yang naif terhadap orang lain. Maka, kita harus kembali&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;”dipaksa” untuk kembali ke cara pandang yang benar. Hari Raya Idul ’Adha mengandung pesan relevan atas hal ini. Kita dianjurkan beribadah kurban untuk mengingat kembali makna persamaan dan persaudaraan. &lt;span style="color: black;"&gt;Jumhur ulama berpendapat hukum ibadah kurban adalah sunnah muakad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Imam Malik dan Syafii menyatakan makruf bagi yang mampu melakukannya tapi meninggalkannya. Bahkan madzhab Hanafi menyatakan wajib bagi yang mampu berdasar hadits,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih kurban, janganlah mendekati tempat salat kami.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim menshahihkannya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ritual haji juga mengandung pesan simbolik yang kuat tentang hakikat kemuliaan. Orang-orang kaya itu ”dipaksa” (baca: diwajibkan) berhaji, lantas memakai jenis baju yang sama dengan jutaan jamaah yang lain. Putih, tak bercorak, bahkan tak boleh berjahit. Inilah simbol persamaan derajat. Pesan itupun masih berulang ketika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;titel ”haji” kemungkinan akan diselewengkan. ”&lt;span class="gen"&gt;&lt;i style=""&gt;Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat&lt;/i&gt;.” (&lt;b style=""&gt;TQS Al Baqarah: 200&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gensmall"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Orang-orang Arab Jahiliyah mempunyai kebiasaan setelah menunaikan haji, lalu bermegah-megahan dengan membicarakan kebesaran nenek moyangnya. Analog dengan kondisi saat ini, kita patut mawas diri, ada orang yang berhaji membanggakan titel hajinya untuk memperoleh status sosial tertentu; bukan lebih banyak berzikir, mengasah kepedulian dan pemaknaan yang benar tentang hakikat kemuliaan manusia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1954443967194383670?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1954443967194383670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1954443967194383670&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1954443967194383670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1954443967194383670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/12/idul-qurban-pesan-persaudaraan-dan.html' title='Idul Qurban: Pesan Persaudaraan dan Kesetaraan'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5632328174614723231</id><published>2008-10-16T21:31:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T21:32:18.613-07:00</updated><title type='text'>Mengembangkan Zakat Produktif</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;        &lt;/span&gt;Berbagai komentar terkait tragedi pembagian zakat di Pasuruan masih menyisakan problem mendasar yang nyaris tidak tersentuh. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, masalah organisasi pembagi zakat. Berbagai kritik diarahkan kepada keteledoran panitia. Mulai dari waktu pelaksanaan, mekanisme pembagian (cara antre, pemakaian kupon), sampai koordinasi dengan aparat keamanan. Namun ada hal yang seolah terabaikan bahwa ini menyangkut zakat; salah satu bentuk berderma dalam Islam yang mempunyai aturan &lt;i&gt;rigid&lt;/i&gt;. Secara khusus Islam menyebut amil sebagai orang yang berhak membagikan zakat—dengan berbagai ketentuan operasional yang mengikat amil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka, “kesalahan” yang mestinya diluruskan bukan pada sisi teknis distribusi zakat, tetapi lebih mendasar pada: mengapa zakat tidak dibagikan oleh amil? Memang ada kebolehan menyampaikan zakat secara langsung oleh muzaki. Tapi tak ada teladan dari Nabi, kalangan sahabat dan ulama terdahulu yang bisa menjadi pembenaran, bila itu menyangkut pembagian zakat yang melibatkan banyak orang&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, pola karitatif (pemberian langsung) dana zakat. Sebagaimana dikabarkan, pembagian zakat itu bukan yang kali pertama. Tahun sebelumnya telah dilakukan, tahun ini mengalami kenaikan yang sangat besar. Bisa jadi hal tersebut menjadi potret tentang semakin banyaknya orang miskin. Tapi saya khawatir ini menyangkut mentalitas peminta-minta yang akut di masyarakat. Artinya, kalau di kemudian hari ekonomi masyarakat itu telah membaik, bukan berarti antrean itu akan susut. Bukan mereka tak mampu memenuhi kebutuhan dasar, tapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;motif untuk memperoleh dengan cara instan itu yang lebih dominan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Kekhawatiran tentang mentalitas "tangan di bawah” ini bukan tanpa dasar empirik. Beberapa kali terlibat kegiatan pemberdayaan masyarakat, saya kerap menemukan kelompok masyarakat yang tampak begitu antusias bila menyangkut bantuan langsung. Namun bila menyangkut pemberian bersyarat, seperti modal bergulir, surut antusiasmenya—kalaupun dipaksakan biasanya muncul kredit macet. Adanya orang kaya yang menerima dana bantuan langsung tunai (BLT)—sebagaimana dikabarkan koran—relevan untuk menjelaskan fenomena ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, adanya (maaf) oknum yang mempunyai tujuan lain dengan pembagian zakat secara ‘tradisional’ tersebut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di era dimana popularitas menjadi bagian penting dalam posisi tawar politik (misal: dukungan suara dalam pemilu/pilkada), acara seperti tersebut rawan diselewengkan. Ada motif riya dan pamer. Alih-alih menjadikan zakat sebagai instrumen pengentas kemiskinan, ia malah dijadikan sebagai sarana menuruti ambisi kekuasaan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Purifikasi dan Kontekstualisasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tragedi Pasuruan selayaknya menjadi pelajaran berharga. Niat baik tanpa diiringi cara yang benar bisa mengundang petaka. Uluran tangan membantu, bisa malah mengundang pilu. Memberi santunan dengan harapan mengurangi kesenjangan, sejatinya bisa malah melestarikan kemiskinan. Kita harus berupaya mengembalikan orientasi pemanfaatan zakat sesuai panduan dari Alquran dan Sunnah Nabi, seraya mengasah kejelian berdasar pengalaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Zakat bukan dana sosial yang dapat disampaikan begitu saja sesuai selera orang kaya (muzakki). Harus ada yang khusus mengelola, sebagaimana dahulu Nabi mengutus &lt;/span&gt;mengutus Mu'adz bin Jabal ke negeri Yaman. Amil adalah profesi khusus yang mempunyai dedikasi penuh &lt;span style="" lang="SV"&gt;agar penyaluran zakat tersistematisasikan dengan baik&lt;/span&gt;. Didin Hafidhuddin (Ketua Baznas RI), kerap mengungkapkan pentingnya amil bekerja &lt;i&gt;full time&lt;/i&gt;, bukan sambilan, apalagi sekadar musiman. Dari sinilah berawal munculnya pendayagunaan zakat secara ideal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peruntukan zakat secara yang jelas tertera dalam QS 9: 60. &lt;/span&gt;Berbagai kodifikasi hadits seputar zakat, selalu menyertakan celaan kepada para peminta-minta. Nabi menegaskan tidak adanya bagian zakat kepada orang kaya dan kuat bekerja. Bab Zakat di &lt;i&gt;Shahih Bukhari&lt;/i&gt;, secara khusus juga mencantumkan anjuran Nabi agar umatnya tidak menjadi peminta-minta. "Seorang di antara kamu yang mengambil talinya, lalu datang dengan seonggok kayu bakar di atas punggungnya, kemudian menjualnya dan dengan hasil itu ia menjaga kehormatannya adalah lebih baik daripada ia meminta-minta.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Pesan eksplisit tentang ‘seonggok kayu bakar’ tersebut, menjadi spirit pendayagunaan dana zakat. Kemiskinan itu tak boleh lestari, secara fisik ataupun mental.&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Maka, dana zakat selayaknya tidak berfungsi konsumtif semata atau jangka pendek, tapi menjadi dana &lt;i&gt;revolving&lt;/i&gt; (bergulir), produktif, berkembang, berfungsi maksimal, dan membantu semaksimal mungkin masyarakat. Di lapangan, misalnya, sektor usaha kecil banyak yang membutuhkan penguatan modal. Kelompok seperti ini tak mungkin secara langsung mendapatkan suntikan dana pinjaman komersial dari perbankan. Maka pendayagunaan dana zakat dapat mengambil peran sebagai inkubator usaha/bisnis. Sampai kemudian, lewat pembinaan/pendampingan yang dilakukan, usaha tersebut menjadi &lt;i&gt;bankable&lt;/i&gt;. Kreasi semacam inilah yang relevan dilakukan dalam pendayagunaan zakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tentu, cara-cara tradisional masih perlu dilakukan. Banyak warga yang masih membutuhkan dana yang bersifat segera. Namun, proporsi pemberian-segera ini perlu dikurangi. Pemberdayaan itu perlu dilakukan agar orang-orang yang lemah bisa terentaskan dari kemiskinannya secara permanen, bahkan meningkat statusnya dari &lt;i&gt;mustahik&lt;/i&gt; (penerima zakat) menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;muzakki &lt;/i&gt;(orang yang berzakat). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peran dan fungsi pemberdayaan seperti di atas tampak sulit bila dilakukan oleh panitia ZIS di setiap masjid yang hanya musiman/ setahun sekali. Karenanya keberadaan Badan/Lembaga Amil Zakat yang dikelola secara profesional (punya aktivitas kontinu) memegang peranan mutlak. Ke depan, pilahan kerja seperti ini perlu dipertegas. Semisal, panitia ZIS di setiap masjid hanya mengelola zakat fitrah untuk disalurkan langsung—sebagai bentuk ”menggembirakan dhuafa” saat Hari Raya Idul Fitri. Lalu, zakat mal (harta) kemudian diserahkan ke BAZ/LAZ. Setiap masjid berfungsi sebagai unit pengumpul zakat (UPZ). Cara inilah yang paling mungkin mencapai akumulasi dana yang besar untuk program pemberdayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dana yang terakumulasi dari zakat, bisa jadi tak seberapa jika dibandingkan dengan dana pemberdayaan ekonomi pemerintah dari sektor lain. Namun dimensi transenden zakat, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt; akan mengundang berkah, menjadi katalis &lt;/span&gt;yang luar biasa besar &lt;span style="" lang="SV"&gt;dalam &lt;/span&gt;pembangunan perekonomian masyarakat di negeri ini. &lt;i&gt;Wallahu’alam bishshawab.&lt;/i&gt;*** &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5632328174614723231?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5632328174614723231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5632328174614723231&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5632328174614723231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5632328174614723231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/10/mengembangkan-zakat-produktif_16.html' title='Mengembangkan Zakat Produktif'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5740178263523669994</id><published>2008-10-16T21:30:00.003-07:00</published><updated>2008-10-16T21:31:41.303-07:00</updated><title type='text'>Mengembangkan Zakat Produktif</title><content type='html'>Berbagai komentar terkait tragedi pembagian zakat di Pasuruan masih menyisakan problem mendasar yang nyaris tidak tersentuh. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, masalah organisasi pembagi zakat. Berbagai kritik diarahkan kepada keteledoran panitia. Mulai dari waktu pelaksanaan, mekanisme pembagian (cara antre, pemakaian kupon), sampai koordinasi dengan aparat keamanan. Namun ada hal yang seolah terabaikan bahwa ini menyangkut zakat; salah satu bentuk berderma dalam Islam yang mempunyai aturan &lt;i&gt;rigid&lt;/i&gt;. Secara khusus Islam menyebut amil sebagai orang yang berhak membagikan zakat—dengan berbagai ketentuan operasional yang mengikat amil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka, “kesalahan” yang mestinya diluruskan bukan pada sisi teknis distribusi zakat, tetapi lebih mendasar pada: mengapa zakat tidak dibagikan oleh amil? Memang ada kebolehan menyampaikan zakat secara langsung oleh muzaki. Tapi tak ada teladan dari Nabi, kalangan sahabat dan ulama terdahulu yang bisa menjadi pembenaran, bila itu menyangkut pembagian zakat yang melibatkan banyak orang&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, pola karitatif (pemberian langsung) dana zakat. Sebagaimana dikabarkan, pembagian zakat itu bukan yang kali pertama. Tahun sebelumnya telah dilakukan, tahun ini mengalami kenaikan yang sangat besar. Bisa jadi hal tersebut menjadi potret tentang semakin banyaknya orang miskin. Tapi saya khawatir ini menyangkut mentalitas peminta-minta yang akut di masyarakat. Artinya, kalau di kemudian hari ekonomi masyarakat itu telah membaik, bukan berarti antrean itu akan susut. Bukan mereka tak mampu memenuhi kebutuhan dasar, tapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;motif untuk memperoleh dengan cara instan itu yang lebih dominan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Kekhawatiran tentang mentalitas "tangan di bawah” ini bukan tanpa dasar empirik. Beberapa kali terlibat kegiatan pemberdayaan masyarakat, saya kerap menemukan kelompok masyarakat yang tampak begitu antusias bila menyangkut bantuan langsung. Namun bila menyangkut pemberian bersyarat, seperti modal bergulir, surut antusiasmenya—kalaupun dipaksakan biasanya muncul kredit macet. Adanya orang kaya yang menerima dana bantuan langsung tunai (BLT)—sebagaimana dikabarkan koran—relevan untuk menjelaskan fenomena ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, adanya (maaf) oknum yang mempunyai tujuan lain dengan pembagian zakat secara ‘tradisional’ tersebut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di era dimana popularitas menjadi bagian penting dalam posisi tawar politik (misal: dukungan suara dalam pemilu/pilkada), acara seperti tersebut rawan diselewengkan. Ada motif riya dan pamer. Alih-alih menjadikan zakat sebagai instrumen pengentas kemiskinan, ia malah dijadikan sebagai sarana menuruti ambisi kekuasaan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Purifikasi dan Kontekstualisasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tragedi Pasuruan selayaknya menjadi pelajaran berharga. Niat baik tanpa diiringi cara yang benar bisa mengundang petaka. Uluran tangan membantu, bisa malah mengundang pilu. Memberi santunan dengan harapan mengurangi kesenjangan, sejatinya bisa malah melestarikan kemiskinan. Kita harus berupaya mengembalikan orientasi pemanfaatan zakat sesuai panduan dari Alquran dan Sunnah Nabi, seraya mengasah kejelian berdasar pengalaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Zakat bukan dana sosial yang dapat disampaikan begitu saja sesuai selera orang kaya (muzakki). Harus ada yang khusus mengelola, sebagaimana dahulu Nabi mengutus &lt;/span&gt;mengutus Mu'adz bin Jabal ke negeri Yaman. Amil adalah profesi khusus yang mempunyai dedikasi penuh &lt;span style="" lang="SV"&gt;agar penyaluran zakat tersistematisasikan dengan baik&lt;/span&gt;. Didin Hafidhuddin (Ketua Baznas RI), kerap mengungkapkan pentingnya amil bekerja &lt;i&gt;full time&lt;/i&gt;, bukan sambilan, apalagi sekadar musiman. Dari sinilah berawal munculnya pendayagunaan zakat secara ideal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peruntukan zakat secara yang jelas tertera dalam QS 9: 60. &lt;/span&gt;Berbagai kodifikasi hadits seputar zakat, selalu menyertakan celaan kepada para peminta-minta. Nabi menegaskan tidak adanya bagian zakat kepada orang kaya dan kuat bekerja. Bab Zakat di &lt;i&gt;Shahih Bukhari&lt;/i&gt;, secara khusus juga mencantumkan anjuran Nabi agar umatnya tidak menjadi peminta-minta. "Seorang di antara kamu yang mengambil talinya, lalu datang dengan seonggok kayu bakar di atas punggungnya, kemudian menjualnya dan dengan hasil itu ia menjaga kehormatannya adalah lebih baik daripada ia meminta-minta.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;Pesan eksplisit tentang ‘seonggok kayu bakar’ tersebut, menjadi spirit pendayagunaan dana zakat. Kemiskinan itu tak boleh lestari, secara fisik ataupun mental.&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Maka, dana zakat selayaknya tidak berfungsi konsumtif semata atau jangka pendek, tapi menjadi dana &lt;i&gt;revolving&lt;/i&gt; (bergulir), produktif, berkembang, berfungsi maksimal, dan membantu semaksimal mungkin masyarakat. Di lapangan, misalnya, sektor usaha kecil banyak yang membutuhkan penguatan modal. Kelompok seperti ini tak mungkin secara langsung mendapatkan suntikan dana pinjaman komersial dari perbankan. Maka pendayagunaan dana zakat dapat mengambil peran sebagai inkubator usaha/bisnis. Sampai kemudian, lewat pembinaan/pendampingan yang dilakukan, usaha tersebut menjadi &lt;i&gt;bankable&lt;/i&gt;. Kreasi semacam inilah yang relevan dilakukan dalam pendayagunaan zakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tentu, cara-cara tradisional masih perlu dilakukan. Banyak warga yang masih membutuhkan dana yang bersifat segera. Namun, proporsi pemberian-segera ini perlu dikurangi. Pemberdayaan itu perlu dilakukan agar orang-orang yang lemah bisa terentaskan dari kemiskinannya secara permanen, bahkan meningkat statusnya dari &lt;i&gt;mustahik&lt;/i&gt; (penerima zakat) menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;muzakki &lt;/i&gt;(orang yang berzakat). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peran dan fungsi pemberdayaan seperti di atas tampak sulit bila dilakukan oleh panitia ZIS di setiap masjid yang hanya musiman/ setahun sekali. Karenanya keberadaan Badan/Lembaga Amil Zakat yang dikelola secara profesional (punya aktivitas kontinu) memegang peranan mutlak. Ke depan, pilahan kerja seperti ini perlu dipertegas. Semisal, panitia ZIS di setiap masjid hanya mengelola zakat fitrah untuk disalurkan langsung—sebagai bentuk ”menggembirakan dhuafa” saat Hari Raya Idul Fitri. Lalu, zakat mal (harta) kemudian diserahkan ke BAZ/LAZ. Setiap masjid berfungsi sebagai unit pengumpul zakat (UPZ). Cara inilah yang paling mungkin mencapai akumulasi dana yang besar untuk program pemberdayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dana yang terakumulasi dari zakat, bisa jadi tak seberapa jika dibandingkan dengan dana pemberdayaan ekonomi pemerintah dari sektor lain. Namun dimensi transenden zakat, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt; akan mengundang berkah, menjadi katalis &lt;/span&gt;yang luar biasa besar &lt;span style="" lang="SV"&gt;dalam &lt;/span&gt;pembangunan perekonomian masyarakat di negeri ini. &lt;i&gt;Wallahu’alam bishshawab.&lt;/i&gt;*** &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5740178263523669994?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5740178263523669994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5740178263523669994&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5740178263523669994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5740178263523669994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/10/mengembangkan-zakat-produktif.html' title='Mengembangkan Zakat Produktif'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5017908740653359810</id><published>2008-10-16T21:30:00.001-07:00</published><updated>2008-10-16T21:30:42.620-07:00</updated><title type='text'>Berbagi Sembari Belanja</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;            &lt;/o:p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ingatan tentang tragedi Pasuruan terasa masih menimbulkan keprihatinan mendalam. Niat baik tanpa diiringi cara yang benar bisa mengundang petaka. Selayaknya, ini menjadi pelajaran bersama. Uluran tangan membantu, bisa malah mengundang pilu. Memberi santunan dengan harapan mengurangi kesenjangan, sejatinya bisa malah melestarikan kemiskinan. Tidak cukup niat baik. Kita perlu panduan–dari Alquran dan Sunnah Nabi—seraya mengasah kejelian berdasar pengalaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Semoga Allah memberkahi keluarga Samsuri. Sahabat saya ini memberi pelajaran penting tentang cara berbagi—sebagaimana ia perlihatkan beberapa waktu yang lalu. Di jalan, di bilangan Rawa Laut, Bandar Lampung ia bertemu penjual opak (penganan kerupuk dari singkong). Ia dan isteri menyempatkan diri beramah-tamah dengan penjaja renta itu. Ia jadi tahu, penjaja opak itu telah mendorong sepeda tuanya puluhan kilometer dari Jati Agung, Lampung Selatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Isterinya timbul iba seraya mengutarakan niat memberi uang begitu saja kepada Bapak penjual opak. Tapi Samsuri mencegahnya. Ia lantas bertanya dan didapati harga Rp 1500 per-ikat. Ia beli satu dengan menyodorkan Rp 10 ribu, tapi menolak kembalian. ”Terima kasih Den,” ujar Bapak penjaja opak dengan mata berbinar. Jerih payahnya, kesahajaannya berusaha tanpa menengadahkan tangan, tampak layak mendapat penghargaan. ”Saya tidak ingin melestarikan mentalitas peminta. Perlu ada usaha&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memberikan dorongan lebih kepada yang mau berusaha,” tutur Samsuri berargumen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Samsuri benar. Ia mengajarkan kepada kita tentang cara sederhana memberi, agar&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;kemiskinan itu tak makin lestari. Argumentasi Samsuri secara empirik sebenarnya juga menjadi model dalam pemberdayaan masyarakat (&lt;i style=""&gt;community empowerment&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semoga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;’ruh’ pemberdayaan ekonomi ini tertular ke banyak orang. Banyak yang berbelanja &lt;i style=""&gt;ala &lt;/i&gt;Samsuri. Dewasa ini, supermarket dan toko waralaba berjamur dimana-mana. Didukung jaringan dan dana besar, mereka mampu menawarkan harga rendah ke konsumen. Akibatnya, banyak toko kecil kalah bersaing dan bangkrut—padahal disinilah banyak bersandar nasib keluarga beserta putera-puterinya. Negeri ini masih lemah mengatur masalah ini. Padahal di negeri maju sekalipun, ada regulasi ketat yang mengatur keberadaan supermarket agar tak merusak pasar rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Usah banyak berharap kepada regulasi. Saat ini, perlu ada gerakan kolektif menggerakkan siklus ekonomi umat. Enyahkan gengsi (&lt;i style=""&gt;prestise&lt;/i&gt;), niatkan belanja kita dengan ideologi: mencukupi kebutuhan sembari memberi pertolongan. Biasakan belanja di warung kecil dan pasar rakyat. Bisa jadi sedikit mahal. Tapi, insya Allah, pahalanya berlipat. Karena kita berupaya berupaya agar umat tak tambah melarat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5017908740653359810?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5017908740653359810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5017908740653359810&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5017908740653359810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5017908740653359810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/10/berbagi-sembari-belanja.html' title='Berbagi Sembari Belanja'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-59831056107318703</id><published>2008-10-16T21:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T21:30:01.853-07:00</updated><title type='text'>Tetaplah Lapar  (Menjaga Nuansa Ramadan)</title><content type='html'>&lt;span class="gen"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;            &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="FI"&gt;Rasa nikmat lazimnya disebabkan oleh hal ini: karena kita merasakan hal tidak enak sebelumnya. Kita punya pembanding dengan kondisi yang lain. Ini menjadi kaidah umum. Nikmatnya puasa, rasanya juga tidak bisa dipisahkan dari ’postulat’ tersebut. Kita merasakan bahagia dan nikmatnya berbuka, karena kita telah menahan lapar seharian suntuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 36pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="SV"&gt;’Makan kenyang’ itu tidak terasa nikmat, bila tidak pernah merasa lapar. Seseorang yang sehari-harinya makan daging, tidak akan merasa bahwa itu menu istimewa. Berbeda dengan mereka yang makan sehari-hari dengan lauk tempe, akan terasa nikmatnya daging. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 36pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="SV"&gt;Rasa nikmat itulah yang kemudian membuat seseorang mudah bersyukur. Karena itulah, Rasulullah menampik kala ditawari Allah menjadikan lembah Mekah seluruhnya emas. &lt;/span&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="FI"&gt;”Jangan ya Allah, aku hanya ingin satu hari kenyang dan satu hari lapar. Apabila aku lapar aku akan memohon dan ingat kepada-Mu dan bila kenyang aku akan bertahmid dan bersyukur kepada-Mu.” Jawaban Rasulullah menjadi teladan kita untuk hidup zuhud/ bersahaja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 36pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="FI"&gt;Pilihan untuk hidup zuhud itu relevan sampai sekarang. Menurut Steve Jobs, pemilik raksasa perusahaan Apple Computer, ini adalah pilihan menjaga produktivitas. ”Tetaplah lapar. Tetaplah bodoh,” pesannya dalam sebuah acara wisuda. &lt;/span&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="SV"&gt;Orang lapar adalah orang yang paling mampu mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih hidup yang lebih baik. Setali tiga uang dengan orang (yang merasa) bodoh. Orang bodoh tidak punya prasangka. Orang bodoh terbuka terhadap hal-hal baru. Orang yang senantiasa merasa dirinya bodoh tidak akan berhenti belajar. Ia menjadi pemburu ilmu yang tangguh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 36pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="SV"&gt;Dalam sejarah, kita menemukan orang-orang yang produktif malah ketika dihadapkan pada deraan kesulitan dan kelaparan. Menghabiskan separuh hidupnya di penjara, Imam Ibnu Taimiyah menghasilkan karya besar, &lt;i&gt;Majmu Fatawa&lt;/i&gt;. Ketika penguasa Mesir menjebloskan Sayid Qutb ke sel tahanan, ia malah bisa menuntaskan buku tafsirnya, &lt;i&gt;Fi Dzilalil Quran&lt;/i&gt;. Penjara di era Orde Lama malah membuat Hamka bisa menulis leluasa &lt;i&gt;Tafsir Al Azhar&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="SV"&gt;Pentingnya ”terapi lapar” rasanya penting kita hayati di pekan terakhir Ramadan ini. Semata-mata untuk menjaga produktivitas. Agar sumber nikmat dan kebahagiaan sejati itu senantiasa terjaga, kita perlu merasa lapar tak hanya di Ramadan. Inilah hikmah dari perkataan Nabi, &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Barang siapa &lt;i style=""&gt;shaum &lt;/i&gt;di Ramadan, kemudian diikuti dengan &lt;i style=""&gt;shaum&lt;/i&gt; enam hari saat Syawal, seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 36pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="background: white none repeat scroll 0% 50%; color: black; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-59831056107318703?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/59831056107318703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=59831056107318703&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/59831056107318703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/59831056107318703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/10/tetaplah-lapar-menjaga-nuansa-ramadan.html' title='Tetaplah Lapar  (Menjaga Nuansa Ramadan)'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5378355545311774592</id><published>2008-09-13T04:02:00.000-07:00</published><updated>2008-09-13T04:12:17.596-07:00</updated><title type='text'>Teguh dan Bergeraklah, Selalu...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;“&lt;i&gt;Tetap teguhlah kamu pada jalan yang benar sebagaimana yang telah diperintahkan kepada kamu&lt;/i&gt;” &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;(&lt;b&gt;QS Hud: 112&lt;/b&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;       Ramadan adalah saat yang banyak melahirkan ’keajaiban.’ Kita ternyata mampu melakukan sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Seperti kemampuan kita menahan lapar, berpuasa setiap hari selama sebulan penuh. Sekadar puasa senin-kamis saja terasa sulit kita lakukan. Kita juga mampu melakukan &lt;i&gt;qiyamul lail&lt;/i&gt;, salat tarawih, membaca Al Quran, sesuatu yang jarang (atau tidak pernah) kita lakukan sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Namun, setiap usaha punya akhir riwayatnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Sukses atau gagal, menang atau kalah, berakhir baik atau buruk. Begitulah Allah yang menciptakan segala sesuatu berpasangan, meliputi berbagai dimensinya. Begitupun tentang puasa yang telah kita lakukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;“Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…”begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, tentang kegagalan orang yang melaksanakan puasa Ramadan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Selayaknya, ada kewaspadaan yang tertanam di diri kita. Puasa memang amalan hati, yang rahasianya hanya diketahui oleh masing-masing pribadi. Tetapi ada indikasi yang bisa kita lihat. Perhatikanlah. Shaf salat semakin susut. Nuansa puasa terasa pudar dalam keseharian kita. Lidah mulai tak terjaga dari perkataan sia-sia. Pertanyaan pengingat ini perlu dijawab. Masih adakah nuansa yang berbeda saat ini dengan bulan yang lain? Selayaknya, tengah Ramadan ini nuansa agamis itu tetap terjaga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Gerak yang Dinamis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Surah Hud: 112 yang kita nukilkan di muka menyeru kita untuk berlaku istiqamah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Istiqamah artinya teguh hati, taat asas, atau konsisten. Hal itu adalah sifat unggul seorang Muslim yang akan menjamin kejayaan di dunia dan akhirat. Istiqamah adalah disiplin agama yang menganjurkan umatnya supaya dalam apa juga pekerjaan dan amalan, hendaklah dilakukan secara terus-menerus dan konsisten. Orang yang istiqamah ialah seorang yang &lt;i&gt;comitted&lt;/i&gt;, tekun dan gigih melakukan sesuatu pekerjaan, tugas, dan tanggungjawab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Seruan agar umat Islam beristiqamah dalam beribadah jelas diterangkan dalam beberapa ayat Al Quran dan Hadits. Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, jelaskan kepada saya satu ungkapan mengenai Islam, supaya saya tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain, kecuali kepadamu.” Rasulullah menjawab, `(Islam itu adalah) kamu berkata `Aku beriman kepada Allah dan beristiqamahlah'.” (HR Muslim). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Allah juga menjanjikan kemuliaan dan keberkahan kepada orang yang istiqamah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;"&lt;i&gt;Dan seandainya mereka itu bersikap istiqamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan kepada mereka air yang melimpah (rejeki yang banyak)&lt;/i&gt;." (&lt;b&gt;QS&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Al Jinn:16&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Keperluan kepada sikap istiqamah itu ada pada setiap masa. Ia adalah gerakan perubahan yang dinamis. Bahkan para ahli menyebutkan bahwa kemodernan ditandai oleh "perubahan yang terlembagakan" (&lt;i&gt;institutionalized change&lt;/i&gt;). Artinya, jika pada zaman-zaman sebelumnya perubahan adalah sesuatu yang "luar biasa" dan hanya terjadi di dalam kurun waktu yang amat panjang, di zaman modern perubahan itu merupakan gejala harian, dan sudah menjadi keharusan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Lihat saja, misalnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi&lt;i&gt; microchip &lt;/i&gt;(harfiah: kerupuk kecil) dalam teknologi elektronika. Siapa saja yang mencoba bertahan pada suatu bentuk produk, baik dia itu produsen atau konsumen, pasti akan tergilas dan merugi sendiri. Karena itulah maka "Lembah Silikon" atau &lt;i&gt;Silicon Valley&lt;/i&gt; di California selalu diliputi oleh ketegangan akibat kompetisi yang amat keras. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Istiqamah yang dipahami dalam maknanya yang dinamis ini sejalan dengan pelajaran yang disampaikan Ibnu Umar. Ibnu Umar berkata: Suatu saat Rasulullah saw. memegang pundakku sembari bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau penyeberang jalan (musafir). Selanjutnya, Ibnu Umar berkata, Jika engkau di waktu sore janganlah menunggu pagi, jika engkau di waktu pagi janganlah menunggu hingga sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit, dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum engkau mati.” (HR Imam Bukhari).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 28.35pt;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Pelajaran tentang gerak yang dinamis dari keIslaman seseorang begitu terang dalam hadits Rasulullah di atas. Tidak ada tempat ”berhenti.” Keimanan harus terus melaju, melintasi batas-batas perbedaan waktu dalam hidup kita. Ada makna ketergesaan, tidak menunggu, untuk terus mengisinya dengan kebaikan. ”&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(TQS Ali Imraan: 133).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Akhir Ramadan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Gerak dinamis ini menjadi proses penting saat Ramadan. Berbilang hari bukan bukan malah kendur. Ia harus selalu bertambah kualitas dan kuantitasnya. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah, s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari. "Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw. mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semua komponen harus terlibat dalam gerak dinamis ini. Tua-muda, Bapak-Ibu, pun juga anak-anak. “Bahwasanya Rasulullah saw. membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan salat.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Begitu pentingnya menghidupkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sepuluh hari terakhir Ramadan, sampai-sampai Rasulullah berkunjung ke rumah keluarganya. “Rasulullah saw. mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali pada suatu malam seraya berkata: ‘Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat ?’"(&lt;i&gt;Mutafaq ‘alaih&lt;/i&gt;). Beliau juga membangunkan Aisyah r.a. pada malam hari, bila telah selesai dari tahajudnya dan ingin melakukan (shalat) witir. Ada anjuran melakukan &lt;i&gt;targhib&lt;/i&gt; (dorongan) agar salah seorang suami-isteri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(HR Abu Daud).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perilaku Rasulullah tersebut juga dicontoh Umar bin Khattab. Apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk salat dan mengatakan kepada mereka: "Salat! salat!" Kemudian ia membaca Surah Thaha ayat 132, "&lt;i&gt;Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.&lt;/i&gt; " &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Puncak konsistensi ibadah puasa adalah i’tikaf di sepuluh hari ramadhan. Dari Aisyah r.a.: “ Nabi saw senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadan, sehingga Allah mewafatkan beliau."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Ya Allah, karuniakanlah kami istiqamah, wafatkan kami dalam &lt;i&gt;khusnul khatimah&lt;/i&gt;. “ ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5378355545311774592?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5378355545311774592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5378355545311774592&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5378355545311774592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5378355545311774592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/09/teguh-dan-bergeraklah-selalu.html' title='Teguh dan Bergeraklah, Selalu...'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-6457321040184582967</id><published>2008-09-13T04:01:00.000-07:00</published><updated>2008-09-13T04:02:11.622-07:00</updated><title type='text'>Tetangga Idola</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;o:p&gt;        &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perpisahan. Tampaknya ini adalah prosesi yang kerap menyedihkan. Apalagi bila hal itu menyangkut sesuatu yang mendapat tempat di hati kita. Kalau boleh, rasanya memang tak usah ada yang namanya perpisahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akhir pekan kemarin, ”tragedi” itu terjadi. Keluarga Rudi Agung Prabowo (35), tetangga kami, pamit pindah ke Magelang. Orang tua yang sudah sepuh serta pekerjaan baru di sana, meneguhkan langkahnya untuk pulang kampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka pagi itu, tangis haru pun pecah. Kebaikan suami-isteri serta kelucuan dua anaknya itu, terasa begitu berkesan. Banyaknya tetangga yang pagi itu membantu mengiringi boyongan, cukup menjadi gambaran tentang berartinya mereka bagi kami. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Mas Agung, maafkan kami, doa kami menyertai...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Entahlah, rasanya kami begitu kehilangan. Padahal, peristiwa serupa cukup sering saya alami. Banyak tetangga (juga teman) yang datang, tapi sering berlalu tak berkesan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mungkin inilah yang disebut kebahagiaan. Kata Baginda Nabi, diantara kebahagiaan Muslim adalah mempunyai tetangga baik lagi salih (HR Ahmad dan Al Hakim). Keluarga Agung rupanya sudah menjadi bagian dari kebahagiaan kami. Maka, ketika mereka pergi, rasa sedih dan kehilangan itu menyelimuti kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rasa kehilangan kolektif ini, seolah mengarahkan kita pada simpulan: bertetangga rukun itu fitrah. Ia menjadi hajat dasar semua orang. Bila kita tilik lebih jauh, ternyata memuliakan tetangga menjadi bagian penting Islam. Bahkan dalam bentuk yang amat substansial. Sabda Nabi, ”&lt;span style="color: black;"&gt;Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;.” (&lt;i&gt;Mutafaq Alaih&lt;/i&gt;). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Maha Suci Allah. Memuliakan tetangga disejajarkan dengan keimanan kepada Allah dan hari akhirat. Artinya, tidak peduli dengan urusan tetangga sama dengan kita tidak beriman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Begitu pentingnya tetangga, Nabi memberi beberapa petunjuk operasionalnya (HR Thabrani dan Muslim). ”&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya yang dapat menutup kelancaran angin baginya; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;janganlah kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya; apabila engkau &lt;span style="color: black;"&gt;memasak kuah, perbanyaklah&lt;/span&gt; airnya dan perhatikanlah tetanggamu.”&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alhasil, saya mendapat banyak pelajaran dari perpisahan tersebut. Saya ingin menirunya. Mas Agung&lt;i style=""&gt;, matur nuwun&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-6457321040184582967?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/6457321040184582967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=6457321040184582967&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/6457321040184582967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/6457321040184582967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/09/tetangga-idola.html' title='Tetangga Idola'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5173272056893287076</id><published>2008-09-13T03:58:00.001-07:00</published><updated>2008-09-13T04:00:45.590-07:00</updated><title type='text'>Cium Tangan</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;"&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bertemu petani dalam kegiatan penyuluhan, jabat tangan menjadi bagian acara yang bernuansa beda. Telapak tangan mereka terasa kasar. Kebiasaan mereka mencangkul serta kerja berat yang lain membuat tangan mereka menjadi keras (Jw.: &lt;i style=""&gt;kapalan&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mulanya sedikit mengusik kesan, berikutnya datar saja. Tetapi belakangan ini, saya begitu menikmati prosesi sentuhan dengan tangan kasar itu. Bahkan diam-diam, &lt;i style=""&gt;salaman&lt;/i&gt; itu menjadi momen yang saya rindukan. Tangan kasar petani itu seperti selalu mengingatkan saya kepada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sa’ad bin Muadz Al Anshari, sahabat Nabi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika Rasulullah pulang dari Tabuk, beliau melihat keganjilan pada diri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sa’ad. Terlihat ada sakit yang ditahan Sa’ad saat berjabat tangan. “Kenapa tanganmu?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Ini akibat sekop dan cangkul yang sering saya pergunakan untuk mencari nafkah bagi keluarga yang menjadi tanggunganku, ya Rasul,” jawab Sa’ad. Dilihat oleh Nabi, tangan Sa’d menghitam dan melepuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Serta merta Nabi mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya. “Inilah tangan yang tercium bau surga, yang tidak akan disentuh api neraka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rasulullah mencium tangan sahabatnya? Tentu ini amat istimewa. Tangannya biasa diperebutkan untuk &lt;i style=""&gt;tabarruk&lt;/i&gt; (mendapat berkah), ternyata malah mencium tangan Sa’ad yang kasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aksi “demonstratif” Nabi seolah melampaui berjuta kata-kata untuk menghargai para pekerja kasar seperti Sa’ad. Sebuah perilaku yang jauh dari sekadar memenuhi tuntutan normatif atas nama peraturan dan hukum &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagaimana Nabi, jika kita bertemu dengan orang seperti Sa’ad, saya ingin kita sama-sama mencium tangannya. Tidak secara harfiah. Tetapi lewat penghargaan kita kepadanya. Memposisikan mereka secara mulia, seraya mengasah kepedulian membantu mencukupi hajat hidupnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya rasa, banyak orang dhuafa yang senasib seperti Sa’ad. Mereka bisa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;petani yang butuh kebijakan pemerintah yang lebih berpihak ke mereka. Bisa juga kuli bangunan, tukang sampah, atau mereka adalah pembantu (&lt;i style=""&gt;khadam&lt;/i&gt;) di rumah kita. Mereka adalah orang yang menjauhkan diri dari meminta-minta. Mereka mau bekerja kasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, atau bentuk tanggung jawab pada keluarganya. Adakah kita masih merasa lebih mulia dibandingkan mereka dalam pandangan Allah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini merupakan arsip dari Kolom Relung, Lazda Lampung Peduli di Koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5173272056893287076?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5173272056893287076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5173272056893287076&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5173272056893287076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5173272056893287076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/09/cium-tangan.html' title='Cium Tangan'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5586783691839387709</id><published>2008-09-05T07:55:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T07:58:28.938-07:00</updated><title type='text'>Pemenang Pilgub</title><content type='html'>Anda ikut mencoblos di pemilihan gubernur kemarin? Semoga peristiwa itu tidak terlewatkan begitu saja. Para tetangga saya di Sukabumi, Bandar Lampung, memberi alasan menarik tentang keikutsertaannya. Mereka mencoblos bukan hanya karena tuntutan sebagai ”warga negara yang baik.” Tetapi acara pemilihan itu dijadikan ajang untuk lebih akrab sesama warga. Sebagai ajang berkumpul, untuk sarana silaturahmi. Dari sana mereka jadi tahu siapa warga pendatang, kondisi terbaru tetangganya, juga perkembangan putera-puterinya, sampai kabar gembira atau duka yang dialami masing-masing.&lt;br /&gt;Maka, jangan dibayangkan bahwa pemilihan itu berjalan menegangkan. Ia berjalan dengan selingan gurauan segar. Ia menjadi moment yang dirindukan. Perhitungan suara pun layaknya tontonan yang  menarik, terkendali, dan berakhir tanpa menegangkan urat syaraf. &lt;br /&gt;Dari para tetangga baru itu, saya belajar hal berharga. Setiap peristiwa itu bisa makin bernilai, sejauh banyaknya niatan dan pemaknaan positif yang mungkin didapatkan darinya. Laksana sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui; atau menyelam sekaligus minum air. Berkumpul ikut pemilihan, mengapa tidak sekalian dijadikan sarana mempererat persaudaraan? Wajah sumringah mereka, seolah memberi pesan untuk kita semua.&lt;br /&gt;Dewasa ini kita memang dihadapkan kepada kondisi mengkhawatirkan. Masyarakat modern (baca:  suasana kota) kerap menghadirkan nuansa pergaulan yang kering. Hilang nuansa akrab dan guyub. Tegur sapa hanya seperlunya, saat butuh saja. Mereka menjadi pribadi individualis. Erich Fromm menyebutnya kepribadian nekrofil, kepribadian mayat. Seperti mayat, mereka kehilangan perasaan. Mereka bisa menonton penderitaan tanpa rasa empati dan simpati. Hidup mereka adalah hidup yang kosong, tanpa rasa, dan, karena itu tanpa makna. Orang kehilangan keakraban hubungan antara manusia.&lt;br /&gt;Bisa jadi, ada diantara kita yang kecewa dengan proses pemilu. Berulangkali memilih, kok tak beranjak ada perbaikan. Bila kita tanya kepada cerdik pandai, mereka mungkin akan bilang: semua masih perlu waktu dan proses. Usul saya, nikmatilah proses tersebut. Kalaupun akan ada pemilihan lagi di masa mendatang, tak perlu ada golput. Cukup belajar dari tetangga saya di Sukabumi: memilih dengan tambahan niatan silaturahmi. Mengenal lebih akrab saudaranya, satu rukun warga. Di sinilah sesungguhnya kunci perbaikan. Bukankah, sebagaimana kata Baginda Nabi, silaturahmi adalah kunci pembuka rejeki?&lt;br /&gt; Pemilihan gubernur itu telah usai digelar. Perolehan suaranya juga telah tergambar. Tapi, pemenangnya bukan yang terpilih menjadi gubernur—karena mereka masih harus menanggung amanah jabatan sebagaimana mereka janjikan. Pemenangnya: warga  pemilih yang makin kokoh persaudaraannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini merupakan Arsip dari Kolom Relung, Lampung Post Edisi Ramadhan 1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5586783691839387709?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5586783691839387709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5586783691839387709&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5586783691839387709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5586783691839387709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/09/pemenang-pilgub.html' title='Pemenang Pilgub'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-6468678915824006332</id><published>2008-09-05T07:54:00.001-07:00</published><updated>2008-09-05T07:54:59.511-07:00</updated><title type='text'>Ramadan nan Riang</title><content type='html'>Puasa selalu memberi nuansa berbeda dalam rutinitas harian kita. Cobalah simak dan rasakan. Acara makan, sebelum Ramadan, seperti berlalu begitu saja. Sekarang menjadi sesuatu yang dinantikan. Bukan hanya lantaran lapar. Tetapi kebersamaannya itu terasa memberi kenikmatan lebih. Kita merasa punya banyak luang untuk memberi perhatian kepada setiap anggota keluarga. Dari jenakanya anak-anak kita saat menahan lapar, dari kebersamaan kita kala sahur dan berbuka. Subhanallah. Kebahagiaan itu ternyata bisa hadir, dalam bentuk yang sederhana.&lt;br /&gt;Nuansa perubahan itu juga terlihat di lingkungan sekitar. Masjid penuh dengan jamaah. Semua berbondong-bondong meramaikan masjid (dalam makna harfiah). Tua-muda, lelaki-wanita, bahkan tak ketinggalan para balita. Semua terasa mengalir begitu saja, tak ada rekayasa, berjalan natural, dan tentunya, membahagiakan. Semuanya seperti larut terbawa perasaan. Semuanya menikmati. Pemuka agama yang (maaf) cenderung kaku memahami bahwa salat wanita lebih utama di rumah, tampaknya juga tak tega menyampaikan fatwanya. Ingatannya lebih tertuju kepada larangan Nabi agar tidak melarang wanita datang ke masjid —sepertinya benar kata Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah, ulama asal Mesir, bahwa jamaah wanita di zaman Nabi tidak lebih sedikit dibanding jamaah pria saat salat di masjid.&lt;br /&gt;Kita, orang tua yang di waktu lain kerap galak dengan anak-anak, tampak juga tak tega memarahi mereka kala Ramadan. Bahkan, ketika kadang-kadang mereka keterlaluan membuat gaduh di masjid—adik saya di Pringsewu, mengisahkan kebiasaan anak-anak di sana membunyikan mercon. Ya. Memang tak perlu marah. Begitulah tabiat anak-anak, sedari dahulu, seperti juga terjadi di zaman Nabi.&lt;br /&gt;Suatu saat, Nabi tampak begitu lama sujud dalam salat berjamaah. Sahabat mengira Nabi mendapat wahyu. ”Bukan, tadi waktu sujud cucuku (Hasan dan Husein) menjadikanku tunggangan. Aku tak tega menganggu keriangan mereka,” terang Nabi. Syaikh Nashiruddin al Albani mengutip kisah tersebut dalam bab memanjangkan sujud (dalam Sifat Salat Nabi). Bayangkan, keriuhan anak-anak, sampai-sampai ”mengganggu” jalannya salat, tapi malah mendapat pujian dari Nabi.&lt;br /&gt;Yang lain. Suatu saat Nabi tergesa-gesa menyelesaikan salat sampai  mengundang tanya sahabat. ”Tadi di tengah salat, aku mendengar bayi menangis, saya tidak mau ibunya menjadi khawatir.”&lt;br /&gt;Begitulah. Banyak alasan shahih untuk membenarkan nuansa kebersamaan itu—di rumah atau di masjid—tetap berjalan langgeng secara alamiah. Sampai kemudian keberkahan itu mengalir deras. Melalui cara yang bersahaja. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini merupakan Arsip dari Kolom Relung, Lampung Post Edisi Ramadhan 1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-6468678915824006332?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/6468678915824006332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=6468678915824006332&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/6468678915824006332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/6468678915824006332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/09/ramadan-nan-riang.html' title='Ramadan nan Riang'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-369391364620489808</id><published>2008-09-05T07:50:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T07:53:19.829-07:00</updated><title type='text'>Unggul Bersama</title><content type='html'>”Lho, kok tersenyum sendiri Mas?,” tegur rekan, saat saya membaca buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung.  Tampaknya saya tak bisa menyembunyikan rasa sukacita dan kekaguman. Lampung ternyata banyak sekali melahirkan tokoh—dari berbagai latar belakang—dengan prestasi cemerlang.&lt;br /&gt;Bukan hanya menjadi berita gembira, buku tersebut sepenuhnya inspiratif. Ia seperti memberi tahu dan menyadarkan kita tentang potensi besar dari keberadaan sosok unggulan yang dimiliki provinsi ini.  Sebutlah, semisal di antaranya, Sulaiman Rasjid. Ia ternyata pelopor kodifikasi ilmu fikih di Indonesia. Ada Haji Bob Sadino yang  (ternyata) berasal dari Tanjungkarang. Ia adalah pelopor agribisnis sayuran organik yang membuat produk pertanian ‘bermartabat’ di mal-mal besar. Ada juga Bustanul Arifin, profesor yang kerap menjadi rujukan pembangunan pertanian. Ada Sri Mulyani, yang Menteri Keuangan. Ada Abu Rizal Bakrie, sosok terkaya se-Asia Tenggara. Dan, masih banyak tokoh yang tak kalah besar prestasinya.&lt;br /&gt;            Begitulah, menyimak kisahnya, terbersit rasa bangga. Orang (dari) Lampung ternyata hebat. Ini tampak kontras dengan gelaran yang tak nyaman didengar, yang disematkan bagi daerah ini. Sebagai provinsi termiskin kedua se-Sumatera; atau daerah yang lama mengalami kemelut politik.&lt;br /&gt;            Apa yang salah? Agaknya kita masih menyimpan pekerjaan rumah. Keunggulan itu seperti masih menjadi prestasi pribadi. Belum menjadi cermin mayoritas. Atau barangkali, keunggulan itu malah membuat jarak. Merasa lebih dibanding yang lain, sampai muncul persaingan tak sehat. Seperti (maaf) dalam rivalitas politik.&lt;br /&gt;Semoga puasa menghadirkan kesadaran. Bahwa kita masih punya kendala. Ada sekat psikologis yang musti dihilangkan. Keunggulan itu selayaknya mengalami transformasi menjadi semangat sepenanggungan. Lantas bahu membahu menjadi bagian penyelesaian (part of solution). Ada tradisi empati, pertautan hati, sampai kita peduli, merasa senasib dengan saudara kita yang lain. Sampai kemudian muncul pemaknaan, keunggulan adalah —sebagaimana sabda  Nabi—karena kita banyak bermanfaat terhadap orang lain.&lt;br /&gt;Seratus tokoh terkemuka itu adalah modal sosial yang luar biasa untuk membangun Lampung. Dulu Bung Karno merasa cukup dengan 10 pemuda untuk membuat Indonesia berjaya. Bukan hanya 10, di Lampung, kita punya 10 kali lipatnya. Cukup banyak alasan untuk menjadikan Lampung unggul dan sejahtera bersama.&lt;br /&gt;”Ya Allah, lapangkan dada-dada kami. Satukan hati-hati kami. Marhaban Ramadan yang diberkahi.”&lt;br /&gt;(Tulisan ini merupakan Arsip dari Kolom Relung, Lampung Post Edisi Ramadhan 1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-369391364620489808?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/369391364620489808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=369391364620489808&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/369391364620489808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/369391364620489808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/09/unggul-bersama.html' title='Unggul Bersama'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-617035740564320019</id><published>2008-08-14T04:09:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T06:39:47.814-07:00</updated><title type='text'>Orang-orang Kalah (Refleksi Pilkada Lampung 2008)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;“Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(TQS An Nahl: 95).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampung memilih. Pekan mendatang adalah saat bersejarah bagi masyarakat Lampung. Untuk kali pertama dalam sejarah, gubernur dipilih langsung. Lebih dari 5 juta rakyat akan menentukan pilihan, untuk masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pekan mendatang adalah saat-saat menegangkan. Terutama bagi mereka yang berlaga untuk menjadi orang pertama, di provinsi ini. Ya. Setelah sebelumnya menjalani hari-hari yang menguras tenaga dan biaya. Bilik suara seolah menjadi ujung cerita. Suka atau duka. Menang atau kalah. Manis atau tragis.&lt;br /&gt;Saya ingin kisah berikut ini mendapat penghayatan mendalam. Sampai kemudian (semoga) perenungan itu mengarah pada pemaknaan kaaffah (integral, holistik), tentang sejatinya menang-kalah. Tidak hanya bagi mereka yang berkompetisi menjadi gubernur, tapi untuk kita semua. Bukan hanya di moment pilkada, tapi dalam keseharian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pada suatu hari Nabi Isa a.s. berjalan dengan seorang temannya. Sampai di tepi sungai, istirahatlah mereka membuka perbekalan. Ada tiga potong roti terhidang. Isa satu potong, satu potong untuk temannya, tersisa satu potong. Kemudian ketika Nabi Isa pergi minum ke sungai dan kembali, roti yang sepotong itu tidak ada. Kelebihannya sebagai Nabi, sebenarnya Isa a.s. tahu siapa yang mengambil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beliau bertanya kepada temannya, "Siapakah yang telah mengambil sepotong roti tadi?"&lt;br /&gt;Jawab temannya itu, "Aku tidak tahu."&lt;br /&gt;Jawaban tersebut dibiarkan Nabi Isa. Keduanya meneruskan perjalanan. Tiba-tiba mereka mendapati rusa dengan kedua anaknya. Salah satu dari anak rusa itu lalu disembelih dan dibakar. Setelah dimakan berdua, lalu Nabi Isa menyuruh anak rusa yang telah dimakan itu supaya hidup kembali. Maka hiduplah ia dengan izin Allah. Kemudian Nabi Isa bertanya, "Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti kekuasaan-Nya itu, siapakah yang mengambil sepotong roti itu?"&lt;br /&gt;Jawabnya, "Aku tidak tahu."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian keduanya meneruskan perjalanan hingga sampai ke tepi sungai, lalu Nabi Isa memegang tangan temannya itu dan mengajaknya berjalan di atas air hingga sampai ke seberang. "Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti ini, siapakah yang mengambil sepotong roti itu?"&lt;br /&gt;Jawabannya, tetap tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika sampai di sebuah padang, Nabi Isa mengumpulkan kerikil dalam tiga kantung. Lalu Nabi Isa berdoa, "Jadilah emas dengan izin Allah." Tiba-tiba kerikil itu berubah menjadi emas. Nabi Isa berkata, "Untukku satu kantung, dan kamu satu kantung, sedang satu kantung lagi untuk untuk orang yang mengambil roti."&lt;br /&gt;Ternyata, temannya itu mengaku, "Akulah yang mengambil roti itu."&lt;br /&gt;Lantas Nabi Isa a.s. berkata, "Ambillah semua bagian ini untukmu." Keduanya pun berpisah.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian orang itu didatangi dua orang yang tampak berperangai jahat. Berikutnya, teman Nabi Isa a.s. itu menawarkan kompromi untuk membagi tiga kantung emas tadi. Dua orang itu setuju.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena perbekalan habis, mereka sepakat mencari makan. Salah seorang dari mereka ke pasar berbelanja makanan. Ternyata timbul niatan jahat orang yang berbelanja itu. "Untuk apa membagi emas itu, lebih baik makanan ini saya isi racun biar keduanya mati, dan emas ini menjadi milikku sendiri." Makanan itu pun dibubuhinya racun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sementara itu, yang berdua menunggu ternyata juga menyusun persekongkolan jahat. "Untuk apa kita membagi emas bertiga. Jika ia datang lebih baik kita bunuh saja, dan emas ini kita bagi dua." Saat datang, dibunuhlah yang membeli makanan. Lalu ketika keduanya makan, matilah keduanya keracunan.&lt;br /&gt;Tinggallah harta itu di hutan, sedang mereka mati semua.&lt;br /&gt;Ketika Nabi Isa a.s. berjalan di hutan dan menemukan kantung emas itu, ia berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Inilah contoh sejatinya dunia, maka berhati-hatilah kamu kepadanya."&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Begitulah riwayat ketamakan. Selama yang dituruti itu adalah keinginan hawa nafsunya, dari situlah ketamakan menjadi pangkal tragedi. Ketika motivasi dunia menjadi dasar amalan, yang muncul adalah jiwa-jiwa rapuh yang akan mengukir sendiri kekalahannya. Di awal proses berlaga, atau bahkan ketika “kemenangan” (misalnya, dukungan suara dalam pilkada) itu dapat diraih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika dihadapkan pada kebesaran Allah—seperti mukjizat Isa a.s. dalam kisah di muka, atau mukjizat Allah yang lain yang banyak saat ini—banyak yang tak ambil peduli. Bahkan ketika kebesaran Allah itu diingatkan dalam berbagai bentuk, tetap saja tak tergerak hatinya. Entah di mana, nilai kejujuran itu ia tempatkan. Kebohongan dan keculasan dianggap biasa. Bingkai ibadah itu tak menjadi dasar aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau kemudian harus jujur, hanya motif “kantung emas” yang menjadi dasar. Ia ingin mendapat dunia, maka kemudian ia terlihat lebih alim. Ia hadir dalam majelis-majelis pengajian, sesuatu yang sebelumnya mungkin tak pernah ia kerjakan. Sengaja ia gunakan simbol-simbol agama, mengutip ayat Al Quran dan Hadits, sekadar mencari simpati. Agaknya, inilah yang disinggung Allah sebagai “menjual dengan harga sedikit.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”(TQS Ali Imraan: 77).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tampilan kebaikan itu hanya kamuflase. Niat dalam hati, siapa yang tahu?&lt;br /&gt;Niat memegang peran mendasar dalam semua hal. “Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).” (HR Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka kisah menang-kalah, sebagaimana dalam hadist tersebut, ternyata bukan pada hasil (akhir) yang dicapai. Tetapi pada awal, pada niat yang mendasari langkah kita. Berdasar niat, itulah capaian itu kita tuju.&lt;br /&gt;Niat yang benar karena Allah, akan menimbulkan kekuatan berlipat. Meskipun ”kemenangan” (= dukungan suara, harta dunia) tak dapat kita raih saat ini. Ini hanyalah waktu, pasti akan Allah menangkan di kesempatan yang lain. Atau hal itu menjadi investasi kita di surga. Kita bukankah pahala Allah itu sebaik-baik balasan dan kemenangan?&lt;br /&gt;Semestinya, bilik suara tak boleh menjadi ujung cerita. Tentang kisah tragis. Seperti dialami seorang calon Bupati di Ponorogo. Kekalahan pilkada membuatnya gelap mata, membohongi kolega dengan cek palsu, pecahnya keluarga, sampai berujung dirinya menjadi pesakitan di rumah sakit jiwa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semestinya, bilik suara tak boleh menjadi ujung cerita. Tentang berakhirnya kemenangan nurani. Ketika nanti, gubernur terpilih, mendasari kemenangan untuk menuruti ketamakan. Jabatan hanya ajang berebut harta. Sampai kemudian, masa depan hanya sepenggal cerita tentang berlarut-larutnya dengan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nabi Isa a.s. telah memberi pelajaran berharga. Tentang kehati-hatian menghadapi gemerlap dunia. Agar kemudian kita tidak ”mati bersama.” ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-617035740564320019?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/617035740564320019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=617035740564320019&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/617035740564320019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/617035740564320019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/orang-orang-kalah-refleksi-pilkada.html' title='Orang-orang Kalah (Refleksi Pilkada Lampung 2008)'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1456673809688755873</id><published>2008-08-14T04:07:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T04:09:41.936-07:00</updated><title type='text'>Zakat itu Menyelamatkan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka mengingkari  akan adanya (kehidupan) akhirat.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(TQS Fushshilat: 6-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madinah guncang. Meninggalnya Rasulullah menimbulkan duka mendalam di kalangan sahabat. Bukan itu saja, banyak kabilah mengingkari keberadaan Khalifah Abu Bakar. Mereka menolak membayar zakat. Kabilah yang melakukan pembelotan itu meliputi dua pertiga wilayah Islam kala itu. Tak urung itu membuat ciut nyali Umar bin Khattab. Ia mengusulkan kepada Abu Bakar untuk melakukan kompromi dengan para kabilah itu. ”Demi Allah, tak akan aku biarkan sepeninggal Muhammad, mereka yang membedakan zakat dengan kewajiban Islam yang lain,” ujar Abu Bakar.&lt;br /&gt;            Setelah itu, Abu Bakar membentuk 11 regu untuk menaklukkan kabilah-kabilah yang menolak membayar zakat. Yakni dari Tihama di Laut Merah, Hadramaut di ujung Lautan Hindia, sampai ke Oman, Bahrain, Yamama hingga Kuwait di Teluk Persia.&lt;br /&gt;Abu Bakar, sahabat Nabi yang terkenal kelembutan hatinya itu, ternyata begitu keras terhadap kabilah yang menolak zakat. Dialah pemimpin pertama dalam sejarah yang mengobarkan perang dengan motif membela dhuafa. Ya, betapa banyak raja yang berperang hanya menuruti ambisi, menjajah, dan memperluas kekuasaan.&lt;br /&gt;Abu Bakar berhasil menyatukan kembali umat Islam yang pecah setelah Rasulullah wafat. Di masanya pula, Islam mulai menyebar ke luar jazirah Arab. Namun, ia tetap dikenal sebagai seorang yang sederhana. Ia hidup sebagaimana rakyat. Tetap pergi sendiri ke pasar untuk berbelanja, serta menjadi imam salat di masjid Nabawi. Selama dua tahun tiga bulan memimpin, ia hanya mengeluarkan 8.000 dirham uang negara untuk kepentingan keluarganya. Jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran waktu itu sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumen Sosial&lt;br /&gt;            Dari Abu Bakar, kita belajar tentang makna kesatuan amal dalam Islam. Tak boleh ada pembedaan atas berbagai kewajiban ibadah. Semua harus terlaksana menyeluruh, integral, kaffah. Ini sebagaimana perkataan Rasulullah kepada Ibnu Umar r.a.  ”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau mengucapkan laa ilaaha illallah (Tiada sesembahan kecuali Allah), menegakkan salat, dan membayar zakat. Apabila mereka telah melakukan semua itu, berarti mereka telah memelihara harta dan jiwanya dariku kecuali ada alasan yang hak menurut Islam (bagiku untuk memerangi mereka) dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah swt.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Dari Abu Bakar kita juga belajar tentang zakat sebagai salah satu instrumen/pilar penting dalam hubungan sosial (muamalah) dan  sistem pemerintahan.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan bermasyarakat, pasti akan ada yang kaya dan miskin. Dewasa ini makin disadari besarnya bahaya dalam masyarakat apabila orang-orang miskin dan lemah tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka dan mereka terancam kelaparan. Sebagai misal, perut yang lapar akan mendorong pemiliknya melakukan dosa, melanggar segala larangan, serta menganggap yang demikian sebagai perbuatan yang sah. Bila sudah demikian, maka orang-orang kaya sendiri yang akan menjadi korban kejahatan mereka itu.&lt;br /&gt;Ini seperti dinyatakan Sayid Sabiq, ulama asal Mesir.  ''Suatu jamaah (komunitas) yang di dalamnya kemiskinan tersebar luas dan taring-taringnya menggigit, maka akan berkobarlah di sana permusuhan dan kebencian, sehingga akan terguncanglah eksistensi umat karena gangguan yang merajalela dan ramailah aliran-aliran ekstrim.''&lt;br /&gt;Zakat dapat mengurangi kesenjangan kaya-miskin (narrowing-the-gap). Ia juga  menjaga stabilitas psikologis masyarakat. Jika yang yang tak berpunya melihat bahwa golongan mampu telah mengulurkan tangannya lewat zakat sehingga membantu meringankan beban dan penderitaan masyarakat, maka kebencian sosial yang kerap muncul dalam masyarakat akan pudar.&lt;br /&gt;            Kebencian sosial karena kesenjangan kaya-miskin ini sering menjadi malapetaka dalam sejarah. Bahkan ada ideologi kenegaraan yang didasari atas perbedaan tersebut. Yaitu Marxisme, ajaran yang disampaikan oleh Karl Marx, yang kemudian berwujud dalam bentuk negara Komunis. Dunia ini, dalam pandangan Marxisme, didominasi atas penindasan antar kelas. Kaum proletar, kalangan miskin, para buruh, kaum tani, golongan melarat harus bersatu untuk menggulingkan kelas penindas, yaitu kaum borjuis, orang-orang kaya, tuan tanah, yang punya hak milik. Cara pandang penuh kebencian itu kemudian menghalalkan segala cara.&lt;br /&gt;            Rakyat di kawasan Rusia pernah merasakan begitu lama kungkungan sistem komunis—sebelum kemudian Uni Soviet bubar pada 1987. Rakyat banyak mati sia-sia. Di China, dahulu komunis juga membuat 1 milyar lebih rakyatnya menderita. Yang dekat dengan kita, seperti Kamboja dan Vietnam juga mengalami masa-masa buruk. Separuh penduduk Kamboja mati dalam perang saudara, sisanya hidup terlunta-lunta, menderita kelaparan. Vietnam juga pernah menjadi ajang perang saudara tak berkesudahan. Tentara Khmer Merah yang berhaluan komunis, amat terkenal dengan kekejamannya.&lt;br /&gt;            Tahun 1965, bangsa kita juga mengalami malapetaka yang paling getir dalam sejarah. Gerakan 30 September (Gestapu) yang didalangi PKI mencoba merebut kekuasaan dengan jalan kekerasan. Tubuh enam jenderal Angkatan Darat dirobek-robek secara keji. Banyak tokoh ulama kala itu dipenjara dan merasakan kekejaman PKI. Pendukung PKI, yang kala itu banyak di dukung  rakyat miskin di perdesaan, meneriakkan yel-yel khas komunis. Mereka menyebut lawannya sebagai setan desa atau setan kota.&lt;br /&gt;            ”Kefakiran dekat dengan kekufuran,” begitu kata Rasulullah. Sejarah telah membuktikan bahwa kemiskinan yang berkelindan dengan kecemburuan terhadap orang kaya akan mengundang malapetaka. Di sini, zakat dapat hadir sebagai instrumen penyelamat, menghilangkan kecemburuan tersebut.&lt;br /&gt;            Tak akan merugi dengan berbagi. Perilaku kikir amat dicela Islam karena akan menimbulkan kerugian yang lebih besar.  ”Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu, mereka saling membunuh dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan. (HR Bukhari)&lt;br /&gt;Kalau mau ditelaah secara ekonomi, perintah zakat itu pada akhirnya justru akan membantu mereka yang berpunya, karena akan dapat mendorong terciptanya daya beli baru dan produksi dari para penerima zakat. Bagi mereka yang mengeluarkan zakat, secara psikologis hati dan jiwanya akan lebih bersih dan tentram, dengan adanya saling kasih sesama umat. Sedang orang-orang yang tidak berpunya akan menaruh respek dan hormat kepada orang yang mempedulikan nasib mereka.&lt;br /&gt;Berkah Hidup&lt;br /&gt;Zakat itu menyelamatkan. Bukan saja dalam konteks hubungan sosial seperti di muka. Ini juga menyangkut dimensi transenden, pertolongan Allah sebagai Sang Pemberi Rejeki.&lt;br /&gt;Rejeki itu Allah karuniakan kepada kita karena adanya orang-orang dhuafa tersebut. Sabda Rasulullah, ”Sesungguhnya kalian diberi pertolongan karena orang-orang lemah di antara kalian.”     Doa orang-orang dhuafa, orang lemah tak berdaya, karena kemiskinan dan ketertindasan, di-ijabah oleh Allah. Kita memberi kebaikan kepada mereka walaupun sedikit, tapi itu sangat berarti bagi mereka. Lalu mereka berdoa  dengan tulus yang mengundang datangnya pertolongan Allah untuk kita.&lt;br /&gt;Datangnya rejeki dan pertolongan Allah, adalah proses take and give. Sejauh kita memberi, sejauh itu pula kita akan didapat. Begitupun terkabulnya doa. Permohonan kita akan dijawab Allah jika kita membantu kesulitan orang di sekitar kita. ”Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” (HR Ahmad)&lt;br /&gt;Zakat itu menyelamatkan. Ini menyangkut keselamatan kita secara kolektif. Seperti turunnya air hujan, sebagai kebutuhan semua orang. Ilmu pengetahuan paling mutakhir sekalipun belum mampu merekayasa hujan secara alamiah. Kalaupun ada “hujan buatan,” harus ada syarat yang mutlak dipenuhi: adanya gumpalan awan yang memadai. Lalu siapa yang bisa menciptakan awan? Semua kembali ke causa prima, Allah Ta’ala. “Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak, tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1456673809688755873?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1456673809688755873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1456673809688755873&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1456673809688755873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1456673809688755873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/zakat-itu-menyelamatkan.html' title='Zakat itu Menyelamatkan'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1991183950490403515</id><published>2008-08-14T04:06:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T04:07:01.613-07:00</updated><title type='text'>Wanita Sejajar Pria</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS At Taubah: 71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma binti Yazid As Sakan. Ia merasakan kegundahan saat membandingkan dirinya sebagai perempuan dengan para lelaki. Dalam berbagai moment, lelaki lebih sering disebut dengan mendapat berbagai keutamaan. Pada saat yang sama, tidak sebut keutamaan untuk wanita. Ternyata, kondisi yang sama, dirasakan oleh para perempuan yang lain. Mereka pun berbagi kerisauan itu. Selanjutnya, setelah berembug, mereka menyepakati Asma untuk pergi menemui Rasulullah saw..&lt;br /&gt;“Sesungguhnya saya utusan dari sekelompok wanita muslimah di belakangku, mereka semuanya berkata dan sependapat dengan perkataanku. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada kaum pria dan wanita, maka kami beriman mengikutimu. Dan kami kaum wanita (punya) (ke)terbatas(an), banyak halangan, dan penjaga rumah. Sementara kaum pria diutamakan dengan salat jamaah, mengantar jenazah, dan jihad. Ketika mereka keluar berjihad, kami (hanya) menjaga harta mereka dan mendidik anak mereka. Apakah kami Sdengan mereka dalam mendapatkan pahala wahai Rasulullah?” tanya Asma.&lt;br /&gt;Maka Rasululah saw serta merta berpaling ke arah sahabat dan melontarkan pujian, “Tidakkah kalian mendengar ungkapan seorang wanita yang lebih baik pertanyaannya tentang agama dari wanita ini?” Para sahabat pun mengiyakan.&lt;br /&gt;Rasulullah kemudian bersabda, “Pergilah kembali wahai Asma dan beritahukanlah kepada para wanita di belakangmu, bahwa kebaikan (ketaatan) salah seorang dari kalian kepada suaminya, mencari keridhaannya, dan mengikuti apa yang dia sukai, menyamai pahalanya dengan semua yang engkau sebutkan.” (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Dialog di atas mungkin hanya sekeping kisah dari keseharian penduduk Madinah Yang mengisi hari-hari mereka seperti biasanya. Beraktivitas sesuai dengan profesinya masing-masing, seraya terus belajar, menanyakan perihal agamanya kepada Rasulullah saw. Pertanyaan Asma binti Yazid radhiyallahu-anha juga hanya satu dari sekian banyak pertanyaan yang sering disampaikan oleh para wanita Madinah. Para sahabiyah (sahabat wanita Rasululllah) memang suka bertanya. Bahkan, untuk berbagai perkara pribadi (seperti hubungan intim suami-isteri), yang para suami mereka terkadang malu bertanya langsung kepada Rasulullah lalu “menitipkan” pertanyaan itu kepada mereka. “Contohlah para wanita Madinah, karena rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya tentang berbagai masalah agama” kata Rasulullah memberi penghargaan.&lt;br /&gt;Tetapi dari sebuah dialog yang terlihat biasa, dari kisah itu ada sebuah prinsip mendasar sekaligus jawaban, yang menjadi sangat luar biasa untuk ditimbang dalam keseharian kita, saat-saat ini.&lt;br /&gt;Ialah bahwa para perempuan itu tidak mengadukan “kelemahan” mereka kepada Rasulullah dalam perspektif diskriminatif. Dengan kata lain, mereka para wanita itu, tidak sedang mengadu tentang rasa rendah diri (“inferioritas”) mereka dibanding laki-laki. Tetapi, mereka mengadukan “kelemahan” itu dalam perspektif produktivitas kebaikan. Bahwa mereka merasakan, betapa kaum lelaki mempunyai banyak peluang memperoleh pahala besar, sedang mereka (merasa) tidak.&lt;br /&gt;Dengan perangai serta mentalitas luhur seperti itu, para wanita Madinah itu sesungguhnya telah merubah dirinya menjadi sejajar dengan lelaki—sebagaimana pujian dan jawaban Rasulullah kepada Asma. Kesejajaran itu bukan dilihat dari sisi amaliyah (aplikasi teknis) tetapi dari sisi maknawiyah (substansi, filosofi).&lt;br /&gt;            Para penduduknya Maka, dialog itu juga sebentuk fragmen “kecemburuan” orang-orang mukmin(ah) terhadap orang-orang mukmin yang lain. Sebuah kecemburuan yang sah menurut Islam. Kecemburuan dalam berlomba melakukan kebaikan (fastabiqul khairat). Sekaligus, sebuah kecemburuan yang memberi tafsir baru tentang kesejajaran.&lt;br /&gt;            Alangkah indahnya sosiografi Madinah. Yang berdenyut dalam dinamika dan harmoni iman dan kebajikan. Ya. Tetap saja ada perbedaan itu. Pria memang terlahir berbeda dengan wanita. Tetapi mereka sama-sama mengerti tentang peran dan fungsinya. Mereka mengerti kewajiban asasi masing-masing.&lt;br /&gt;            Dari sebuah kisah yang sarat makna, dialog Asma-Rasulullah sesungguhnya juga memberi jawaban yang sederhana. Ya. Hari ini kita seperti menghadapi permasalahan pelik tentang upaya menyejajarkan lelaki-perempuan. Betapa debat hukum dalam forum-forum diskusi, berbagai tulisan buku, serta aksi-aksi massa telah banyak dilakukan tanpa memberi hasil yang memuaskan. Polemik antara posisi wanita antara di ranah publik (masyarakat luat) dan ranah domestik (rumah tangga) seolah tidak kunjung habis. Tak urung, ketika masalah itu tampak runyam, hukum agama dipandang sebagai biang keladi persoalan. Lahirlah kelompok-kelompok yang memperjuangkan kesetaraan gender dalam bingkai sekuler/menafikan agama. Alih-alih berhasil, perjuangan kesetaraan (dengan menafikan agama) itu malah menimbulkan kemudharatan lain yang lebih besar.&lt;br /&gt;            Seperti itulah yang terjadi pada “euforia emansipasi” yang kita dapati pada moment peringatan hari Kartini. Para perempuan serentak berkebaya—yang makin sulit kita pahami apa maknanya kecuali seremonial belaka. Berbagai profesi wanita dipuji berlebihan karena menggantikan posisi lelaki. RUU Anti     ografi (yang sebenarnya diniatkan untuk melindungi perempuan) ditolak dengan alasan diskriminatif, “menghina” perempuan.&lt;br /&gt;            Semua itu sesungguhnya punya jawaban sederhana, pada bingkai (paradigma) keimanan itu. Kemuliaan dan kesejajaran itu terukur dari amal kebajikan yang kita lakukan dalam rangka beribadah kepada Allah.&lt;br /&gt;Ahmad Mansur Suryanegara, seorang sejarawan, berdasarkan kajiannya memberikan simpulan bahwa Kartini, sosok yang ditahbiskan sebagai pejuang emansipasi itu, punya apresiasi yang tinggi terhadap Islam. Kartini hanya memperoleh beberapa bagian saja dari terjemah Al Qur’an, yang memang masih susah didapat kala itu. Namun hal itu telah mengilhaminya untuk membuat tulisan fenomenal. Buku kumpulan suratnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, sesungguhnya diilhami dari QS Al Baqarah: 257; “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).”&lt;br /&gt;Andai saja Kartini punya kesempatan khatam meng(k)aji Al Qur’an, tentu ia akan lebih agamis. Dengan kata lain, sosok Kartini modern mestilah mereka yang faham Islam,  bertutur santun seraya berjilbab dengan anggun. Bukan yang berpakaian seksi itu atau sekadar berkebaya sekali setahun.&lt;br /&gt;Kerangka keimanan itu akan mewujudkan kesetaraan itu dalam posisinya yang adil dan proporsional. Bahkan saat perkembangan waktu atau budaya menuntut penilaian berbeda atas sebuah aktivitas, tetap akan melahirkan penilaian positif. Seperti Asma binti Yazid As Sakan,yang tetap dipandang mulia, saat di kemudian hari ia tercatat sebagai sosok wanita yang turut serta ke medan perang mengangkat senjata. Seperti itu pula selayaknya penilaian kita terhadap kiprah para muslimah di ruang publik (masyarakat),  yang nampak musykil kita tolak—walau tidak ada di jaman Rasulullah.Tidak ada yang tercela, sejauh bingkai keimanan itu selalu terjaga.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rambu-rambu Wanita di Ranah Publik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam wanita pada dasarnya mempunyai tempat istimewa dan sejajar kedudukannya dengan pria&lt;br /&gt;Pada tataran lebih lanjut, berdasar pendapat mayoritas ulama, wanita bekerja di wilayah publik (masyarakat) hukumnya boleh dengan catatan memperhatikan dan menjaga batas-batas atau adab Islam, yaitu tidak ikhtilath (berbaur antara lelaki perempuan) tidak membuka aurat, tidak khalwah (berdua saja dengan lelaki), dan terhindar dari fitnah.&lt;br /&gt;Dalam kondisi tertentu, yakni adanya kebutuhan objektif dalam skala umum atau dalam ruang lingkup khusus dan tidak ada yang dapat melakukannya selain wanita yang bersangkutan, ia boleh tampil di depan umum untuk mennyampaikan dakwah atau memberikan pelajaran dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan Islam. Salim Segaf Al Jufri (2005) menghimpun beberapa kaidah yang penting diperhatikan oleh kita terkait dengan keberadaan wanita di muka umum (masyarakat luas).&lt;br /&gt;Ketentuan dimaksud adalah:&lt;br /&gt;Pertama, mengenaikan pakaian yang menutup aurat. Ini didasari oleh firman Allah, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzaab: 59).&lt;br /&gt;Kedua, tidak tabarruj atau memamerkan perhiasan dan kecantikan. Ini didasari oleh firman Allah “…dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya…” (QS Al Ahzaab: 27).&lt;br /&gt;Ketiga, tidak melunakkan, memerdukan, atau sengaja mendesahkan suara. Ini didasari oleh firman Allah “…Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sejenisnya) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS Al Ahzaab: 27).&lt;br /&gt;Keempat, menjaga pandangan.  Ini didasari oleh firman Allah, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (QS An Nuur: 31).&lt;br /&gt;Kelima, aman dari fitnah. Ini merupakan ijma’ dari ulama. Penilaian masyarakat berdasarkan budaya atau adat istiadat sekitar penting diperhatikan agar tidak timbul penilaian negatif  atas perilaku kita. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1991183950490403515?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1991183950490403515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1991183950490403515&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1991183950490403515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1991183950490403515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/wanita-sejajar-pria.html' title='Wanita Sejajar Pria'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-4660311434082598839</id><published>2008-08-14T04:04:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T04:05:54.880-07:00</updated><title type='text'>Tangan yang Tercium Bau Surga</title><content type='html'>&lt;strong&gt;"Dialah Dzat yang menjadikan bumi ini mudah buat kamu. Oleh karena itu berjalanlah (berusahalah) di permukaannya dan makanlah dari rejekinya."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(QS Al Mulk: 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita simak kisah Sa’d bin Muadz Al Anshari. Waktu itu Rasulullah pulang dari Tabuk. Beliau melihat tangan Sa’d yang menghitam dan melepuh. “Kenapa tanganmu?” tanya Rasulullah.&lt;br /&gt;“Ini akibat palu dan sekop besi yang sering saya pergunakan untuk mencari nafkah bagi keluarga yang menjadi tanggunganku, ya Rasul,” jawab Sa’d.&lt;br /&gt;Maka Rasulullah mengambil tangan Sa’d dan menciumnya. “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka.”&lt;br /&gt;Rasulullah dicium tangannya oleh para sahabatnya? Peristiwa seperti ini tampak bukan hal istimewa bila menilik kedudukan beliau yang mulia. Kesaksian ‘Urwah bin Mas’ud—yang kala itu masih musyrik—cukuplah sebagai bukti. Kata Urwah, “Demi Allah, tidaklah Rasulullah saw meludah kecuali ludah itu jatuh ke telapak tangan seorang di antara mereka lalu mengusapkan ke muka dan kulit mereka. Apabila dia (Rasulullah) memerintahkan sesuatu kepada mereka, mereka berebut melakukannya. Apabila dia berwudhu, mereka berebut untuk mendapatkan sisa air wudhunya. Apabila mereka berbicara dihadapannya, mereka berbicara dengan menundukkan kepala dan merendahkan suara demi menghormatinya.”&lt;br /&gt;Dalam sirah, kita akan menemukan fakta bahwa tangan Rasulullah—dan benda bekas pakai beliau—sering diperebutkan oleh para sahabat untuk memperoleh berkahnya. Bahkan tabarruk (berharap berkah) dengan benda-benda bekas pakai Nabi saw. adalah perkara yang disyariatkan. Di dalam beberapa hadits sahih disebutkan bahwa para sahabat pernah bertabarruk dengan rambut, keringat, sisa air wudhu, dan ludah Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Etos Kerja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah mencium tangan sahabatnya? Tentu ini terasa istimewa. Dalam sirah nabawiyah, ini merupakan peristiwa langka. Secara masyhur, kita hanya akan menemukan dua orang yang Rasulullah cium tangannya: pertama terhadap Sa’d dalam kisah di atas; kedua terhadap puterinya Fatimah dalam peristiwa yang serupa. Fatimah Az Zahra, karena kerap ditinggal suaminya—Ali bin Abi Thalib—berjuang, menggiling gandum sendiri sampai kepayahan dan tangannya sakit. Rasulullah menghibur puterinya, mencium tangannya, seraya mengajarkan wirid/zikir agar dibaca Fatimah bila mengiling gandum.&lt;br /&gt;Rasulullah saw. yang tangannya biasa diperebutkan untuk dicium, ternyata malah mencium tangan Sa’d yang kasar. Aksi “demonstratif” Rasulullah seolah melampaui berjuta kata-kata untuk menghargai para pekerja kasar seperti Sa’d.  Ya. Inilah bentuk penghargaan tinggi dari Rasulullah terhadap mereka yang bersusah-susah memenuhi nafkah hidupnya. Apa yang dilakukan Rasulullah dapat dicermati sebagai jawaban substansial untuk menghadapi permasalahan tenaga kerja (buruh) yang menghangat saat ini. Sebuah jawaban yang jauh dari sekadar memenuhi tuntutan normatif atas nama hukum dan undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kemandirian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari kisah Sa’d di muka, kita juga penting memaknai tentang etos kerja dalam Islam. Rasulullah sangat memuliakan orang yang mau bekerja, apapun bentuknya—sejauh bukan perkara haram. Rasulullah menghapuskan semua fikiran yang menganggap hina terhadap orang yang bekerja. Beliau mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya untuk menjaga harga diri dengan bekerja.&lt;br /&gt;"Sungguh seseorang yang membawa tali, kemudian ia membawa seikat kayu di punggungnya lantas dijualnya, maka dengan itu Allah menjaga dirinya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka yang diminta itu memberi atau menolaknya." (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Bekerja sama artinya menjauhkan diri dari bergantung kepada orang lain. Percaya kepada kemampuan diri sendiri untuk mencukupi kebutuhannya. Setiap diri mampu mandiri sejauh ada upaya untuk mewujudkannya. Ini telah menjadi ketentuan Allah, seperti dalam  firman-Nya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS Ar Ra’d: 11).&lt;br /&gt;Islam mencela orang-orang yang suka meminta-minta. Rasulullah memandang rendah orang yang hanya menggantungkan dirinya kepada bantuan orang lain. ''Siapa yang membuka pintu meminta-minta, maka Allah pasti akan membuka pintu kefakiran,” sabda Rasulullah yang diriwayatkan Ahmad dari  Jabir bin Abdullah.&lt;br /&gt;Tidak akan pernah kaya orang yang mengandalkan dari meminta-meminta, kecuali akan menambah kemiskinannya. Kekayaan itu bermula dari kemauan kuat untu tidak meminta-minta. “Siapa yang ber-'iffah (menjaga kehormatan diri, tidak meminta-minta), Allah akan menjaganya. Siapa yang mohon kecukupan kepada Allah, dia akan dicukupkan.'' tegas Rasulullah dalam hadits lanjutan riwayat Ahmad.&lt;br /&gt;Menjadi kaya itu erat kaitannya dengan mentalitas. Begitulah, Islam mengetengahkan masalah kecukpan harta ini. Diawali dari menjaga kehormatan untuk tidak meminta-minta, maka simpul-simpul kekayaan itu terbuka.&lt;br /&gt;Mentalitas kaya, untuk kemudian menjauhkan diri dari meminta-minta, tampaknya bukan sekadar masalah memenuhi kebutuhan pribadi atau keluarga. Ini juga menyangkut urusan bersama (kolektif) dalam membangun negeri ini.&lt;br /&gt;Negeri kita ini bisa jadi mewakili sebuah ironi tentang mentalitas peminta-minta yang akut. Ini menyangkut kebijakan pembangunan yang selalu bertumpu pada utang. Seperti diungkapkan Revrisond Baswir, sejarah negara Indonesia ternyata tidak bisa dipisahkan dari kehadiran utang luar negeri. Walau secara internasional Indonesia baru diakui Desember 1949, proposal utang luar negeri ternyata telah diajukan pemerintah Indonesia sejak 1949. Sejak itu, setiap pergantian pemimpin pemerintahan selalu mewarisi utang dalam jumlah yang terus bertambah. Kebijakan pembangunan tidak banyak dilaksanakan tanpa bertumpu pada utang.&lt;br /&gt;Maka, saat ini secara keseluruhan  bangsa Indonesia memiliki utang luar negeri sebesar 78 miliar dolar AS. Jika ditambah dengan utang dalam negeri yang muncul 1998, sejumlah Rp 630 triliun, secara keseluruhan bangsa Indonesia memiliki utang 1300 triliun. Artinya, jika dibagi dengan jumlah penduduk, setiap manusia Indonesia rata-rata memikul utang dalam dan luar negeri sebesar Rp. 6,5 juta per kepala. Ini adalah catatan perjalanan bangsa yang penting menjadi perhatian kita semua. Betapa kemudian, setiap penyusunan APBN itu selalu dibebani dengan keharusan membayar utang tersebut.&lt;br /&gt;Utang negara bisa jadi adalah potret diri kita semua. Tentang budaya kerja yang rendah, mentalitas peminta-minta,  ataupun kemalasan yang telah berurat akar. Ya. Kita patut bercermin, jangan-jangan kita juga memberi sumbangsih masalah tersebut.&lt;br /&gt;Kerja keras, apapun bentuknya, mendapat tempat mulia dalam Islam. Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, ''Siapa mencari dunia secara halal, membanting tulang demi keluarga dan cinta tetangga, maka pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya dengan wajah berbinar layak rembulan bulan purnama.'' ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Haramnya Meminta-minta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mencari nafkah hidup merupakan perintah agama. Dengan mencari nafkah, seseorang menjadi bisa mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. Ketika muda, Rasulullah SAW adalah seorang pekerja yang sangat giat. Beliau menjual jasa menjadi gembala kambing kepada kaum kaya Makkah. Beliau juga menjualkan dagangan milik Khadijah ke Syam, untuk mendapatkan bagi hasil.&lt;br /&gt;Lebih dari itu, bekerja tidak hanya sunah Rasulullah saw. tetapi juga nabi-nabi pendahulunya. Misalnya Nabi Daud a.s., ia mencari nafkah dari hasil pekerjaan tangannya sendiri, yakni melunakkan besi. Di tangan Daud a.s., besi tak ubahnya adonan dan lilin, ia membuatnya menjadi baju zirah (baju besi), kemudian menjualnya ke pasar untuk menghidupi diri dan keluarganya dari hasil penjualannya.&lt;br /&gt;Allah swt. sangat cinta kepada orang yang bekerja. Sebagaimana diriwayatkan Thabrani dalam Al-Kabir, Rasulullah bersabda, ''Allah mencintai setiap Mukmin yang bekerja untuk keluarganya dan tidak menyukai Mukmin pengangguran, baik untuk pekerjaan dunia maupun akhirat.'' Sejalan dengan hal ini, orang yang mampu bekerja tetapi hanya berdiam diri tidak bekerja adalah haram. Yuf Qardhawi, dalam Fatwa-fatwa Kontemporer-nya menyatakan bahwa setiap muslim tidak halal bermalas-malas bekerja untuk mencari rezeki dengan dalih karena sibuk beribadah atau tawakkal kepada Allah, sebab langit ini tidak akan mencurahkan hujan emas dan perak.&lt;br /&gt;Tidak halal juga seorang Muslim hanya menggantungkan dirinya kepada sedekah orang, padahal dia masih mampu berusaha untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri dan keluarga serta tanggungannya. Untuk itu Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna." (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;Sesuatu yang sangat ditentang oleh Nabi serta diharamkannya terhadap diri seorang muslim, yaitu meminta-minta kepada orang lain dengan mencucurkan keringatnya. Hal mana dapat menurunkan harga diri dan karamahnya padahal dia bukan terpaksa harus minta-minta.&lt;br /&gt;Kepada orang yang suka minta-minta padahal tidak begitu memerlukan, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut: "Orang yang minta-minta padahal tidak begitu memerlukan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api." (HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)&lt;br /&gt;"Barangsiapa meminta-minta pada orang lain untuk menambah kekayaan hartanya tanpa sesuatu yang menghajatkan, maka berarti dia menampar mukanya sampai hari kiamat, dan batu dari neraka yang membara itu dimakannya. Oleh karena itu siapa yang mau, persedikitlah dan siapa yang mau berbanyaklah." (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;"Senantiasa minta-minta itu dilakukan oleh seseorang di antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong daging." (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Suara yang keras ini dicanangkan oleh Rasulullah, demi melindungi harga diri seorang muslim dan supaya seorang muslim membiasakan hidup yang suci serta percaya pada diri sendiri dan jauh dari menggantungkan diri pada orang lain.&lt;br /&gt;Rasulullah saw. hanya memberikan kebolehan meminta-minta bila suatu kepentingan yang mendesak.&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Qabishah, Rasulullah mengatakan bahwa meminta-minta itu tidak halal, kecuali untuk bagi salah satu dari tiga orang berikut. Pertama, seorang laki-laki yang menanggung beban yang berat, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia dapat mengatasinya kemudian sesudah itu dia berhenti.&lt;br /&gt;Kedua, seorang laki-laki yang ditimpa suatu bahaya yang membinasakan hartanya, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia mendapatkan suatu standar untuk hidup. Ketiga, seorang laki-laki yang ditimpa suatu kemiskinan sehingga ada tiga dari orang-orang pandai dari kaumnya mengatakan: “Sungguh si anu itu ditimpa suatu kemiskinan, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia mendapatkan suatu standar hidup.&lt;br /&gt; “Selain itu, meminta-minta hai Qabishah, adalah haram, yang melakukannya berarti makan barang haram,"tegas Rasulullah. (HR Muslim, Abu Daud dan Nasa'i).***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-4660311434082598839?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/4660311434082598839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=4660311434082598839&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/4660311434082598839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/4660311434082598839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/tangan-yang-tercium-bau-surga.html' title='Tangan yang Tercium Bau Surga'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5634244706409459330</id><published>2008-08-14T04:03:00.001-07:00</published><updated>2008-08-14T04:04:21.228-07:00</updated><title type='text'>Senyum Gembira yang Tak Boleh Sirna</title><content type='html'>&lt;strong&gt; ”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya... ”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(QS Al Baqarah: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi yang mulia memalingkan muka ke arah sahabatnya, wajahnya nampak begitu berseri. Seraya tertawa gembira ia berkata, ”Bergembiralah kalian, karena akan datang kemudahan bagi kalian, kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (HR Ibnu Jarir).&lt;br /&gt;Kegembiraan punya tempat istimewa dalam Islam, agama yang tak pernah melewatkan segala jenis urusan. Tidak ada urusan kecil atau besar kecuali Islam menjelaskan bagaimana kita menyikapinya. Kadang secara umum, kadang secara detail. Kegembiraan sesungguhnya tak sekedar layaknya garam bagi sayuran. Atau gula bagi minuman. Ia bahkan menjadi salah satu pilar risalah kenabian. Sebab Rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira, selain untuk memberikan peringatan akan azab dari Allah swt. ”Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS Saba’: 28.)&lt;br /&gt;”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya... ”(QS Al Baqarah: 25).&lt;br /&gt;Ayat-ayat serupa banyak terdapat di dalam Al Qur’an. Ini menegaskan kepada kita, bahwa betapa rasa gembira selayaknya meliputi diri orang-orang mukmin. Ada saat dimana kesulitan itu mendera kita. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat kita putus asa akan datangnya kemudahan.&lt;br /&gt;Hadist yang diriwayatkan Ibnu Jarir di awal,  terjadi saat Rasulullah saw. usai menerima wahyu, Surat Alam Nasyrah. Allah telah menjanjikan kepada kita bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.&lt;br /&gt;”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS Alam Nasyrah: 5-6)&lt;br /&gt;Pengulangan itu menandakan, bahwa kesulitan tidak akan berdaya melawan dua kemudahan. Itu juga berarti bahwa setiap satu kesulitan pasti bersamanya ada dua kemudahan yang lain (Tafsir Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembira sebagai Benteng Pertahanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap situasi yang paling sulit, selalu ada celah untuk bergembira. Begitulah sesungguhnya Islam mengajarkan kepada kita. Bahkan celah itu harus senantiasa kita adakan. Ia semacam benteng pertahanan yang harus kita buat. Kita mengerti bahwa hidup tak sekedar persaingan, tetapi juga kerja keras dan pergulatan melawan kondisi yang sering tak ramah kepada kita. Hal itu melelahkan. Kadang ia seperti menghabisi jerih payah kita, menguras kesabaran kita dan melumat sisa-sisa tenaga kita.&lt;br /&gt;Tetapi, itu semua tidak boleh memberangus ruang kegembiraan di hati kita. Ruang itu harus tetap ada dan terus dijaga. Ia laksana kantong air bagi para musafir yang melakukan perjalanan jauh di gurun pasir yang gersang  Meski kala tertentu, dipuncak keguncangan kita, suatu hari, dulu atau nanti, dalam perjalanan hidup yang melelahkan ini, kantong itu terkoyak. Tapi isinya tidak boleh habis.&lt;br /&gt; Hilangnya kantong kegembiraan bisa sama artinya dengan kebinasaan. Ini seperti kisah Sugeng Triono, seorang perwira Polres Jombang. Selayaknya, ia seorang yang dapat terus berbahagia. Selain perwira polisi, ia dikarunia seorang isteri yang juga bekerja di sebuah bank ternama. Kehadiran dua anak dari pernikahannya Dicho Pradita (10 th.) dan Dita Pramesti (5 th.) selayaknya juga melengkapi keceriaannya. Namun, saat penyakit wasir/ambeien menghinggapinya, kegembiraannya seolah terampas. Permasalahan kecil di kantornya membuat dirinya membuat keputusan tragis. Ia menembak rekan kerjanya dengan pistol, kemudian ia mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol tersebut ke kepalanya sendiri. Sugeng Triono seperti mewakili kisah lain yang sama, tentang hilangnya gembira yang berujung dengan keputusan nista.&lt;br /&gt;Jadi, seorang Muslim harus mengerti bagaimana seni menyemangati dirinya sendiri. Kegembiraan mempunyai peran dan kapasitasnya sendiri untuk mengubah pandangan kita tentang hidup, memperbaiki semangat dan pengharapan kita. Dan pada gilirannya, memberi kekuatan kelapangan dalam memikul beban.&lt;br /&gt;Salah satu doa yang sering dibaca Rasulullah dan diajarkan kepada kita adalah meminta perlindungan dari rasa gundah dan kesedihan. ”Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kecemasan dan kesedihan, dari rasa lemah dan kemalasan, dari kebakhilan dan sifat pengecut, dan dari beban hutang dan tekanan orang jahat.” Untaian doa tersebut memiliki makna mendalam tentang harapan ketenangan dan rasa gembira yang selayaknya meliputi diri kita.&lt;br /&gt;  Kisah perang Khandaq mengambarkan beban kesulitan dan bagaimana Rasullah mengatasinya. Tidak ada ide terbaik untuk melawan kafir sekutu Quraisy kecuali membuat parit pertahanan, sesuai usul  Salman Al Farisi. Maka digalilah parit secara bersama-sama. Buku-buku sirah mencatat bagaimana kerja keras kaum Muslimin tersebut dilakukan dengan riang gembira. Rasulullah menyuruh beberapa sahabat untuk bersyair, sedang beliau sendiri juga menyenandungkan syair-syair dari Abdullah bin Rawahah. Maka kesulitan yang awalnya dialami, berubah menjadi kebersamaan yang penuh keriangan, hingga Allah memberi kemenangan tentara Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum dan Tawa yang Menentramkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa paling verbal dari gembira adalah tertawa. Begitu juga sebaliknya, makna paling orisinil dari dari senyum dan tertawa adalah gembira. Rasulullah sendiri sangat bisa dikenali bila sedang gembira. Air mukanya bercahaya. ”Seperti sepotong rembulan, dan kami sangat mengenalinya,” kata Kaab bin Malik.&lt;br /&gt;Penegasan rasa gembira dalam bentuk tertawa dan senyum banyak kita jumpai dalam banyak kisah teladan dari Rasulullah dan sahabatnya. Di sini kegembiraan berwujud dan bentuk mulianya. Rasululllah kadang tertawa, banyak tersenyum. Meski tidak pernah tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;Di sini, tentu kita tertawa dalam konteks yang penuh harga diri. Ini bukan ulasan murahan tentang perilaku murahan orang-orang yang hidup hanya untuk tertawa. Tetapi tertawa sebagai ekspresi kematangan jiwa, kebijaksanaan, juga kelembutan dan kasih sayang seorang pemimpin.&lt;br /&gt;Suatu hari, seperti dikisahkan Jabir ra, seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. ”Wahai Rasulullah, semalam aku bermimpi, seakan-akan kepalaku terputus,” kata lelaki itu. Rasulpun tertawa mendengar kisah itu. Lalu bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian dipermainkan syetan dalam tidurnya, maka jangan diberitahukan kepada yang lain.” Tertawa bagi Rasul, menjadi cara yang bijak untuk memberikan penjelasan kepada sahabatnya, dengan tidak menyinggungnya.&lt;br /&gt;Jabir ra. juga mencatat kenangan yang sangat membekas dalam batinnya, tentang Rasulullah yang murah senyum datang. Ia menemui Rasulullah, hanya ingin mengadukan betapa sulit dirinya tegak di atas punggung kuda. Rasulullah dengan senang hati menerimanya, lalu menepuk dadanya seraya berdoa,”Ya Allah tegakkanlah ia, jadikanlah ia orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk.” Ke hadapan Rasul yang mulia itu, selalu saja ada yang datang dengan tingkah kekanakan. Sebab di wajahnya yang terang ada tempat berteduh.&lt;br /&gt; Selayaknya, senyum dan tawa kita juga menenteramkan orang lain. Karena sepotong senyum dan gembira bisa  bermakna ketenangan dan keamanan orang lain untuk berlindung. ”Senyum adalah sedekah yang paling mudah,” demikian Rasulullah menerangkan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5634244706409459330?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5634244706409459330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5634244706409459330&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5634244706409459330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5634244706409459330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/senyum-gembira-yang-tak-boleh-sirna.html' title='Senyum Gembira yang Tak Boleh Sirna'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5449469507823316639</id><published>2008-08-14T04:02:00.001-07:00</published><updated>2008-08-14T04:02:48.661-07:00</updated><title type='text'>Sayangilah, Anak-anak itu…</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; (QS Luqman: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saat melaksanakan salat Isya, Rasulullah tampak begitu lama memanjangkan sujudnya. Para sahabat waktu itu menyangka, Nabi memperpanjang salatnya karena wahyu. Maka, usai salat merekapun bertanya. Nabi saw menjawab, ”Tidak, bukan karena itu. Anakku menunggangi punggungku. Aku tidak ingin menyegerakan sujudku sebelum dia memenuhi hajatnya.”(Hayat Al Shahabah). Rupanya, Hasan dan Husain (cucu Rasulullah yang karena ungkapan sayangnya disebut sebagai anak-nya) sedang bermain-main lalu menjadikan Nabi saw sebagai tunggangan mereka.&lt;br /&gt;            Mari, kita simak penggalan kisah tersebut. Betapa Rasulullah begitu sayang kepada anak-anak. Mereka diajak Rasulullah untuk turut serta ke masjid. Bahkan, sampai mereka ”mengganggu” jalannya salat. Tapi, ungkapan sayang dan pujian malah meluncur dari mulut beliau. ”Alangkah indahnya kendaraan mereka dan alangkah indahnya para penunggangnya.”&lt;br /&gt;Coba bandingkan dengan diri kita. Seringkali kita tidak senang bahkan sampai melarang anak-anak datang ke masjid. Kebiasaan mereka ribut adalah alasan yang sering kita ungkapkan untuk tidak menghendaki mereka ikut salat bersama. Tapi begitulah, Rasulullah ternyata begitu memanjakan anak-anak di masjid. Ketika Rasulullah berkhutbah, ia melihat Hasan dan Husain berlari dengan memakai pakaian merah. Nabi saw. turun dari mimbarnya, lalu memangku keduanya dan meletakkan di hadapannya. (Fadhail Al-Khamsah). Rasulullah juga pernah memimpin salat dengan menggendong puterinya. Kala berdiri ia dekap, ketika sujud ia letakkan puterinya di sisinya.&lt;br /&gt;Kisah di atas, sesungguhnya menyiratkan pesan-pesan mendalam tentang selayaknya kita memperlakukan seorang anak. Ada banyak peristiwa kecil di sekitar kita, yang kita abaikan, namun mempunyai hubungan sebab-akibat yang berdampak besar di kemudian hari. Seperti menyediakan tempat bermain yang layak bagi anak-anak kita. Alasan mereka sering ribut, membuat anak-anak kita larang ke masjid. (Padahal, masjid adalah tempat beribadah, tempat berkumpulnya orang-orang baik). Si anak kemudian terbiasa dengan aktivitas lain, menonton TV misalnya. Saat beranjak besar, si anak sudah susah di ajak ke masjid karena tidak terbiasa, atau karena sudah mendapatkan tempat bermain yang lebih menyenangkannya. Jadilah ia sosok yang asing dengan masjid. Enggan ke masjid bisa sama artinya dengan akhlak yang bermasalah. Seperti ketika anak banyak menonton TV lalu menjadikan artis –yang perilakunya sering bertentangan dengan Islam—sebagai panutan. Maka, berawal dari sekadar larangan bermain di masjid, hal itu kemudian berubah menjadi hilangnya generasi Islam. Karena masjid sudah tidak lagi terpaut di hatinya.&lt;br /&gt;Maka, bila kita cermati lebih jauh, kejadian yang menimpa anak-anak sesungguhnya banyak disebabkan oleh hubungan kausalitas (sebab-akibat) seperti di atas. Tegasnya, karena tidak adanya kasih sayang yang sepenuhnya kita berikan kepada anak-anak kita. Hari Anak Nasional, yang kita peringati pekan ini, selayaknya mendapat perhatian khusus dari kita umat Islam, dalam ”perkara-perkara kecil” seperti di atas. Betapa Islam sesungguhnya begitu memuliakan anak, dalam sebuah contoh yang detail.&lt;br /&gt;Ini jauh dari sekadar menyelenggarakannya dalam upacara-upacara peringatan atau menggelar perbincangan tentang anak. Maka semestinya, kita tak perlu menyaksikan tragedi yang bertubi-tubi, tentang anak yang menjadi korban kekerasan, eksploitasi seks, atau gantung diri sekadar tidak lulus ujian/bayar SPP.&lt;br /&gt;            Rasulullah mencela orang yang tidak mau menyayangi anak-anak. Seperti saat seorang pemuka kabilah, Al Aqra’ bin Habis, melihat Nabi mencium anaknya. Dia keheranan dan bertanya, ”Engkau mencium anakmu? Padahal aku mempunyai sepuluh orang anak. Tidak seorangpun aku cium.” ”Aku tidaklah seperti kamu,” jawab Nabi. ”Karena Allah telah mencabut cinta dari jantungmu.” Lalu Nabi saw bersabda: ”Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi sesama manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Balasan Menyayangi Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bila menyayangi anak itu dianjurkan Islam, tidak lain karena itu merupakan kebaikan yang mempunyai pahala besar. Seperti dalam riwayat Aisyah r.a. berikut ini. ”Seorang perempuan miskin datang menemuiku. Ia membawa anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kapadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada dua orang anaknya. Ia bermaksud memakan sisanya. Tapi kedua anaknya berusaha memintanya. Lantas, diberikan juga kurma tersebut. Perempuan itu tidak makan satu butirpun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa tersebut kepada Rasulullah saw. Ia bersabda: ’Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka. (HR Bukhari, Muslim, dan At Turmudzi).&lt;br /&gt;            ”Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia melindungi mereka, mengasihi mereka, memelihara mereka dengan baik, ia pasti masuk surga,” kata Nabi di waktu yang lain. (At Targhib wa Al Tarhib).&lt;br /&gt;Mari perhatikan juga pada kata-kata perempuan pada hadits di atas. Nabi perlu menegaskan anak perempuan, karena pada zaman itu, anak-anak perempuan tidak punya hak sama sekali. Mereka dianggap beban ekonomi, sampai-sampai dibunuh beberapa saat setelah mereka lahir. Al Qur’an mengabadikan peristiwa pembunuhan anak perempuan itu, ketika Allah berfirman: ”Dan (ingatlah) ketika bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS At Takwiir: 8-9)&lt;br /&gt;Nabi memberikan contoh penghargaan kepada anak (khususnya anak perempuan) ketika memperlakukan Fatimah. Nabi memanggil puterinya ”Ummu Abiha” (ibu dari bapaknya), sebagai penghormatan atas baktinya. Bila Nabi berada dalam majelis dan melihat Fatimah datang, beliau segera bangkit. Tidak jarang ia cium tangan Fatimah di hadapan sahabat-sahabatnya—cium penghormatan dan kasih sayang sekaligus.&lt;br /&gt;Pada saat anak perempuan dipandang rendah, Nabi mengangkat Fatimah. Ketika kehadiran anak wanita dianggap bencana, Nabi menyebut Fatimah ”al kautsar” (anugerah yang besar). Dalam masyarakat jahiliah yang bangga mengubur anaknya hidup-hidup, Nabi menegakkan hak-hak anak secara terbuka. Belum pernah pemimpin dunia memperlakukan anaknya seperti perlakuan Nabi kepada Fatimah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita melihat seorang pemimpin agung menperjuangkan hak-hak seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hak-hak Anak dalam Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orangtuanya ialah memberikan nama baik. Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw.: ”Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadap diriku?”&lt;br /&gt;Nabi menjawab, ”Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan (pelihara) ia di tempat  yang baik.”&lt;br /&gt;            Bila Shakespeare mengatakan ”what is in a name?” (apa arti sebuah nama), Nabi menegaskan banyak sekali hal penting dalam nama seseorang. Ketika seorang sahabat menyebutkan namanya ”Hazn” (duka cita), Nabi menggantinya dengan ”Farh” (suka cita). ”Al Mudhtaji” (yang terbaring) diganti oleh Nabi menjadi ”Al Munba’its” (yang bangkit). Orang yang namanya ”Harb” (perang) diubah Nabi menjadi ”Silm” (damai), dan banyak lagi. (Al Targhib).&lt;br /&gt;            Anak berhak mendapat nama yang baik, karena seringkali nama yang diberikan oleh orangtuanya menentukan kehormatannya. Nama itu penting, karena nama dapat menujukkan identitas keluarga, bangsa, bahkan aqidah. Asep biasanya orang Sunda, Harahap aslinya dari Batak, Tukijo tentunya orang Jawa. Islam menganjurkan agar orangtua memberikan nama anak yang menampakkan identitas Islam—suatu identitas yang melampaui batas suku, bangsa, geografis, atau kekerabatan. Karena itu Muhammad Ali boleh jadi orang Pakistan, Iran, Indonesia, atau Amerika Serikat. Tetapi hampir pasti ia adalah orang Islam.&lt;br /&gt;            Para psikolog (ahli kejiwaan) menyatakan bahwa nama penting dalam pembentukan konsep diri. Secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra (image, gambaran) yang terkandung di dalamnya. Ini disebut teori labelling (penamaan). Nama buruk akan membuat perilakunya buruk. Nama baik besar kemungkinan akan membuat perilakunya baik.  ”Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tidak Hanya dalam Hati&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;”Bukan termasuk umatku yang tidak menghormati orangtua dan tidak menyayangi anak kecil,” kata Nabi. Rasul juga berkata, ”Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling penyayang kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling sayang kepada keluargaku.”&lt;br /&gt;Kasih sayang tidak boleh disimpan saja dalam hati. Karenanya Nabi mengungkapkan kasih sayang tidak saja secara verbal (dengan kata-kata) tapi juga dengan perbuatan. Pada suatu hari Umar menemukan Nabi merangkak di atas tanah, sementara dua anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata, ” Hai anak, alangkah indahnya tungganganmu itu.” Yang ditunggangi menjawab, ”Alangkah indahnya para penunggangnya!” Suasana seperti itu menunjukkan betapa akrabnya Nabi saw dengan cucu-cucunya (Hasan dan Husain).&lt;br /&gt;Pada tahun 1960-an, para psikolog terpesona dengan penelitian Harry Harlow. Dia memisahkan anak-anak monyet dari ibunya. Kemudian, dia mengamati pertumbuhannya. Monyet-monyet itu ternyata menunjukkan perilaku yang mengenaskan: selalu ketakutan, tak dapat menyesuaikan diri, dan rentan terhadap berbagai penyakit. Setelah monyet-monyet itu besar dan melahirkan bayi lagi, mereka menjadi ibu-ibu yang galak dan berbahaya. Mereka acuh tak acuh kepada anak dan seringkali melukai mereka. Kata psikolog itu adalah sakit kejiwaan akibat kondisi tanpa ibu (maternal deprivation). Pada manusia situasi tersebut juga terjadi tatkala terjadi konflik keluarga (perceraian), juga sedikitnya perhatian karena kesibukan kerja orang tua. Orang tua tak sempat lagi bercanda dengan anak-anak mereka, berkumpul ngobrol dengan hangat, atau memeluk dan mencium mereka dalam keakraban. Maka, kasih sayang yang langsung kita buktikan, berdampak penting bagi perkembangan jiwa anak.&lt;br /&gt;Sesungguhnya banyak hal yang selayaknya kita lakukan untuk mendidik anak. Dari hadist-hadist Nabi kita tahu bahwa anak juga berhak mendapat makanan, pakaian, olahraga yang membantu pertumbuhan fisiknya, pendidikan yang baik untuk membantu perkembangan jiwanya, dan bimbingan agama untuk menyucikan ruhaninya. Tentu, tidak cukup ruang untuk membicarakannya di sini. Namun itu dapat kita mulai dari satu hal, saat kita menyayangi mereka sepenuh hati, dalam aktivitas nyata yang lebih detail.  [*]&lt;br /&gt;            [Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5449469507823316639?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5449469507823316639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5449469507823316639&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5449469507823316639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5449469507823316639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/sayangilah-anak-anak-itu.html' title='Sayangilah, Anak-anak itu…'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-2410918858081454130</id><published>2008-08-14T04:00:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T04:01:24.340-07:00</updated><title type='text'>Salih dalam Kesempitan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan jikalau Allah melapangkan rejeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS Asy Syuura: 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah saw. membangun masjid di Madinah, beliau menyediakan tempat terbuka di ujungnya. Tempat tersebut diberi naungan dan disebut Shuffah. Di situlah kemudian tinggal para sahabat Rasulullah saw. yang miskin, atau pendatang dari jauh (musafir) yang tidak punya sanak famili. Mereka hidup sangat sederhana dan seringkali menderita lapar. Malam-malam terkadang Rasululullah mengundang sebagian mereka untuk makan malam bersamanya, dan sebagian yang lain bersama sahabat Rasulullah yang lain.&lt;br /&gt;Ketika Husain, cucu Rasulullah lahir, Fatimah disuruh bersedekah senilai perak yang beratnya seberat rambutnya. Sedekah  itu dimintanya untuk diserahkan kepada Ahli Shuffah dan orang miskin. Sekali-kali Rasulullah meminta sahabatnya yang lain mengirimkan makanan kepada penghuni Shuffah.&lt;br /&gt;Dengan segala kemiskinannya, Ahli Shuffah terbukti menjadi sahabat-sahabat Nabi pilihan. Merekalah yang paling rajin menghadiri majelis-majelis Rasulullah. Siang hari mereka berpuasa. Malam hari mereka ruku’ dan sujud. Waktu-waktu luangnya mereka pergunakan untuk berzikir. Ketika perang berkecamuk, merekalah yang paling dahulu dibawa Rasulullah ke medan pertempuran.&lt;br /&gt;Dari ”pesantren” Shuffah inilah lahir pribadi-pribadi unggul. Ada Hanzhalah bin Abi Amir, yang jasadnya dimandikan para malaikat karena panggilan jihad—yang berakhir syahid— membuatnya tak sempat mandi junub. Ada Salman Al Farisi, pengembara pencari kebenaran yang dianugerahi ilmu-ilmu utama; Abdullah bin Mas’ud, yang mendapat gelar pembaca Al Qur’an pertama kepada orang kafir setelah Rasulullah; Hudzaifah al Yamani, yang digelari Pemelihara Rahasia Rasulullah; Al Barra bin Malik, yang rambutnya tertutup debu karena lamanya beribadat di masjid; Haritsah bin Nu’man, yang suara bacaan Al Qur’annya di surga kedengaran oleh Rasulullah dalam mimpinya; serta masih banyak yang lainnya.&lt;br /&gt;Kepada mereka suatu hari Rasulullah datang. Dengan ramah Nabi menyapa mereka.&lt;br /&gt;”Apa kabar kalian pagi ini?” Serentak mereka menjawab, ”Baik ya Rasulullah?”&lt;br /&gt;”Hari ini kalian dalam keadaan baik. Bayangkan, apa yang akan terjadi pada kalian, jika pada pagi hari kalian makan pada satu wadah dan sore harinya pada wadah yang lain. Kalian menutup rumah kalian laksana menutup Ka’bah?”&lt;br /&gt;Rasulullah memberi gambaran tentang kemudahan hidup, kecukupan pangan, pakaian, dan rumah yang layak.&lt;br /&gt;”Ya Rasulullah, apakah dalam keadaaan demikian kami masih tetap dalam agama kami?” kata mereka selidik.&lt;br /&gt;”Benar.”&lt;br /&gt;”Jikalau begitu, hari itu kami lebih baik dari hari ini. Kami dapat bersedekah dan membebaskan budak belian.”&lt;br /&gt;”Tidak, sesungguhnya hari ini lebih baik bagi kalian dari hari itu. Nanti kalian (malah) akan saling mendengki, saling menjauhi, dan saling membenci.”&lt;br /&gt;Para ahli tafsir mengatakan bahwa berkenaan dengan Ahli Shuffah ini turun QS Asy Syuura: 27, seperti yang dikutip di muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kaya Spiritual&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada di antara manusia orang-orang seperti Ahli Shuffah. Allah menyempitkan rejekinya, tetapi memberinya peluang banyak untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum Muslimin. Dalam keadaan miskin, mereka menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Termasuk kebijaksanaan Allah untuk membuat mereka kekurangan. Sebagaimana badai utara yang ganas malah memperkuat bangsa Viking menjadi bangsa pengembara, seperti itulah penderitaan mengasah ruhani hamba-hamba Allah. Dengan QS Asy Syuura: 27, Allah dan Rasul-Nya menghibur Ahli Shuffah untuk mensyukuri kekurangan mereka. Justeru kalau mereka kaya, mereka mengalami “kemiskinan” spiritual.&lt;br /&gt;Walaupun turun berkenaan dengan Ahli Shuffah, ayat itu sesungguhnya menyentuh kita semua. Bukankah ketika miskin, kebanyakan kita rajin salat berjamaah ke masjid? Bukankah ketika jabatan kita belum tinggi, kita mempunyai banyak waktu untuk bercengkerama bersama keluarga dan berkhidmat untuk umat? Bukankah ketika bisnis kita belum maju, kita sering bersilaturahim dengan sanak saudara dan tetanga? Bukankah setelah organisasi kita memperoleh dana besar, kita (malah) bertengkar sesama kita, saling menjegal, dan saling memfitnah?&lt;br /&gt;Di sekitar kita, kita melihat orang-orang yang ”korup” karena kekayaan. Banyak orang salih pada masa kesempitan, berubah menjadi salah  pada masa kesempatan. Ketika rejekinya banyak, mereka tidak punya waktu untuk beribadat; bahkan tidak jarang malah melakukan maksiat. Ketika menjadi aktivis kampus, ia tidur di masjid, karena tidak sanggup membayar sewa rumah. Di masjid itulah sebagian besar malamnya dihabiskan dalam zikir. Setelah menjadi direktur perusahaan, ia sering berkunjung ke tempat hiburan dan menghabiskan sebagian besar malamnya di situ. Ketika menjadi aktivis kampus yang kekurangan duit, ia terkenal ”vokal” mengkritik kebijakan yang menindas rakyat. Setelah memegang posisi basah, ia bungkam. ’Uang yang bisu dapat meluruskan yang bengkok. Uang yang bengkok juga telah membuat yang lurus menjadi bisu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;’Sindrom’ Tsa’labah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ingat kisah Tsa’labah? Ketika ia memohon doa Rasulullah agar dikaruniai rejeki yang banyak, Rasulullah bersabda,”Harta sedikit yang dapat engkau syukuri lebih baik dari harta yang banyak yang tidak sanggup engkau syukuri.”&lt;br /&gt;Tetapi Tsa’labah mendesak. Rasulullah mendoakannya. Allah pun mengabulkan doa Nabi. Tsa’labah makin kaya. Makin bertambah kekayaannya, makin jauh dia dari masjid. Semakin jarang juga ia bertemu dengan saudara-saudaranya kaum Mukmin. Sebuah ayat turut memberi peringatan kepadanya. Keluarganya menangis karena tahu ayat itu ditujukan kepadanya. Tsa’labah tak menghiraukan. Ia kemudian mati tragis.&lt;br /&gt;Jika hari ini kita, sendiri atau bersama-sama, merasa kekurangan dan kesulitan bisa jadi itulah yang terbaik dalam pandangan Allah. Kesulitan yang mendera negeri ini tampak perlu dilihat dalam perspektif ini. Maka, jika benar hari ini kita kekurangan, berdoalah supaya digabungkan dengan Ahli Shuffah. Kekurangan itu bukan berarti penghalang memperoleh keutamaan di hadapan Allah. Jika Anda kaya, maka berhati-hatilah dengan ’sindrom’ Tsa’labah. ***&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-2410918858081454130?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/2410918858081454130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=2410918858081454130&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2410918858081454130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2410918858081454130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/salih-dalam-kesempitan.html' title='Salih dalam Kesempitan'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-3499069158781308845</id><published>2008-08-14T03:58:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:59:43.510-07:00</updated><title type='text'>Tontonan yang menjadi Tuntunan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; (QS Luqman: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Restu, Iyo, dan Ii, siswa SMP di Cangkuang Bandung mungkin tidak berpikir jauh tentang akibat perbuatannya. Mereka meniru dan mempraktikkan adegan-adegan dalam Smackdown. Reza Ikhsan Fadillah (9), tetangga mereka, dipilih sebagai lawan. Tubuh kecil siswa III SD itu mereka banting. Kepalanya dihunjamkan ke atas lantai. Tangannya ditekuk. Meski Reza mengaduh kesakitan, hal itu tidak mereka hiraukan. &lt;br /&gt;“Karena meniru adegan Smackdown, anak saya meninggal,” kata Herman Suratman (53) ayah Reza (Republika, Rabu 22/11/2006).&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya, tontonan di televisi memakan korban. Tontonan Smackdown, yang sebenarnya hanya trik pertunjukan televisi untuk meraih rating tinggi itu, ternyata menarik hasrat penonton untuk meniru. Anak-anak adalah kelompok penonton yang paling mudah meniru. Maka, ketika mereka melihat “kemenangan” itu diperoleh dengan berbagai bentuk kekerasan yang ekstrem, ada tarikan kuat bagi mereka untuk mencobanya. Tidak ada dalam pikiran mereka bahwa kekerasan tersebut hanya rekayasa. Mereka tidak tahu, bila hal itu benar-benar nyata terjadi, perlu tandu yang diperlukan untuk melarikannya ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Naluri Anak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi, atau majusi,” kata Rasulullah saw. dalam riwayat Bukhari. Perkataan Rasulullah tersebut memberi gambaran jelas kepada kita tentang ketergantungan anak kepada faktor luar. Apa yang dilihat dan didapatnya, itulah yang akan mempengaruhi pola fikirnya. Didikan orang tua yang ia dapati, itulah yang akan mempengaruhi jiwanya. Laksana kain putih, warna yang tertoreh diatasnya itulah yang akan menentukan coraknya. Anak-anak mempunyai naluri meniru yang sangat besar, dan hal itu akan terus terekam di alam bawah sadarnya.&lt;br /&gt;Kejadian yang menimpa keluarga Herman Suratman selayaknya menjadi perhatian kita. Ya. Masih banyak diantara kita yang tidak ambil peduli tentang hal-hal yang potensial merusak jiwa anak. Celakanya, penyebab utama hal itu adalah bagian yang amat akrab bagi kita: televisi. Adakah kesadaran yang tertanam di benak kita, bahwa TV mengajarkan berbagai bentuk kekerasan yang mudah ditiru anak-anak?&lt;br /&gt;Di Columbine High Scholl, Colorado, Amerika Serikat, pernah terjadi peristiwa yang menggemparkan. Pada 20 April 1999, dua remaja melakukan pembantaian di sekolah, yang terburuk sepanjang sejarah Amerika. Mereka membunuh 12 teman sekelas, seorang guru, melukai 23 orang lainnya, sebelum akhirnya menembak diri mereka sendiri dalam drama pengepungan selama lima jam.&lt;br /&gt;Kejadian yang tak kalah mengerikan dan mendirikan bulu roma juga terjadi di Preston, Inggris. Dua bocah berumur 11 tahun menyiksa dan membunuh James Bulger (2), seorang bayi yang belum lancar berjalan. Kedua bocah itu, Robert Thompson dan Joe Venables, menyeret James Bulger dari sebuah supermarket di pinggiran kota Liverpool, saat si Ibu sedang memilih-milih daging yang hendak dibelinya.&lt;br /&gt;Sepanjang jalan yang sepi sejauh empat kilometer, James kecil diseret dan ditendang tanpa belas kasihan. Thompson dan Venables juga menghantamkan kayu, batu bata, dan potongan besi ke kepala James. Dengan tubuh bermandikan darah, mata balita itu disiram dengan cat sampai akhirnya tewas. Tidak hanya sampai di situ. Kedua pembunuh cilik itu meletakkan mayatnya di atas rel kereta api. Mayat mungil itupun terbelah menjadi dua akibat terlindas kereta barang.&lt;br /&gt;Begitu sadisnya penyiksaan itu, publik Inggris menganggap kejadian itu sebagai kejahatan anak-anak paling kejam dalam kurun waktu 250 tahun ini. Hakim Morland yang mengadili kasus itu akhirnya menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi Thompson dan Venables.&lt;br /&gt;Dari berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan anak-anak itu, ternyata ada hal yang sama-sama disandang oleh mereka. Mereka adalah penggemar electronic game  yang sarat kekerasan. Remaja pelaku penembakan di Columbine, biasa memainkan electronic game seperti Doom, game komersial penuh kekerasan yang kemudian dimodifikasi untuk pelatihan militer di Dephan Amerika, selama berjam-jam tiap harinya. Nampak jelas, bagaimana kedua remaja itu meniru buku petunjuk Doom saat melakukan aksinya. &lt;br /&gt;Eksploitasi kekerasan dalam film dan video diyakini para ahli menjadi pemicu ulah anak-anak melakukan kekerasan. Dari barisan anak dan remaja yang melakukan kekerasan, ternyata mereka “kebetulan” memiliki kegemaran yang tinggi terhadap game, video, film, teve, hingga internet yang sarat dengan baku hantam dan baku tembak. Coba, bandingkan dengan kondisi di sekitar kita. Kita akan mendapati betapa game kekerasan begitu mudah didapat anak-anak. Playstation hampir keseluruhan menyediakan game kekerasan yang sangat digandrungi anak-anak. Jadi, waspadalah! Kejahatan yang dilakukan anak-anak, bukan mustahil terjadi di lingkungan yang teramat dekat dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Menanamkan Kasih Sayang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Begitu besarnya naluri meniru dari segala yang didapati oleh anak-anak, Islam sesungguhnya telah memberi tuntunan yang memadai. Menanamkan kasih sayang, pola pola fikir positif, dan sebisa mungkin menjauhi keburukan yang akan muncul harus ditanamkan sejak kecil. Seperti memberi nama anak yang baru lahir. Rasulullah melarang (dan merubah yang telah ada) nama anak yang mempunyai konotasi keras dan negatif.&lt;br /&gt;"Nama-nama yang paling disukai Allah swt. adalah Abdullah dan Abdurrahman, nama yang paling mengena (benar) adalah Harits (orang yang berusaha) dan Hammam (yang bercita-cita) dan sejelek-jelek nama adalah Harb (perang),dan  Munah (pahit)." (HR Bukhari, Muslim dan Nasa'i).&lt;br /&gt;Seorang pemuka kabilah, Al Aqra’ bin Haris suatu saat keheranan melihat perilaku Rasulullah yang mulia mencium anaknya. Dia kemudian bertanya, ”Engkau mencium anakmu? Padahal aku mempunyai sepuluh orang anak.Tidak seorang pun yang pernah aku cium.” Maka jawab Rasulullah,  ”Aku tidaklah seperti kamu. Bisa jadi karena Allah telah mencabut cinta dari jantungmu,” tegas Nabi yang mulia.&lt;br /&gt;”Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang kecil,” kata Rasulullah saw. Ia mengecam pemuka arab yang tidak pernah mencium anaknya, dengan mengatakan bahwa cinta telah tercerabut dari jantungnya. Dia juga berkata,” Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling sayang kepada keluargaku.”&lt;br /&gt;Ketika Nabi yang mulia berkhutbah, dia melihat Hasan dan Husain berlari dengan pakaian yang menarik perhatian. Lalu beliau turun dari mimbarnya, mengangkat mereka, dan meneruskan khutbah dengan kedua anak itu dalam pangkuannya. Dia berkata, ”Mereka adalah penghulu para remaja di surga.” Di waktu selanjutnya, sahabat Rasulullah bertanya, ”Wahai Rasulullah mengapa tadi Anda begitu lama sujud. Adakah wahyu datang kepadamu sewaktu sujud  tadi?” Jawab Nabi, ”Saya melihat Hasan dan Husain bermain di atas punggungku, saya tidak ingin mereka terganggu.”&lt;br /&gt;Cermatilah betapa Rasulullah menyengajakan diri memanjangkan sujud—yang dapat berarti ”mengganggu” salat Nabi beserta sahabat—hanya karena tidak ingin mengganggu anak-anak yang berada di atas punggungnya. Tidak ada larangan terdengar atau lontaran marah dari Nabi terhadap perilaku cucunya.&lt;br /&gt;Marah itu, sebagai salah satu bentuk kekerasan, tidak dilakukan dan dilarang oleh   Rasulullah terhadap anak-anak. Rasulullah sampai mengecam pemuka Arab yang tak pernah mencium anaknya. Tidak terbayangkan, betapa kecaman Rasululullah itu akan kita dapati  ketika melihat keseharian anak kita yang terus kita ”ajari” dengan berbagai kekerasan dari layar kaca di rumah kita.  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-3499069158781308845?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/3499069158781308845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=3499069158781308845&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/3499069158781308845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/3499069158781308845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/tontonan-yang-menjadi-tuntunan.html' title='Tontonan yang menjadi Tuntunan'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-3369239349375965635</id><published>2008-08-14T03:57:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:58:27.619-07:00</updated><title type='text'>Kembali ke Syariah Islam</title><content type='html'>&lt;strong&gt;”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS Al Baqarah: 208).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda bayangkan jika mendengar pernyataan tentang penerapan syariah (hukum) Islam? Kata-kata syariah Islam—juga Negara Islam, bukan hanya memasuki pembicaraan kontroversial (silang-pendapat). Bagi sebagian orang, syariah Islam bahkan menjadi  ”momok” yang sangat ditakuti. Syariah Islam diidentikkan dengan potong tangan bagi pencuri, hukum rajam bagi yang berbuat selingkuh, hukum dera bagi pemabuk, dan semacamnya. Ada anggapan bahwa penerapan syariah Islam juga akan membuat wanita menjadi warga negara kelas kambing, dinomor duakan, tidak mendapat ruang yang leluasa di ruang publik, serta berbagai pembatasan yang lain.&lt;br /&gt;Jika anggapan tentang syariah Islam seperti di atas masih kita punyai, rasanya kita perlu menyingkirkan dulu pemahaman tersebut. Terlalu sempit, jika syariah Islam hanya dipahami seperti itu.  Kita penting menunjukkan bahwa Islam bukanlah seperti yang ditakuti oleh mereka yang belum paham Islam. Islam juga bukan ”agama anti kemajuan” sebagaimana digambarkan oleh musuh-musuh Islam yang hatinya mengidap penyakit; juga bukan seperti yang dilukiskan oleh media massa Barat yang mengekspos Islam dengan berbagai kebohongan. Islam adalah agama yang teduh, yang mengayomi seluruh umat manusia, tanpa kecuali. Justeru di bawah naungan Islam, manusia dapat hidup dengan aman dan damai.&lt;br /&gt;Dewasa ini, perlahan namun pasti, sebenarnya kita dihadapkan pada kenyataan untuk semakin akrab dengan syariah Islam. Paling sederhana, kita dapat mengambil contoh jilbab. Rasanya tak ada lagi anggapan minor tentang jilbab di dunia modern ini. Ada banyak manfaat positif yang diperoleh dari pemakaian busana penutup aurat ini. Para wanita banyak memilih mengenakan jilbab dengan sukarela, tanpa paksaan.&lt;br /&gt;Contoh yang lain, dunia perbankan. Telah banyak bermunculan bank syariah. Dari yang keseluruhan berdasar sistem syariah, atau yang membuka cabang/unit syariah. Bermula dari Bank Muamalat Indonesia (BMI), menyusul Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI). Deretan bank ternama seperti Bank BRI, BNI, Danamon, BII, Bukopin, HSBC, serta beberapa bank daerah, juga telah membuka unit syariah. Bank BCA dalam waktu dekat juga menyusul. Hampir tak ada beda fasilitas layanan yang diberikan oleh bank syariah. Bagi hasilnya kompetitif. Dengan mudah kita bisa melakukan tarik tunai di seluruh mesin ATM atau mesin debit. Bahkan, untuk beberapa tempat, ada kenyamanan tambahan yang bisa diperoleh di bank syariah: tak ada antrian panjang. Kebiasaan antri setoran berjam-jam di bank konvensinal (baca: bank riba) bisa ditinggalkan (Anak-anak muda dengan jenaka punya sindiran pas: Antri..? Capek dech...). Sebagai contoh, di Bank Muamalat setoran tunai bisa dilakukan di kantor pos. Kebijakan terbaru BI tentang office chanelling, juga menambah kemudahan bagi kita untuk melakukan setoran tunai di kantor-kantor bank konvensional. Tampaknya tak ada lagi alasan lagi bagi kita untuk menyanggah fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia tentang hukum menabung di bank konvensional.&lt;br /&gt;Publik menerima sistem ekonomi syariah tanpa ada resistensi (penolakan) berarti. Media massa juga memberi apresiasi positif. Bahkan untuk ukuran lokal, koran Lampung Post sudah mempunyai rubrik khusus ekonomi syariah setiap pekan. Saat ini, tak hanya warga Muslim yang menjadi nasabah. Warga non-Muslim juga telah banyak yang menjadi nasabah bank syariah.&lt;br /&gt;Jilbab dan ekonomi non-riba adalah salah satu bagian syariah Islam. Walhasil, sebenarnya saat ini kita telah melihat penerapan salah satu syariah Islam dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Solusi Pembangunan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mengetengahkan penerapan syariah Islam—dengan cara yang bijak—penting terus kita lakukan. Banyak permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat dan negara  yang perlu penyelesaian menyeluruh (komprehensif). Penerapan ekonomi Islam dapat kita usung sebagai bagian dalam menghadirkan penyelesaian tersebut.&lt;br /&gt;Kemiskinan dan pengangguran adalah problem yang belum terselesaikan (berkurang) sampai saat ini. Seperti pada pekan-pekan seputar peringatan hari kemerdekaan RI yang lalu. Enam puluh dua tahun merdeka, ditandai dengan kesulitan warga mendapat minyak tanah. Warga antri, mengular sampai berjam-jam, untuk sekadar mendapat 5 liter minyak tanah. Di Lampung, masalah kemiskinan juga menjadi problem krusial. Belum lama, provinsi ini malah ’mengukir prestasi’ sebagai daerah termiskin kedua di Sumatera. Berdasarkan data yang ada, tingkat kemiskinan tahun 2006 mencapai angka 39,5 persen, lebih tinggi daripada angka kemiskinan tahun 2005 yang mencapai 35,1 persen. Belum terlihat trend positif di tahun 2007.&lt;br /&gt;Kalau kita mau merenungkan kembali perjalanan bangsa ini, maka sesungguhnya penyebab utama keterpurukan ini adalah akibat jauhnya kita dari tuntunan ajaran Allah swt. Kita sudah terlalu sering bermain-main dengan ayat-ayat-Nya. Sekaranglah saatnya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan seraya menjalankan hukum-Nya.&lt;br /&gt;Sekaranglah momentum yang tepat untuk merefleksikan ajaran Islam dalam pembangunan ekonomi bangsa ke depan. Harus disadari bahwa sistem kapitalis telah gagal menciptakan kesejahteraan yang hakiki. Bunga (riba), sebagai "nyawa" sistem ekonomi modern, justru menjadi sumber utama penyebab mandeknya sektor riil. Ia adalah sumber penyebab terkonsentrasinya kekayaan di tangan segelintir kelompok (perhatikan TQS Ar Rum: 39 dan TQS Al-Hasyr: 7).&lt;br /&gt;Bunga juga merupakan penyebab keluarnya uang dari peredaran. Padahal, peredaran uang adalah ibarat peredaran darah dalam tubuh kita. Ketika pembuluh darah mengalami berbagai sumbatan dan penyempitan, maka akan menimbulkan berbagai penyakit dalam tubuh. Dengan bunga, orang akan lebih terdorong untuk menyimpan uangnya di bank atau sektor keuangan daripada menginvestasikannya di sektor riil.&lt;br /&gt;Ini fakta menyakitkan. Dunia perbankan kita sebenarnya banyak yang hanya ”berternak uang” melalui Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Ratusan triliun uang hanya diparkir dengan disimpan di SBI untuk mendapat bunganya. Amat sedikit uang yang disalurkan ke masyarakat lewat sektor riil. Sebagai bukti, penyaluran kredit selama tahun 2006 hanya 14,1 persen. Di sisi lain pendapatan bunga perbankan nasional dari SBI selama tahun 2006 tumbuh 125 persen, dari Rp8,03 triliun menjadi 18,09 triliun. Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah, per Februari 2007 saja, posisi SBI telah menempati angka 237 triliun rupiah.&lt;br /&gt;Dana yang menganggur tersebut harus dibayar bunganya oleh BI dengan tingkat bunga 9 persen. Setiap tahun setidaknya ada beban bunga sekitar Rp27 triliun yang harus dibayar BI. Ironis sekali memang, di satu sisi perbankan menikmati peningkatan keuntungan, sementara negara melalui BI harus membayar bunga. Padahal, pada sisi lain kita melihat betapa banyak warga masyarakat yang haus akan lapangan pekerjaan. Itu hanya bisa didapat apabila ada kegiatan ekonomi dan salah satu yang seharusnya bisa ikut memutar roda ekonomi adalah dana yang ada di perbankan.&lt;br /&gt;Yang tak kalah runyam, bukan cuma perbankan yang menyimpan dana di SBI, sejumlah pemda di tanah air juga telah menitipkan dananya di SBI karena tergiur dengan keuntungan tersebut. Sehingga dengan kondisi yang demikian maka bisa dipastikan untuk pembangunan fisik dan ekonomi di daerah berbagai daerah akan ikut terhambat. Dana yang seharusnya diperuntukkan dalam membiayai berbagai pembangunan dan diharapkan dapat berperan aktif dalam mendongkrak perekonomian daerah dan nasional tidak dapat direalisasikan efektif.&lt;br /&gt;Maka menjadi maklumlah kita, mengapa Islam sangat mencela pelaku riba (bunga). ”Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (TQS Al Baqarah: 275).&lt;br /&gt;Ketika ulama menerangkan yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) dalam QS Al Imraan: 135 yang berkaitan dengan QS Al Baqarah: 275,  faahisyah ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, yaitu zina dan riba. Begitulah, sistem riba dalam Islam dikategorikan sebagai perbuatan keji yang punya efek buruk kepada orang lain.&lt;br /&gt;Berbeda dengan bagi hasil. Dalam sistem ini orang akan dipacu untuk terus berinvestasi karena return atau laba yang akan ia terima sangat tergantung pada investasi yang dilakukannya. Bahkan menabung di bank syariah, terutama dalam bentuk deposito dan tabungan mudarabah (bagi hasil), merupakan salah satu bentuk investasi. Akad-akad dalam praktek keuangan syariah pada hakekatnya merupakan akad-akad di sektor riil.&lt;br /&gt;Tidak mungkin mudarabah dan musyarakah (keikutsertaan investasi) akan eksis kalau tidak ada jenis usaha riil yang dilakukan. Tidak mungkin pula akad mudarabah akan terlaksana kalau tidak ada barang riil yang diperjualbelikan. Begitu pula dengan akad-akad lainnya. Sektor keuangan akan selalu bersesuaian dengan sektor riil. Maju mundurnya sektor keuangan sangat ditentukan oleh maju tidaknya sektor riil. Filosofi yang sama tidak akan pernah kita temukan pada konsep ekonomi konvensional.&lt;br /&gt;Prof. Didin Hafidhudin mempunyai keyakinan bahwa mengembangkan ekonomi syariah merupakan satu-satunya jawaban untuk mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi. Menilik buruknya praktik sistem konvensional, rasanya hal tersebut tak berlebihan. Problem keterpurukan umat saat ini adalah faktor ekonomi. Saat ekonomi bangkit, maka kejayaan umat itu tinggal menunggu waktu. Dan, Islam sudah punya resep untuk bangkit dari keterpurukan ini.&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti, diawali dari aspek sosial dan ekonomi, syariah Islam tampak menjadi bagian yang akrab dan ramah dalam keseharian kita. Kita berharap, ini juga menjadi penting bagi masyarakat luas untuk menerima syariah Islam secara keseluruhan. Kita ingin ada penilaian jujur dan pemihakan pada seluruh hukum-hukum yang bersandar wahyu Allah. Saat ini, kita juga dihadapkan pada masalah kejahatan dan berbagai perilaku kriminal yang pelik. Hukum positif tak menunjukkan dampak yang berarti. Para mantan napi (residivis) malah banyak yang semakin jahat setelah keluar dari Lembaga Pemasayarakatan (LP). Tanpa perlu menyebut sumber informasinya, kita rasanya sudah mafhum, bahwa penjara (LP) malah menjadi sekolah kejahatan. Jaringan pengedar narkoba (bahkan pabriknya!) berada dan dikendalikan dari penjara. Banyak yang tidak merasa jera setelah menjalani hukuman. ”Kerasnya” hukum Islam seperti qishaash atau rajam, semoga bisa lebih dipahami dalam rangka menimbulkan efek jera dan bentuk antisipatif.&lt;br /&gt;”Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (TQS Al Baqarah: 179). ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-3369239349375965635?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/3369239349375965635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=3369239349375965635&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/3369239349375965635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/3369239349375965635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/kembali-ke-syariah-islam.html' title='Kembali ke Syariah Islam'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-2749167004649650455</id><published>2008-08-14T03:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:57:03.216-07:00</updated><title type='text'>PETAKA KUASA DUSTA</title><content type='html'>&lt;strong&gt;”Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu...Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(TQS An Nisaa: 135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah menurut La Fontaine dalam Fables et Epitres. Dunia margasatwa diserang wabah penyakit. Diduga wabah itu merupakan azab Tuhan karena kejahatan penghuni dunia itu. Baginda Singa, tokoh nomor satu di kerajaan rimba, dengan memelas mengakui, ”Akulah penyebab segala bencana ini. Pekerjaanku memakan warga yang lemah seperti domba dan kambing.” Serigala membantah. ”Bukan demikian, Baginda tidak salah.” Yang dilakukan singa adalah implikasi dari kekuasaan. Memakan warga adalah bagian resiko yang harus diambil dari kebijakan yang dibuat pemimpin.&lt;br /&gt;Seorang demi seorang dari pembesar margasatwa bergilir mengakui kesalahannya. Pengadilan selalu memutuskan mereka tak bersalah. Sampai kemudian giliran Si Keledai berbicara. “Mungkin akulah yang bersalah. Aku pernah makan rumput yang tumbuh di kebun orang lain, karena kelaparan.” Maka, gemuruh juri di pengadilan margasatwa menuding keledai dan berteriak,”Manger l’herbe d’autrui! Quel crime abominable—Makan rumput orang! Alangkah buruknya kejahatan itu.” Keledai itupun dikorbankan untuk menyelamatkan kerajaan rimba dari bencana. La Fontaine mengakhiri ceritanya dengan sebuah kuplet: ‘Bagaimana keadaan Anda, kuat atau lemah, itulah yang menentukan hitam putih Anda dalam mahkamah.’&lt;br /&gt;Sejarah umat manusia, kecuali beberapa periode yang singkat, telah membuktikan pernyataan La Fontaine. Kebenaran dan keadilan hanyalah apa yang menjadi kepentingan golongan yang kuat. Might is right. Kekuasaan itu kebenaran. Kita bisa berdebat tentang siapa pihak yang paling banyak memberi kontribusi salah. Tetapi siapa yang paling punya kuasa—dan berperan besar berbuat salah—belum tentu mau disalahkan.&lt;br /&gt;Setiap orang bisa memberi makna berlainan pada apa yang terjadi di sekitarnya, mulai dari soal harga sembako yang sering memusingkan para ibu rumah tangga, sampai apa yang menjadi penyebab berbagai krisis dan bencana. Tetapi siapa yang kemudian paling layak dituntut memberi pertanggungjawaban, itu perkara lain. Bisa jadi muncul pengakuan jujur tentang kesalahan yang dilakukan si penguasa, tetapi kuasa yang dimiliki malah menghalanginya untuk menghadirkan penyelesaian. Seperti kisah La Fontaine, ada pihak lain yang dikorbankan untuk menanggung kesalahan. Atau, lebih miris lagi, keengganan untuk menghadirkan solusi ditutupi dengan retorika menyalahkan korban (blamming the victim). Dalam cerita Asopheles, si Rubah ingin mengambil buah anggur. Karena tinggi, anggur tidak bisa diraih. Seraya pergi, Rubah mendengus kesal, ”Ah, anggur ini masam!” Ketika bencana alam terjadi di suatu tempat, untuk menutupi kesalahan karena tidak memberi bantuan, sebagian orang memberi alasan ”Masyarakat setempat banyak melakukan maksiat. Salah mereka sendiri kalau bencana ini terjadi!” Ketika para penguasa datang menjenguk, hanya komentar serupa yang keluar, ”Masyarakat telah mengabaikan tata ruang yang benar dalam mendirikan permukiman.” Para ahli menyebut hal ini sebagai rasionalisasi anggur masam (sour grapes). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kejujuran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Presiden dikabarkan menangis ketika melihat bencana lumpur di Sidoarjo. Kita perlu memberi  apresiasi positif atas hal itu. Ini menjadi berita baik bagi mereka yang telah setahun menderita karena bencana tersebut. Ada harapan bahwa ganti rugi yang dijanjikan akan terbayarkan tuntas. Begitulah, ”pengakuan” dan ”janji” itu telah terlontar. Namun, kita tidak ingin kisah La Fontaine menjadi cerita yang berulang di Sidoharjo. Ini akan terjadi bila komitmen memberi solusi itu hanya sekadar menagih janji dari Lapindo. Bila itu terjadi, maka tangisan itu hanya akan dikenang sebagai retorika mencari simpati.&lt;br /&gt;Hari ini, kita telah lelah dengan beragam janji. Kita ingin janji itu bukan retorika palsu dari tradisi berkuasa. Janji yang terus berulang dalam lingkaran kekuasaan. Pada awal dan berikutnya. Ketika awal kita pilih saat pemilu (atau pilkada) sampai ketika kekuasaan itu telah ada dalam genggaman. Pada gilirannya, ini menjadi rangkaian dusta yang berkelindan.&lt;br /&gt;Dunia pernah diguncangkan dengan retorika dusta yang sangat perkasa. Dibimbing Goebbels, Hitler menggunakan kefasihan bicara untuk menanamkan fanatisme rasial. Ia berhasil mencetak ”robot-robot” yang siap mati untuk meneriakkan ”Heil Hitler—Hidup Hitler!.” Ia menyihir jutaan manusia untuk menegakkan kemulian bangsa Aria, jutaan orang Jerman berubah menjadi buldoser yang meluluhlantakkan kemanusiaan dan peradaban. Dalam kepulan asap mesiu Perang Dunia II, disela-sela tembakan meriam, kita mendengar ”zikir” yang mengerikan. ”Hitler befehl, wir folgen—Hitler memerintah, kita mematuhinya.”&lt;br /&gt;Ketika Hitler ditanya apa yang menyebabkan suksesnya, ia berkata, ’Ich konnte reden—Aku memang bisa bicara.” Kelak, para peneliti ilmiah menganalisis pembicaraan Hitler. Mereka menemukan beberapa teknik bicara yang dia gunakan. Pertama, Hitler tidak ragu-ragu menggunakan kebohongan. Kebenaran, kata Hitler, adalah kebohongan yang dikalikan seribu kali. Jika Anda berdusta, ulangi dusta itu ribuan kali. Orang banyak akan memercayainya. Kedua, kebencian.Untuk menumbuhkan kesetiaan kelompok, kembangkan kebencian kepada lawan. Dunia harus dibagi dua. Bagian pertama adalah golongan kita dengan segala kebaikannya; bagian kedua adalah golongan lain dengan segala kehinaan dan kejahatan. Semua yang tidak setuju dengan kita adalah penjahat. Seperti film, kejadian dunia harus dijelaskan dari pertempuran ”yang punya lakon” yakni kita dan ”penjahat,” yaitu kelompok yang lain. Ketiga, berkaitan dengan upaya menumbuh-kembangkan kebencian adalah penistaan (rufmordes). Jatuhkan kehormatan lawan dengan memberikan gelar-gelar yang buruk. Nazi kemudian mengembangkan bahasa Jerman yang memberikan sebutan-sebutan indah kepada pendukungnya dan nama-nama buruk pada lawan-lawannya.&lt;br /&gt;Para propagandis komunis mengikuti resep Hitler ini dengan setia. Mereka menyebarkan fitnah tentang lawan-lawan mereka. Dusta dijadikan bahan pembicaraan yang utama. Mereka mengajarkan kebencian sebagai senjata untuk meningkatkan semangat perjuangan. Para orang tua kita mungkin masih ingat bagaimana dahulu PKI menyebut lawan-lawannya di desa sebagai tujuh setan desa. Kata-kata cecunguk, lintah darat, antek imperialis, dikenakan pada musuh-musuh PKI. Lutnasarky, pemikir komunis terkenal, berkata, ”Singkirkan cinta jauh-jauh. Apa yang kita perlukan adalah kebencian. Kita harus belajar membenci. Hanya dengan ini kita akan menguasai dunia.”&lt;br /&gt;Apapun  sebab kebohongan, tak ada pembenaran moral untuk menguasai orang secara zalim. Kebohongan menjauhkan diri dari petunjuk Allah. ”...Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (TQS Al Mukmin: 28)&lt;br /&gt;Kebohongan boleh jadi dapat mendatangkan sukses sementara. Tetapi sejarah hampir selalu menunjukkan akhir yang menyedihkan. Dengan cara-cara kebohongan itu, baik Nazi maupun komunis tidak dapat menguasai dunia. Keduanya hancur. Nazisme dikubur segera setelah Perang Dunia II. Komunisme disimpan di museum setelah Uni Soviet bubar. Hitler mati memalukan dengan cara bunuh diri. Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi sekaligus guru Hitler, juga tak kalah mengenaskan. Ia membunuh enam anaknya yang sedang tidur dengan suntikan, isterinya dengan racun, dan dirinya sendiri dengan tembakan. Tubuhnya dibakar untuk menghilangkan jejak—ia berbohong bahkan ketika sudah menjadi mayat. Dunia mengenangnya sebagai pelajaran bahwa pembohong tak pernah beruntung.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-2749167004649650455?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/2749167004649650455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=2749167004649650455&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2749167004649650455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2749167004649650455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/petaka-kuasa-dusta.html' title='PETAKA KUASA DUSTA'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5321687571297091764</id><published>2008-08-14T03:54:00.002-07:00</published><updated>2008-08-14T03:56:08.438-07:00</updated><title type='text'>Berpuasa Agar Sayang Pada Sesama</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Sayangilah oleh kalian apa saja yang di bumi, niscaya kalian disayangi disayangi siapa saja yang ada di langit."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(HR Ath Thabari dan Al Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah perjalanan, seseorang berjalan dalam keadaan sangat kehausan. Ia tidak membawa bekal minuman. Sampai kemudian didapatinya sebuah sumur yang mengandung air. Ia pun turun ke sumur tersebut dan meminum airnya. Ketika ia keluar dari sumur tersebut, dilihatnya seekor anjing yang nafasnya kembang kempis kehausan. Anjing tersebut memakan tanah berusaha menghilangkan kehausannya yang sangat. Melihat kepayahan anjing itu, ia berguman, “Sungguh anjing ini telah sampai pada kondisi yang aku sampai kepadanya. Anjing ini sangat kehausan sebagaimana aku alami tadi.” Ia pun kemudian kembali turun ke sumur, memenuhi sepatunya dengan air, menahan dengan mulutnya, dan memberikan airnya kepada anjing tersebut.&lt;br /&gt;            “Orang itu telah bersyukur kepada Allah (lewat perbuatannya), dan karena itu Allah mengampuni dosa-dosanya” sabda Rasulullah menutup kisah tersebut, sebagaimana disampaikannya kepada Abu Hurairah dalam riwayat Imam Bukhari.&lt;br /&gt;            Kisah di atas bercerita wujud kasih sayang sesama makhluk Allah. Turunnya orang tersebut ke sumur, kesabarannya mengambil air daripadanya, dan pemberian air olehnya kepada anjing tersebut adalah wujud kasih sayang  yang di dalam hatinya. Rasa kasih sayang itulah yang menempatkan orang tersebut pada derajat mulia.&lt;br /&gt;            Lebih dari itu, kisah tersebut mengandung sisi lain tentang munculnya kasih sayang. Rasa kehausan yang telah dialami orang itu, membuatnya bisa sangat merasakan kesulitan yang dialami si anjing. Itulah yang kemudian membuatnya mau bersusah payah mengambilkan air untuk anjing tersebut. Ini lazim disebut empati. Kasih sayang timbul dari perasaan sepenanggungan karena (pernah) ikut mengalaminya. &lt;br /&gt;            Puasa yang kita lakukan di Ramadan ini, sejatinya adalah upaya menimbulkan empati itu. Puasanya kita, dengan tidak makan selama seharian penuh, adalah upaya ikut merasakan kesusahan mereka yang seringkali kesulitan untuk sekadar makan. Rasa lapar dan dahaga membuat kita mengerti betapa menderitanya mereka. Maka, hasrat untuk membantu itupun kemudian muncul. Empati melahirkan keinginan untuk senantiasa berbagi. Itulah sumber kasih sayang.&lt;br /&gt;Puasa adalah upaya mengasah kepedulian kita kepada dhuafa. Karena itulah, di akhir pelaksanaan ibadah wajib ini, kita juga diharuskan mengeluarkan zakat fitrah. Sebagai bentuk solidaritas, agar semua orang berbahagia –kecukupan makanan—di hari raya.&lt;br /&gt;Makna empati dan peduli inilah yang penting dimaknai oleh setiap diri, dalam lingkupnya yang luas. Bagi kita sebagai pribadi terlebih sebagai pemimpin. Tidak adanya perasaan untuk turut merasakan penderitaan rakyat kecil dan orang-orang orang yang bergelimang dengan keterbatasan, inilah yang membuat berbagai tragedi di negeri ini tak kunjung henti. Hari-hari tampak tak pernah sepi dari tragedi. Pemerintahan (negara) yang semestinya ada dalam rangka menyejahterakan ternyata hanya malah menambah beban rakyat. Alih-alih menjadi penolong, banyak pemimpin yang malah menjadi pembohong. Mereka malah memperkaya diri dan menjadikan jabatan untuk mengeruk keuntungan, dan tidak pernah ambil peduli dengan urusan rakyatnya.&lt;br /&gt;Maka, ketiadaan perilaku berbagi itulah kemudian melahirkan tragedi. Banyak orang tetap bergelimang dengan kesulitan. Itu kemudian menimbulkan keputus-asaan yang berujung pada kejahatan. Keamanan menjadi barang mahal. Orang kaya tidak nyenyak tidurnya karena takut dijarah hartanya. Pada gilirannya, itu akan membuat terpuruk secara keseluruhan (kolektif). Persis, seperti yang terjadi di negeri ini. Negara kita menyandang berbagai gelaran prestasi buruk di antara negara-negara yang ada di dunia.&lt;br /&gt;Begitulah, puasa selayaknya kita maknai dalam upaya merasakan penderitaan. Yang kemudian melahirkan beragam kebaikan. Ikut merasakan kesulitan (empatik) itulah menjadi pilihan Nabi saw untuk dapat senantiasa bersyukur. “Ditawarkan kepadaku perbendaharaan dunia dan seluruh harta benda di bumi. Namun aku menolaknya. Aku suka lapar sehari dan kenyang sehari. Aku bersyukur kepada-Mu jika aku kenyang dan memohon dengan rendah diri kepada-Mu jika aku lapar.”&lt;br /&gt;Betapa pentingnya kasih sayang itu ada pada diri setiap muslim, Rasulullah sampai mencela mereka yang tidak sayang kepada hewan, seperti kucing. “Seorang wanita disiksa karena kucing yang ia tahan hingga mati, dan karenanya ia masuk neraka. Dikatakan kepada wanita tersebut, ‘Engkau tidak memberi makan dan minum kepada kucing tersebut, ketika engkau menahannya. Engkau juga tidak melepaskannya supaya ia bisa memakan hewan-hewan di tanah.’” (HR Bukhari).&lt;br /&gt;            Tindakan wanita tersebut menahan kucing tersebut adalah salah satu fenomena kekerasan hati dan tercabutnya kasih sayang dari hatinya. Kasih sayang tidak dicabut kecuali dari orang yang celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mendahulukan Kepentingan Orang Lain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasa empati pada gilirannya akan melahirkan sikap untuk berbagi sampai kemudian mendahulukan kepentingan orang lain dibanding dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Rasa empati ini diantaranya tercermin dari perkataan Rasulullah berikut: “Sesungguhnya aku mengerjakan salat, dan ingin memanjangkannya. Tiba-tiba aku mendengar tangis anak kecil, kemudian aku meringankan terhadap apa yang aku ketahui (bacan Al Qur’an), karena aku merasa begitu besar kesedihan ibunya karena tangisnya.” (HR Bukhari).&lt;br /&gt;Kisah menggugah tentang empati kita dapati dari kenangan Hudzaifah Al Adawayyu saat Perang Yarmuk. Hudzaifah kala itu mencari anak pamannya dengan membawa sedikit air. Ia berkata, “Jika anak pamanku akan meninggal dunia, aku akan memberinya air dan mengusap wajahnya dengan air. Ketika ia menemukannya anak pamannya, ia berkata, “Bagaimana bila kamu kuberi minum?” Orang memberi isyarat kepadanya bahwa ia ingin minum. Tiba-tiba ada ada orang lain berkata, “Air, air, air.” Anak pamannya tersebut memberi isyarat kepadanya agar pergi ke orang tersebut. Ternyata itu adalah Hisyam bin Al Ash. Hudzaifah lantas berkata, “Bagaimana bila kamu kuberi minum?” Hisyam bin Al Ash mendengar suara orang lain, “Air, air, air.” Hisyam lantas memberi isyarat agar pergi ke orang itu. Aku pun mendatangi orang tersebut, tapi ternyata orang itu telah meninggal dunia. Iapun kemudian menemui Hisyam, tapi iapun telah meninggal dunia. Kemudian Hudzaifah kembali ke anak pamannya, tetapi ia telah meninggal dunia. “Semoga Allah merahmati mereka semua,” kenang Hudzaifah. Mereka bertiga syahid, dan mendapatkan kemuliaan karena perilakunya untuk mendahulukan kepentingan saudaranya. Sejarah mencatat, Islam pun menang dan berjaya berkat pengorbanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hikmah puasa adalah agar kita sayang pada sesama. Inilah yang kemudian menjadi parameter keberhasilan puasa yang terwujud konkret adalah setelah puasa itu kita jalani. Tentu, tidak hanya saat puasa itu kita jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa nan Riang…&lt;br /&gt;[Oleh: Zaim Uchrowi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanif baru berusia tiga tahun. Pipinya gembul. Juga perutnya. Itu saja sudah membuat orang gemas padanya. Belum lagi matanya yang jernih kocak., bibirnya yang gampang tersenyum, juga kata-katanya yang polos tak terduga. Di hari puasa, Hanif pun datang ke rumah tetangganya. “ Mau melihat hamster” katanya. Marmut amerika itu (marmut saja kok ya harus dari Amerika ya) memang selalu menarik hatinya.&lt;br /&gt;“Hanif puasa?’&lt;br /&gt;“Puasa,” jawabnya yakin, tanpa lupa menebar senyum.&lt;br /&gt;“Bohong-bohong. Dia nggak puasa,” sahut kakaknya yang duduk di bangku SD  kelas satu.&lt;br /&gt;Hanif tersipu-sipu.&lt;br /&gt;“Tadi sahur jam berapa?”&lt;br /&gt;“Jam delapan.”&lt;br /&gt;“Berbukanya kapan?”&lt;br /&gt;“Nanti...”&lt;br /&gt;“Nanti jam berapa?”&lt;br /&gt;“Ya... nanti,” jawabnya, sambil menggoyangkan kepalanya. Badannya jadi ikut bergoyang.&lt;br /&gt;“Tuhhh... benarkan, nggak puasa,” tukas kakaknya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Puasa memang menebarkan keriangan. Pada anak-anak seperti Hanif. Juga mereka yang lebih besar. Saat waktu berbuka tiba, mereka akan menyerbu makanan yang tersedia. Sebagian akan mengambil makanan yang dari pagi mereka simpan dalam kulkas. Sebagian lagi melahap makanan yang mereka sukai yang terhidang di atas meja.&lt;br /&gt;Muhammad, misalnya. Bocah 10 tahun itu tampak lahap dengan es buahnya. “Sudah berapa gelas?”&lt;br /&gt; “Tiga gelas,” katanya. Ia bermaksud mengambil segelas lagi.[Duh, apa nggak kembung] Ia tertarik pada biji telasih yang dicampurkan pada irisan nangka dan nata de coco yang menjadi es itu. Menurutnya, telasih itu seperti mata yang sangat banyak. Maka, ia menamainya “es mata-mata.” Anak-anak kampung akan mengasosiasikannya dengan telur katak. Ia tidak. Ia anak kota. Ia belum pernah melihat telur katak sebagaimana anak-anak desa melihatnya di kolam-kolam atau sawah.&lt;br /&gt;Anak-anak seperti itu kemudian memenuhi emperan masjid untuk bertarawih. Mereka akan berceloteh tak-henti-hentinya. Satu dua orang tua yang terganggu, lalu akan membentak “Husss! Jangan ribut”.  Beberapa saat mereka memang akan senyap. Tapi, tak lama kemudian, mereka akan berisik lagi.&lt;br /&gt;Beberapa remaja, yang tak lagi punya aktivitas jelas, acap terjaga hingga dini hari.  Pada waktu seperti itu, mereka kan bikin gaduh. Ada yang memukuli tiang listrik. Ada yang berteriak-teriak, “Sahur!, sahur!”  Kapan lagi mereka bebas berteriak seperti itu. Terkadang ulah mereka memang menjengkelkan. Tapi, mereka spontan dan gembira. Itu hanya akan membuat kita dapat menggerutu tanpa sama sekali marah. “Dasar!”&lt;br /&gt;Ramadhan membuat riang anak-anak. Itu akan membuat riang kita orang tua. Karena itu, kita antusias bergegas pulang. Macet (bagi warga Jakarta) bukan lagi persoalan. Yang penting adalah segera tiba di rumah. Syukur bisa berbuka bersama anak-anak.&lt;br /&gt;“Coba kita dapat merekam semua kegiatan manusia saat puasa begini dari angkasa,” celetuk seorang teman. “Pasti akan sangat mengagumkan.” Ia benar. Pola hidup kita berubah sama sekali setiap Ramadhan. Kita mulai berhenti berkalkulasi, dan lebih banyak menuruti hati. Itu membuat kita lebih sederhana. Itu akan membuat kita lebih riang dan antusias.&lt;br /&gt;Kita akan memiliki kebersihan hati seperti Hanif, dengan kesadaran dan tanggung jawab sebagai orang dewasa. Kita akan menjadi manusia efektif. Jika seperti itu, apa yang dapat menghalangi kita sukses?  Kalau semua begitu, apa yang dapat menghalangi Indonesia untuk jaya? Tidak ada.&lt;br /&gt;Azan berkumandang. Makanan untuk berbuka terhidang. Kolak menunggu. Anak-anak pun adu cepat berdoa “Allahumma laka shumtu...”  Lidahku kelu. “Terima kasih ya Allah! Selalu Kau turunkan puasa nan riang begini saban tahun tanpa jemu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5321687571297091764?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5321687571297091764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5321687571297091764&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5321687571297091764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5321687571297091764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/berpuasa-agar-sayang-pada-sesama.html' title='Berpuasa Agar Sayang Pada Sesama'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5481912504841941692</id><published>2008-08-14T03:54:00.001-07:00</published><updated>2008-08-14T03:54:37.845-07:00</updated><title type='text'>PEDULI GENERASI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak (generasi) yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (keselamatan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS An Nissa: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat bocah itu merengek ingin pulang. Sudah berbilang bulan mereka menghuni dinginnya hotel prodeo. Mereka bukan sedang bermain petak umpet. Mereka sedang terlilit kasus hukum yang membuat miris perasaan. Bagi orang tua yang peka, kisah mereka membuat berdiri bulu kuduk.&lt;br /&gt;Empat bocah itu adalah siswa kelas VI SD Negeri Gandusari, Trenggalek yang didakwa kasus pemerkosaan. Hasil pemeriksaan dan visum dokter membuktikan mereka telah menggilir teman perempuan mereka. Secara bersama-sama, berulangkali mereka lakukan sejak pertengahan Mei 2006.&lt;br /&gt;Kisah kejahatan anak yang dikutip dari satu koran nasional ini hanya sebuah contoh potret buram generasi. Koran harian rasanya tak pernah jeda mengabarkan berita semacam ini. Yang tambah membuat miris, amat jarang penanganan hukum untuk kejahatan anak berujung positif. Penelitian Komnas Perlindungan Anak, mereka yang mempunyai riwayat kejahatan semasa kecilnya akan mengulanginya kala dewasa. Hukuman penjara malah mempercepat proses kematangannya menjadi penjahat sebenarnya.&lt;br /&gt;Ini benar-benar mimpi buruk. Di negeri yang rakyatnya belum kunjung selesai dirundung kesulitan ekonomi, bayangan generasi yang rapuh moralnya menjadi masalah tambahan yang tak kalah runyam. Ini bukan lagi sekadar tuntutan kepintaran menyusun menu makan harian karena terbatasnya dana. Ini sudah menyangkut makin hilangnya rasa aman, bahkan untuk sekadar bermain anak-anak kita. Tak jarang ini menimbulkan kekagetan yang sangat. Ya, seperti kisah pilu dari koran lokal ini. Di sebuah kampung di Lampung Barat, seorang balita, sepulang TK diantar (digendong) anak belasan tahun. Namun, tengah jalan di sebuah kebun, balita tersebut diturunkan dari gendongan. Si balita diperkosa sampai pingsan. Ibunya yang memergoki, saking kagetnya, menyusul pingsan.&lt;br /&gt;Mengapa kejahatan yang pelakunya anak-anak semakin marak terjadi? Yang pasti, perilaku mereka bukan muncul dari ruang yang kosong. Mereka mendapati ide dari menonton berita kriminal di TV dan VCD     o yang amat mudah mereka dapat. Karakter imitatif  (meniru) mereka menemukan tempat yang subur.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Degradasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita sedih yang lain. Pengarang senior perempuan NH Dini, sewaktu masih di Perancis, mendapat kiriman sebuah novel Indonesia (yang mendapat penghargaan karya sastra)  dari mendiang Ramadhan KH. Novel tersebut. Karena tidak “kuat,” Ramadhan meminta NH Dini membaca novel tersebut. “Dan benar, saya juga hanya ‘kuat’ membaca beberapa lembar saja. Saya kemudian berfikir, apa bagusnya novel ini, kok sampai mendapat penghargaan?,” tutur NH Dini.&lt;br /&gt;Saat ini, menurut NH Dini, ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah mengapa ada sekelompok penulis perempuan yang giat menulis cerita bergaya     ografi. Seperti sudah tidak ada lagi rasa risi dan malu. NH Dini lebih terkejut lagi, ketika bertemu seorang rohaniawan, dia malah memuji novel tersebut. Keganjilan ini bertambah miris bila kita bandingkan dengan fenomena di negara lain. Di Malaysia, penulis yang mem    okan karyanya adalah penulis pria. Kebalikannya di Indonesia. Penulis semacam itu mayoritas perempuan. “Wah, pengarang Indonesia berani-berani. Kok, mereka tidak malu,’ kata seorang kritikus Malaysia kepada Taufiq Ismail.&lt;br /&gt;Dunia kepenulisan sastra, terjangkit virus ganas     ografi. Dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, akhir tahun lalu, Taufiq Ismail menengarai bahaya Gerakan Syahwat Merdeka. ”Ia tidak bersosok organisasi resmi dan tidak berdiri sendiri. Tetapi mereka bekerjasama melalui jaringan dunia, dengan kapital raksasa mendanai, ideologi gabungan yang melandasi, dan banyak media massa cetak dan elektronik menjadi pengeras suaranya,” tutur Taufiq. Hilangnya rasa malu telah mulai meruntuhkan bangunan bangsa. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali. Kebebasan berekspresi berdampak buruk pada perilaku masyarakat.     ografi  secara nyata memotivasi orang berperilaku kriminal.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Proteksi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dampak buruk tontonan yang tidak mendidik itu beragam. Ada yang langsung membuat seseorang melakukan kejahatan. Ada yang merusak pola fikir seseorang. Degradasi moral para penulis sastra, seperti yang dikeluhkan NH Dini, adalah dampak tidak langsung     ografi yang sudah berkelindan di sekitarnya.&lt;br /&gt;            Di sebuah negeri yang disiplin sosial dan penegakan hukumnya lemah, kita tidak dapat banyak berharap dari orang lain. Kita tak bisa berharap dari UU     ografi yang tak jelas kabarnya sampai saat ini. Ya. Ini menuntut kepedulian setiap pribadi. Sebelum nasi menjadi bubur, sebelum kejahatan itu benar-benar hadir di depan mata kita, sebelum anak-anak kita menjadi korban. Na’udzubillah, kita berlindung kepada Allah. Sulit dibayangkan, seandainya kejahatan seperti di atas menimpa anak-anak atau saudara kita.&lt;br /&gt;            Kita perlu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak kita. Matikanlah teve. Hidupkanlah ala kadarnya. Cobalah untuk semakin banyak berinteraksi langsung dengan anak-anak. Kita perlu bercengkerama dengan mereka, secara alamiah, bukan dari dagelan TV yang menonjolkan sensualitas dan konotasi jorok itu.&lt;br /&gt;            ”Manusia itu anak lingkungannya.” Begitu bunyi sebuah atsar. Perilaku yang muncul dari seseorang itu sangat tergantung dengan siapa ia berinteraksi. Didikan orang tua kadang tak berarti banyak terhadap perlaku anak bila tidak diiringi dengan upaya menciptakan ruang bermainnya. Moralitas berbeda dengan intelektualitas. Jika ada prestasi belajar anak bisa didapat di ruang kelas sekolah, belum tentu dengan moralnya. Banyak sekolah yang menjadi momok bagi kebanyakan murid. Sekolah seringkali banyak membebani anak dengan PR atau tuntutan prestasi yang hanya terukur lewat nilai rapor. Ia mungkin pintar secara intelektual tetapi (bisa jadi) miskin secara moral.&lt;br /&gt;            Lingkungan sebenarnya bagi anak adalah rumah dan warga sekitarnya. Bila baik anggota masyarakat di lingkungan ia berinteraksi, itu adalah alamat kebaikan. Bila tidak, itu alamat keburukan. Maka ada tuntutan dari kita sendiri untuk menciptakannya. Kita tidak mungkin mengasingkan diri dari lingkungan sekitar. Kita harus terlibat untuk menciptakan lingkungan yang baik di sekitar kita, untuk puteri-puteri kita.&lt;br /&gt;            Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau singgah di Quba. Waktu yang sebentar itu langsung dimanfaatkan Rasul untuk membangun masjid. Menurut Said Ramadhan Al Buthi, itu adalah ibrah (pelajaran) tentang keutamaan masjid sebagai dasar membangun peradaban.&lt;br /&gt;Saat ini, ada satu lingkungan yang kondusif membangun moral generasi: masjid. Di sanalah ”ruang bermain” itu bisa dibuat. Lewat pengajaran baca tulis Al Quran, kegiatan pengajian remaja yang dikemas kreatif-atraktif, dan seterusnya. Dari sanalah ketergantungan terhadap televisi (dan media merusak yang lain) bisa dikurangi. Memakmurkan masjid—yang dipahami dengan cakupan kegiatannya yang luas/menyeluruh—menjadi kewajiban yang tak bisa ditawar. Generasi muda Islam harus akrab dengan masjid. Generasi tua (para pengurus masjiid dan jamaah) bertanggung-jawab mendukungnya. Berawal dari hal itu, insya Allah, masa depan generasi muda Islam yang amoral hanya menjadi mimpi buruk yang tak pernah menjadi kenyataan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5481912504841941692?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5481912504841941692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5481912504841941692&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5481912504841941692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5481912504841941692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/peduli-generasi.html' title='PEDULI GENERASI'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5155633528885058259</id><published>2008-08-14T03:53:00.001-07:00</published><updated>2008-08-14T03:53:45.161-07:00</updated><title type='text'>Poligami Aa’ Gym vs Logika Masyarakat Sakit</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan Allah  telah meninggikan langit dan Dia neletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS Ar Rahman: 7-9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar itu memang terasa mengejutkan. Abdullah Gymmnastiar (Aa’ Gym), dai kondang itu, mempersunting isteri kedua (poligami). Tanggapan minor serta berbagai ungkapan kekecewaan pun mengalir deras. Ada anggapan di masyarakat bahwa poligami akan (selalu) memposisikan wanita sebagai korban. Karenanya, Aa’ Gym dinilai tidak layak melakukan hal itu. Pro-kontra pun bermunculan.&lt;br /&gt;Pekan-pekan ini, isu poligami memang menjadi bahasan paling hangat. Apalagi ini menyangkut sosok Aa’ Gym yang telah menjadi idola. Tak urung, tanggapan pun mengalir sampai ke istana.&lt;br /&gt;Mempertanyakan poligami tentu tidak ada salahnya. Apalagi di tengah anggapan atau beberapa kenyataan di lapangan, praktek poligami membuat wanita menjadi korban. Tetapi bila kemudian hal itu mengarahkan seseorang untuk mengingkari hukum agama,  maka kita patut waspada. Ya. Apalagi bila kemudian hal tersebut mengarahkan kita untuk “menerima” praktek selingkuh (baca: zina) sebagai cela yang “lebih kecil dosanya” dibanding poligami. &lt;br /&gt;            Islam memang membolehkan poligami sesuai firman Allah dalam QS An Nisa: 3 dengan syarat adil sebagai bentuk pertanggungjawaban suami atas langkah yang ia ambil. &lt;br /&gt;Syarat adil untuk dapat menafkahi keluarga inilah yang membuat tidak semua orang mampu/boleh berpoligami. Maka, karena syarat pertanggungjawaban itu, kita akan mendapati kenyataan bahwa pelaku poligami lebih sedikit daripada pelaku monogami. Artinya, bukan berarti kebolehan berpoligami dalam Islam itu lantas menyuburkan praktek poligami. Poligami adalah pilihan bebas-bertanggungjawab bagi setiap Muslim. Inilah yang selayaknya kita pahami secara natural (alamiah) dan proporsional. Islam membolehkan poligami, tetapi tidak semua orang (Muslim) mau/berselera melakukan poligami. Karenanya mengatur poligami dalam sebuah peraturan kenegaraan (yang potensial bertentangan dengan syariah Islam itu) nampak sebagai sikap berlebihan dan tidak lagi proporsional. Bagaimana dengan RUU APP (Anti    ografi dan     oaksi) yang tidak jelas kabarnya sampai sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berdasar Ilmu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebuah kejadian yang kemudian menjadi perbincangan, lalu darinya kita dapat mengambil hikmah/pelajaran, adalah proses alamiah yang amat baik. Begitulah proses yang kita dapati saat Allah menurunkan wahyu. Nabi Muhammad saw saat berinteraksi dengan para sahabatnya menemukan masalah. Ayat Al Qur’an kemudian turun memberi jawaban. Karena itulah, saat ini kita akan mendapati ayat-ayat Al Qur’an banyak mempunyai kesesuaian dengan apa yang kita alami dalam keseharian kita, walau dengan ruang dan waktu yang berbeda. Al Qur’an dapat menjadi rujukan jawaban atas masalah yang kita hadapi.&lt;br /&gt; Salah satu kekhawatiran kita seputar kontroversi poligami terkait dengan dasar rujukan penyelesaian. Ya. Kontroversi tentang hal ini seperti telah menjelma menjadi suara gaduh tanpa ilmu. Simpulan seperti apa yang dapat kita ambil ketika tayangan  infotainment itu kita jadikan sebagai rujukan? Apa yang bisa dipertanggungjawabkan dari alasan ketidaksetujuan terhadap poligami dari seseorang yang sehari-harinya kita kenal sebagai badut/pelawak di teve? Apakah fakta empirik (pengalaman) dari buruknya keharmonisan keluarga seorang artis yang melakukan poligami—yang jelas tidak didasari motif agama itu—dapat dijadikan alasan menolak poligami?&lt;br /&gt;            Rasulullah telah memberi peringatan kepada kita tentang bahaya mendasari sebuah keputusan agama yang tidak didasari oleh pendapat ulama (ahli ilmu). “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut (menghilangkan) ilmu dan manusia sekaligus, melainkan Allah akan mencabutnya dengan mematikan para ulama. Sehingga apabila seorang  alimpun telah tiada, manusia bertanya kepada para pemimpin yang jahil, dimana apabila mereka ditanya, mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat menyesatkan.” (HR Muslim, Ibnu Majjah, Nasai, dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepekaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Ada tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka: peminum arak, pelaku maksiat, dan dayyuts, yaitu orang rela melihat kemesuman (khabbats) terjadi  pada keluarganya.(HR Ahmad). &lt;br /&gt;Mari kita perhatikan peringatan Rasulullah saw. tersebut, khususnya pada golongan yang terakhir yang beliau sebut dengan dayyuts. Peringatan yang disampaikan lima belas abad lalu selayaknya menyentak kesadaran kita. Bagaimana tidak, ternyata sebagian dari kita sudah jauh kehilangan rasa cemburu terhadap orang-orang yang melakukan kemaksiatan.Bahkan, terhadap anggota keluarga sendiri. Padahal kita tentu tidak ingin diharamkan surga oleh Allah swt.&lt;br /&gt;Secara kebetulan, perbincangan seputar poligami beriringan dengan peristiwa video     o zina dilakukan oleh seorang anggota DPR. Ini penting menjadi cermin kepekaan kita. Agaknya, kita perlu bertanya masing-masing diri kita. Sejauhmana kita melihat hal itu sebagai kemaksiatan? Sebuah kemaksiatan besar, atau biasa-biasa sajakah? Ada kekhawatiran, pujian yang diberikan oleh seorang pejabat tinggi negara atas pengunduran diri pelaku zina tersebut, mewakili anggapan masyarakat secara mayoritas. Permasalahan tersebut dianggap selesai dengan ”sekadar” permintaan maaf tanpa konsekuensi hukum yang lain. Masyarakat tidak terlalu peka dan peduli dengan masalah tersebut.&lt;br /&gt;Sepertinya, fakta ketidakpekaan itu telah begitu banyak terjadi. Seorang orang tua tidak begitu peduli dengan pergaulan isterinya. Kita menjadi tega dan terbiasa membiarkan anak perempuan kita sendiri, atau saudara kita, berjalan sambil bergandengan tangan dengan lelaki yang bukan muhrim-nya. Bahkan, umum saja berlaku di banyak rumah, para orangtua justeru  meninggalkan teman laki-laki dari anak perempuannya yang datang, untuk berbicara leluasa di teras rumah. Atau di lain hal, kita terbiasa membiarkan anak-anak kita berbaju seronok dan memamerkan aurat. Padahal, ini salah satu sikap yang dimaksud sebagai dayyuts oleh Rasulullah, yaitu hilangnya rasa cemburu (kepada keluarga) dan membiarkan mereka terperangkap dalam jerat-jerat syaitan.&lt;br /&gt;Ada segudang cerita tentang selingkuh (zina), kehamilan di luar nikah, atau anak yang lahir dengan ketidak jelasan status orangtuanya. Berita harian di media massa tidak pernah jeda memberitakan perilaku kriminal semacam ini. Banyaknya berita semacam ini mungkin telah begitu biasa kita terima. Sampai kemudian, kita kehilangan kepekaan.  Kita tidak lagi melihat hal itu sebagai sebuah kejahatan yang besar. Perkara tersebut adalah hal yang biasa saja. Bahkan, ada yang telah ”menyerah.” Hubungan seksual di luar nikah dianggap bukan lagi sebuah kejahatan. Ya. Ini adalah ironi yang muncul di masyarakat, bahkan hukum negara. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP) negeri ini tidak mengenakan delik hukum terhadap hubungan seksual lawan jenis bagi yang lelaki-perempuan yang belum menikah bila didasari suka-sama suka.&lt;br /&gt;Inilah kenyataan yang sulit kita pungkiri. Maka perlu kembali ditegaskan, kita tidak sedang berbicara tentang kemaksiatan yang kita lakukan. Inilah perkara dosa bersama yang Allah dapat menurunkan siksa. Ya. Kita patut waspada. Ketidakpekaan kita itu bisa menjadi awal bencana itu. Sesungguhnya banyak bencana terjadi yang tidak hanya khusus menimpa orang-orang zalim. Ada orang  baik di situ, tetapi bukan berarti menghalangi siksaan itu datang. Allah secara khusus telah memperingatkan dalam firman-Nya, ”Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(QS Al Anfal : 24 - 25).&lt;br /&gt;Selayaknya, introspeksi itu terus kita lakukan. Jangan-jangan, pro kontra-opini yang kita seputar poligami itu muncul dari hilangnya kepekaan tersebut. Kita menjadi tidak tahu mana yang paling prioritas untuk dikedepankan. Membatasi poligami atau memberantas praktek perzinaan? Padahal Al Qur’an telah memberi batasan hukum yang jelas. Poligami legal dilakukan dengan segala prasyaratnya. Dan, zina juga telah jelas batasnya. Hukuman dera (cambuk) seratus kali dan diusir dari kampung halamannya bagi pezina yang belum menikah. Yang telah menikah, mereka dirajam sampai mati. Bahkan,  di jaman Rasulullah, taubat tidak cukup untuk menebus dosa zina bagi yang mereka telah menikah kecuali dengan pelaksanaan hukum rajam tersebut. ***&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5155633528885058259?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5155633528885058259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5155633528885058259&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5155633528885058259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5155633528885058259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/poligami-aa-gym-vs-logika-masyarakat.html' title='Poligami Aa’ Gym vs Logika Masyarakat Sakit'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-3466941144850494643</id><published>2008-08-14T03:51:00.001-07:00</published><updated>2008-08-14T03:52:27.452-07:00</updated><title type='text'>Kaya lagi Mulia</title><content type='html'>&lt;strong&gt;"Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;( TQS Ali 'Imran: 8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda mendatangi Dzun-Nun Al Mishri, tokoh alim dari Mesir. Melihat kesahajaan sang Guru, ia keheranan. "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan lain."&lt;br /&gt;Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu mengambil sebuah cincin, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"&lt;br /&gt;Melihat cincin Dzun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."&lt;br /&gt;"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."&lt;br /&gt;Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia pun kembali ke Dzun-Nun. "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."&lt;br /&gt;Dzun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian."&lt;br /&gt;Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Dzun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."&lt;br /&gt;Dzun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas". Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mulia Sebenarnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang kita dapati dalam khasanah sufistik di atas, mengingatkan kita tentang hakekat  kemuliaan. Tampilan fisik seringkali membuat kita keliru. Kehormatan itu kita ukur dari apa yang terlihat oleh mata kita saja. Kita abai dengan ukuran-ukuran yang semestinya menjadi standar utama. Seperti kekayaan pada diri seseorang. Kita hormat, takzim, terhadap orang yang kita lihat berkecukupan harta. Namun, ternyata kita tidak melihat nilai lebih dari keberadaan uang itu di tangannya. Tidak ada manfaat yang bisa diperoleh oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Ia kikir, pelit, tak ambil peduli pada urusan orang lain. Kekayaannya itu laksana menara gading, bagus tampakannya tetapi tak bisa memberi manfaat bagi yang melihat.&lt;br /&gt;Allah telah menetapkan ukuran kemuliaan itu atas dasar ketakwaan. Keimanan dan ketakwaan inilah yang kemudian melahirkan amal salih. Inilah yang kemudian memberi jaminan kekayaan seseorang bermanfaat bagi orang di sekelilingnya. Akhlaknya yang mulia menghindarkan dari sifat kikir. Ia pemurah, dermawan, membuat nyaman orang di sekitarnya yang  kesulitan. Kekayaannya laksana menara air, mampu membuat air lebih deras untuk mengaliri rumah-rumah, kebun, sawah, dan yang lainnya. Kekayaannya menjadi berkah untuk memuliakan orang-orang susah hidupnya. Demikianlah yang disabdakan Rasulullah, ”Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling banyak menberi manfaat kepada yang lain.”&lt;br /&gt;Rasulullah berulang-ulang mengingatkan sahabatnya agar tidak menjadikan harta dan kekayaan sebagai alat untuk menilai kemuliaan seseorang. Standar nilai untuk itu hanyalah amal salih. ”Tersungkurlah hamba dinar, dirham, sandang, dan pakaian. Bila diberi, ia suka. Bila ia tidak diberi, ia berduka.” (HR Bukhari). Celakalah orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada uang. Uang tidak boleh menentukan nilai manusia. Manusialah yang harus menentukan nilai uang. Celakalah orang yang diperbudak uang, tetapi berbahagialah orang yang memperbudaknya.&lt;br /&gt;Peristiwa berikut ini menggambarkan bagaimana seharusnya pandangan muslim terhadap uang dan kekayaan. Berkisah Aisyah r.a.: Seorang pengemis berhenti di depan Ali bin Abi Thalib. Ali berkata kepada Hasan dan Husain, ”Pergilah kepada ibumu. Katakan kepadanya bahwa aku meninggalkan enam dirham. Ambillah satu dirham.  Lalu pergilah Hasan atau Husain, dan kembali. ”Ibu berkata, ’Sesungguhnya ayah meninggalkan uang itu untuk membeli tepung.” Ali bin Abi Thalib lantas berkata, ”Belum sampai keimanan seseorang pada tingkat ketulusan sebelum ia menjadikan apa yang berada di tangan Allah lebih diandalkan dari apa yang ada di tangannya. Katakan kepada ibumu agar dibawa kepadaku enam dirham.” Fathimah r.a. (Ibu Hasan dan Husain) mengirimkan  enam dirham itu dan Ali memberikan semuanya kepada pengemis.&lt;br /&gt;Tidak lama setelah itu, lewatlah seorang lelaki yang mau menjual untanya. Ali bertanya, Berapa kamu mau menjual unta itu?” Ia menjawab, ”Seratus empat puluh dirham.” Kata Ali, “Ikatlah unta itu disini. Aku akan menyampaikan (membayar) kepadamu harganya nanti.” Ia meninggalkan unta itu pada Ali dan pergi.&lt;br /&gt;Lalu datanglah lelaki yang lain. Ia bertanya,”Punya siapa unta ini?” Kata Ali, ”Punyaku.” Ia bertanya, ”Kamu mau menjualnya?” (Terjadilah transaksi). Lelaki itu mengambil unta tersebut dan membayarnya dua ratus dirham. Ali lalu memberikan 140 dirham kepada pemilik unta yang pertama dan 60 dirham kepada isterinya. Fatimah bertanya, ”Apa ini?” Ali berkata,”Inilah yang dijanjikan Allah kepada kita melalui lisan Nabi-Nya dalam QS Al An’am: 160, ”Barangsiapa yang membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat kebaikan itu.” (Kanz al Ummal).&lt;br /&gt;Jadi, tak akan berkurang kekayaan seseorang karena kedermawanannya. Bahkan, ini menjadi jaminan bertambahnya nilai kekayaan yang dipunyai. Kekayaan yang diiringi kedermawanan akan terus menambah tinggi derajat pemilik harta. Seperti dalam kisah Dzun-Nun, ia laksana cincin permata yang nilainya lebih tinggi dari cincin emas  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-3466941144850494643?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/3466941144850494643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=3466941144850494643&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/3466941144850494643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/3466941144850494643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/kaya-lagi-mulia_14.html' title='Kaya lagi Mulia'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-7019300825791082759</id><published>2008-08-14T03:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:52:26.599-07:00</updated><title type='text'>Kaya lagi Mulia</title><content type='html'>&lt;strong&gt;"Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;( TQS Ali 'Imran: 8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda mendatangi Dzun-Nun Al Mishri, tokoh alim dari Mesir. Melihat kesahajaan sang Guru, ia keheranan. "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan lain."&lt;br /&gt;Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu mengambil sebuah cincin, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"&lt;br /&gt;Melihat cincin Dzun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."&lt;br /&gt;"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."&lt;br /&gt;Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia pun kembali ke Dzun-Nun. "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."&lt;br /&gt;Dzun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian."&lt;br /&gt;Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Dzun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."&lt;br /&gt;Dzun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas". Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mulia Sebenarnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang kita dapati dalam khasanah sufistik di atas, mengingatkan kita tentang hakekat  kemuliaan. Tampilan fisik seringkali membuat kita keliru. Kehormatan itu kita ukur dari apa yang terlihat oleh mata kita saja. Kita abai dengan ukuran-ukuran yang semestinya menjadi standar utama. Seperti kekayaan pada diri seseorang. Kita hormat, takzim, terhadap orang yang kita lihat berkecukupan harta. Namun, ternyata kita tidak melihat nilai lebih dari keberadaan uang itu di tangannya. Tidak ada manfaat yang bisa diperoleh oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Ia kikir, pelit, tak ambil peduli pada urusan orang lain. Kekayaannya itu laksana menara gading, bagus tampakannya tetapi tak bisa memberi manfaat bagi yang melihat.&lt;br /&gt;Allah telah menetapkan ukuran kemuliaan itu atas dasar ketakwaan. Keimanan dan ketakwaan inilah yang kemudian melahirkan amal salih. Inilah yang kemudian memberi jaminan kekayaan seseorang bermanfaat bagi orang di sekelilingnya. Akhlaknya yang mulia menghindarkan dari sifat kikir. Ia pemurah, dermawan, membuat nyaman orang di sekitarnya yang  kesulitan. Kekayaannya laksana menara air, mampu membuat air lebih deras untuk mengaliri rumah-rumah, kebun, sawah, dan yang lainnya. Kekayaannya menjadi berkah untuk memuliakan orang-orang susah hidupnya. Demikianlah yang disabdakan Rasulullah, ”Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling banyak menberi manfaat kepada yang lain.”&lt;br /&gt;Rasulullah berulang-ulang mengingatkan sahabatnya agar tidak menjadikan harta dan kekayaan sebagai alat untuk menilai kemuliaan seseorang. Standar nilai untuk itu hanyalah amal salih. ”Tersungkurlah hamba dinar, dirham, sandang, dan pakaian. Bila diberi, ia suka. Bila ia tidak diberi, ia berduka.” (HR Bukhari). Celakalah orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada uang. Uang tidak boleh menentukan nilai manusia. Manusialah yang harus menentukan nilai uang. Celakalah orang yang diperbudak uang, tetapi berbahagialah orang yang memperbudaknya.&lt;br /&gt;Peristiwa berikut ini menggambarkan bagaimana seharusnya pandangan muslim terhadap uang dan kekayaan. Berkisah Aisyah r.a.: Seorang pengemis berhenti di depan Ali bin Abi Thalib. Ali berkata kepada Hasan dan Husain, ”Pergilah kepada ibumu. Katakan kepadanya bahwa aku meninggalkan enam dirham. Ambillah satu dirham.  Lalu pergilah Hasan atau Husain, dan kembali. ”Ibu berkata, ’Sesungguhnya ayah meninggalkan uang itu untuk membeli tepung.” Ali bin Abi Thalib lantas berkata, ”Belum sampai keimanan seseorang pada tingkat ketulusan sebelum ia menjadikan apa yang berada di tangan Allah lebih diandalkan dari apa yang ada di tangannya. Katakan kepada ibumu agar dibawa kepadaku enam dirham.” Fathimah r.a. (Ibu Hasan dan Husain) mengirimkan  enam dirham itu dan Ali memberikan semuanya kepada pengemis.&lt;br /&gt;Tidak lama setelah itu, lewatlah seorang lelaki yang mau menjual untanya. Ali bertanya, Berapa kamu mau menjual unta itu?” Ia menjawab, ”Seratus empat puluh dirham.” Kata Ali, “Ikatlah unta itu disini. Aku akan menyampaikan (membayar) kepadamu harganya nanti.” Ia meninggalkan unta itu pada Ali dan pergi.&lt;br /&gt;Lalu datanglah lelaki yang lain. Ia bertanya,”Punya siapa unta ini?” Kata Ali, ”Punyaku.” Ia bertanya, ”Kamu mau menjualnya?” (Terjadilah transaksi). Lelaki itu mengambil unta tersebut dan membayarnya dua ratus dirham. Ali lalu memberikan 140 dirham kepada pemilik unta yang pertama dan 60 dirham kepada isterinya. Fatimah bertanya, ”Apa ini?” Ali berkata,”Inilah yang dijanjikan Allah kepada kita melalui lisan Nabi-Nya dalam QS Al An’am: 160, ”Barangsiapa yang membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat kebaikan itu.” (Kanz al Ummal).&lt;br /&gt;Jadi, tak akan berkurang kekayaan seseorang karena kedermawanannya. Bahkan, ini menjadi jaminan bertambahnya nilai kekayaan yang dipunyai. Kekayaan yang diiringi kedermawanan akan terus menambah tinggi derajat pemilik harta. Seperti dalam kisah Dzun-Nun, ia laksana cincin permata yang nilainya lebih tinggi dari cincin emas  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-7019300825791082759?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/7019300825791082759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=7019300825791082759&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/7019300825791082759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/7019300825791082759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/kaya-lagi-mulia.html' title='Kaya lagi Mulia'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-2584996755729641899</id><published>2008-08-14T03:49:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:51:22.230-07:00</updated><title type='text'>Istiqamah dan Muslim yang Dinamis</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Tetap teguhlah kamu pada jalan yang benar sebagaiana yang telah diperintahkan kepada kamu”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS Hud: 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Ayat tersebut membuat rambutku memutih (beruban),” kata Rasulullah, saat menceritakan tentang turunnya Surah Hud: 112 yang menyuruh istiqamah. Kisah yang dinukilkan dalam buku-buku tafsir tersebut menyiratkan tentang begitu besarnya kedudukan istiqamah bagi kaum Muslimin.&lt;br /&gt;Istiqamah artinya teguh hati, taat asas, atau konsisten. Hal itu adalah sifat unggul seorang Muslimyang akan menjamin kejayaan di dunia dan akhirat. Istiqamah adalah disiplin agama yang menganjurkan umatnya supaya dalam apa juga pekerjaan dan amalan, hendaklah dilakukan secara berterusan dan konsisten. Orang yang istiqamah ialah seorang yang comitted, tekun dan gigih melakukan sesuatu pekerjaan, tugas, dan tanggungjawab.&lt;br /&gt;Seruan agar umat Islam beristiqamah dalam beribadah jelas diterangkan dalam beberapa ayat al-Quran dan hadits. Dalam sebuah hadits, Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, jelaskan kepada saya satu ungkapan mengenai Islam, supaya saya tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain, kecuali kepadamu.” Rasulullah menjawab, `(Islam itu adalah) kamu berkata `Aku beriman kepada Allah dan beristiqamahlah'.” (HR Muslim).&lt;br /&gt;Allah menjanjikan kemuliaan dan keberkahan kepada orang yang istiqamah.  "Dan seandainya mereka itu bersikap istiqamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan kepada mereka air yang melimpah (rejeki yang banyak)." (QS  Al Jinn:16).&lt;br /&gt;Air adalah lambang kehidupan dan lambang kemakmuran. Maka Allah menjanjikan mereka yang konsisten mengikuti jalan yang benar akan mendapatkan hidup yang mulia di dunia. Janji keistimewaan kepada orang yang istiqamah juga diberikan nanti di akherat yang membuatnya sellau merasa tenang menhadapi cobaan. ”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (untuk mengatakan ) : Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan  Allah kepadamu “. Kami (Allah) adalah pelindung-pelindungmu  dalam kehidupan dunia maupun akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dan Tuhan yang maha pengampun lagi maha penyayang (QS Fushilat :30-32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiqamah di Zaman Modern&lt;br /&gt;Keperluan kepada sikap istiqamah itu ada pada setiap masa. Lebih-lebih lagi diperlukan di zaman modern ini. Karena kemodernan (modernitas, modernity) bercirikan perubahan. Bahkan para ahli menyebutkan bahwa kemodernan ditandai oleh "perubahan yang terlembagakan" (institutionalized change). Artinya, jika pada zaman-zaman sebelumnya perubahan adalah sesuatu yang "luar biasa" dan hanya terjadi di dalam kurun waktu yang amat panjang, di zaman modern perubahan itu merupakan gejala harian, dan sudah menjadi keharusan.&lt;br /&gt;Lihat saja, misalnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi microchip (harfiah: kerupuk kecil) dalam teknologi elektronika. Siapa saja yang mencoba bertahan pada suatu bentuk produk, baik dia itu produsen atau konsumen, pasti akan tergilas dan merugi sendiri. Karena itulah maka "Lembah Silikon" atau Silicon Valley di California selalu diliputi oleh ketegangan akibat kompetisi yang amat keras.&lt;br /&gt;Adanya kesan bahwa "perubahan yang terlembagakan" itu tidak memberi tempat istiqamah adalah salah. Kesalahan itu timbul antara lain akibat persepsi bahwa istiqamah mengandung makna yang statis. Memang istiqamah mengandung arti kemantapan, tetapi tidak berarti kemandekan. Melainkan lebih dekat kepada arti stabilitas yang dinamis. Dapat dikiaskan dengan kendaraan bermotor: semakin tinggi teknologi suatu mobil, semakin mampu dia melaju dengan cepat tanpa guncangan. Maka disebut mobil itu memiliki stabilitas atau istiqamah.&lt;br /&gt;Istiqamah yang dipahami dalam maknanya yang dinamis ini sejalan dengan pelajaran yang disampaikan Ibnu Umar. Ibnu Umar berkata: Suatu saat Rasulullah saw. memegang pundakku sembari bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau penyeberang jalan (musafir). Selanjutnya, Ibnu Umar berkata, Jika engkau di waktu sore janganlah menunggu pagi, jika engkau di waktu pagi janganlah menunggu hingga sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit, dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum engkau mati.” (HR Imam Bukhari).&lt;br /&gt;Pelajaran tentang gerak yang dinamis dari keIslaman seseorang begitu terang dalam hadits Rasulullah di atas. Tidak ada tempat ”berhenti.” Keimanan harus terus melaju, melintasi batas-batas perbedaan waktu dalam hidup kita. Ada makna ketergesaan, tidak menunggu, untuk terus mengisinya dengan kebaikan.&lt;br /&gt;Semakin sering seorang Muslim tidak menunda-menunda kebaikan yang ia jalankan, di situlah jaminan langgengnya kebaikan yang ada pada dirinya. Seperti pada contoh mobil di atas. Mobil disebut dengan stabil bukanlah pada waktu ia berhenti, tapi justru ketika dia melaju dengan cepat. Maka begitu pula dengan hidup di zaman modern ini. Kita harus bergerak, melaju, namun tetap stabil, tanpa goyah. Ini bisa saja terwujud kalau kita menyadari dan meyakini apa tujuan hidup kita, dan kita dengan setia mengarahkan diri kepadanya, sama dengan mobil yang stabil terus melaju ke depan, tanpa terseot ke kanan-kiri.&lt;br /&gt;Yang harus kita pahami, yang sebenarnya mengalami "perubahan yang terlembagakan" dalam zaman modern ini hanyalah bidang-bidang yang bersangkutan dengan "cara" hidup saja, bukan esensi hidup itu sendiri dan tujuannya. Ibarat perjalanan Jakarta-Surabaya, yang mengalami perubahan hanyalah alat transportasinya, mulai dari jalan kaki, sampai naik pesawat terbang. Tujuannya sendiri tidak terpengaruh oleh "cara" menempuh perjalanan itu sendiri. Maka ibarat mobil yang stabil yang mampu melaju dengan cepat, begitu pula orang yang mencapai istiqamah tidak akan goyah, apalagi takut, oleh lajunya perubahan. Dia hidup dinamis, berjalan di atas kebenaran demi kebenaran, untuk sampai akhirnya kembali kepada Allah, Sang Kebenaran Mutlak dan Abadi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ramadhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Beramal secara istiqamah nampak penting kita pada hari-hari setelah berlalunya Ramadhan. Ya, betapa kebaikan, kedermawanan, dan beragam amal shalih itu selalu menghiasi hari-hari puasa kita. Adakah hal itu masih berlanjut, berjalan dinamis dalam keseharian kita berikutnya?&lt;br /&gt;Allah menjanjikan derajat istimewa bagi orang-orang yang tetap melanjutkan kebaikan yang telah dilakukannya saat Ramadhan. Maka, selesai menunaikan ibadah shaum Ramadan yang diakhiri Idulfitri, telah menunggu ibadah shaum lain yang bernilai tinggi. Shaum enam hari di bulan Syawal. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad saw bersabda,"Barang siapa bershaum pada bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan shaum enam hari pada bulan Syawal, seolah-olah berpuasa sepanjang masa."&lt;br /&gt;Istimewanya puasa 6 hari di bulan Syawal, (salah satunya) adalah pada aspek kelanjutan ibadah. Allah mengharapkan amal shalih yang kita lakukan itu tidak berhenti ketika Ramadhan usai, tetapi tetap ajek, terus menerus, langgeng, konsisten, pada bulan-bulan berikutnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-2584996755729641899?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/2584996755729641899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=2584996755729641899&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2584996755729641899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2584996755729641899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/istiqamah-dan-muslim-yang-dinamis.html' title='Istiqamah dan Muslim yang Dinamis'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-377869102770294772</id><published>2008-08-14T03:48:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:49:40.057-07:00</updated><title type='text'>Penyakit Kita: Figuritas</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS Ali Imraan: 144).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda kapan waktu pada kondisi terjepit, cara jitu Nasrudin ini barangkali bisa ditiru.&lt;br /&gt;Nasrudin, dikenal warga sekitar punya perilaku baik  Hampir tidak ada cela yang diketahui warganya. Sampai kemudian, warga berkeinginan mendengarkan Nasrudin menyampaikan nasihat. Orang yang menjadi panutan warga (tokoh), memang lazimnya  sering menyampaikan wejangan di muka umum. Hal inilah yang belum pernah sekalipun dilakukan Nasrudin. Warga begitu berkeinginan, dan Nasrudin pun tak kuasa menolaknya.&lt;br /&gt;Di atas mimbar, usai salam dan doa pembuka, Nasrudin langsung melontarkan pertanyaan. “Saudara-saudara, apakah kalian mengetahui tema apa yang akan saya sampaikan?”&lt;br /&gt;Seluruh hadirin yang baru sekali melihat Nasrudin di mimbar, kontan menjawab, “Tidak tahu!”&lt;br /&gt;“Wah, jika kalian belum tahu samasekali apa yang akan saya sampaikan, ini akan menjadi percuma. Pembicaraanku tidak akan dimengerti bila tanpa persiapan. Oleh karenanya, daripada memakan waktu, saya permisi saja.” Nasrudin lalu turun dari mimbar, tidak menyampaikan petuah seperti yang diharapkan hadirin.&lt;br /&gt;Karena begitu ingin mendengar petuah dari Nasrudin, keesokan harinya warga kembali mendaulat Nasrudin naik mimbar.&lt;br /&gt;“Saudara-saudara, apakah kalian mengetahui apa yang akan saya sampaikan?” Nasrudin mengulang pertanyaan, seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;Warga tidak ingin mengulang kejadian pertama. Semua serempak menjawab, “Tahu!”&lt;br /&gt;“Jika kalian sudah tahu apa yang akan saya sampaikan, maka percuma jika harus mengulang hal itu dalam pembicaraan saya. Daripada membuang waktu, saya permisi.”&lt;br /&gt;Nasrudin pun kembali turun dari mimbar, tidak berbicara sesuai dengan yang diharapkan hadirin. &lt;br /&gt;Kejadian kedua membuat warga penasaran. Maka Nasrudin diminta naik mimbar untuk kali ketiga.&lt;br /&gt;“Saudara-saudara, apakah kalian tahu apa yang akan saya sampaikan?”&lt;br /&gt;Hadirin, yang sudah mengatur siasat sebelumnya, mempunyai jawaban yang berbeda. Jamaah lelaki menjawab, “Tahu!” Jamaah wanita menjawab, “Tidak tahu”&lt;br /&gt;“Jika benar di antara kalian ada yang tahu dan tidak tahu, maka yang tidak tahu mencaritahu kepada yang tahu. Yang tahu harus memberitahu yang tidak tahu,” kata Nasrudin. Ia pun turun dari mimbar. Sampai kali ketiga, ia tetap dapat “mengalahkan” warga. Ia tidak berbicara sesuai dengan keinginan hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menasehati Sesama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas memang kisah jenaka. Suatu hal yang bagi kebanyakan kita, cocok diutarakan untuk mengisi waktu luang. Namun, tampaknya kita patut memberi apresiasi tersendiri terhadap sikap Nasrudin Hoja—sosok imajiner dalam budaya Islam semasa Timurlenk; yang mirip seperti Abu Nawas, Kabayan, Kancil, dsb., yang ada dalam dongeng anak-anak.&lt;br /&gt;Kisah Nasrudin, yang kita dapati dalam buku-buku humor sufistik itu, seolah ingin mengingatkan  (baca: menertawakan) tentang perilaku (ganjil) kita.&lt;br /&gt;Hari ini, kita punya ketergantungan yang besar kepada para tokoh, pemimpin masyarakat, ulama, kiyai, ustad, atau sosok tertentu yang lain. Dari merekalah kita banyak berharap. Kita berharap petunjuk, arahan, dan teladan hidup. Sampai-sampai, kita mungkin tidak menyadari betapa besarnya ketergantungan kita pada para pemimpin tersebut.&lt;br /&gt;Maka, ketika para pemimpin itu berbuat salah, atau tidak menjalankan fungsi sebagaimana yang kita bayangkan, yang ada hanyalah cerita miris. Ada jamaah salat yang bubar karena yang biasa menjadi imam tidak hadir. Ada anggota jamaah yang ‘mogok’ ngaji karena ustadnya pergi. Ada juga jamaah yang kecewa dengan perilaku yang ia anggap salah dari ustadnya, lantas tak pernah lagi datang ke pengajian.&lt;br /&gt;Maka kita perlu belajar dari kisah Nasrudin di muka. Ketidakmauan Nasrudin menyampaikan petuahnya di mimbar selayaknya kita pahami sebagai peringatan terhadap penyakit ketergantungan kepada tokoh (figuritas). Padahal, proses memberi tahu, ingat-mengingatkan, memberi nasehat, bisa dilakukan sesama kita.&lt;br /&gt;Mari kita simak pesan Nasrudin pada ”khutbah-”nya yang terakhir. Kata-kata Nasrudin “..yang tidak tahu mencaritahu kepada yang tahu. Yang tahu harus memberitahu yang tidak tahu..” selayaknya dapat kita pahami sebagai bahasa lain dari anjuran saling ingat-mengingatkan sesama. Tidak bisa perkara ini hanya dilakukan oleh para pengkhutbah. Inilah makna saling memberi taushiyah, nasehat-menasehati,  seperti yang dipesankan Al Qur’an.&lt;br /&gt;”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS Al Ashr: 1-3).&lt;br /&gt;Begitu besarnya makna yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut, Imam Syafi’i memberi komentar khusus tentang surah ini. Sekiranya Allah, kata Imam Syafi’i,  hanya menurunkan surah Al Ashr dan tidak menurunkan surah-surah yang lain, niscaya sudah cukuplah sebagai peringatan. Menurut Imam Syafi’i, surah Al Ashr sudah mengandung keseluruhan makna utama agama ini. Keimanan kepada Allah; yang diwujudkan dalam amal shalih; saling berwasiat dalam menaati kebenaran; dan sabar atas ujian, adalah ajaran utama Islam yang keseluruhannya sudah tercantum dalam Surah al Ashr. Jadi, Nasrudin mengingatkan kita tentang makna saling berwasiat.&lt;br /&gt;Banyak yang tidak menyadari bahwa ustad/kiyayi juga bisa berbuat salah. Artinya, ia juga manusia biasa yang perlu ada yang mengingatkan. Yang mengingatkan tentu orang yang paling dekat dengannya. Mereka itu bisa anggota jamaah atau rekan kerjanya. &lt;br /&gt;Bila ada “kanal” yang tersumbat untuk saling mengingatkan, maka yang ada berikutnya hanyalah kemudharatan. Kebaikan itu dimonopoli oleh segelintir orang yang antikritik. Ada sekelompok orang yang merasa superior (“tinggi hati”) dan ada yang merasa inferior (“rendah diri”). Inilah penyakit yang terjadi pada agama-agama sebelum Islam. Nilai kebenaran itu menjadi monopoli para rahib atau pendeta, sehingga yang muncul berikutnya hanyalah kesalahan yang semakin berkelindan. “La rahbaniyyata fil Islam.Tidak ada sistem kependetaan dalam Islam,” tegas Rasulullah saw.&lt;br /&gt;Begitulah. Nasrudin lewat aksi jenakanya, ternyata memberi pelajaran berharga kepada kita tentang makna saling memberi nasihat. Sesuatu yang mesti dilakukan oleh sesama Muslim, bukan hanya diserahkan kepada para pemimpin, ustad, kiyayi, atau para pengkhutbah. &lt;br /&gt;Semoga Allah merahmati Abu Bakar As Shidiq. Sosok generasi awal para sahabat assabiqunal awwalun) ini mempunyai andil besar dalam menghapus penyakit figuritas yang sempat menghinggapi para sahabat. Ketika Rasululullah wafat, Madinah guncang. Para sahabat banyak yang tidak siap, bahkan tidak percaya dengan peristiwa tersebut. Sampai-sampai Umar bin Khattab membuat pernyataan emosional. ”Barangsiapa mengatakan Muhammad mati, niscaya akan aku bunuh!”&lt;br /&gt;Apa yang kemudian dikatakan Abu Bakar? Seraya menyitir QS Ali Imraan: 144), Abu Bakar berkata,  ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka persaksikanlah,  bahwa Muhammad  telah mati. Maka barangsiapa menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tak akan pernah mati.” Kata-kata Abu Bakar begitu mengena di hati para sahabat. Umar bin Khattab terduduk lemas. ”Aku seperti baru pertama kali mendengar ayat tersebut,” desahnya. Walhasil, Abu Bakar berhasil menghilangkan penyakit figuritas.&lt;br /&gt;Hari ini, kita masih menyaksikan banyak kerusakan. Salah satu penyebabnya karena kesalahan para pemimpin. Kerusakan itu seperti bertambah akut. Kita patut instrospeksi, jangan-jangan hal tersebut karena kita telah ”menyembah” para pemimpin kita—seperti kata Abu Bakar. Kita terlalu menggantungkan diri pada orang lain (pemimpin), dan tak mau saling ingat-mengingatkan. ***&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-377869102770294772?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/377869102770294772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=377869102770294772&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/377869102770294772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/377869102770294772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/penyakit-kita-figuritas.html' title='Penyakit Kita: Figuritas'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5851072935433422146</id><published>2008-08-14T03:47:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:48:35.626-07:00</updated><title type='text'>‘Berteman’ dengan Rasulullah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(TQS Al Ahzab: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pernah membaca kisah dan tulisan Karen Armstrong? Ia pernah menjadi biarawati Katolik Roma selama tujuh tahun sebelum menjadi seorang ilmuwan. Ia melakukan penelitian serius dan menulisnya dalam sebuah buku lumayan tebal tentang &lt;em&gt;The History of God&lt;/em&gt; (Sejarah Tuhan). Tuhan kaum Muslimin mendapat tempat istimewa dalam buku tersebut. Ia menyelidiki lagi kehidupan Paulus, tidak sebagai pemeluk Katolik, tetapi sebagai peneliti yang netral, dan menghasilkan serangkaian acara TV yang kontroversial: &lt;em&gt;The First Christian&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Akhirnya, ia mencoba memahami Islam dengan meneliti tokoh utamanya, Muhammad saw.. Ia melaporkan hasil penelitiannya dalam &lt;em&gt;Muhammad: A Western Attempt to Understand Islam&lt;/em&gt;—edisi terjemahannya sudah dapat kita baca dari beberapa penerbit buku.&lt;br /&gt;Ketika melaporkan kehidupan Paulus, mantan biarawati Katolik tersebut menggambarkan Paulus seperti seorang kritikus. Namun, ketika melaporkan Muhammad saw., ia nampak sebagai pembela Muhammad yang luar biasa. Dengan jeli dan gigih ia menjelaskan kekeliruan pandangan Barat tentang Rasulullah saw. Ia begitu terlihat membela kehormatan Rasulullah lebih tajam dan lebih jernih daripada Husain Haikal, penulis sejarah Rasulullah yang masyhur itu.&lt;br /&gt;Mari kita simak salah pembelaan Karen Armstrong. Salah satu keberatan kebanyakan orang Barat dari pribadi Muhammad adalah keterlibatan beliau dalam berbagai kegiatan politik. Bagaimana mungkin seorang tokoh kesucian ruhaniah ikut serta dalam kegiatan yang berkaitan dengan kekuasaan duniawi? Bagaimana mungkin seorang Nabi membunuh sesama manusia dalam berbagai peperangan?&lt;br /&gt;Karena Armstong menulis panjang lebar. Kita simak penggalannya. ”Tahun-tahun yang penuh gejolak di Madinah telah menunjukkan betapa sulitnya dan betapa berbahayanya mencoba membangun kembali masyarakat sesuai rencana Tuhan. Al Qur’an tidak meminta orang Islam meninggalkan akal sehatnya atau duduk berpangku tangan menunggu Tuhan untuk menyelamatkan mereka dengan mukjizat. Islam adalah agama praktis dan realistis, yang melihat intelegensi manusia dan wahyu Ilahi berada berdampingan dan bekerjasama secara serasi.”&lt;br /&gt;”Daripada berkelana dengan cara yang tidak duniawi di sekitar bukit-bukit Galilea, berkhutbah dan menyembuhkan seperti Yesus dalam Gospel, Muhammad harus terlibat dalam perjuangan politik untuk mereformasi masyarakatnya dan para pengikutnya bersumpah untuk melakukan perjuangan ini.”&lt;br /&gt;”Muhammad berhasil menciptakan masyarakat Madinah yang kuat dan lepas dari kekacauan di sekitarnya. Kelompok kabilah lainnya mulai bergabung, walaupun tidak seluruhnya komit dengan visi keagamaannya. Supaya tetap hidup, umat harus kuat dan perkasa, tetapi tujuan utama Muhammad bukan kekuatan politik tetapi menciptakan masyarakat yang baik.”&lt;br /&gt;”Tantangan untuk mewujudkan kehendak Tuhan dalam sejarah manusia tak akan pernah berakhir: akan selalu ada bahaya dan masalah baru yang harus dihadapi. Kadang-kadang orang Islam harus berperang, kadang-kadang mereka harus hidup dalam kedamaian, tetapi mereka telah memulai suatu proyek untuk menyelamatkan sejarah dan juga individu, untuk membuat apa yang seharusnya menjadi realitas yang hidup di dunia ini.”&lt;br /&gt;Begitulah. Saat Karen Armstrong melaporkan perilaku Rasulullah terhadap para isterinya, ia juga menjelaskan betapa Muhammad sangat memuliakan isterinya, demokratis, dan adil.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pesona Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karen Armstrong bukanlah orang Barat yang kali pertama menulis tentang kekagumannya terhadap Rasulullah saw. Para ilmuwan yang komprehensif mengkaji kehidupan Rasulullah pasti akan mengakui pesona tersebut, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. “Jika kita mengukurnya kebesarannya dengan pengaruh, dia seorang raksasa sejarah. Ia berjuang meningkatkan tahapan ruhaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan kegersangan gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu manapun, belum pernah ada orang  yang begitu berhasil mewujudkan mimpinya seperti dia,” tulis Will Durrant dalam &lt;em&gt;The Story of Civilizaton&lt;/em&gt;. “Dia datang  seperti sepercik sinar dari langit, jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir mesiu yang membakar angkasa Delhi ke Granada,” ujar Thomas Carlyle dalam &lt;em&gt;On Heros and Hero Worship&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Karen Armstrong, Will Durrant, dan Thomas Carlyle adalah ilmuwan Barat yang hidup jauh dari Rasulullah. Mereka tak pernah melihat Rasulullah. Bahkan merekapun tidak beriman dengan ajaran yang dibawa Rasulullah saw. Mereka hanya menyaksikan lewat lembaran sejarah yang sampai kepada mereka. Mereka adalah orang yang kebetulan tertarik mempelajari  budaya Timur (oriental). Tetapi pesona dan pengaruh kepemimpinan Nabi Muhammad saw. begitu membekas, sehingga mereka berusaha melukiskan kebesaran Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peringatan Maulid Nabi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa yang membekas dalam diri kita setelah memperingati Maulid Nabi Muhammad saw pekan-pekan ini? Jangan-jangan, ini telah menjadi rutinitas yang tidak lagi membekas di hati. Atau, kita kalah akrab dengan para ilmuwan Barat itu dalam mengetahui sejarah Nabi kita sendiri.&lt;br /&gt;Memang ironis bila orang-orang yang sejatinya tidak mengimani agama itu, malah lebih tahu tentang sejarah Muhammad. Namun, ini telah menjadi fakta, banyak di antara kita yang tidak familiar dengan sejarah Rasulullah. Alih-alih mengkhatamkan, jarang yang telah membaca buku-buku Sirah Nabawiyah. Lantas, bagaimana kita mengamalkan suruhan Allah untuk meneladani Rasul-Nya (seperti perintah dalam QS Al Ahzab: 21) bila kita tidak mengetahui sejarah hidupnya?&lt;br /&gt;            Banyak para ulama besar yang telah menulis sejarah Rasulullah dalam berbagai sudut pandang yang disertai komentar dan ibrah (pelajaran) yang dapat kita ambil. Hampir-hampir tak ada perilaku Rasulullah yang tidak terekam oleh para sahabat dan ditulis oleh para ulama. Semua lengkap mewakili permasalahan hidup kita, bahkan untuk sesuatu yang mungkin kita anggap sepele. Semua tersusun sistematis lewat metode periwayatan yang terpercaya. Dengan mudah kita dapat mengetahui derajat sahih (=kuat, benar) atau dhaif (=lemah, palsu) tentang sebuah hal yang disandarkan kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;Peringatan Maulid Nabi tahun ini tampak perlu kita khususkan membeli buku sirah Nabawiyah. Perlu ada prioritas antara membeli buku dengan pulsa telepon—atau kebutuhan kurang mendesak yang lain. Ya. Sesungguhnya kita cukup mampu untuk itu. Buku-buku Sirah Nabawiyah bukan hal yang terlampau mahal bila kita dapat menentukan priotas.&lt;br /&gt;Dengan menyimak sirah, ”pertemanan akrab” dengan Rasulullah akan kita dapati. Rasakan, betapa Rasulullah seperti menjelma dalam keseharian kita. Ya. Rasulullah laksana teman karib dan sahabat yang tulus memberi solusi. Banyak masalah dalam keseharian kita yang telah dialami Rasulullah. Nothing new under the sun, tidak ada yang baru di bawah matahari. Ada relevansi antara sikap Rasulullah dengan apa yang yang (harus) kita lakukan saat ini. Ruang dan waktu saja yang sedikit membedakan.&lt;br /&gt;Dari pengetahuan kita tentang sejarah Rasulullah, dari  pelajaran keagungan akhlak dan keteguhan prinsip beliau, tidak ada permasalahan yang tanpa penyelesaian. Kita dapat menyelesaikan permasalahan yang mengimpit saat ini, secara bijak dan benar. ***&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5851072935433422146?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5851072935433422146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5851072935433422146&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5851072935433422146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5851072935433422146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/berteman-dengan-rasulullah.html' title='‘Berteman’ dengan Rasulullah'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5186339367493654797</id><published>2008-08-14T03:46:00.001-07:00</published><updated>2008-08-14T03:46:48.688-07:00</updated><title type='text'>Bertahan dalam Kesadaran</title><content type='html'>“&lt;strong&gt;Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(QS Al Hadiid: 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kali, bencana itu kembali menghampiri. Dengan bentuknya yang beragam. Rasanya, belum usai kisah pencarian korban hilangnya pesawat terbang dan kapal laut itu kita dengar. Tapi begitulah, Jakarta dilanda banjir, merendam lebih dari 50% wilayah ibukota negara RI itu. Halaman pertama (headline) koran serasa tak pernah sepi mengabarkan kisah ”horor.”  Dari satu bencana ke bencana yang lain, dari kisah pilu ke kisah pilu yang lain. Bencana itu seolah telah menjadi rutinitas, dalam keseharian kita.&lt;br /&gt;Seringnya bencana itu terjadi akan mempunyai dampak psikologis yang berbeda. Dalam bentuknya yang positif dan negatif. Bencana bisa menjadi shock therapy untuk mengingatkan seseorang—atau masyarakat secara kolektif, akan kekuasaan Allah. Bencana dapat menjadi cermin, betapa manusia diliputi keterbatasan. Berikutnya bencana dapat menjadi sarana ”menemukan” Tuhan. Bencana kemudian menjadi awal introspeksi, memperbaiki perilaku, untuk menyongsong hari depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Namun, berbagai bencana (alam) itu juga potensial menimbulkan ”bencana kemanusiaan” lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Yaitu ketika banyak orang menjadi imun (kebal) dengan peristiwa semacam itu. Maka, bencana seperti hanya menjadi deretan angka korban dan jumlah kerugian di koran dan televisi. Kalaupun menjadi bahan diskusi, maka yang ada adalah perbincangan tentang siapa yang harus disalahkan. Tidak banyak lagi yang tergerak memberikan pertolongan. Bencana disikapi biasa saja. Seolah masalah selesai dengan menyatakan (salah satunya) bahwa bencana alam banjir adalah siklus lima tahunan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berlalunya masa yang panjang memang potensial menghilangkan kepekaan. QS Al Hadiid: 16 yang dinukilkan di muka memberi pelajaran kepada kita tentang masalah ini. Hati menjadi keras seiring dengan kondisi keimanan yang lemah. Ibadah menjadi rutinitas yang kehilangan makna. Dalam pergaulan, hal ini bisa menjadi sikap antisosial, tidak peduli dengan orang sekitarnya.&lt;br /&gt;Proses perenungan, menundukkan hati seraya mengingati Allah dengan khusyu,’ (seperti termaktub dalam ayat QS Al Hadiid: 16 di muka) adalah kebiasaan yang selayaknya kita lakukan.”Duduklah bersama kami, biar kita beriman sejenak,” ujar Ibnu Mas’ud. Dalam nasehatnya, Ibnu Mas’ud mengajak kita untuk melakukan penghentian untuk memperbaharui keimanan. Seperti kebiasaan para pelaku bisnis itu. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukan penghentian untuk menata ulang bisnis mereka.&lt;br /&gt;Berhenti untuk melakukan perenungan itu kita perlukan agar kita tidak salah orientasi. Kita perlu memantau keseimbangan terhadap perubahan yang terjadi di sekeliling kita, untuk menentukan pilihan sikap yang selalu berada di atas koridor kebenaran. Kita perlu terus mengasah kepekaan, untuk menyikapi semua peristiwa dalam konteks keimanan.&lt;br /&gt;Berhenti untuk melakukan perenungan itu harus menjadi tradisi. Inilah yang kita pahami dari sunnah melakukan i’tikaf di masjid, seperti yang secara khusus disunahkan  pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bahkan, Allah juga telah menanamkan kegemaran berkhalwat pada diri Muhammad sebelum menjadi Rasul. Umar bin Khattab pun mempunyai kebiasaan i’tikaf di Masjidil Haram sekali sepekan di masa jahiliyah.&lt;br /&gt;Hari-hari panjang dengan ragam bencana ini pasti menguras energi jiwa yang kita miliki. Tradisi perenungan semacam itu kita perlukan sehingga diam kita tidak berubah menjadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna, dan ragam  peristiwa itu membuahkan perilaku tercela. Kita perlu mengisi hati dengan energi yang tercipta dari kesadaran baru, semangat baru, harapan baru, dan keberanian baru.&lt;br /&gt;Energi yang tercipta dari kesadaran semacam itulah yang kemudian akan terus berbuah manis. Seperti energi kesadaran untuk terus menolong, memberi, dan berbagi, yang dicontohkan Rasulullah. Utusan Allah itu bahkan disebut sebagai ”orang yang tak takut miskin karena memberi.” Dialah yang menanamkan prinsip menolong orang lain untuk menolong diri sendiri. Ia bersabda, ”Allah swt. selalu menolong seorang hamba, selama hamba itu selalu menolong saudaranya.” Sabdanya yang lain, ”Barangsiapa memberi kemudahan kepada saudaranya, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di akherat.”&lt;br /&gt;Buah manis dari kesadaran itu juga akan muncul saat menyikapi bencana yang dialami. Seperti kisah para isteri yang kehilangan suaminya pada peristiwa karamnya KM Senopati Nusantara, awal tahun ini. Bersama-sama, kala menunggu proses pencarian, mereka saling menguatkan hati dengan saling menasehati, saling membantu, salat berjamaah, dan salat tahajud bersama. Hal itu kemudian membuahkan persaudaraan yang tulus. Itulah anugerah Allah yang mampu meringankan beban yang mereka derita.&lt;br /&gt;Kita berharap bencana yang terjadi tidak lagi melahirkan tragedi. Kita tidak ingin ada ”bencana di atas bencana.” Sesuatu yang muncul karena penyikapan yang salah. Seperti perilaku imun (kebal) untuk tidak lagi peduli dengan bencana itu. Atau ekspresi putus asa karena bertubi-tubinya bencana. Putus asa untuk terus mau memberi; putus asa untuk terus berharap rahmat dari Allah.&lt;br /&gt;Allah mencela orang yang berputus asa. Bahkan putus asa itu Allah golongkan sebagai perilaku orang kafir. Orang yang mati karena sikap putus asa tidak akan diterima pahalanya. Rasulullah tidak mau menyalatkan orang yang mati bunuh diri (=karena putus asa). Mereka dihukumi kekal di neraka karena keputus-asaannya itu. Na’udzubillah.&lt;br /&gt;”Dan orang-orang yang mengingkari (kafir)  terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS Al Ankaabut: 23). ***&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5186339367493654797?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5186339367493654797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5186339367493654797&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5186339367493654797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5186339367493654797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/bertahan-dalam-kesadaran.html' title='Bertahan dalam Kesadaran'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-4833289221303172753</id><published>2008-08-14T03:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:45:54.514-07:00</updated><title type='text'>Masa Depan yang Lebih Baik</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikannya berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai, dan Dia benar-benar akan merubah keadaan ketakutan menjadi aman sentausa…”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS An Nuur: 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum Ibu itu merekah ketika sekuntum bunga itu ia terima. Walau ia perlu menghentikan mobilnya, aksi simpatik di Bundaran Gajah (Bandar Lampung) menarik perhatiannya. ”Ini dalam rangka Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia,” terang si pemberi bunga. Wajah si Ibu nampak berubah. ”Wah susah, nggak mungkin, ini sangat sulit, ” ujarnya seraya menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;Berfikir optimis, di tengah fakta buruk yang telah mendarah daging dan dilakukan sebagian besar orang, adalah sikap yang sulit dilakukan. Apalagi saat merasa berbagai upaya telah dilakukan dan gagal, akan mudah muncul pesimisme dan keputus-asaan. Usaha-usaha perbaikan dianggap laksana menggantang asap. Menghapus ”budaya” korupsi, seperti penggalan dialog di atas, merupakan salah satu contohnya. Sepertinya hanya mimpi jika masa depan (Indonesia) yang bebas korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kebangkitan Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sikap optimisme terhadap masa depan Islam juga menghadapi kendala seperti di atas. Banyak fakta yang kurang menggembirakan dialami oleh umat Islam. Islam yang lebih baik, disegani umat yang lain, menjadi pemimpin peradaban di masa mendatang, adalah impian musykil dalam pandangan banyak orang.&lt;br /&gt;Namun, berbagai kecenderungan/fenomena yang muncul pada beberapa masa terakhir ini tampak penting dicermati. Masa depan Islam tampak akan lebih baik. Islam sedang mengalami kebangkitan lagi.&lt;br /&gt;Kebangkitan agama dan demokratisasi, sebagaimana dinyatakan John L. Esposito (1995), adalah dua fenomena paling penting dalam dasawarsa terakhir abad kedua puluh. Tak kurang Naisbitt dan Aburdene dalam bukunya Megatrends 2000, juga menyebut tentang bangkitnya kembali kehidupan beragama di Abad ke-21. Futorolog (ahli pemerkira masa depan) tersebut mengungkapkan tentang spiritualitas umat manusia yang akan mencapai puncaknya pada abad ke-21.&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang dapat kita sebut sebagai icon dan fakta kebangkitan Islam saat ini.&lt;br /&gt;Pertama, keberadaan ajaran agama (doktrin religius) yang dijadikan sebagai identitas/simbol sosial. Jilbab tampak mewakili fenomena ini. Jilbab yang dikenakan oleh para muslimah dapat kita sebut sebagai fenomena yang baru. Sepuluh tahun yang lalu, kita menyaksikan bahwa mereka yang memakai jilbab adalah golongan minoritas di masyarakat. Bahkan di seluruh negeri-negeri Muslim, jilbab menjadi barang asing yang hanya dipakai oleh orang tua atau mereka yang punya status sosial tertentu di masyarakat—mereka yang sudah melaksanakan haji misalnya. Namun saat ini, jilbab dengan mudahnya kita temui dikenakan para muslimah bukan hanya di forum pengajian keislaman, tapi juga di kantor, sekolah umum, kampus perguruan tinggi, dan tempat-tempat umum lain.&lt;br /&gt;Sudut pandang budaya, bahwa alasan mengenakan busana muslimah bukan atas pertimbangan doktrin religius an sich adalah hal yang cukup menarik. Di kalangan muslimah Mesir sebagaimana diteliti oleh Esposito (1992), pemakaian jilbab banyak didasari atas motif mencari identitas sosial bagi para Muslimah. Fenomena ini juga sama terjadi di Iran dan Yordan. Berdasarkan wawancara berbagai harian dengan pemuda-pemudi yang menggunakan jilbab di Universitas Teheran dan di Universitas Yordan, mereka mengakui mengenakan pakaian tersebut—dengan seringkali melawan pendapat ibu dan nenek mereka yang berkeberatan–bukan karena alasan-alasan agama semata. Busana tersebut memberi mereka suatu identitas. Jadi, melalui jilbab mereka tahu siapa diri mereka, dalam ‘blue jeans’ mereka tidak tahu identitas pribadi mereka (GH Jansen,1981).&lt;br /&gt;Di Indonesia, fenomena tersebut nampaknya tak jauh berbeda. Diawali dari kelompok-kelompok kajian agama di kampus, yang dahulunya juga tak luput dari fitnah dan rintangan, jilbab selanjutnya menjadi trend yang menunjukkan pertambahan terus menerus. Sebagaimana di negeri-negeri muslim yang lain, jilbab adalah fenomena perkotaan, yaitu kesadaran religius yang identik dengan komunitas terdidik, kelompok menengah Muslim, dan status sosial yang mapan. Jilbab menjadi trend di kalangan mahasiswa di perguruan tinggi, bahkan para selebritis/artis. Maka selanjutnya ini menimbulkan kesan—dengan keragaman jilbab yang mereka kenakan—bahwa mereka tetap bisa tampil elegan, modis, ramah, dan “modern” jauh dari kesan ”kampungan.”&lt;br /&gt;Masyarakat kampus perguruan tinggi negeri (PTN), sebagaimana kesan penulis, tampak sebagai kelompok yang paling apresiatif dalam hal kesadaran religius ini. Muslimah yang berjilbab (mulai) tampak menjadi mayoritas dibandingkan yang tidak mengenakan jilbab, terutama di fakultas eksakta (ilmu pasti). Hal ini juga diikuti dengan maraknya berbagai kajian keislaman, daurah (pelatihan), dan nasyid (musik religius yang sarat pesan-pesan moral dengan ekspresi khas). Secara nyata, hal ini telah mengubah citra kampus ”sekuler” (baca: sekolah umum, bukan sekolah agama), feodal dan hedonis, menjadi “pesantren modern.” Kampus terasa menjadi lebih Islami, egaliter, sederhana, dan religius. Kesadaran budaya semacam ini layaknya oase di tengah maraknya ografi yang sering membuat prihatin.&lt;br /&gt;Kedua, identitas dan simbol-simbol religius dalam ranah politik. Kesadaran agama diatas nampaknya tidak hanya menyentuh aspek kultural saja. Sebagaimana dinyatakan Esposito, kesadaran untuk mengenakan jilbab para muslimah di Iran adalah permulaan penting dalam revolusi Iran yang menyebabkan tumbangnya rezim Reza Pahlevi. Pemahaman normatif tentang nilai komprehensif Islam nampaknya menyentuh seluruh aspek. Agama juga merambah ranah pemerintahan (negara). Dan hal ini secara simultan dapat ditemui di seluruh negeri-negeri Muslim. Kemenangan FIS— partai yang disebut kalangan Barat sebagai partai kaum fundamentalis Islam—dalam Pemilu di Al Jazair, Partai Refah di Turki, penerapan syariat Islam di Sudan, adalah beberapa contoh realitas kontemporer tentang kiprah nyata Islam politik.&lt;br /&gt;Yang menarik, kemenangan partai-partai tersebut adalah buah dari dukungan dan simpati masyarakat yang menilai kiprah mereka bukan karena alasan-alasan ideologis/agama semata, tetapi lebih karena karena aksi-aksi nyata mereka dalam pembelaan rakyat dan pembangunan negara. Kelompok Islam ini adalah representasi dari apa yang disebut sebagai kelompok ”neorevivalis Islam.” Berbasis kuat di kalangan terpelajar, mereka mempunyai soliditas kerja tim yang kuat. Mereka menjadi pelopor dalam aksi-aksi sosial, bencana alam, dan kegiatan kemasyarakatan yang lain. Bahkan, seringkali mereka lebih cepat dari pemerintah dalam pengorganisasian bantuan. Kemenangan JDP (Justice and Development Party), partai yang merupakan metamorfosis Partai Refah di Turki, didukung oleh aksi-aksi simpatik kelompok neorevivalis Islam itu. Kelompok neorevivalis Islam di Indonesia ini tampak mudah ditemui di kalangan Islam muda terpelajar.&lt;br /&gt;Ketiga, keberadaan sistem ekonomi syariah yang berkembang dinamis dan sudah menyentuh berbagai bentuk transaksi ekonomi. Secara normatif Islam mempunyai sistem ekonomi yang mengatur prinsip-prinsip dasar muamalah yang dibolehkan dan dilarang. Haramnya riba, adalah masalah dasar yang diatur oleh Islam tapi kesulitan dalam implementasinya. Tahun 1950-an, ungkap Chapra (1999), keberadaan sistem ekonomi syariah baru ada dalam wacana-wacana akademis yang belum mempunyai perwujudan riil. Sepuluh tahun terakhir, bank-bank syariah ternyata menunjukkan perkembangan pesat. Dari sekadar arus pinggiran dalam aktivitas ekonomi perbankan, bank syariah ternyata berubah menjadi alternatif bagi paradigma ekonomi yang berkeadilan. Indonesia walaupun relatif ketinggalan dibandingkan dengan negeri Muslim yang lain, juga menunjukkan perkembangan pesat. Fatwa tentang bunga bank yang dahulunya dianggap halal (ataupun makruf) karena alasan-alasan darurat, sekarang Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tegas menyatakan bahwa bunga bank itu haram. Keberadaan lembaga pengelola zakat yang himpunannya terus meningkat dari waktu ke waktu juga dapat disebut sebagai buah kebangkitan dari ekonomi syariah.&lt;br /&gt;Ketiga fenomena di atas, bila kita cermati mendalam, akan melahirkan simpulan bahwa masa depan Islam pasti akan lebih baik. Tidak ada alasan untuk bersikap pesimis. Dan, pada dasarnya, Islam memang tidak membolehkan pemeluknya bersikap pesimis. Ya. Bukankah jika tidak sukses di dunia, sebagai mukmin, ada sukses akhirat yang akan kekal selamanya? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-4833289221303172753?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/4833289221303172753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=4833289221303172753&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/4833289221303172753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/4833289221303172753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/masa-depan-yang-lebih-baik.html' title='Masa Depan yang Lebih Baik'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-7693542410584163098</id><published>2008-08-14T03:41:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:43:18.346-07:00</updated><title type='text'>Tuhan Sembilan Senti (Haramnya Rokok)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(TQS Al Baqarah: 195).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buya Ahmad Syafii Maarif, tokoh salah satu ormas Islam terbesar di negeri ini, dalam kolom Republika (5/7) mengingatkan kita tentang salah satu penyebab utama kemiskinan di negeri ini. Kemiskinan itu bukan perkara politik an sich seperti yang riuh dibicarakan orang. Penyebabnya adalah perilaku boros sebagian besar masyarakat. Ada triliunan uang yang dibakar setiap hari secara sia-sia di semua negara lewat kebiasaan merokok.&lt;br /&gt;Indonesia, kata Taufiq Ismail dalam puisinya, adalah surga yang luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok. Ya. Hampir tak ada tempat yang bebas dari asap rokok. Di kebun, di pasar, sekolah, ruang kantor ber-AC, sampai tempat pengajian. Dengan nada sinisme, Taufiq Ismail bersajak, “Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya...Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?... Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, [yang] diam-diam menguasai kita...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Kompleks&lt;br /&gt;Sinisme Taufiq Ismail rasanya tak berlebihan. Rokok memang mengakibatkan efek yang sangat kompleks. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan hampir sekitar 700 juta anak atau sekitar setengah dari seluruh anak di dunia ini, termasuk bayi yang masih menyusu pada ibunya, terpaksa menghisap udara yang sudah terpolusi oleh asap rokok. Bukan hanya menurut WHO, tetapi lebih dari 70 ribu artikel ilmiah membuktikan dampak buruk rokok. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4000 racun kimia berbahaya, dan 43 diantaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Berbagai zat berbahaya itu adalah tar, karbon monoksida (CO), dan nikotin.&lt;br /&gt;Akibatnya, berbagai penyakit kanker pun mengintai, seperti: kanker paru-paru—90% kanker paru pada laki-laki disebabkan rokok, dan 70% untuk perempuan, kanker mulut, kanker bibir, asma, kanker leher rahim, jantung koroner, darah tinggi, stroke, kanker darah, kanker hati, bronchitis, kematian mendadak pada bayi, bahaya rusaknya kesuburan bagi wanita dan impotensi bagi kaum pria. Prosentase kematian disebabkan rokok adalah lebih tinggi dibandingkan karena perang dan kecelakaan lalulintas.&lt;br /&gt;Dampak asap rokok bukan hanya untuk si perokok aktif (active smoker) saja. Ia pun punya dampak sangat serius bagi perokok pasif (passive smoker). Perlu diketahui, jika seseorang merokok, itu berarti dia hanya menghisap asap rokoknya sekitar 15% saja, sedangkan 85% lainnya akan dilepaskan dan akhirnya dihisap oleh para perokok pasif.  Orang yang tidak merokok (passive smoker), tetapi terpapar asap rokok akan menghirup dua kali lipat racun yang dihembuskan pada asap rokok oleh si perokok. Ini zalim, sangat tidak adil; tidak merokok, tetapi malah menghirup racun dua kali lipat.  Pengaruh asap rokok pada perokok pasif adalah tiga kali lebih buruk daripada debu dan batu bara.&lt;br /&gt;Begitu bahayanya, tidak heran jika menurut estimasi WHO, pada 2020 dampak tembakau di negara maju akan menurun drastis. Mereka paham betapa bahayanya rokok. Trend tersebut terlihat jelas. Pada 1996 mencapai 32%, namun pada 2001 menurun hanya 28%. Namun, di negara-negara berkembang trend konsumsi tembakau malah mengalami kenaikan, yaitu 68% pada 1996, menjadi 72% pada 2001. Maka wajar, jika hampir 50% (sekitar 4,2 juta jiwa) kematian akibat tembakau pada 2020 terjadi di wilayah Asia, khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia.&lt;br /&gt;Rokok memang memberikan kontribusi signifikan bagi negara berupa cukai. Tahun 2004 cukai rokok sebesar Rp. 27 trilyun. Belum lagi kontribusi sektor pertanian dan tenaga kerja. Namun, itu semua sebenarnya hanya ilusi belaka. Sebagai contoh, jika Pemerintah mendapatkan Rp. 27 trilyun, berapa sebenarnya biaya kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat? Menurut data di berbagai negara, dan juga Indonesia , biaya kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat sebesar 3 kali lipat dari cukai yang didapatkan. Jadi, kalau cukainya Rp. 27 trilyun maka biaya kesehatannya sebesar Rp. 81 trilyun (alias defisit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Haram!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masyarakat sudah mengerti bahaya rokok, karena dalam setiap bungkus rokok selalu ada peringatan: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.&lt;br /&gt;Karena efek buruk rokok, telah banyak ulama salih memberi fatwa haramnya rokok. Di antaranya adalah ulama Arab Saudi, Mesir, dan Syria seperti: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (Mufti Arab Saudi); Syaikh Muhammad bin Ibrahim;  Abdul Malik al-Ashami (Makkah); Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab; Syaikh Ahmad as-Sunhawy al-Bahuty al-Anjalaby; Syaikh Al-Malakiyah Ibrahim al-Qaani;  An-Najm al-Gazy al-Amiry as-Syafi’i (Syria); juga  Syaikh Yusuf Qardhawy (Qatar).&lt;br /&gt;Keharaman rokok tidaklah berdasarkan sebuah larangan yang disebutkan secara eksplisit dalam nash Al Quran atau pun Sunnah Nabawiyah. Keharaman rokok itu disimpulkan oleh para ulama di masa ini setelah dipastikannya temuan kemudharatan dari rokok seperti pemborosan harta, dampak kesehatan, dan bahayanya bagi orang lain.&lt;br /&gt;Menurut Yusuf Qardhawi, ada suatu kaidah yang menyeluruh dan telah diakui dalam syariat Islam, yaitu bahwa setiap muslim tidak diperkenankan makan atau minum sesuatu yang dapat membunuh, lambat ataupun cepat, misalnya racun dengan segala macamnya; atau sesuatu yang membahayakan termasuk makan atau minum yang terlalu banyak yang menyebabkan sakit.  Sebab seorang muslim itu bukan menjadi milik dirinya sendiri, tetapi dia adalah milik agama dan umatnya. Hidupnya, kesehatannya, hartanya dan seluruh nikmat yang diberikan Allah kepadanya adalah sebagai barang titipan (amanat). Oleh karena itu dia tidak boleh meneledorkan amanat itu.&lt;br /&gt;"Janganlah kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah Maha Belas-kasih kepadamu." (TQS An Nisaa: 29). "Jangan kamu mencampakkan diri-diri kamu kepada kebinasaan." (TQS Al-Baqarah: 195)&lt;br /&gt;Rasulullah saw. pun bersabda: "Tidak boleh (umat Islam) membuat bahaya dan membalas bahaya." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;Menurut Ustadz Ahmad Sarwat Lc, awalnya memang belum ada ulama yang mengharamkan rokok, kecuali hanya memakruhkan. Dasar pemakruhannya pun sangat berbeda dengan dasar pengharamannya di masa sekarang ini. Dahulu para ulama hanya memandang bahwa orang yang merokok itu mulutnya berbau kurang sedap. Belum ada fakta dan penelitian di masa lalu tentang bahaya sebatang rokok. Maka hukum rokok hanya sekadar makruh lantaran membuat mulut berbau kurang sedang serta mengganggu pergaulan. Apabila mereka membaca penelitian terbaru tentang racun yang berbahaya yang terdapat dalam sebatang rokok, pastilah mereka akan bergidik. Pastilah mereka akan menerima bahwa hukum rokok itu bukan sekadar makruh lantaran mengakibatkan bau mulut, tapi mereka akan sepakat mengatakan bahwa rokok itu haram, lantaran merupakan benda mematikan yang telah merengut jutaan nyawa manusia (eramuslim.com).&lt;br /&gt;Setelah umat manusia semakin merasa sumpek akibat asap rokok ini, Irlandia sejak Maret 2004 telah tampil sebagai bangsa pertama di muka bumi yang menciptakan kawasan kerja tertutup dan ruang publik, seperti restoran, bar, dan tempat-tempat umum terbebas dari asap rokok. Dalam tiga bulan kemudian disusul oleh Selandia Baru, Italia, dan Uruguay. Di DKI Jakarta—walaupun kurang efektif pelaksanaannya—telah dilansir kebijakan bertajuk larangan merokok di tempat umum dengan denda Rp. 50 juta dan kurungan 6 bulan.&lt;br /&gt;Rokok, kemiskinan, penyakit, dan corak kesia-siaan lainnya sebenarnya bersahabat sebagai sumber malapetaka. Kesadaran ini selayaknya dimiliki sebagian besar masyarakat. Maka sajak Taufiq Ismail patut dijadikan renungan. &lt;br /&gt;”Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,&lt;br /&gt;Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,&lt;br /&gt;Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,&lt;br /&gt;Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-7693542410584163098?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/7693542410584163098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=7693542410584163098&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/7693542410584163098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/7693542410584163098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/tuhan-sembilan-senti-haramnya-rokok.html' title='Tuhan Sembilan Senti (Haramnya Rokok)'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-4289222879293232174</id><published>2008-08-14T03:39:00.000-07:00</published><updated>2009-01-21T06:57:00.756-08:00</updated><title type='text'>Doa Sakti orang yang Dizalimi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(TQS Al An’am: 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lahir di tengah bangsa yang menjadikan kezaliman sebagai aturan hidupnya. Orang kaya memeras orang miskin. Orang kuat menindas orang lemah. Orang pandai memintari orang bodoh. Hukum telah digantikan oleh kekuatan otot. Might is right (kekuasaan adalah kebenaran).&lt;br /&gt;            Sejak kecil ia menyaksikan budak-budak yang diperlakukan lebih dari binatang. Mereka dipaksa bekerja dengan upah sekadar makan saja. Jika salah seorang di antara mereka melarikan diri—yang disebut ’abiq—dan ditemukan tuannya, berbagai siksaan akan diterimanya. Ia tentu melihat kesedihan dan ketakutan di wajah para ’abiq. Karena itulah, ketika ia berdoa ia membayangkan dirinya sebagai ’abiq yang dihempaskan di hadapan tuannya. Kelak, setelah menjadi Rasul, ia menyebut dirinya budak Allah. Ia memanggil Allah seperti budak memanggil tuannya, ”Anta Mawlana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Empati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejak ditinggalkan orang tuanya, ia akrab dengan derita. Ia tahu kelemahan posisi anak yatim dan orang miskin di tengah masyarakat yang ganas. Kehormatan mereka dicampakkan; penderitaan mereka dinafikan; tangisan mereka dibungkam. Karena itu, setelah diangkat menjadi Nabi, ia mengecam orang yang menganiaya anak yatim. ”Tangisan anak yatim mengguncang Arasy,” katanya mengingatkan umatnya. Ia berpesan untuk menjauhi perkara yang membinasakan manusia, yang salah satunya berawal dari memakan harta anak yatim. Ia juga memperingatkan orang kaya yang mengabaikan kesengsaraan orang miskin. Ia bersabda,” Tidaklah orang miskin lapar dan telanjang, kecuali ulah orang-orang kaya. Ketahuilah, Allah akan mengadili orang-orang kaya seperti itu dengan pengadilan yang berat dan menyiksa mereka dengan siksa yang pedih.”&lt;br /&gt;            Sejak muda ia menyaksikan penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya. Ia melihat kekuasaan selalu bersamaan dengan kezaliman. Begitu geramnya dengan kekuasaan yang zalim, utusan Allah ini bersabda,”Jauhilah pintu-pintu penguasa dan kaki tangannya. Karena, orang yang paling dekat dengan pintu penguasa dan kaki tangannya adalah yang paling jauh dari Allah.” Namun, ia juga memuji penguasa yang adil. Beliau bersabda,”Di antara yang dilindungi Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, adalah penguasa yang adil. Penguasa adalah bayangan Tuhan di muka bumi. Dengan kekuasaannya orang lemah dilindungi dan orang tertindas dibela.”&lt;br /&gt;            Singkatnya, ia, Rasulullah saw., hadir untuk membasmi kezaliman. Termasuk kezaliman suami terhadap isteri, kezaliman orang tua terhadap anak atau anak terhadap orang tua, majikan terhadap buruh, bahkan manusia terhadap binatang. Ia marah ketika mendengar sebagian sahabatnya memukuli isteri-isterinya. Di Arafah, pada haji Wada’, ia menyampaikan khutbah terakhir. Di antara sabdanya yang mengguncangkan perasaan para sahabat waktu itu berbunyi,”Wahai manusia, dengarkan pembicaraanku dan renungkan baik-baik. Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada isteri-isteri kalian. Kalian tidak memiliki mereka dan tidak memiliki kalian.”&lt;br /&gt;            Ia menyampaikan kecaman Allah kepada orang-orang zalim. ”Allah tidak suka kepada orang zalim.”(TQS Al Imraan: 57); ”Sesungguhnya tidak akan beruntung orang-orang yang zalim.” (TQS  Yusuf: 23); ”Bahkan orang zalim itu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS Luqman: 11).&lt;br /&gt;            Ketika  ia mi’raj ke langit, Allah menyapanya,” Wahai saudara pemberi peringatan! Peringatkan kaummu agar mereka tidak memasuki rumah-Ku kecuali dengan hati yang tulus, lidah yang jujur, tangan yang bersih, kehormatan yang suci. Jangan biarkan orang yang berbuat zalim kepada orang lain di antara hamba-hamba-Ku untuk masuk ke rumah-Ku, karena Aku akan terus menerus melaknat dia selama dia berdiri salat di hadapan-Ku, sampai ia mengembalikan hak orang yang dizaliminya.”&lt;br /&gt;            Ketika kembali di bumi, ia berkata,  “Ada tujuh siksa di antara hamba dengan surga. Yang paling ringan adalah kematian.” Anas bin Malik lantas bertanya,” Apa yang paling berat ya Rasulullah?” Ia menjawab, ”Berada di hadapan Allah ketika orang yang dizalimi bergantungan pada tangan orang-orang yang menzaliminya. Takutilah olehmu doanya orang yang dizalimi, sekalipun kafir, karena tak ada lagi penghalang antaranya dengan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kesinambungan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berbuat zalim adalah merampas atau menghilangkan hak-hak orang lain. Menteror adalah menghilangkan hak orang lain unutk memperoleh rasa aman. Menyiksa secara fisik adalah merampas hak orang lain untuk memelihara keselamatan dirinya. Membungkam dengan kekerasan adalah mencabut hak orang untuk menyatakan pendiriannya. Mengambil harta orang lain dengan tidak halal adalah memberangus hak miliknya. Makin banyak hak yang dirampas, makin banyak orang yang menjadi korban, makin zalimlah pelakunya. Karena perbuatan zalim itu hanya berlangsung bila tidak ada perlawanan kepadanya, maka membirkan kezaliman juga termasuk kezaliman.&lt;br /&gt;Karena itu, sepanjang risalahnya, tidak henti-hentinya Rasulullah berjuang menegakkan keadilan. Ia bukan hanya mengutuk kezaliman, ia juga mengecam orang-orang yang apatis terhadap kezaliman. Ia bersabda,” Barangsiapa yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Bila tidak sanggup, ubahlah dengan lidahnya. Bila tidak sanggup juga, ubahlah dengan hatinya. Tetapi, yang terakhir, itu adalah selemah-lemahnya iman.”&lt;br /&gt;Setelah lima belas abad risalahnya tersampaikan, ketika namanya banyak disebut dan diagungkan di berbagai majelis di belahan bumi bernama Indonesia, ragam kezaliman itu ternyata tak kunjung sirna. Seperti di Solok, Sumbar. Man Robert (45) meninggal dihajar dan ditenggelamkan oleh oknum anggota Kodim Solok. Gara-garanya sepele, anggota Kodim yang tak berbaju dinas itu dimintai uang oleh korban yang mengatur arus lalu lintas di ruas jalan yang macet di pinggir danau Singkarak. Di Pasuruan, petani miskin yang telah bersusah payah menanam dan tinggal beberapa waktu lagi memanen, protes dengan aparat yang membuldoser singkongnya. Beberapa oknum  TNI AL menanggapi protes itu dengan tembakan senjata api. Lima orang warga miskin itupun meninggal. Begitulah. Rasanya begitu mudah di antara kita menumpahkan darah.&lt;br /&gt;Hari-hari yang terus berlalu, kita seperti disuguhi berbagai adegan kezaliman yang tak berkesudahan. Semunya menuntut kepedulian kita. Jangan sampai, kezaliman tersebut menjadi bencana kolektif yang membinasakan kita semua. Ketika kemudian, orang-orang dhuafa yang dizalim itu—yang doanya di-ijabah itu -- dengan amarah menengadahkan tangannya ke langit, ”Ya Allah binasakanlah orang-orang kaya yang tak lagi mempedulikan kami.”***&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-4289222879293232174?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/4289222879293232174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=4289222879293232174&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/4289222879293232174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/4289222879293232174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/doa-sakti-orang-yang-dizalimi.html' title='Doa Sakti orang yang Dizalimi'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1448635913310722503</id><published>2008-08-14T03:38:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:39:16.519-07:00</updated><title type='text'>Akar Aliran Sesat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Tidaklah mungkin bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(TQS Al Imraan: 79).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, sebanyak 88 jamaah Salamullah berkumpul di sebuah vila, di Megamendung, kawasan Puncak, Jawa Barat. Lia Aminuddin mengeluarkan maklumat. “Syaikh menyampaikan perintah Allah untuk menggunduli dan membakar sekujur tubuh kita,” kata Lia. Syaikh adalah sebutan untuk Malaikat Jibril yang diyakini Lia. Menggunduli rambut dan membakar tubuh, kata Lia kepada jamaahnya, merupakan “hisab” (perhitungan Allah) untuk membersihkan dosa.&lt;br /&gt;Maka, berjalanlah “prosesi penyucian” itu. Setiap orang ditemani dua kawan sejenisnya. Semua rambut dan bulu di tubuh—mulai rambut kepala, alis, bulu mata, bulu ketiak, sampai (maaf ) bulu kemaluan—dibuat ludes. Dalam keadaan telanjang, seorang anggota jamaah mengoleskan spiritus pada bagian tubuhnya. Kemudian, jamaah lain membakar tubuh yang telah dilumuri bahan bakar tersebut dengan sumbu kompor.&lt;br /&gt;Prosesi selanjutnya adalah berkumpul di ruangan besar yang dipilah sesuai dengan jenis kelamin. Di tengah ruangan itu tampak kobaran api setinggi satu setengah meter. Dalam keadaan telanjang bulat, mereka melewati dan melangkahi api yang tengah berjilat-jilat. Prosesipun berakhir. Walau tak ada yang luka bakar secara serius, tak urung kesakitan dirasakan oleh mereka yang jontor bibirnya, juga kemaluannya.&lt;br /&gt;Peristiwa di awal tahun 2001 itu membuat masyarakat terperangah. Namun, bukan kali ini saja Lia Aminuddin membuat sensasi. Pada pertengahan 1998, ia mengaku sebagai Imam Mahdi, Maryam, dan mendapat wahyu dari malaikat Jibril. Lia juga menahbiskan seorang anaknya, Ahmad Mukti, sebagai Isa Al Masih.&lt;br /&gt;Agaknya, Lia setali tiga uang dengan Ahmad Moshadeq yang marak dibicarakan orang akhir-akhir ini. Moshadeq mengaku dirinya memperoleh wahyu dari Allah dan mengaku menggantikan posisi Muhammad saw. Syahadat yang diajarkanpun berbeda, Asyhadu alla illaha ilallah, wa asyhadu anna Masih al Maud Rasul Allah. Maka kemudian, Jamaah Alqiyadah  Al Islamiyah yang dipimpin Moshadeq, sebagaimana Jamaah Salamullah yang dipimpin Lia, dihukumi sesat oleh para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Godaan Menyimpang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sesungguhnya mudah saja untuk melihat keganjilan ajaran Lia dan Moshadeq, sehingga kita sampai pada kesimpulan sesatnya ajaran mereka. Namun, apa yang menjadi penyebab awal kesesatan tersebut, penting kita cermati. Awalnya, bisa jadi tak ada niatan untuk menyimpang. Namun godaan di tengah jalan keimanan itulah yang kemudian menjadi masalah. Seperti Lia Aminudin, ia mengaku yang dialaminya adalah buah dari proses yang panjang. Pada 27 Oktober 1995, di tengah salat tahajud dan berdoa dengan khusyuk, badannya tiba-tiba menggigil. Ia merasa ada yang mendampingi. Ternyata pendamping itu memberi nasihat yang baik—berikutnya Lia menyebutnya sebagai malaikat Jibril. Dan..., mulailah penyimpangan itu terjadi. Setelah menyendiri selama 40 hari 40 malam di Cibungbulan Bogor, Moshadeq mengaku mendapat wahyu. Dan..., penyimpangan itupun terjadi.&lt;br /&gt;Semoga Allah merahmati Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Seorang guru yang lurus aqidahnya, tetapi saat ini kerap dikultuskan dan disalahartikan ajarannya oleh banyak orang dengan menisbatkan kisah-kisah palsu pada dirinya yang berlawanan dengan aqidah Islam. &lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat, dikisahkan Syaikh Abdul Qadir Jaelani suatu malam bermunajat mendekatkan diri kepada Allah. Ulama yang tinggi ilmunya ini tiba-tiba melihat cahaya di atas mihrab yang sangat menyilaukan. Dari arah cahaya tersebut terdengan suara. ”Wahai Abdul Qadir, aku adalah Tuhanmu, apa yang telah aku haramkan bagimu telah aku halalkan.” Syaikh Abdul Qadir dibolehkan untuk tidak lagi shalat lima waktu, serta kewajiban syariat Islam yang lain.&lt;br /&gt;            Mendengar suara tersebut Syaikh tertegun. Setelah sadar dari kekagetannya beliau berguman dalam hati, ”Muhammad saw adalah Nabi dan Rasulullah terakhir, maka tidak mungkin Allah akan merubah syariatnya.”&lt;br /&gt;            Kemudian Abdul Qadir yakin bahwa cahaya yang datang itu bukan suara Tuhan melainkan iblis. Lalu beliau mengucapkan ta’awudz. Tiba-tiba cahaya itu terbakar sambil berkata, ”Sudah banyak orang yang telah aku perdayai, tetapi engkau luput dari tipu dayaku ini.”&lt;br /&gt;            Kisah tersebut menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mudah tertipu oleh bujuk rayu iblis. Iblis dan setan memang telah bersumpah senantiasa berupaya memperdaya dan membelokkan orang-orang beriman dari jalan Allah. ”Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (TQS Al A’raaf: 16-17).&lt;br /&gt;            Syaikh Abdul Qadir Jaelani hampir terjerumus oleh bujuk rayu iblis dan menganggap dirinya sebagai pembawa risalah atau nabi/rasul baru. Berkat ilmu dan kedekatannya kepada Allah ia selamat dari godaan yang menyesatkan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyakit Sosial Modern&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan  Lia Aminuddin dan Ahmad Moshadeq sebenarnya bukan hal baru. Kelompok sempalan (splinter group) semacam ini telah kerap terjadi sebelumnya. Bukan hanya hanya di negara terbelakang dan miskin, fenomena kelompok keagamaan seperti itu juga marak di negara maju. Bahkan di negara maju, kelompok semacam ini lebih banyak. Inilah yang diamati Alvin Toffler sebagai gejala kultus. Alvin Toffler menyebutkan lebih dari 1000 (seribu) kelompok sekte keagamaan di Amerika Serikat, sebagai gejala kultus (cult). Gejala kultus adalah bentuk gerakan keagamaan yang dicirikan dengan sistem pengorganisasian yang ketat, absolutistik, disiplin, dan, dengan sendirinya kurang toleran dengan kelompok lain. Kultus biasanya berpusat pada ketokohan seorang pribadi yang menarik, berdaya pikat retorik yang memukau, yang secara sederhana menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan. Seringkali hal ini diikuti dengan pemaksaan, ketertutupan, dan pengorbanan harta dan jiwa yang tidak proporsional. Sampai tingkat tertentu, fenomena kultus ini menjadi sangat antisosial, bahkan menjerumuskan pengikutnya pada psikologi ”ingin mati.” Di Amerika, ini seperti yang terjadi pada peristiwa bunuh diri massal pengikut kultus People’s Temple pimpinan Jim Jones di Guyana, atau pengikut David Koresh di Texas.&lt;br /&gt;Apa yang menjadi penyebab sekte keagamaan (baca: aliran sesat) itu bermunculan? Menurut ilmuwan Alvin Toffler, ini adalah fenomena sosial dunia modern. Dampak negatif modernisasi seperti individualisme, saling acuh, tidak adanya kepedulian sosial, hilangnya struktur kemasyarakatan yang kokoh, dan kaburnya makna yang berlaku; mengakibatkan masyarakat larut dalam kesepian dan kekeringan ruhani. Keterasingan inilah yang kemudian membuat mereka tertarik pada kultus-kultus/sekte. Sebab, keterasingan (alienasi) menimbulkan kesepian mencekam, lalu merindukan perkawanan akrab dan hangat, serta mendambakan penjelasan/penegasan makna hidup. Hal ini seolah menemukan salurannya dalam sekte. Solidaritas dan kepedulian kelompok yang tinggi, serta persaudaraan yang hangat, adalah fenomena khas yang didapati dalam semua sekte keagamaan. Pukauan inilah yang membuat para pengikut sekte dapat begitu setia mematuhi ajaran pemimpinnya, dengan mengabaikan  akal sehat  dan pendapat mayoritas. Ini berlaku bahkan untuk mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi—seperti pengikut Lia Aminuddin yang berlatar belakang  jurnalis, dosen, juga para teknokrat kaya.&lt;br /&gt;Alhasil, fenomena aliran sesat bukan semata disebabkan keawaman ilmu pengetahuan/agama, tetapi lebih banyak karena hubungan dan kepedulian sosial yang rapuh.&lt;br /&gt;Ahmad Moshadeq telah tobat. Lia pun telah dipenjara. Tapi bukan berarti ancaman sosial dari sekte sesat semacam itu usai. Ia telah menjadi bahaya laten. Lia Aminudin yang menyelesaikan masa kurungannya Oktober 2007 lalu, belum menunjukkan tanda bertobat. Bahkan, di Muarabongo, Jambi sebuah koran lokal (19 November 2007) mengabarkan tentang adanya seorang kepala sekolah yang mentahbiskan diri sebagai Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepekaan Sosial&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat bertanya, ”Ya, Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, ”Akhlak yang baik.” Pertanyaan dan jawaban yang sama itu berulang tiga kali. Ketika kali keempat, sahabat masih mengulang pertanyaan yang sama, Rasulullah berkata, ”Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik, sebagai misal, janganlah engkau marah.” (At Targhib wa al-Tarhib).&lt;br /&gt;”Akhlak yang baik” adalah makna general dari hubungan sosial yang paripurna. Maka, bila Anda ingin turut andil dalam menanggulangi ”aliran sesat” tersebut, agama kita telah memberi jawabannya. Salah satunya: menjalin hubungan sosial dengan akhlak yang baik sehingga muncul persaudaraan yang hangat, sepenanggungan, yang kemudian menghindarkan orang dari kesepian sosial yang dapat menjerumuskan dirinya dari pukauan keintiman kultus/sekte aliran sesat. *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1448635913310722503?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1448635913310722503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1448635913310722503&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1448635913310722503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1448635913310722503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/akar-aliran-sesat.html' title='Akar Aliran Sesat'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-8385304741549029064</id><published>2008-08-14T03:37:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:38:10.081-07:00</updated><title type='text'>Alam yang Bertasbih</title><content type='html'>&lt;strong&gt;”Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; (TQS Al Israa: 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datangnya air, bagi para petani, menjadi pertanda rezeki. Sedikit di awal musim penghujan, menjadi penanda bertanam di ladang. Melimpah di puncak bulan basah, berarti giliran untuk bertanam padi sawah. Begitulah. Siklus curah hujan itu menjadi harmoni kerja para petani. Semua terasa teratur, terjadwal, dan yang pasti, melahirkan harapan positif.&lt;br /&gt;            Namun, bagi para warga Jakarta, hujan tampaknya menjadi momok. Seperti yang terjadi awal bulan Februari ini. Hujan selama sehari, hal yang sebenarnya wajar di musim hujan, ternyata membawa petaka. Ribuan rumah terendam air bah. Banyak orang terjebak di jalanan yang macet total. Bandara Soekarno Hatta berhenti beroperasi—pertama kali dalam sejarah sejak bandara tersebut didirikan. Datangnya hujan, bagi para warga ibu kota, ternyata malah melahirkan rasa khawatir. Rasanya mudah mencari penyebab mengapa hal itu terjadi. Setiap diri kita pasti punya penilaian tentang hal tersebut. Mulai dari kepadatan penduduk, minimnya ruang terbuka hijau, dan seterusnya. Namun bagi kita, orang yang beriman, bencana alam tersebut penting dinaknai sebagai peringatan dari Allah. Kita lalai, lalu Allah timpakan musibah. ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS Ar Ruum: 41). &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Tentara Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Bencana banjir mengingatkan kita akan sejarah Nabi Nuh. Yaitu ketika Allah membinasakan orang-orang kafir melalui bencana alam yang ganas. Langit menumpahkan bermiliar kubik air. Deras, dan sangat deras. Tanah tak mampu mengisapnya. Bahkan air juga muncrat hebat dari dalam tanah. Disertai topan, bumi berubah menjadi hamparan air yang luas.&lt;br /&gt;            Di tengah gelombang yang bergulung itu, bahtera Nabi Nuh berlayar. Dari atas kapal Nabi Nuh mencoba memanggil Qan’an, anaknya yang berjuang melawan derasnya air, untuk ikut menumpang kapal.&lt;br /&gt;            ”Anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir,” seru Nabi Nuh penuh kasih.&lt;br /&gt;            ”Tidak, aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah,” jawab anaknya.&lt;br /&gt;            ”Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang,” ujar Nabi Nuh mencoba meyakinkan anaknya. Tetapi Qan’an tetap pada pendiriannya. ”Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (TQS Huud:43).&lt;br /&gt;            Gelombang air yang ganas itu bisa bersahabat dengan dengan Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman. Tetapi ia menjadi azab bagi mereka yang kafir. Gunung yang kokoh menjulang tinggi tidak peduli dengan nasib Qan’an dan orang-orang kafir lainnya. Apa yang menjadi rahasia penyebabnya?&lt;br /&gt;            Rahasianya adalah, karena gelombang dahsyat dan gunung itu sama-sama tentara Allah. Bahkan laut, hujan, angin topan, binatang buas, burung-burung, hingga serangga yang kecil merayap adalah tentara Allah yang perkasa. ”Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (TQS Al Fath: 4). Para tentara itu tunduk dan patuh kepada Allah, bersahabat dengan orang-orang yang beriman, dan membenci orang-orang yang durhaka kepada-Nya.&lt;br /&gt;            Simaklah lebih jauh Al Qur’an. Kita akan bisa merasakan betapa alam semesta tidak saja gambaran tentang keindahan dan keselarasan. Tetapi pada saat yang sama, Al Qur’an juga menjabarkan  bagaimana alam menampakkan kehebatannya sebagai tentara Allah. Sebagaimana Allah telah menghukum Fir’aun dan kaumnya. ”Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah (air berubah menjadi darah) sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (TQS Al A’raaf: 133).&lt;br /&gt;            Memahami alam tidak akan pernah utuh tanpa mendudukkan eksistensinya sebagai tentara Allah. Dalam sejarah orang-orang salih, banyak kita temukan fakta bagaimana alam tunduk kepada perintah Allah untuk membela orang-orang yang beriman. Seperti api yang diperintah Allah untuk berubah dingin ketika digunakan Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim. Atau Laut Merah yang diperintah Allah untuk menjadi hamparan jalan yang nyaman bagi Nabi Musa dan para pengikutnya.&lt;br /&gt;            Di era modern, seperti dikisahkan oleh Dr. Abdullah Azzam di Afghanistan, banyak sekali bukti pembelaan Allah melalui tentaranya ketika kaum Muslimin berjuang mengusir tentara Soviet (1970-an). Abdullah Azzam menuliskan semua itu dalam buku Ayat-ayat Allah dalam Jihad Afghan (Ayaturrahman fi Jihadil Afghan). Hal yang sama juga terjadi di Bosnia, Chechnya, Palestina, maupun belahan bumi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kebersamaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;            Peradaban di zaman apapun, selalu menjadikan alam sebagai mitranya. Bahkan sebagian orang sampai menyembah dewa-dewa yang diyakini menguasai alam. Tentu, dalam pandangan Islam menuhankan alam adalah kesalahan. Tetapi hal tersebut menunjukkan betapa ada hubungan yang kuat antara Tuhan, fitrah manusia, dan alam.&lt;br /&gt;            Kebersamaan manusia dengan alam telah ditetapkan Allah sejak pertama kali penciptaannya. Bumi dan seluruh isinya memang diciptakan untuk manusia. (Simak QS Al Baqarah: 29). Sementara manusia sendiri ditetapkan Allah sebagai khalifah yang ditetapkan mengelola bumi ini. (Simak QS Al Baqarah: 30). Maka prinsip kebersamaan manusia dengan bumi dan alam semesta harus dibangun melalui poros keimanan. Artinya, manusia tidak boleh menyekutukan Allah, durhaka, apalagi melawannya. Sebagaimana alam semesta juga tunduk dan patuh kepada Allah. Dengan begitu, seorang mukmin bertemu dengan Allah dalam satu identitas yang sama: keimanan. Lihatlah misalnya, penjelasan Allah berikut. ”Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS Al Jumu’ah: 1).&lt;br /&gt;            Para ilmuwan telah banyak mengungkapkan betapa alam berada dalam sebuah gerak yang harmonis. Harun Yahya, ilmuwan dari Turki, banyak mengungkapkan tentang kinerja alam yang akan mengantarkan kita pada keagungan Allah. Alam tertata dalam sebuah tekstur yang indah, harmonis, dan seimbang. Karenanya manusia dilarang keras membuat kerusakan di muka bumi, menghancurkan alam, mengacaukan ekosistem, dan melanggar prinsip-prinsip keseimbangan itu. ”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (TQS Al A’raaf: 56).&lt;br /&gt;Dalam seluruh makna di atas itulah kita menghayati, bahwa alam semesta adalah tentara Allah yang beriman dan patuh kepada-Nya. Karenanya kita harus bersahabat dengan mereka, dalam ikatan iman dan ihsan. Bukan sebaliknya, malah membuat kerusakan, dosa, dan bangga menumpuk dosa di atasnya. ”Tidaklah musibah itu turun, kecuali lantaran dosa. Dan tidaklah ia bisa diangkat kecuali dengan taubat, ” kata Ali r.a. menasehati kita.&lt;br /&gt;Langkah tak bijak terhadap alam berdampak pemanasan global. Cuaca dan iklim susah diprediksi seperti dulu. Bencana alam mengintai kapan saja, di mana saja, dalam berbagai bentuk. Maka, kita tidak sedang menggurui para korban bencana di ibu kota negara itu. Kita hanya mengingati diri sendiri. Untuk mawas diri, bijak mengelola alam semesta. Agar ia tidak menjelma menjadi bencana, menjadi tentara Allah karena kedurhakaan kita. ***&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-8385304741549029064?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/8385304741549029064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=8385304741549029064&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/8385304741549029064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/8385304741549029064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/alam-yang-bertasbih.html' title='Alam yang Bertasbih'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-62094335148164534</id><published>2008-08-14T03:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:36:47.372-07:00</updated><title type='text'>Cinta Mengiringi  Hukum</title><content type='html'>&lt;strong&gt;…dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS An Nuur: 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang besar itu berpulang. Tiga puluh dua tahun berkuasa di negeri ini tentu banyak hal yang telah diperbuat. Ada prestasi besar yang telah ia torehkan. Namun, sebagai manusia biasa, ada juga kesalahan yang dilakukan. Maka meninggalnya, sampai saat ini, tak luput dari kontroversi. Bagi mereka yang banyak merasakan jasa besarnya, sepantasnya ia diberi gelar pahlawan. Bagi yang merasa dizalimi, dirinya harus tetap diadili.&lt;br /&gt;Tentu kita tidak ingin memperkeruh kontroversi tersebut. Kalaupun proses hukum itu tetap terlaksana, kita hanya ingin hal itu didasari atas cinta. Tidak memperturutkan kebencian, semata-mata untuk membersihkan dosanya. Sebagaimana yang Rasulullah contohkan dalam kisah menggugah berikut ini.&lt;br /&gt;Dari Abdullah ibnu Buraidah dari ayahnya berkata, "Aku pernah duduk di sisi Nabi saw., lalu seorang wanita dari Ghamidziyah datang menemui Rasulullah dan berkata, "Ya Nabiyallah, sesungguhnya aku telah berzina, dan aku ingin Anda mensucikan diriku (merajam)." Namun Rasulullah berkata kepadanya, "Pulanglah." Maka wanita itu pun pulang.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, wanita itu datang kembali kepada Rasulullah dan kembali membuat pengakuan zina. Dia berkata, "Nabiyallah, sesungguhnya aku telah berzina, dan aku ingin Anda mensucikan diriku (merajam)." Namun Rasulullah berkata kepadanya, "Pulanglah." Maka wanita itu pun pulang.&lt;br /&gt;"Ya Nabiyallah, rajamlah diriku. Apakah Anda menolakku sebagaimana menolak pengakuan Ma'iz bin Malik? Demi Allah, saat ini aku sedang hamil."&lt;br /&gt;Rasulullah mengatakan, "Pulanglah, sampai kamu melahirkan anakmu"&lt;br /&gt;Seusai melahirkan, wanita itu kembali menghadap Rasulullah sambil menggendong bayinya itu seraya melapor, "Inilah bayi yang telah aku lahirkan."&lt;br /&gt;Beliau bersabda, "Pergilah, dan susuilah bayi ini hingga disapih."&lt;br /&gt;Setelah disapih, wanita tersebut kembali menghadap beliau dengan membawa bayinya yang di tangannya memegang sekerat roti. Wanita itu berkata, "Ya Nabiyallah, aku telah menyapihnya."&lt;br /&gt;Akhirnya, Rasulullah pun mempercayai pengakuan wanita itu, lalu menyerahkan anak itu kepada seorang pria dari kalangan umat Islam. Beliau memerintahkan agar menggali lubang sampai di atas dada, lalu memerintahkan orang-orang untuk merajam wanita tersebut.&lt;br /&gt;Saat itu Khalid bin Walid membawa batu di tangannya lantas melemparkannya ke arah kepala wanita itu hingga darahnya memuncrat mengenai wajah Khalid. Khalid pun memaki wanita itu. Akan tetapi Rasulullah mengatakan, "Sabarlah wahai Khalid! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh dia telah bertaubat dengan taubat yang seandainya dilakukan oleh seorang pemungut cukai (pajak), niscaya ia akan diampuni."&lt;br /&gt;Maka Rasulullah saw memerintahkan untuk memandikan jenazahnya, dan mensalatkan dan menguburkannya. Demikian hadits Riwayat Imam Ahmad.&lt;br /&gt;Dalam riwayat Imam Muslim, ketika Rasulullah mensalatkan wanita Al-Ghamidziyah tersebut, Umar bin Khathab terheran,&lt;br /&gt;"Engkau mensalatinya, wahai Rasulullah? Padahal ia telah berzina." Rasulullah menjawab, "Dia telah bertaubat dengan taubat yang sekiranya dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya mencukupinya. Apakah engkau menemukan taubat yang lebih baik daripada orang yang menyerahkan jiwanya kepada Allah?"&lt;br /&gt;Ini kisah lain yang serupa dari Imam Abu Dawud. Ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang sakit sehingga kurus dan kulitnya sudah menempel tulangnya. Lelaki tersebut melakukan perzinaan dengan seorang jariah (budak). Lelaki itu menyesal. Ketika kaumnya datang menjenguk, ia memberitahukan perbuatannya, dan berkata:  “Mintalah fatwa dari Rasulullah untukku. Sesungguhnya aku telah berbuat zina dengan seorang jariah yang datang kepadaku.”&lt;br /&gt;Kemudian kaum itu menuturkan perbuatan lelaki tersebut kepada Rasulullah. “Kami belum pernah melihat seorang yang menderita sakit seperti dia. Kalau saja kami bawa kepadamu, ya Rasulullah, niscaya berantakanlah tulangnya (bila didera). Dia hanya tinggal tulang dan kulit.” Akhirnya Rasulullah saw. menyuruh mereka agar mengambil seratus ranting kayu dan dipukulkan kepada lelaki tersebut sekali saja.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Menghapus Dosa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menghukum seseorang karena kejahatan, bukan berarti memperturutkan kemarahan, kebencian, ataupun dendam. Dalam Islam, bahkan ini adalah bagian dari upaya menolong seseorang untuk kehidupannya di akhirat. Yaitu ketika kemudian  hukuman itu membuatnya terlepas dari siksaan di akhirat&lt;br /&gt;Pendapat mayoritas (jumhur) ulama menyatakan bahwa hukuman merupakan penghapus dosa, sehingga orang yang terkena hukuman itu tidak disiksa lagi di akhirat nanti.&lt;br /&gt;Hal ini didasari atas sabda Rasulullah dari Ubaidah bin Shamit. “Berjanjilah kamu sekalian di hadapanku untuk tidak menyekutukan Allah, untuk tidak mencuri dan untuk tidak membunuh nyawa yang diharamkan oleh Allah, kecuali dengan haq (benar). Barang siapa yang teguh dengan janjinya, maka balasannya tersedia di tangan Allah. Tetapi barang siapa yang masih melanggar salah satu di antara janji-janjinya itu, maka ia akan dikenai hukuman sebagai penghapus dosa tersebut baginya. Barang siapa yang masih juga melanggar janji-janji itu tetapi ditutupi oleh Allah, maka persoalannya terserah pula kepada Allah. Jika Dia menghendaki untuk mengampuninya, maka ia diampuni-Nya, dan jika sebaliknya maka ia akan disiksa.” (HR Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;Al Qur’an telah menetapkan hukuman tertentu untuk kesalahan-kesalahan tertentu. Kesalahan-kesalahan tersebut disebut “dosa yang mengharuskan adanya hukuman.” Kesalahan tersebut terdiri adalah berzina, menuduh berzina, mabuk, mengacau, murtad, dan memberontak. Tidak cukup permaafan (taubat) bila pelaksanaan hukum itu terlaksana. Syaikh Sayyid Sabiq dalam bukunya, Fiqih Sunnah, memberi gambaran detail bagaimana selayaknya hukum itu dilaksanakan oleh institusi yang berwenang (pemerintah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Simpulan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Konon, presiden kedua negeri ini didakwa karena perkara korupsi. Ada harta yang tak semestinya dipunyai pribadi; yang mengharuskan dikembalikan ke kas negara.&lt;br /&gt;Harta korupsi itu laksana utang. Sebagaimana sabda Rasulullah, utang adalah urusan yang tak selesai dibawa mati. Maka berdasarkan hal itu, ada kebiasaan umat Islam menjelang penguburan jenazah, menanyakan kepada jamaah apakah si mayit mempunyai sangkutan utang. Ahli warisnya punya tanggung jawab menyelesaikannya.&lt;br /&gt;Kalau memang dakwaan itu benar terjadi, sekali lagi, kita ingin itu semata-mata didasari atas cinta. Menghilangkan sangkutannya di dunia, menolong kehidupannya di akhirat, dan mengantarkannya ke haribaan Allah dengan baik.. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-62094335148164534?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/62094335148164534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=62094335148164534&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/62094335148164534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/62094335148164534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/cinta-mengiringi-hukum.html' title='Cinta Mengiringi  Hukum'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1449104976652244891</id><published>2008-08-14T03:32:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:35:03.746-07:00</updated><title type='text'>Saat Bencana Tak Menyadarkan Kita</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS At Taubah: 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya, hari itu adalah waktu libur yang menyenangkan. Pesisir pantai Aceh punya pesona menarik sebagaimana pantai lainnya di pesisir Samudera Indonesia. Pagi yang cerah. Menawarkan selera untuk bercengkerama dengan keluarga, sembari menikmati indahnya panorama pantai. Namun, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Semuanya berubah menjadi peristiwa yang memilukan. Tiba-tiba bumi berguncang dahsyat, gempa mengundang panik semuanya. Belum sirna rasa terkejut itu, riuh rendah orang berteriak, “Air, air..., air datang!“ Kita selanjutnya menyaksikan ribuan mayat bergelimpangan, berbagai bangunan luluh-lantak, rata dengan tanah disapu air bah.&lt;br /&gt;Tragedi gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara adalah bencana kolosal yang menyita perhatian dunia. Para ahli menyatakan peristiwa tersebut sebagai bencana alam terbesar di zaman modern ini. Kita juga menyaksikan, betapa bencana di Aceh paling banyak membuat masyarakat tergerak memberi sumbangan. Kita semua terketuk, naluri kemanusiaan kita berbicara, turut bersimpati menanggung lara. Nurani kita berbicara Allah Yang Maha Perkasa tampak sedang menegur kita. Ada nuansa khusyu’ untuk berdoa, agar Allah menolong kita semua.&lt;br /&gt;Bagi mereka yang merasakan langsung peristiwa dahsyat tersebut, nuansa pertaubatan itu begitu terasa. Seperti yang terjadi di Suak Timah, Samatiga, Meulaboh yang hampir tidak menyisakan sama sekali bangunan. Seperti disampaikan Majalah Tarbawi (5/02/05), di sana yang tersisa hanya sebuah tugu “Rencong“ setinggi lima meter. Seorang siswa SMA setempat menggoreskan kepedihan hatinya di tugu sebatang kara ini dengan bahasa Aceh. Kampung halamannya tinggal kenangan, di antara onggokan batu yang masih basah ia torehkan tulisan:&lt;br /&gt; Suak Timah&lt;br /&gt;desa yang saya sayangi&lt;br /&gt;kita sekarang tauba/&lt;br /&gt;Mari semua&lt;br /&gt;26-12-0&lt;br /&gt; ttd: Ipon&lt;br /&gt;Kata tersebut seolah mewakili para korban bencana –juga kita semua—tentang pengakuan dosa dan kekuasaan Allah swt.  Nurani kita berbicara, betapa hanya Allah  yang layak kita mintai pertolongan dan ampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengakuan yang Terlupakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut di atas sengaja diulas kembali. Disadari atau tidak, peristiwa tersebut barangkali tinggal menjadi kenangan yang tidak lagi membekas di hati kita. Bagi mereka yang merasakan langsung, kehilangan tempat tinggal dan sanak saudara tentu peristiwa pilu yang sulit dilupakan. Namun, bagi kita yang hanya melihat peristiwa tersebut dari berita teve dan surat kabar, kesibukan atau permasalahan lain dalam kehidupan kita sering tidak sempat lagi untuk mengingat peritiwa tersebut. Tentu, bukan untuk mengingatnya sebagai peristiwa besar, lantas terlarut dalam kesedihan.Tetapi, untuk mengambil ibrah darinya. Untuk memaknai bahwa bencana tersebut adalah teguran bagi kita semua, atau kejadian yang sama bisa menimpa kita di sini, tanpa sanggup kita menolaknya. Kita penting memetik hikmah peristiwa tersebut, agar kita bisa menjawab dengan bijak saat ditanya, apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapinya?&lt;br /&gt;Kesulitan yang menimpa biasanya lebih sering mengingatkan kita pada Sang Pencipta. Saat tidak ada lagi orang yang dapat kita mintai pertolongan, secara otomatis kita akan menadahkan tangan, memohon pertolongan kepada Allah saja.&lt;br /&gt;Kita perlu serba bertanya pada diri kita, saat bencana itu usai, apakah mengingat Allah—dalam artinya yang luas-- masih menjiwai aktivitas kita. Ada kekhawatiran, jangan-jangan kitalah yang disinggung Allah, sebagai orang yang mengingat Allah saat sulit, tapi melupakannya saat usai dari kesulitan.  “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia (Allah), maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih (QS Al Israa’: 67).&lt;br /&gt;Secara lebih rinci, hal tersebut juga disinggung Allah di ayat yang lain: “Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur." Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar...“ (QS Yunus: 22-23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran yang Terlambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu serba bertanya, apakah kesadaran untuk menarik pelajaran dari bencana yang menimpa, ada dalam diri kita. Kenistaan ini lazim muncul ketika seseorang gagal menarik pelajaran. Seperti orang yang keras hatinya, tatkala bencana alam hanya menjadi barang tontonan (reality show). Ketika bencana menyusul terjadi di Nias, ia malah membandingkan bahwa bencana tersebut kalah besar dengan yang di Aceh. Kegagalan juga muncul ketika bencana semata-mata dipahami sebagai fenomena alam. Pada gilirannya, muncul pribadi-pribadi keras kepala yang tak dapat sedikitpun memahami peringatan Allah.&lt;br /&gt;Fir’aun dan kaumnya adalah contoh sempurna tentang pribadi yang keras kepala. Misi dakwah yang disampaikan dengan bijak oleh Musa malah membuatnya takabur. Maka Allah menurunkan kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan agar mereka bisa memikirkan. Tapi, tatkala kemudahan itu mereka dapatkan mereka mengklaim sebagai usaha mereka sendiri. Ketika kesulitan menimpa, mereka menimpakan kesialan itu kepada Musa a.s. dan kaumnya. Peringatan Musa a.s. malah dianggap sebagai sihir oleh mereka.&lt;br /&gt;Maka selanjutnya, seperti dikisahkan dalam buku-buku sirah, juga di Injil (Perjanjian Lama), Allah secara berurutan menimpakan kepada mereka taufan, lalu hama belalang yang memenuhi penjuru negeri, kutu, katak, dan air yang berubah menjadi darah (QS Al A’raf : 130-135). Namun semuanya tetap tidak menyadarkan meraka dan mereka tetap menyombongkan diri. Sampai kemudian keras kepala tersebut harus diakhiri dengan kebinasaan mereka. &lt;br /&gt;Kisah Fir’aun bisa jadi cermin buruk bagi kita. Kita menyaksikan bencana yang datang bertubi-tubi di negeri ini. Adakah semuanya menyadarkan kita untuk mengadakan perbaikan?&lt;br /&gt;Lebih dari itu, kisah Fir’aun juga cermin tentang kesadaran yang terlambat. Al Qur’an juga mengisahkan betapa selanjutnya Fir’aun juga harus kalah dengan nuraninya sendiri dan mengakui kekuasaan Allah.&lt;br /&gt; “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS Yunus: 91)&lt;br /&gt;Kesadaran dan ampunan punya dimensinya tersendiri. Saat peringatan itu telah datang silih berganti, namun kita lamban untuk sadar diri, maka kesadaran yang muncul di akhir peringatan hanya akan menistakan. Tidak akan ada ampunan. Ada batas toleransi. Ada kata terlambat, sebagaimana Fir’aun tetap harus dihukum karena kedurhakaanya, walaupun ada pengakuan jujur di sakaratul maut-nya.&lt;br /&gt;“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Fir’aun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami (QS Yunus: 92).&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Negeri yang Musnah dalam Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara abad ke satu dan ke dua Masehi,  ada sebuah kerajaan di sebelah selatan Jazirah Arabia. Air mengalir ke ibukota dari sumber air yang jaraknya sepuluh hari perjalanan. Mereka membangun sistem irigasi yang canggih untuk ukuran masanya. Sejarah mencatat bendungan yang mereka bangun sebagai bendungan Ma’arib. Dari bendungan ini dialirkan air ke rumah-rumahdan kebun-kebun. Begitu suburnya sehingga dikisahkan jika seorang perempuan meninggalkan rumahnya untuk memenuhi keperluannya sambil membawa bakul di atas kepalanya, maka sebelum ia sampai ke tempat tujuannya, bakulnya sudah penuh dengan buah-buahan yang jatuh dari pepohonan di  pinggir jalan. Beberapa orang Nabi diutus untuk mengingatkan mereka agar bersyukur atas nikmat Allah. Namun mereka berpaling dari peringatan para Rasul itu, bahkan mereka mengggunakan kemakmuran itu untuk memuaskan nafsu mereka. Allah kemudian merusakkan bendungan. Air bah dahsyat melanda kota-kota mereka. Kebun-kebun subur berubah menjadi kebun yang gersang. Al Qur’an mengabadikan kisah ini dalam Surah Saba’: 15-19.&lt;br /&gt;Negeri Saba’ adalah pelajaran. Negeri yang makmur berubah miskin karena dosa-dosa penduduknya. Kisah tentang negeri yang dilanda bencana bahkan sampai musnah karenanya, banyak kita temui  di dalam Al Qur’an. Hal ini menegaskan bahwa bencana alam yang dahsyat, yang melebihi Aceh, mudah saja terjadi bila Allah menghendaki. Banjir pada zaman Nabi Nuh, musnahnya kaum Nabi Luth, kaum Nabi Shaleh (Tsamud), kaum nabi Huud (’Aad), adalah sederet kaum yang musnah karena mengingkari Allah.&lt;br /&gt;Sampai saat ini bukti-bukti peninggalan kaum yang musnah itu masih dapat kita temui. Ini sebagai bukti bahwa kisah tersebut bukan sekedar dikarang oleh Muhammad dalam Al Qur’an. Ini seperti yang dinyatakan dalam Firman Allah,  ”Itu adalah sebahagian dan berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah” (QS Huud :100). Harun Yahya (nama pena dari Adnan Ochtar) seorang ilmuwan Turki, banyak meyumbangkan bukti ilmiah berupa buku-buku dan film dokumenter tentang negeri-negeri yang dikisahkan Al Qur’an, ynag saat ini juga diteliti para ahli (arkeolog).&lt;br /&gt;Sebagai contoh, peninggalan kaum Nabi Luth yang diazab karena berperilaku menyimpang dengan melakukan fashiyah (homoseksual), dapat diketemukan buktinya di Laut Mati (Yordania). Peristiwa gempa bumi dahsyat, letusan gunung api yang disertai hujan batu belerang yang meleleh, tergambar jelas dari penampakan daerah di sekitar Laut Mati. Sifat khusus dari Laut Mati  adalah kandungan garamnya yang sangat tinggi, kepekatannya hampir mencapai 30%. Oleh karena itu, tidak ada organisme hidup, semacam ikan atau lumut, yang dapat hidup di dalam danau ini. Disebut " Laut Mati" disebabkan masalah ini. Di bawah permukaan air, dengan jelas tampak gambaran bentuk hutan yang diawetkan oleh kandungan garam Laut Mati yang sangat tinggi. Batang dan akar di bawah air yang berwarna hijau berkilauan tampak sangat kuno. Itu adalah Lembah Siddim, salah satu bagian dari kota Sodom dan Gomorrah (tempat kaum Nabi Luth), di mana pepohonan ini dahulu kala bermekaran daunnya menutupi batang dan ranting merupakan salah satu tempat terindah di daerah ini. Sisa-sisa dari kota yang terkubur ke dalam danau, dapat juga ditemukan di tepian danau (harunyahya.com/indo).&lt;br /&gt;Begitulah, Al Qur’an mengisahkan tentang negeri yang musnah agar kita dapat memetik pelajaran darinya. Bahkan, Allah juga menyuruh kita mengadakan safar (perjalanan) di muka bumi untuk memperhatikan kaum-kaum yang dibinasakan Allah ini. ”Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (QS Al Imraan: 137).  ”Katakanlah:  ”Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS Al An’am:11). ***&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1449104976652244891?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1449104976652244891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1449104976652244891&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1449104976652244891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1449104976652244891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/saat-bencana-tak-menyadarkan-kita.html' title='Saat Bencana Tak Menyadarkan Kita'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-1265812132280382918</id><published>2008-08-14T03:29:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:31:53.747-07:00</updated><title type='text'>“Robohnya Masjid Kami” [Kritik Memakmurkan Masjid]</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(TQS Al Baqarah: 114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid itu dindingnya dari tanah liat. Tiangnya batang kurma, lantainya pasir, dan atapnya pelepah kurma. Maka, di suatu hari kaum Anshar mengumpulkan harta dan mendatangi Rasulullah saw.. "Wahai Rasulullah, bangunlah masjid dan hiasilah seindah-indahnya dengan harta yang kami bawa ini. Sampai kapan kita harus salat di bawah pelepah kurma?"&lt;br /&gt;Rasulullah menjawab, "Aku ingin seperti saudaraku Nabi Musa, masjidku cukup seperti arisy (gubuk tempat berteduh) Nabi Musa a.s.” Dijelaskan oleh Hasan r.a. menjelaskan bahwa ukuran arisy Nabi Musa a.s. adalah bila Rasulullah saw. mengangkat tangannya maka atapnya akan tersentuh&lt;br /&gt;Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Ubadah ibn Shamit dalam kitab Dalail Al-Nubuwwah membuktikan bahwa kesederhanaan arsitektur Masjid Nabawi yang asli di Madinah bukanlah karena kurang biaya. Tetapi memang disengaja oleh Rasulullah saw. untuk diteladani umatnya. &lt;br /&gt;            "Aku tidak diutus untuk menghias-hias masjid," kata Rasulullah dalam riwayat yang lain. Bahkan peringatan bernada ancaman juga dikemukakan Rasulullah. "La taqumu al-sa'ah hatta yatabahannasu bil masajid, tidak datang saat kehancuran sampai manusia berlomba bermegah-megahan dengan masjid-masjid.”&lt;br /&gt;Masih banyak hadits serupa yang memberi penekanan tentang perilaku sederhana bagi kaum Mukminin. Dalam kitab At-Targhih wa at-Tarhib,  sahabat Anas r.a. pernah keluar menyertai Rasulullah saw. Lalu tampak oleh beliau bangunan tinggi berkubah. Beliau bertanya, "Apa itu?" Para sahabat menjawab bahwa itu adalah kubah milik si Fulan, orang Anshar. Rasulullah saw. bersabda, "Semua bangunan megah akan menjadi beban bagi pemiliknya di hari kiamat." Maka sahabat Anshar tadi dengan patuh meruntuhkan kubah itu. Lantas Rasulullah saw. mendoakannya dua kali, "Yarhamullah, yarhamullah, semoga Allah merahmatinya.” &lt;br /&gt;Prinsip bangunan masjid sederhana ini dipegang teguh oleh beliau sampai wafat. Ini diteruskan oleh empat Khulafaur rasyidin, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali r.a. Mereka adalah para khalifah yang paling salih dan paling faham tentang Islam. Di zaman merekalah wilayah Islam meluas dengan pesat meliputi kerajaan Mesir, Persia, dan Rumawi. Tetapi di tengah melimpahnya harta dari segala penjuru, arsitektur masjid Nabawi tetap sederhana sesuai pedoman Rasulullah saw., walaupun ukuran masjid mengalami perluasan berkali-kali.&lt;br /&gt;Baru setelah Muawiyah, anak Abi Sufyan menjadi khalifah, negara diubah menjadi kerajaan dan ibu kota pindah dari Madinah ke Damaskus. Dia dan keturunannya hidup bermewah-mewah membangun istana pribadi berkubah hijau dan juga masjid Umayah yang megah. Penyimpangan prinsip ini berkelanjutan sepanjang sejarah Islam. Masjid-masjid mulai dibangun dengan arsitektur semakin mewah di seluruh dunia.&lt;br /&gt;Bila sejarah diteliti, maka akan terungkap bawah sebagian besar istana masjid-masjid monumental itu dibangun oleh penguasa yang perilakunya tidak terlalu islami. Barangkali untuk mengimbangi rasa bersalah kemewahan hidupnya, mereka membangun juga masjid yang megah. Raja-raja yang salih biasanya tidak meninggalkan arsitektur masjid mewah. Arsitektur masjid megah terdapat dari Maroko sampai Spanyol. Dari Turki sampai India, Iran, sampai Asia Tenggara.&lt;br /&gt;Entah apa yang paling patut untuk menilai hal ini. Saat ini masjid Nabawi di Madinah dibangun super mewah, dan sangat boros energi. Saking mahalnya sampai pintu dikunci pukul 10 malam, takut ada pencuri hiasan emas murni di dalamnya. Dan ironinya banyak yang ikut berbangga untuk hal yang dahulu dikecam oleh Rasulullah saw. Walaupun alasan ini mungkin masuk akal, demi syiar Islam, bangunan masjid harus melebihi megahnya gereja dan kuil. Tentu perlu ada perenungan mendalam, adakah hal itu diperintahkan dalam Alquran atau hadits atau ucapan sahabat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mewah vs Sederhana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita patut mewaspadai sikap kekaguman terhadap tampilan fisik tetapi lupa akan jiwa dan niat. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat penampilanmu dan kekayaanmu. Melainkan Dia melihat hatimu dan amalmu.” Bila prinsip ini diterapkan kepada penilaian masjid, maka yang dinilai seharusnya bukan hal fisik keindahan luar seperti tingginya kubah dan menara, mengkilatnya lantai granit dan empuknya permadani. Mahalnya lampu kristal. Indahnya ukiran ornamen di mimbar dan kaligrafi di dinding. Melainkan hal yang lebih abstrak berupa ketulusan niat membangun masjid, keikhlasan pengurus dan jemaahnya.&lt;br /&gt;Bila sabda Rasulullah itu dipahami oleh sebagian besar kaum Muslimin, kita mungkin tidak akan melihat ironi ini. Masjid-masjid –yang besar dan mewah itu—terlihat kosong pada saat shalat fardhu, khususnya salat Subuh. Masjid hanya tampak penuh saat shalat Jumat. Padahal disitulah salah satu ukuran kemakmuran masjid; banyak jamaah pada saat salat fardhu. &lt;br /&gt;Kenyamanan melakukan salat tentu tak berarti mewah. Keyamanan itu dapat kita peroleh dengan perilaku bersih. Demikianlah yang kita dapati dari Rasulullah.  Beliau melarang meludah dan makan sejenis bawang bila masuk masjid. “Barangsiapa makan bawang putih, bawang merah dan kucai, maka janganlah sekali-kali mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu oleh apa-apa yang mengganggu manusia.” (HR. Ahmad dan Bukhari dan Jabir r.a.).&lt;br /&gt;Anjuran menjaga kebersihan itu juga kita dapati dalam hadits yang lain. “Dihadapkan padaku semua pahala yang diperbuat umatku, sampai-sampai kepada satu kotoran yang dikeluarkan oleh seseorang dari dalam masjid.”(HR. Abu Daud,Tirmdizi dari Anas ra).&lt;br /&gt;Niat memegang peranan penting. Allah swt. memerintahkan menghancurkan masjid dhirar yang bagus di Madinah, hanya karena niat buruk kaum munafik yang membangunnya untuk memecah belah kaum Muslimin.&lt;br /&gt;Paradigma arsitektur masjid harus dikoreksi. Tampilan fisik masjid tidak penting. Keindahan bukan prioritas pertama. Fungsi pokok masjid harus didahulukan. Tegaknya nilai Islami di lingkungan sekitar masjid, kekompakan persaudaraan Islam, kepekaan terhadap kesenjangan sosial adalah standar yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para penerusnya. Setelah sasaran itu terlaksana, barangkali tidak mengapa sisa dana dipakai memperindah masjid.&lt;br /&gt;“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (TQS At Taubah: 18).***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masjid yang Ramah Dhuafa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masjid pengertiannya secara etimologis merupakan isim dari kata ”sajada”-”yasjudu”-”sujudan” yang artinya tenpat sujud, dalam rangka beribadah kepada Allah swt..  Makna ibadah tersebut mempunyai cakupan luas, termasuk aktivitas sosial kemasyarakatan secara umum. Di zaman Rasulullah, maaaasjid juga dijadikan tempat untuk brtmusyawarah, baik dalam merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan urusan pribadi, keluarga, maupun umat secara keseluruhan. Masjid juga berfungsi sebagai tempat berlindung. Bila seseorang dalam keadaan tidak aman, maka apabila dia masuk ke masjid, Rasulullah dan para sahabatnya memberikan perlindungan atau jaminan kebaikan selama dia dalam kebaikan. Itulah yang terjadi saat futuh Mekkah.&lt;br /&gt;Di samping itu perlindungan juga terkait dengan perlindungan secara firik terhadap terik pans matahari dan hujan sehingga para musafir dapat berlindung di masji untuk beristirahat sementara, sehingga pada masa Rasulullah ada seorang Muslim menjadi musafir, dia tidak perlu kebingungan mencari tempat menginap. Masjid bisa dimanfaatkannya untuk menginap. Bahkan pada masa Rasulullah, masjid juga menyediakan semacam asrama yang disebut dengan shuffah. Banyak beberapa sahabat yang dhuafa menetap di sana sehingga mereka dikenal dengan sebutan ahlus shuffah. Masjid mempunyai kesan ramah kapada para musafir atau dhuafa.&lt;br /&gt;            Wajah ramah masjid itu sebenarnya juga terlihat pada masjid-masjid tua di Indonesia. Bagian masjid yang ramah itu adalah pendopo (bale). Bagian bangunan ini dapat ditemukan pada masjid seantero Nusantara (Indonesia dan Malaysia). Keberadaan pendopo tersebut punya akar jauh pada keberadaan kaum Muhajirin (Muslim yang hijrah Mekkah), yang ditampung di masjid yang disebut ahlus shuffah di atas. Fungsi sosial ini agaknya penting diperhatikan oleh kita semua. Masjid kerap kali tidak ramah terhadap musafir ataupun dhuafa. Ada yang harus ”terusir” lantaran masjid dikunci dengan dalih keamanan.&lt;br /&gt;            Keramahan lain yang mendasar adalah keberadaan masjid sebagai unit pengumpul zakat fitrah. Selayaknya tidak ada yang boleh kesulitan makan saat menyambut Idul Fitri. Zakat terkumpul lewat kepanitiaan masjid inilah yang harus disalurkan untuk menanggulangi hal tersebut. Ijma’ (kesepakatan) ulama menyatakan bahwa tidak boleh zakat digunakan untuk membangun masjid. Semua harus terdistribusi kepada yang berhak, sebagaimana firman Allah, ”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,  amil (pengurus zakat), para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (TQS At Taubah: 60).***&lt;br /&gt;            [Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-1265812132280382918?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/1265812132280382918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=1265812132280382918&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1265812132280382918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/1265812132280382918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/robohnya-masjid-kami-kritik-memakmurkan.html' title='“Robohnya Masjid Kami” [Kritik Memakmurkan Masjid]'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-5536395933363135247</id><published>2008-08-14T03:28:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:29:26.990-07:00</updated><title type='text'>Ramadhan: Saatnya Hijrah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(TQS Ar Ruum: 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kabar gembira dari istana Cankaya, Istambul, Turki. Selasa (28/8) Abdullah Gul dilantik menjadi presiden ke-11 Turki. Istimewanya, ia didampingi oleh isteri yang berjilbab. Hayrunnisa Gul adalah Ibu Negara Turki pertama yang memakai jilbab. “Jilbab hanya menutupi kepala, bukan otak saya,” tegas ibu yang dikenal cerdas, berpenampilan hangat, elegan, dan menghindari sorotan media massa ini (Republika, 29/8).&lt;br /&gt;Jilbab memang sempat menjadi alasan untuk menjegal pencalonan Abdullah Gul. Turki, negara sekuler (memisahkan agama dalam pemerintahan) yang dibentuk Kemal Ataturk ini secara resmi memang masih melarang jilbab dipakai di instansi pemerintah. Kaum sekuler menilai jilbab tak patut menghiasi Istana Cankaya yang dianggap sebagai simbol dan benteng sekulerisme Turki. Penjegalan itu membuat parlemen gagal memilih presiden baru dalam tiga putaran. Sampai kemudian,  diadakan pemilu legislatif lagi Juli lalu yang mengunggulkan kubu Gul dengan telak. Kemenangan AKP (partai Islam, pendukung Gul) hampir di atas 47% jumlah suara. Sementara, Partai Republik Rakyat yang sekuler hanya mendapat 21% sedang Partai Aksi Nasionalis yang berhaluan kanan menggaet 14%. Akhirnya, Abdullah Gul menjadi presiden bersanding dengan Perdana Menteri Racep Tayeb Erdogan yang sama-sama tokoh Islam. Rakyat Turki bersuka cita. Pelaku pasar Eropa pun menanggapi positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Ke Fitrah&lt;br /&gt;Saat  ini, kita menyaksikan negara Turki yang semakin Islami. Ini adalah capaian amat besar—sampai-sampai situs berita detik.com menyebutnya revolusi—yang akan mengubah sejarah Turki, bahkan dunia Islam. Umat Islam pernah lama mengingat Turki dengan ratapan kesedihan, karena disanalah terakhir kekhilafahan Islam berdiri. Islam pernah dianggap sebagai beban untuk maju. Di zaman Kemal Ataturk, pemisahan agama dalam kehidupan bermasyarakat begitu keras. Berbagai simbol-simbol Islam dilarang, tak boleh ada jilbab, tak ada pelajaran agama di sekolah, sampai-sampai lafal azan diganti dengan bahasa Turki. Namun, 80 tahun berselang, sekulerisme ternyata tak memberi dampak positif apapun. Rakyat muak dengan perilaku kaum sekuleris. Lewat keteladanan para tokoh Islam mereka secara mayoritas menginginkan negeri yang lebih Islami. Demokrasi, yang awalnya dibuat untuk memecah belah umat Islam, dijadikan sarana untuk menampilkan Islam secara santun dan elegan. Demokrasi malah menjadi bumerang bagi kaum sekuleris.&lt;br /&gt;            Turki adalah salah satu fakta, di antara banyaknya fakta yang lain, tentang keinginan sebagian besar manusia untuk kembali ke pangkuan Islam di abad modern. Bisa jadi, kita menilai bahwa budaya materi yang terjadi saat ini telah membuat banyak orang jauh dari nilai agama. Tetapi, saat ini kita menemukan fakta bahwa semakin banyak saja orang yang taat menjalankan agama. Sebagai contoh, jilbab  yang dikenakan para muslimah. Rasanya, amat mudah saat ini kita menemukan pemakai jillbab di tempat-tempat umum. Bandingkan kesan tentang pemakai jilbab pada 10 atau 20 tahun yang lalu. Pasti akan jauh berbeda. Jilbab bukan barang asing lagi. Di kampus, para mahasiswi juga tampak semakin banyak yang mengenakan jilbab rapi dengan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;Islamisasi itu bukan hanya terkait dengan ibadah ritual.  Masalah ekonomi yang punya kaitan erat dengan kehidupan modern, juga turut terpengaruh. Misalnya keberadaan bank syariah, yang sekarang semakin banyak berdiri dan tumbuh subur. Banyak yang kemudian menyadari bahwa Islam ternyata mempunyai konsep ekonomi yang adil dan progresif. &lt;br /&gt;Fenomena untuk berada di pangkuan Islam itu bukan hanya terjadi di negeri Muslim. Negara-negara Barat secara nyata juga memperlihatkan fenomena serupa. Kita mungkin khawatir bahwa Islam punya citra buruk terkait isu terorisme. Tetapi yang terjadi, semakin banyak warga Barat yang memeluk Islam. Berbagai Islamic Center di Amerika Serikat malah kebanjiran mualaf pasca-pengeboman gedung WTC, 2001. Tuduhan terorisme yang mengakibatkan rasa penasaran warga USA dan Eropa, malah mengantarkan mereka untuk mengetahui Islam lebih mendalam, yang berujung pada beralihnya mereka untuk memeluk Islam. Dalam berbagai unit kesatuan militer Amerika, amat mudah kita  temukan anggotanya yang beragama Islam. Di banyak negeri di Eropa, umat Islam mempunyai peringkat kedua sebagai agama dengan pemeluk terbanyak. Bahkan di Inggris, pengaruh Islam terlihat dalam pemberian nama bayi laki-laki. Sepanjang tahun 2006, nama ”Muhammad” bertengger pada urutan kedua sebagai nama yang paling banyak dipakai. Hal itu mengalahkan popularitas nama ’Thomas,” ”Joshua,” dan ”Oliver,”  serta hanya selisih tipis dengan nama ”Jack.” Padahal, pada tahun 2000 nama Muhammad baru masuk 30 besar nama terpopuler di Inggris. Hal ini menunjukkan masyarakat Inggris telah begitu akrab dengan Islam.&lt;br /&gt; ”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (TQS An Nashr: 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi Berubah&lt;br /&gt;Beberapa fakta tersebut di atas penting diulas untuk menambah optimisme kita. Siapa yang sungguh-sungguh menjalankan Islam akan mendapat buah manis. Bukan hanya di akherat nanti, tetapi ketika kita masih hidup di dunia. Seperti kesungguhan para tokoh Islam Tuki yang diungkapkan di atas. Saat ini Turki tumbuh pesat dengan tingkat kesejahteraan rakyat yang semakin baik.&lt;br /&gt; Hari ini kita memang perlu energi lebih untuk menghadirkan penyelesaian di negeri ini. Indonesia rasanya tak beranjak selesai mengatasi kesulitan. Amat banyak PR tentang masalah kemiskinan, pengangguran, kejahatan moral, dan ancaman rusaknya generasi penerus, yang perlu penyelesaian terpadu. Kadangkala muncul rasa gamang, darimana memulai langkah, menyelesaikan masalah rumit tersebut. Jawaban itu sesungguhnya ada dalam Islam. Sudah banyak contoh di dunia modern yang membuktikan hal ini. Banyak tesis dan paper para ahli yang telah menjabarkan prinsip-prinsip Islam secara praktis. Masalahnya tinggal pada keinginan kuat dan keteguhan (konsistensi) pada setiap orang untuk menjalankannya.&lt;br /&gt;Ramadhan adalah saat yang tepat untuk meneguhkan proses perbaikan itu. Inilah saat yang tepat untuk melakukan aksi nyata, seraya bermohon kepada Allah agar diberi keistiqamahan untuk menjalaninya. Ya. Seringkali masalah itu timbul bukan karena kita tidak tahu penyelesaiannya. Tetapi hawa nafsu yang tidak kita kendalikan. Tahu tetapi tidak sampai berbuah laku. Atau laku  yang hanya setengah hati lalu putus di tengah jalan. Ini seperti perilaku sebagian besar penghisap rokok. Mereka tahu rokok amat merugikan kesehatan. Para ulama pun telah banyak yang memberi fatwa haram. Namun, tarikan kenikmatan dan gengsi (prestise) membuat mereka tetap merokok dan  mengabaikan efek buruk rokok. Ini juga seperti perilaku korupsi di negeri ini. Mereka tahu efek buruk korupsi. Tetapi tarikan nafsu untuk memperkaya diri sendiri membuat mereka mengabaikan kesengsaraan banyak orang yang dirampas haknya.&lt;br /&gt;Ramadhan adalah saat yang tepat untuk hijrah. Pindah dari kebiasaan jahili menuju kebiasaan Islami. Di sini kita bisa lebih mengalahkan tarikan hawa nafsu. Bahkan, kita mampu melakukan sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Kita mampu menahan lapar, berpuasa setiap hari, selama sebulan penuh! Bayangkan, sebelumnya, sekadar puasa senin-kamis saja amat sulit kita lakukan. Yakinlah, kita sesungguhnya mampu mengukir prestasi besar. Kita mampu hijrah mewujudkan  kehidupan yang lebih baik.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, 2007]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-5536395933363135247?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/5536395933363135247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=5536395933363135247&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5536395933363135247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/5536395933363135247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/ramadhan-saatnya-hijrah.html' title='Ramadhan: Saatnya Hijrah'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-2253992128640928596</id><published>2008-08-14T03:27:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:28:22.413-07:00</updated><title type='text'>Perbaikan yang Bergegas</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang-orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(QS Al Imraan: 133-134).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar lambat asal selamat. Tidak selalu. Tidak juga untuk semua hal. Terlebih bila keterlambatan itu sendiri menimbulkan masalah yang lebih serius dan akhirnya mengkhawatirkan keselamatan. Sebab tidak semua hal bisa selamat kalau dilakukan hanya dengan berlambat-lambat. Diam juga tidak selalu berartti emas. Terutama untuk tindakan-tindakan yang tidak bisa terjadi tanpa diawali dari bicara, pernyataan, keputusan, maka diam bukan lagi emas. Di sini diam adalah stagnasi bahkan kematian.&lt;br /&gt;Pemaknaan di atas penting kita renungkan, saat kita mengamati jalannya perbaikan di negeri ini. Hari demi hari telah berganti kita lalui. Ternyata, sudah 8 tahun berlalu kita bergelimang dalam krisis. Sejak 1997 kita tak pernah sepi dari berita-berita sedih akibat krisis. Selalu saja kita dihadapkan dengan masalah bertumpuk yang tak tampak berkurang. Kita seolah dipaksa berpacu dengan berbagai problema dengan sikap dan kemampuan kita yang sangat terbatas dalam setiap hal. Bahkan termasuk kemampuan untuk sekadar memutuskan perubahan dan perbaikan itu sendiri dalam waktu sesegera mungkin.&lt;br /&gt;Banyak permasalahan yang (dibuat) terkatung-katung, sehingga membuat masalah yang sebenarnya sepele menjadi sulit dan malah mengorbankan banyak hal. Cerita tentang konflik kepala daerah di provinsi ini, adalah sekadar contoh dari kelambanan dari sebuah keputusan yang kemudian berbuah pahit. Sekadar memutuskan siapa yang paling layak jadi kepala daerah ternyata memakan waktu yang lama. Ini belum lagi, berbicara tentang perbaikan yang selayaknya dilakukan sebagai kepala daerah nantinya. Masalah seperti ini terjadi dalam banyak hal lain di negeri ini.&lt;br /&gt;Ya. Banyak hal yang berhubungan dengan perbaikan kita selalu punya prestasi yang tidak menggembirakan. Satu tahun sudah bencana alam di Aceh terjadi. Namun bukan perbaikan yang terdengar nyaring pascabencana itu. Tetapi malah pemberitaan miring tentang gaji pimpinan badan bentukan pemerintah itu yang jumlahnya teramat besar.&lt;br /&gt;Meski berfikir ulang, mengkaji lebih dalam adalah langkah-langkah yang baik, tetap saja ada keputusan yang harus segera diambil. Palu harus diketok, yang dengan itu perubahan secara resmi benar-benar terjadi. Yang pasti, hari-hari ini adalah kerja dharury (emergency) sebelum kerja recovery.  Banyak keputusan yang harus diambil secara cepat.  Agar perbaikan itu punya keberlangsungan, tidak lantas berakhir riwayatnya karena  ketidakjelasan dan kelambanan.&lt;br /&gt;Biar lambat asal selamat. Tidak selamanya begitu. Mengamati perkembangan di negeri ini, kita bisa melihat begitu banyak hal yang harus diselesaikan secara segera. Kita memerlukan perbaikan bergegas, di hulu atau di hilirnya. Ini bukan sekadar seperti kemauan memberantas korupsi atau penggerebekan sarang judi. Tapi juga soal keberanian dan kecepatan. Ini tidak hanya berlaku bagi pemerintah yang berkuasa, tetapi juga bagi setiap kita sebagai warga negara, secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Dalam QS Al Imraan: 133-134, yang dikutip di awal tulisan ini mengajarkan kepada kita bahwa bersegera, bergegas dalam melakukan perbaikan, adalah bagian penting dalam Islam. Bahkan ini bukan lagi pada aspek kecepatan dalam mengambil keputusan, tetapi langsung pada nilai manfaat atas keputusan tersebut.  Itulah yang dapat dengan mudah kita maknai dari kata “(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit” dalam ayat tersebut.&lt;br /&gt;Keputusan untuk melakukan perbaikan adakalanya mengabaikan manfaat yang selayaknya kita kedepankan, karena keterbatasan kemampuan yang kita punyai atau faktor lain yang membuat kita enggan berkurban. Tapi begitulah, Al Qur’an secara jelas menyatakan bahwa kita harus berinfak (sebagai bentuk konkret memberikan manfaat perbaikan), di waktu lapang ataupun sempit.&lt;br /&gt;Kerangka keimanan, melakukan perbaikan dalam bingkai “mencari ampunan kepada Allah” (sebagaimana termaktub dalam QS Al Imraan: 133-134), merupakan hal sangat penting kita maknai dengan benar. Ya, karena pada sisi yang lain, perubahan tidak selalu berarti perbaikan, tetapi malah keburukan yang lebih parah dari sebelumnya.&lt;br /&gt;Maka keimanan selanjutnya berfungsi agar kita mempunyai sandaran-sandaran  yang kuat. Kuat dalam pengertian perspektifnya (tinjauannya), maupun kesesuaiannya. Maka dalam keimanan dan kemusliman kita, kita bisa mendapati aturan, hukum dan tata tertib yang benar-benar kokoh. Perspektif hukum dalam Islam menganut keseimbangan antara hubungan manusia secara vertikal dengan Allah, dan hubungan secara horizontal dengan manusia. Ada masalah yang bersumber kesalahan pola interaksi kita dengan sesama manusia. Lewat tuntunan akal (dan bimbingan wahyu) kita akan mengetahui pangkal masalah dan solusinya. Namun, tidak semua masalah bersumber dari kesalahan pola interaksi kita sesama manusia, tetapi bisa jadi karena keingkaran/kesalahan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa—seperti berbagai bencana alam yang melanda kita saat ini. Maka lewat tuntunan wahyu (Al Qur’an dan Sunnah Nabi), sebagai seorang Muslim, kita akan dapat mengetahui solusinya. Kita tidak perlu salah mengira bahwa kerusakan yang kita perbuat sebagai perbaikan.(Simak QS Al Baqarah 11-12).&lt;br /&gt;Begitulah, bersegera, bergegas melakukan perbaikan itu juga semakna dengan pemaknaan bahwa hidup ini harus bergerak dinamis. Tidak boleh diam dan berhenti pada satu titik saja. Kita harus terus bergerak. Dari satu kegiatan ke kegiatan yang lainnya. Dari satu karya ke karya lainnya. Dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Begitulah seterusnya, dengan interval-interval dan ukuran yang berimbang. Karena hidup perlu dinamika. Karena di dalam gerak ada kehidupan, dalam makna sesungguhnya. Bahkan Allah memerintahkan hamba-Nya untuk terus bergerak, ketika Ia menyuruh kita menyambung satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS Alam Nasyrah: 7-8) ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Agar Kebaikan Itu Senantiasa Ada (Upaya Pribadi Menggesa Perubahan)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah memegang pundak Ibnu Umar, lantas beliau bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini sekan-akan perantau atau pengembara (musafir).” Dan Ibnu Umar berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore, dan pergunakanlah sehatmu sebelum kamu sakit dan pergunakanlah di waktu hidupmu sebelum mati. (HR Bukhari).&lt;br /&gt;Hadits di atas menegaskan tentang proses perbaikan yang semestinya kita lakukan dengan bersegera, yang dimulai dari setiap pribadi kita. Kita harus membiasakan diri merenung, bermuhasabah, atau mengevaluasi amal setiap hari. Kebiasaan inilah yan dilakukan seorang sahabat yang disebut Rasulullah sebagai ahli surga. Bahkan, dalam hadits yang mengisahkan sahabat ahli surga tersebut Rasulullah sampai mengulangnya tiga kali. Ahli surga itu ternyata bukan ahli ibadah yang kuantitas ibadahnya melebihi sahabat yang lain. Ia hanya kerap melakukan evaluasi diri menjelang tidurnya setiap malam lalu ia hapus rasa gundahnya pada sesama muslim.&lt;br /&gt;Dalam kitab Bukaul Mabrur yang mengulas tentang tangisan orang-orang salih, mengetengahkan perkataan salafussalih: “Para orang tua kami selalu menghitung diri dari apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka ucapkan, kemudian mereka menulisnya dalam sebuah daftar. Setelah salat Isya’ mereka mengeluarkan daftar amal dan ucapannya kemudian mereka menimbangnya. Jika amal yang dibuat buruk yang perlu istighfar maka mereka bertaubat dan beristighfar. Namun jika amalannya baik dan perlu disyukuri, merekapun bersyukur kepada Allah hingga mereka tertidur. Maka kamipun mengikuti jejak mereka. Kami mencatat apa yang kami perbuat dan menimbangnya.”&lt;br /&gt;Sebagaimana setiap orang akan menerima lembaran-lembaran amalnya selama di dunia pada pengadilan akhirat nanti, setiap Muslim sangat dianjurkan untuk menghitung-hitung sendiri amal-amalnya sejak di dunia. Tujuannya jelas, agar segala keburukan tidak berulang, dan segala kebaikan tetap terpelihara bahkan lebih baik lagi. Umar r.a. memberi nasihat, “Hasibuu anfusakum, qabla an tuhasabu,” Hisablah amal-amal kalian sendiri, sebelum amal-amal kalian dihisab (oleh Allah di hari kiamat).&lt;br /&gt;Hasan al Bashri juga memberi penguatan tentang pentingnya menghisab diri ini. “Sesungguhnya penghisaban di hari kiamat akan ringan bagi kaum yang telah menghisab amalannya di dunia. Begitu pula sebaliknya, penghisaban di hari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalannya di dunia.”&lt;br /&gt;Pelajaran tentang perbaikan dapat kita pelajari dari pengalaman hidup kita sebelumnya. Semakin banyak orang bercermin terhadap masa lalu, maka ia akan semakin bijaksana menentukan langkah. Ini juga terkait dengan sejarah orang-orang yang hidup di masa lalu. Dengan mengetahui masa lalu, berarti seseorang memiliki modal informasi berharga sebagai bekal perjalanan yang ia lakukan di masa mendatang. Kehidupan ini tak ubahnya cermin pengulangan masa lalu. Silih berganti antara keberhasilan yang berganti dengan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesedihan. Semuanya berputar dan berganti bagai pergantian siang dan malam. Inilah yang dapat kita maknani dari firman Allah swt., “Dan hari-hari itu kami pergilirkan di antara manusia..” (QS Ali Imraan: 140).&lt;br /&gt;Itulah hikmah dari penjabaran sejarah perjuangan para Rasul dan Nabi yang tertuang dalam Al Qur’an. Jejak sejarah perjuangan itulah yang akan menjadi rambu bagi umat manusia sepanjang zaman. Kita dapat belajar dari kebaikan atau kesalahan mereka. Maka kemudian, menggesa perbaikan itu selayaknya tak perlu banyak mengulangi kesalahan (trial and error). Karena Islam telah paripurna memberi pedoman dasar. ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-2253992128640928596?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/2253992128640928596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=2253992128640928596&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2253992128640928596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/2253992128640928596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/perbaikan-yang-bergegas.html' title='Perbaikan yang Bergegas'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-607909578758406079</id><published>2008-08-14T03:25:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:26:34.421-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan dan Ilmu yang Bermanfaat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“…akan tetapi (dia) berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya.”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; (QS Ali Imraan: 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berita baik dari Qatar. Di negara Muslim yang makmur berkat minyak itu, anak-anak Indonesia selalu masuk dalam daftar pelajar terbaik di sekolah-sekolah. Sementara itu, para orang tuanya, para pekerja dari Indonesia, selalu masuk dalam daftar pekerja terbaik dan mulai merambah jabatan di tingkat manajemen puncak. Harumnya nama Indonesia di negeri itu, membuat banyak perusahaan minyak di sana selalu meminta tenaga kerja dari Indonesia. Setiap tahun mereka memerlukan 1700 tenaga ahli kita, dan kita hanya sanggup menyediakan 300 orang.&lt;br /&gt;Kabar yang disampaikan Arys Hilman, wartawan Republika, melengkapi kabar baik sebelumnya. Olimpiade sains di Kazakhstan belum lama ini, remaja kita mengungguli pesaingnya dari Amerika, Jepang, Jerman, dan yang lainnya. Kita hanya kalah tipis dengan Cina yang menjadi juara pertama. Dalam berbagai olimpiade sains berskala internasional sebelumnya, remaja-remaja kita selalu berhasil menjadi juara. Ahli-ahli kita juga berjaya di pusat-pusat riset di Eropa, Jepang, AS, dan Korea. Bill Gates pun mempekerjakan 30-an orang-orang kita di kantor pusat Microsoft.&lt;br /&gt;Beberapa fakta ini memberi simpulan bahwa kita memang cerdas dan selalu dapat bersaing di dunia internasional. Prestasi  tersebut juga mengugurkan anggapan bahwa kita lemah potensi intelegensi. Kebodohan itu bukan “bawaan lahir.” Tetapi, mengapa kita tak kunjung tampil dalam deretan bangsa-bangsa maju dan sejahtera di dunia?&lt;br /&gt;Kenyataan bahwa  kita masih terpuruk dan bodoh secara kolektif (bersama), selayaknya menjadi perhatian kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Moral&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, kita dapat mengetengahkan masalah di atas sebagai persoalan manajemen. Ibarat sebuah perusahaan, kita memiliki sumber daya manusia bagus, namun tak terkelola baik. Hal inilah yang kemudian membuat tidak produktif..&lt;br /&gt;Tetapi, lebih dari itu, kita penting mengetengahkan masalah ini dalam tinjauan keimanan. Ya. Cerdas berilmu itu baru mewakili satu sisi, nilai kemanfaatannya itulah yang kemudian melengkapi. Ini berhubungan dengan akhlak/moral. Ini menyangkut niat, maksud, dan tujuan tentang menuntut ilmu. Apakah diniatkan untuk ibadah dan memberi kemanfaatan orang lain secara luas, atau untuk tujuan yang lain.&lt;br /&gt;Tujuan mulia itulah yang selanjutnya menjadikan ilmu itu berguna. Maka dari warisan kenabian, kita akan mendapati bahwa masalah pengetahuan itu selalu diawali dan ditujukan untuk pendidikan moral. “Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk memperbaiki akhlak (moral),” sabda Rasulullah saw..&lt;br /&gt;Dr. Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya ‘Tarbiyyatul Aulad fil Islam’(Pendidikan anak dalam Islam), menguraikan masalah pendidikan dengan menempatkan  pendidikan sebagai masalah utama. Berdasar dalil naqli yang mengacu langsung kepada nash-nash Al Qur’an dan hadits yang sahih, serta bukti-bukti ilmiah dan rasional, Nashih Ulwan menekankan betapa pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan kejiwaan, dan pendidikan sosial adalah satu kesatuan yang tidak boleh terpisahkan.&lt;br /&gt;Saat ini, bisa jadi kita memetik buah pahit dari pendidikan yang mengabaikan  moral. Inilah yang paling mungkin menjelaskan tentang berbagai anomali yang terjadi di negeri ini. Seperti pada saat awal krisis ekonomi, di tengah himpitan kesulitan mayoritas rakyat, jalan-jalan di Jakarta malah disesaki dengan mobil-mobil mewah keluaran terbaru. Atau, ketika kita mendapati begitu banyaknya peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh para siswa kala menghadapi kesulitan. Prestasi pendidikan itu hanya diperoleh segelintir orang, dari jutaan anak didik yang lain.&lt;br /&gt;Pendidikan moral itu secara formal memang sudah diajarkan. Tetapi hal itu bukan untuk dihafalkan. Pendidikan moral itu bukan perkara teoritis. Ini juga bukan sekadar perkara pengetahuan yang disampaikan kepada mereka. Ini menyangkut aplikasi teknis dan keteladanan dari kita semua. Dalam hal ini, Allah telah menyinggung lewat firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS Ash Shaff: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asas Manfaat&lt;br /&gt;Rasulullah saw. pernah memohon doa dan mengajarkannya untuk kita. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” Dari doa tersebut dapat kita pahami bahwa ada ilmu yang dipelajari tetapi tidak bermanfaat. &lt;br /&gt;Jabir r.a.  menyampaikan  bahwa ilmu itu ada dua, yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu dari hati yang kemudian mengingatkan kepada Allah. Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang hanya keluar dari bibir yang digunakan untuk memenuhi nafsunya, serta jidal(debat).&lt;br /&gt;Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah, memberi pesan kepada setiap  hamba Allah yang rajin menuntut ilmu agar mengikhlaskan niat karena Allah semata. ”Janganlah sekali-kali engkau menuntut ilmu dengan maksud untuk bermegah-megahan, menyombongkan diri, berbantah-bantahan, menandingi, dan mengalahkan orang lain (lawan bicara), atau supaya orang mengagumimu. Jangan pula engkau menuntut ilmu untuk dijadikan sarana mengumpulkan harta kekayaan duniawi. Yang demikian itu akan merusak agama dan mudah membinasakan dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;”Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk mendapatkan harta duniawi, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya syurga pada hari kiamat,” kata Rasulullah saw.. (HR Abu Dawud).&lt;br /&gt;Dalam hadits lain beliau bersabda, ”Janganlah kalian menuntut imu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut imu untuk penampilan dalam majelis dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu, maka baginya neraka.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;”Seorang alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhaan Allah, maka ia akan ditakuti segalanya. Akan tetapi, jika ia bermaksud untuk menumpuk harta, maka ia akan takut dari segala sesuatu,”tegas Rasulullah saw.dalam riwayat lain (HR Ad-Dailami).&lt;br /&gt;Dari perkara niat dan kemanfaatan ilmu, kita akan mendapati benang merah tentang pendidikan moral. Inilah yang menjadi titik tekan Islam. Masalah kesejahteraan, kemajuan, dan keunggulan secara bersama-sama itu erat kaitannya moral. Komitmen moral yang tinggi memungkinkan setiap orang untuk berbagi, peduli dengan urusan orang lain secara kolektif. Itulah yang memungkinkan tampil dalam deretan bangsa-bangsa maju dan sejahtera di dunia. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Moral Sedari Dini&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku seseorang itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang ia punyai. Apa yang ia dapatkan di suatu saat, akan terekam dan menjadi komponen yang turut mempengaruhi perilakunya di kemudian hari. Islam telah mengatur pendidikan moral ini secara  detail sejak dalam keluarga. Sedari masih dalam kandungan pun, tuntunan agar lahir anak yang berbudi luhur telah diatur dalam Islam.&lt;br /&gt;Memberi nama yang baik merupakan bagian penting dalam mendidik anak. ”Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban).&lt;br /&gt;Termasuk tuntunan Nabi mengganti nama yang jelek dengan nama yang baik. Beliau pernah mengganti nama seseorang 'Ashiyah (jelek) dengan Jamilah (cantik). Ketika seorang sahabat menyebutkan namanya ”Hazn” (duka cita), Nabi menggantinya dengan ”Farh” (suka cita). ”Al Mudhtaji” (yang terbaring) diganti oleh Nabi menjadi ”Al Munba’its” (yang bangkit). Orang yang namanya ”Harb” (perang) diubah Nabi menjadi ”Aslam” (damai), dan banyak lagi.&lt;br /&gt;Para psikolog (ahli kejiwaan) menyatakan bahwa nama penting dalam pembentukan konsep diri. Secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra (image, gambaran) yang terkandung di dalamnya. Ini disebut teori labelling (penamaan). Nama buruk akan membuat perilakunya buruk. Nama baik besar kemungkinan akan membuat perilakunya baik. &lt;br /&gt;Konsep ketakwaan kepada Allah swt. harus dititikberatkan dalam mendidik anak. Takwa dalam arti taat segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah. Salat lima waktu contohnya, anak-anak walaupun masih kecil seharusnya dididik mengerjakan salat agar saat dewasa nanti mereka memahami bahwa salat itu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.  Rasulullah saw. bersabda,  ”Suruhlah anak-anak kamu mendirikan salat ketika umur mereka 7 tahun dan pukullah mereka ketika berumur 10 tahun sekiranya mereka enggan; dan pisahkan tempat tidur mereka.” Perkara kedisiplinan untuk menunaikan kewajiban penting ditegaskan sedari dini.&lt;br /&gt;Bila kita simak lebih dalam, pendidikan moral sedari dini ini sesungguhnya lebih banyak bertumpu pada curahan kasih sayang orang tua yang selayaknya diberikan kepada anak.&lt;br /&gt;Seorang pemuka kabilah, Al Aqra’ bin Habis suatu saat keheranan melihat perilaku Rasulullah yang mencium anaknya. Dia kemudian bertanya, ”Engkau mencium anakmu? Padahal aku mempunyai sepuluh orang anak. Tidak seorang pun yang pernah aku cium.” Maka jawab Rasulullah, ”Aku tidaklah seperti kamu. Bisa jadi karena Allah telah mencabut cinta dari jantungmu,” tegas Rasulullah yang mulia.&lt;br /&gt;”Bukan termasuk umatku yang tidak menghormati orangtua dan tidak menyayangi anak kecil,” kata Nabi. Rasul juga berkata, ”Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling penyayang kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling sayang kepada keluargaku.”&lt;br /&gt;Rasulullah mengungkapkan kasih sayang tidak saja secara verbal (dengan kata-kata) tapi juga dengan perbuatan. Pada suatu hari Umar menemukan Nabi merangkak di atas tanah, sementara dua anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata, ” Hai anak, alangkah indahnya tungganganmu itu.” Yang ditunggangi menjawab, ”Alangkah indahnya para penunggangnya!” Suasana seperti itu menunjukkan betapa akrabnya Nabi saw dengan cucu-cucunya (Hasan dan Husain).&lt;br /&gt;Pada tahun 1960-an, para psikolog terpesona dengan penelitian Harry Harlow. Dia memisahkan anak-anak monyet dari ibunya. Kemudian, dia mengamati pertumbuhannya. Monyet-monyet itu ternyata menunjukkan perilaku yang mengenaskan: selalu ketakutan, tak dapat menyesuaikan diri, dan rentan terhadap berbagai penyakit. Setelah monyet-monyet itu besar dan melahirkan bayi lagi, mereka menjadi ibu-ibu yang galak dan berbahaya. Mereka acuh tak acuh kepada anak dan seringkali melukai mereka.&lt;br /&gt;Kata psikolog itu adalah sakit kejiwaan akibat kondisi tanpa ibu (maternal deprivation). Pada manusia situasi tersebut juga terjadi tatkala terjadi konflik keluarga (perceraian), juga sedikitnya perhatian karena kesibukan kerja orang tua. Orang tua tak sempat lagi bercanda dengan anak-anak mereka, berkumpul ngobrol dengan hangat, atau memeluk dan mencium mereka dalam keakraban.&lt;br /&gt;Kasih sayang yang langsung kita buktikan, berdampak penting bagi perkembangan jiwa anak. Inilah salah satu bagian penting yang telah diajarkan Islam dala pendidikan moral sedari dini. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-607909578758406079?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/607909578758406079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=607909578758406079&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/607909578758406079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/607909578758406079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/pendidikan-dan-ilmu-yang-bermanfaat.html' title='Pendidikan dan Ilmu yang Bermanfaat'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-716212096423626472</id><published>2008-08-14T03:23:00.002-07:00</published><updated>2008-08-14T03:24:54.088-07:00</updated><title type='text'>Dicari: Penguasa Salih</title><content type='html'>&lt;strong&gt;“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(TQS Al A’raaf: 96).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Anusyirwan sedang melakukan perburuan. Ia sangat asyik berburu sehingga terlepas dari pasukannya. Dalam keadaan haus, ia sampai di sebuah kebun. Di kebun itu ia melihat banyak sekali pohon delima. Kepada anak penunggu kebun, raja berkata, “Berikan kepadaku sebutir delima.” Delima itu ternyata sangat manis dan airnya lezat keluar melimpah. Raja sangat terkesan dengan delima kebun itu sehingga ia terpikir untuk mengambil kebun itu dari pemiliknya.&lt;br /&gt;Pada kali yang kedua, raja meminta satu butir delima lagi. Aneh, sekarang delima itu sedikit sekali airnya dan kecut rasanya. Ia bertanya, “Hai anak, mengapa delima ini jadi begini?” Si Anak menjawab, “Mungkin raja di negeri ini ada yang bermaksud berbuat zalim. Karena niat jeleknya, maka delima ini menjadi begini.” Pada saat itu juga Anusyirwan bertobat dalam hatinya. Raja berkata lagi kepada anak itu, “Berikan aku satu delima lagi.” Sekarang delima itu terasa lebih enak dari delima sebelumnya. Ia bertanya, “Hai anak, mengapa delima ini berubah seperti ini?” Anak penjaga kebun itu berkata, ”Barangkali raja negeri ini bertobat dari kezalimananya.” Ketika mendengar ucapan anak itu, yang sesuai dengan keadaan hatinya, Anusyirwan betul-betul bertobat dan berniat tak akan melakukan penindasan apa pun.&lt;br /&gt;Dalam sejarah, Anusyirwan dicatat sebagai raja yang adil. Dalam masa pemerintahannya, lahirlah Rasulullah Muhammad saw.. Beliau berkata, “Aku lahir dalam zaman kekuasaan raja yang adil.” Al Fakhr ar-Razi meriwayatkan kisah ini ketika menjelaskan tafsir ayat : maliki yauwmiddiin ‘yang menguasai di Hari Pembalasan’, dari surah Al Fatihah. Ayat ini menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah. Raja pada hari pembalasan adalah Raja yang adil. Tanpa adanya hari kiamat, keadilan tidak dapat ditegakkan. Dari sini disimpulkan, penguasa sejati adalah penguasa yang adil. “Bila penguasa itu adil karena keberkahan keadilannya, timbullah kebaikan dan ketentraman di alam semesta. Bila penguasa itu zalim, hilanglah kebaikan dari alam semesta,” kata Al Fakhr ar-Razi.&lt;br /&gt;Jangankan berbuat zalim, jika terbersit saja niat untuk berbuat zalim, penguasa akan menimbulkan kerusakan di dunia. Buah-buahan yang manis akan segera berubah menjadi kecut. Tanah yang subur berganti menjadi kering kerontang. Mendung tak selalu mengantarkan hujan yang memberi berkah. Siklus iklim menjadi susah diperkirakan. Bencana alam seolah menjadi rutinitas harian, beragam, bahkan muncul dari hal yang tidak diperkirakan sebelumnya. Niat berbuat zalim penguasa itu menginspirasi orang berbuat jahat. Aneka bentuk kejahatan itu muncul. Perilaku kriminal menjadi bencana sosial yang tak kalah mengerikan dampaknya dibanding bencana alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita simak fenomena belakangan ini. Lampung semakin tidak aman. Begitu headline berita di koran. Berbagai kisah yang awalnya hanya kita tonton di film, ternyata menjadi kenyataan. Di Lampung Tengah, pasar yang ramai dengan orang berbelanja dirampok. Seluruh toko emas dijarah, 7 kilogram emas di bawa kabur. Pom bensin tak luput dari perampokan. Brankas uang berisi puluhan juta rupiah sebuah perusahaan dibawa lari melalui perampokan dramatis. Berita ini mengiringi ramainya berita tentang pilkada yang akan digelar tahun ini. Kita menjadi khawatir, jangan-jangan ada hubungan kausalitas antara hiruk-pikuk berita pilkada dengan bencana sosial yang terjadi,   sebagaimana kisah Anusyirwan. Ada niatan zalim untuk berkuasa, yang menimbulkan kerusakan. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Salih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Begitu besarnya peran penguasa, Islam menempatkan masalah kepemimpinan ini dalam posisi yang amat penting. Begitu pentingnya, ulama memaknai Islam atas dua hal, dien (agama) dan daulah (negara). Ada seperangkat aturan moral dan hukum bagaimana berkuasa itu harus dijalankan berdasarkan ajaran Islam. Memimpin harus dilandasi kesalihan.&lt;br /&gt;Pemimpin yang salih sama artinya memaknai orientasi akhirat dalam kepemimpinannya. Keimanan seorang pemimpin akan membuatnya berhitung, apakah perbuatannya akan berujung pada dosa dan murka Allah atau bisa mendekatkan diri padanya. Kalkulasi untung rugi di akhirat yang menjadi timbangannya. Tidak banyak yang dapat kita awasi dari diri seorang pemimpin saat berkuasa, saat ia bisa jadi nanti akan banyak berlindung atas nama hukum, tata aturan, dan kewenangannya berkuasa. Kesalihannyalah yang akan membuatnya merasa diawasi oleh Allah. &lt;br /&gt;Keimanan akan membuatnya takut untuk berbuat aniaya kepada rakyatnya. Seperti saat ia mengingat pesan Rasulullah tentang kekuasaan. “Siapa saja yang diberi kekuasaan oleh Allah mengurusi umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan kedukaan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan, dan kemiskinannya pada hari kiamat.” (HR Muslim).  Atau ketika ia mengingat hadits dari Abul Ya’la, “Seorang hamba yang diberi kepercayaan memimpin rakyatnya, dan ia mati dalam keadaan menipu rakyat, pasti Allah mengharamkan surga baginya.” (Mutafaqun Alaih).&lt;br /&gt;Buah kesalihan itu keadilan. Seorang Mukmin tidak mungkin membeda-bedakan perlakuan sesuai dengan seleranya. Ia pasti memperhatikan aturan Islam tentang keadilan, seperti disampaikan oleh Iyadh bin Himar, bahwa Rasulullah mengatakan penghuni surga itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu: penguasa yang adil lagi disenangi, orang yang mengasihi lagi lembut hati kepada sanak keluarga dan setiap muslim, serta orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya sedang ia mempunyai keluarga.” (HR Muslim). Juga firman Allah, ”Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (TQS Al Maidah: 8).&lt;br /&gt;Kesalihan seseorang pemimpin akan melahirkan kententraman dan rasa aman. Ini adalah berkah yang diturunkan Allah, yang mungkin tidak kita sangka darimana datangnya. Bukan hanya pada rakyat yang dipimpinnya, tapi juga pada makhluk Allah yang lain. Seperti kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang terkenal kesalihannya.&lt;br /&gt;            Malik bin Dinar mengisahkan, ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing di puncak perbukitan berkata, ”Siapakah khalifah yang salih yang sedang memerintah manusia saat ini?” Padahal para penggembala itu tidak tahu menahu apa yang terjadi di kota, termasuk diangkatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika hal itu ditanyakan kepada mereka, para penggembala itu menjelaskan, ”Bila pemerintahan dipegang oleh seorang pemimpin yang salih, serigala dan singa tidak mengganggu kambing-kambing kami.” (Tarikh Khulafa’)&lt;br /&gt;            Riwayat lain yang menguatkan kisah tersebut adalah apa yang dituturkan oleh Hassan Al Qashar. ”Aku bekerja sebagai pemerah susu kambing pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu ketika, aku melewati para penggembala, sedang ditengah-tengah gerombolan kambingnya terdapat sekitar tiga puluh serigala. Karena sebelumnya aku belum pernah melihat serigala, aku mengira serigala itu adalah anjing. Akupun bertanya kepada para penggembala itu, ’Wahai para penggembala, untuk apakah anjing sebanyak itu?’ Mereka menjawab, ’Wahai anak muda, ini bukan kawanan anjing, tetapi kawanan serigala.’ Aku berkata heran, ’Subhanallah, apakah mereka tidak membahayakan kambing-kambing engkau?’ Penggembala itu menjawab, ’Wahai anak muda, apabila kepala sudah sehat, maka badan tidak akan rusak.’” Maksud dari kepala itu adalah kepala pemerintahan, yang waktu itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.&lt;br /&gt;Kepemimpinan punya makna penting dalam Islam. Bila ’hanya’ menyingkirkan batu di jalan (yang punya manfaat kecil) disebut sebagai salah satu cabang keimanan, apalagi tentang penguasa yang banyak berhubungan dengan kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;Tentu, yang dimaksud penguasa itu tidak harus penguasa tertinggi. Bukankah setiap kita menggenggam kekuasaan, betapapun kecilnya? Bila acuan kesalihan itu kita serap dalam kekuasaan kita, kita akan menyebarkan berkah ke sekeliling kita. Mari, kita ubah delima yang kecut menjadi manis, dengan kesucian kita. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini merupakan arsip dari tulisan yang telah dipublikasikan di Buletin Sajada, Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli, sejak 2005]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1814472570657943204-716212096423626472?l=maskholid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maskholid.blogspot.com/feeds/716212096423626472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1814472570657943204&amp;postID=716212096423626472&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/716212096423626472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1814472570657943204/posts/default/716212096423626472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maskholid.blogspot.com/2008/08/dicari-penguasa-salih.html' title='Dicari: Penguasa Salih'/><author><name>Kholid D. Suseno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14921747788144598299</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1814472570657943204.post-8466544621529417070</id><published>2008-08-14T03:23:00.001-07:00</published><updated>2008-08-14T03:23:53.520-07:00</updated><title type='text'>Optimisme tentang Masa Depan Islam[1]</title><content type='html'>Kebangkitan agama dan demokratisasi, sebagaimana dinyatakan John L. Esposito (1995), adalah dua fenomena paling penting dalam dasawarsa terakhir abad kedua puluh. Tak kurang Naisbitt dan Aburdene dalam Megatrends 2000, juga menyebut tentang bangkitnya kembali kehidupan beragama. Futorolog tersebut mengungkapkan tentang spiritualitas umat manusia yang akan mencapai puncaknya pada abad ke-21. Naisbitt dan Aburdene juga menyebut tentang kebangkitan I
